MasukMelihat Angel sibuk mengejar Alena, ponsel Dion di dalam saku jasnya bergetar. Satu pesan masuk dari tim penyelidik lapangan. Setelah membacanya, mata Dion membelalak lebar. Tanpa membuang waktu, Dion segera memanggil Alena yang belum melangkah jauh."Alena, tunggu ...!" seru Dion keras. Ia lalu menoleh dan menarik lengan Alres. "Res, cepat ikuti aku!"Alres yang kebingungan tidak membantah, ia segera menyusul langkah Dion. Kevin dan Rafael pun ikut berlari di belakang mereka.Alena menghentikan langkahnya saat mendengar suara Dion memanggil dari belakang. Ia mengabaikan Angel yang masih merengek, lalu berbalik menatap rombongan itu dengan tatapan dingin."Ada apa lagi, Dion?" tanya Alena datar."Dion, sebenarnya apa yang mau kamu tunjukkan?" selak Alres yang makin tidak sabar.Dion menarik napas panjang, lalu menatap Alena dan Alres bergantian. "Alena, tolong jangan pergi dulu. Ini ada hubungannya dengan insiden danau belasan tahun lalu ...
Dion menatap Alres yang berdiri di sebelahnya. Sejujurnya, di dalam saku jas Dion sudah tersimpan laporan awal mengenai gelang manik-manik dan insiden danau belasan tahun lalu. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk langsung membeberkan segalanya saat itu juga. Namun, Dion menahan diri. Ada satu detail krusial yang masih butuh konfirmasi lanjutan dari saksi kunci di panti asuhan, dan ia tidak boleh memberikan fakta setengah matang yang bisa memicu kekacauan baru.Dion akhirnya mengurungkan niatnya. "Ada beberapa hal kecil dari tim lapangan yang masih harus saya pastikan kembali, Tuan Alres. Saya akan menyampaikan laporan lengkapnya begitu semua bukti tervalidasi."Alres hanya mengangguk kaku, pikirannya terlalu kalut untuk mempertanyakannya lebih jauh.Tak lama kemudian, derap langkah teratur terdengar di lorong. Tim dokter spesialis kebanggaan Alena dari Edward Medical Center tiba bersama dua orang dokter forensik yang ditunjuk resmi oleh pihak kepolisi
"Angel ...." gumam Alena pelan saat matanya mengunci sosok gadis yang berdiri di belakangnya dengan raut wajah penuh tuntutan.Alena memiringkan kepalanya sedikit, lalu terkekeh halus. Sebuah senyum miring yang terkesan remeh terukir manis di bibirnya, memancarkan ironi yang begitu kental atas ucapan bernada manipulatif dari Angel barusan."Sok polos dan bertingkah seolah menjadi korban ...." desis Alena dengan suara tenang namun menusuk tajam. "Justru karena kelakuan sok polos dan tipu dayanya itulah, hidupku hancur dan aku harus menderita selama lima tahun dalam pernikahan beracun. Jika dia memang merasa 'merelakan' Alres untukku, kenapa dia tidak mencoba merebutnya secara terang-terangan di awal sebelum aku dan Alres menikah?"Alena menatap Angel yang kini pucat pasi. "Kenapa dia harus menunggu aku menjadi istrinya dulu, lalu perlahan merusak rumah tanggaku dari dalam dengan pura-pura menjadi wanita paling malang di dunia?"Alres yang berdiri tak jauh dari sana seketika tertegun he
Pintu kamar rawat VIP kembali terbuka. Dokter Peter keluar dengan raut wajah sangat serius dan penuh keprihatinan yang tertata rapi. Di luar, Alres, dua petugas kepolisian, serta Dion, Rafael, Kevin, dan Angel masih menunggu dengan cemas."Dokter, bagaimana kondisi Keira?" tanya Alres cepat dengan suara parau.Dokter Peter menarik napas panjang, menyesuaikan kacamata di pangkal hidungnya sebelum berbicara dengan nada klinis yang meyakinkan dan penuh wibawa."Tuan Alres, Pak Polisi, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, Nona Keira mengalami Disosiatif Stupor yang dipicu oleh Sinkop Vaskular berat pasca-kejadian tenggelam tadi malam dan sebelumnya," terang Dokter Peter seraya menunjukkan berkas rekam medis resmi di tangannya."Tekanan emosional dan trauma yang ekstrem membuat respons saraf otaknya menurun drastis hingga ia kehilangan kesadaran secara berkala," lanjut Dokter Peter. "Untuk penanganan medis dasar, rumah sakit kami tentu sanggup. Namun, untuk pemulihan trauma sarafnya secara
Langkah kaki yang tergesa-gesa menggema riuh di lorong Rumah Sakit Internasional Hilstown. Dion, Rafael, Kevin, dan Angel berjalan cepat dengan raut wajah panik dan tidak percaya. Kabar penangkapan Keira atas tuduhan pencemaran nama baik hingga percobaan pembunuhan yang disampaikan Alres via telepon benar-benar menghantam mereka bagai petir di siang bolong.Setibanya di depan kamar rawat VIP, langkah mereka terhenti sejenak. Dua petugas kepolisian berseragam lengkap berdiri tegap bersama beberapa pria berjas hitam dengan postur tubuh tinggi tegap, menjaga pintu kamar tersebut dengan ketat dan mengintimidasi. Beruntung, setelah dokter pribadi Keira keluar dan memberikan izin, mereka dipersilakan masuk satu per satu.Di dalam kamar, Keira masih terbaring kaku tak sadarkan diri di atas bangsal dengan selang infus menancap di tangannya. Sementara Alres terduduk di sofa ujung ruangan, memijat pelipisnya dengan raut wajah yang amat gelisah dan lesu."Alres! Ini beneran?!" Kevin membuka suar
Langkah kaki Regan terhenti di anak tangga pertama. Dahinya berkerut dalam, menatap ke arah pintu utama yang berukir megah. Jam dinding raksasa di sudut ruang tengah menunjukkan hampir pukul satu malam. Siapa yang bertamu di jam yang teramat tak lazim ini?Dengan langkah tenang namun waspada, Regan memutar arah jalannya menuju ruang tamu. Ia menarik napas panjang sebelum memutar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.Rasa terkejut seketika menghantam Regan saat sosok wanita paruh baya bertubuh anggun, dibalut gaun malam mahal dan mantel bulu elegan, berdiri di balik pintu. Senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibirnya yang terpoles lipstik merah ceri."Mami ...?" gumam Regan, matanya membelalak pelan. "Kapan Mami pulang dari Bristown? Kenapa langsung ke sini dan bukannya ke kediaman utama?"Miranti, ibunda Regan, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. Suara ketukan high heels-nya menggelegar ritmis di atas lantai marmer, menebarkan aroma parfum mawar Prancis yang kuat







