Compartir

Bab 203

Autor: Ayyliana
last update Fecha de publicación: 2026-11-04 14:39:14

Aroma khas antiseptik dan obat-obatan mendominasi lorong hingga ke dalam ruang VVIP rumah sakit privat milik keluarga Regantara. Di dalam ruangan bernuansa putih bersih itu, kecemasan masih menggelayut tebal di wajah Alena. Ia terus mondar-mandir di dekat ranjang pesakitan, menatap nanar sahabatnya, Bella, yang terbaring lemas dengan mata terpejam. Sudah sekian jam berlalu sejak insiden penyerangan tadi, namun Bella belum juga menunjukkan tanda-tanda sadar sepenuhnya dari efek bius kimia pekat
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
roha mimha
Jgn bodoh Alena dgn sikap Alres dan Dion. Knp masih mahu masuk ke lubang hitam yg sama yg boleh hancurin hidup kamu.
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 207

    Suasana di dalam ruang VVIP rumah sakit mendadak terasa lebih hangat ketika Alena berpamitan sejenak kepada Bella. Sebelumnya, Regan sempat menawarkan opsi bagi Alena untuk menolak undangan sang ibu jika ia merasa belum siap menghadapi keluarga besar Regantara. Namun, Alena tahu betul konsekuensinya—jika ia terus menghindar, Mami Miranti mungkin tidak akan pernah merestui atau mengakui keberadaannya sebagai menantu. Dengan tekad bulat, Alena memilih untuk menghadapinya langsung.Sebelum melangkah keluar bersama Regan, Alena sempat berpesan kepada Biru untuk menjaga Bella yang masih tampak lemah. Setelah kepergian pasangan itu, keheningan menyelimuti ruangan sejenak sebelum Biru berinisiatif memecahnya."Efek obat biusnya sudah benar-benar hilang. Kalau mau, kamu sebenarnya sudah bisa pulang sekarang juga," ucap Biru dengan nada khasnya yang terkesan kaku namun penuh perhatian medis.Bella mengangguk pelan, merapikan selimutnya. Namun, sebelum ia sempat mem

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 206

    Kelopak mata Bella bergetar perlahan, lalu terbuka sepenuhnya. Wanita itu mengerjap-ngerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya putih ruangan, sebelum akhirnya mengeluh pelan karena rasa pening di kepalanya.Alena, yang sejak tadi duduk setia di samping ranjang sambil menggenggam erat tangan sahabatnya, langsung berseru gembira. "Bella! Syukurlah kamu sudah sadar! Kamu baik-baik saja?"Bella mengangguk pelan, meski wajahnya masih tampak agak pucat. Dengan bantuan Alena, Bella mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang. Sambil mendengarkan dengan seksama, Bella menyimak cerita Alena mengenai detik-detik menegangkan saat mereka disergap hingga bagaimana Alres dan Dion tiba-tiba muncul menerjang preman-preman tersebut dan menyelamatkan nyawa mereka.Begitu mendengar cerita lengkapnya, mata Bella membelalak lebar penuh rasa terima kasih. Tanpa pikir panjang, ia berinisiatif meraih ponsel di nakas. "Wah ... kalau bukan karena

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 205

    Tak ingin memperkeruh keadaan atau memicu kecurigaan Regan yang kian menjadi-jadi, Alres dan Dion akhirnya memutuskan untuk pamit undur diri. Mereka memilih meninggalkan rumah sakit demi meredam ketegangan.Setelah menempuh perjalanan singkat, mobil yang dikemudikan Dion akhirnya memasuki halaman kediaman Alres. Begitu mereka masuk ke dalam ruang tamu rumah yang tenang, Dion langsung melampiaskan rasa penasarannya yang sejak tadi tertahan.Ia melepas jaketnya, lalu menatap Alres dengan kening berkerut tajam. "Al, apa kita akan diam saja membiarkan Regan menuduh kita yang tidak-tidak? Kenapa tadi kamu tidak jujur saja soal alasan sebenarnya kita ada di sana?" tanya Dion penasaran.Alres berjalan menuju sofa, melabuhkan tubuhnya dengan helaan napas panjang. Wajahnya tampak menyiratkan beban pikiran yang berat."Kalau aku menceritakan yang sebenarnya pada Regan, situasinya justru akan semakin runyam, Dion," jawab Alres tenang namun serius. "Untuk saat ini, l

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 204

    Udara di dalam ruang VVIP rumah sakit itu mendadak terasa begitu tipis dan menyesakkan. Pertanyaan tajam yang dilontarkan Regan menggantung di udara, menciptakan garis ketegangan yang kasat mata di antara para pria di ruangan tersebut.Regan berdiri tegak dengan tatapan menyelidik, kedua tangannya terlipat di dada, sementara sorot matanya menatap Alres dan Dion tanpa sedikit pun rasa percaya.Mendapat tatapan setajam elang dari Regan, Alres sama sekali tidak gentar. Pria itu mengangkat dagunya perlahan, meski sebelah lengannya masih terbalut perban putih tebal. Alres menarik napas pendek sebelum akhirnya bersuara memecah keheningan."Tidak ada niat tersembunyi di balik keberadaan kami di sana, Regan," jawab Alres dengan nada tenang namun tegas. "Alasannya sangat sederhana. Aku dan Dion berencana mengadakan meeting bisnis pagi itu di kafe tempat Alena dan Bella berada."Alres melirik sekilas ke arah Alena, lalu kembali menatap Regan lurus-lurus. "

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 203

    Aroma khas antiseptik dan obat-obatan mendominasi lorong hingga ke dalam ruang VVIP rumah sakit privat milik keluarga Regantara. Di dalam ruangan bernuansa putih bersih itu, kecemasan masih menggelayut tebal di wajah Alena. Ia terus mondar-mandir di dekat ranjang pesakitan, menatap nanar sahabatnya, Bella, yang terbaring lemas dengan mata terpejam. Sudah sekian jam berlalu sejak insiden penyerangan tadi, namun Bella belum juga menunjukkan tanda-tanda sadar sepenuhnya dari efek bius kimia pekat tersebut.Pintu ruang rawat mendadak terbuka dari luar. Seorang pria berjas putih jas dokter dengan stetoskop menggantung di lehernya melangkah masuk. Alena seketika menoleh penuh harap, namun ia dibuat terperanjat kaget begitu melihat siapa dokter yang bertugas.Biru? batin Alena tak percaya.Pria yang selama ini ia kenal sebagai sahabat Regan yang lembut namun berhati dingin. Ia juga ternyata lihai mengemudikan mobil di jalanan ternyata memiliki profesi asli sebagai seorang dokter spesialis di

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 202

    Pecahan kaca jendela mobil berserakan di pangkuan Bella, memantulkan teror nyata di mata kedua wanita itu. Sebelum mereka sempat berteriak, tangan-tangan kasar berotot mencengkeram lengan mereka tanpa ampun, menarik paksa tubuh Alena dan Bella keluar dari kabin mobil yang sempit."Lepaskan kami! Tolong!" rontak Alena sekuat tenaga, menendang-nendang ke udara sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman preman berbaju hitam tersebut.Bella di sisi lain sudah menjerit histeris saat salah satu penculik membekap mulut dan hidungnya menggunakan selembar kain yang telah disemprot cairan kimia pekat."Mmmph—!" Bella meronta hebat, namun efek bius itu bekerja terlalu cepat. Dalam hitungan detik, kesadaran Bella meredup, tubuhnya melemas, dan ia terkulai lemas tak berdaya dalam dekapan sang penculik.Melihat sahabatnya tak sadarkan diri, kepanikan Alena mencapai puncaknya. Air matanya menetes deras. Penculik yang memegang Alena kini mulai mendekatkan kain bius ke wajahnya. Alena memejamkan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status