Compartilhar

Bab 24

Autor: Ayyliana
last update Data de publicação: 2026-08-26 18:17:15

Keesokan paginya, Alena sengaja menunggu hingga Alres dan Keira berangkat kerja terlebih dahulu.

Dari balik jendela kamarnya, ia melihat mobil Alres perlahan meninggalkan halaman rumah. Keira duduk di kursi depan seperti biasanya. Setelah mobil itu menghilang di balik gerbang, Alena mengambil tasnya.

Tidak lama kemudian, Bella datang menjemputnya. “Siap melihat calon rumah baru?” tanya Bella begitu Alena masuk ke dalam mobil.

Alena tersenyum tipis. “Belum tentu jadi.”

Bella meliriknya sambil t
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 159

    Bella menghentikan langkahnya, menatap bingung ke arah Alena yang mendadak berbalik dan mengajaknya pergi dari pintu masuk restoran seafood terbuka di tepi pantai itu."Kenapa, Alena? Tempat ini padahal—"Kalimat Bella terhenti ketika matanya mengikuti arah pandangan Alena. Di salah satu meja dekat sudut kaca yang menghadap langsung ke laut, duduk seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung asal-asalan. Sosok itu tampak begitu kacau, dengan mata merah membiru dan sebotol minuman keras yang sudah setengah kosong di meja.Alres. Pria itu tampak hancur, tenggelam dalam penyesalan mendalam setelah kebenaran tentang gelang manik-manik dan insiden danau membongkar seluruh kebohongannya.Sebelum Alena dan Bella sempat melangkah keluar dari area restoran, seorang pelayan yang membawa nampan tak sengaja menyenggol kursi Alres, membuat botol kaca di mejanya bergeser dan jatuh berdentang ke lantai. Suara nyaring itu memancing perhatian Alres. P

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 158

    Langkah Shanon dan Nyonya Miranti yang menghampiri saung pantai seketika memancing ketegangan. Shanon, dengan senyum sinis dan dagu terangkat tinggi, tampak sudah tidak sabar untuk melancarkan serangan verbal. Di sampingnya, Nyonya Miranti—ibu dari Regan—melangkah dengan raut wajah kaku.Selama ini, Nyonya Miranti selalu memandang Alena dengan sebelah mata. Di telinga wanita paruh baya itu, Shanon kerap membisikkan berbagai cerita buruk dan hasutan negatif, menggambarkan Alena sebagai wanita manipulatif, tidak tahu aturan, dan memanfaatkan kebaikan anaknya, Regan."Mami lihat sendiri, kan? Dia benar-benar santai berlibur setelah membuat kerusuhan!" bisik Shanon memompa emosi Nyonya Miranti saat mereka makin dekat.Namun, sebelum Shanon sempat melontarkan makian lebih lanjut, sebuah insiden mendadak terjadi di area pasir tak jauh dari mereka.Seorang anak kecil yang sedang berlari membawa es krim tiba-tiba tersandung akar pohon kelapa dan jatuh tersungkur.

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 157

    Mobil sedan hitam itu segera melaju meninggalkan area rumah sakit, membelah jalanan kota yang lengang di bawah pendar lampu malam.Suasana di dalam kabin terasa begitu hangat dan menenangkan. Setelah ketegangan hebat yang baru saja ia lalui, kehadiran Bella bagai pelabuhan yang aman."Jadi ...." Bella melirik sekilas ke arah Alena sambil tetap fokus menyetir. "Bagaimana rasanya setelah berhasil menyeret Keira ke kantor polisi? Apakah kamu puas?"Alena menoleh ke samping, menatap garis wajah sahabat setianya itu. Alena menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis di bibirnya."Bukan cuma sekadar puas, Bella," jawab Alena dengan suara dingin namun tenang. "Apa yang didapatkan Keira sekarang ... dia jauh lebih pantas mendapatkannya setelah semua hal busuk yang ia lakukan."Bella tersenyum lebar, sudut bibirnya terangkat membentuk garis kepuasan. Ia memukul setir pelan dengan satu tangan. "Begitu dong! Ini baru sahabatku, Alena

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 156

    Dua petugas kepolisian bersama empat pengawal pribadi Alena yang bersiap di pintu langsung tersadar dari keterkejutan mereka."Bawa mereka yang terlibat ke kantor polisi sekarang juga," perintah Regan dingin, matanya beralih sekilas menunjuk Keira yang masih terengah-engah di lantai dan Angel yang gemetaran di pojok dinding. "Pastikan semua bukti kejahatan dan manipulasi medis ini diserahkan langsung ke penyidik utama.""Baik, Tuan!" tegas komandan polisi.Petugas kepolisian segera maju mengunci kedua lengan Keira yang mencoba memukul dan meronta, sementara pengawal Alena menghadang jalan Angel agar tak bisa melarikan diri."Lepaskan aku! Regan, kamu dibohongi wanita ini! Lepaskan aku!" jerit Keira histeris saat tubuhnya dipaksa berdiri dan diseret keluar dari ruang perawatan.Namun, seruan dan tangisan histeris itu tak lagi digubris oleh siapa pun. Kerusuhan yang Keira ciptakan malam itu akhirnya berakhir di bawah pengawalan ketat menuju mobil tah

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 155

    Napas Keira memburu, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Pelipisnya dibasahi keringat dingin yang membuat beberapa helai rambutnya menempel acak di dahi. Tatapan matanya menyalang penuh kebencian yang mendalam, terkuat pada sosok Alena yang berdiri begitu anggun dan tenang di dekat pintu."Alres tidak akan pernah benar-benar meninggalkanku! Kamu dengar itu, Alena?!" teriak Keira histeris, suaranya melengking tinggi hingga memantul di dinding-dinding dingin ruang perawatan. "Dia sangat mencintaiku! Dia berutang nyawa padaku! Terlebih lagi ... aku adalah satu-satunya wanita yang menyelamatkannya dari dasar danau kala itu!"Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa panik dan kegilaan, Keira merogoh bagian bawah bantal di ranjang pesakitannya. Jemarinya yang gemetaran menarik keluar sebuah benda kecil yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.Ia menggenggamnya erat-erat, lalu memamerkannya ke udara di hadapan semua orang.Sebuah gelang manik-manik s

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 154

    Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa itu memotong keheningan mencekat di lorong. Semua mata seketika teralih pada sosok pria tinggi berjas hitam—salah satu bodyguard kepercayaan yang ditugaskan Alena untuk mengawal proses pemeriksaan di dalam kamar rawat.Pria itu berhenti beberapa langkah di depan Alena dan Regan, lalu menundukkan kepala dengan takzim."Nona Alena, Tuan Regan," lapor bodyguard itu dengan napas sedikit terengah namun suaranya terdengar sangat mantap. "Prosedur pemeriksaan ulang dan uji laboratorium oleh Tim Forensik Kepolisian serta Kepala Rumah Sakit sudah selesai dilaksanakan secara khusus dan cepat."Laporan singkat itu seketika memecah atmosefer kalut di lorong. Alena merapikan letak blazer-nya, lalu melangkah lebih dulu tanpa mengindahkan Alres yang masih mematung dengan linangan air mata di pipinya. Regan mengiringi langkah Alena dengan protektif, diikuti oleh Dion, Rafael, Kevin, Angel, dan Alres yang melangk

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status