로그인"Angel ...." gumam Alena pelan saat matanya mengunci sosok gadis yang berdiri di belakangnya dengan raut wajah penuh tuntutan.Alena memiringkan kepalanya sedikit, lalu terkekeh halus. Sebuah senyum miring yang terkesan remeh terukir manis di bibirnya, memancarkan ironi yang begitu kental atas ucapan bernada manipulatif dari Angel barusan."Sok polos dan bertingkah seolah menjadi korban ...." desis Alena dengan suara tenang namun menusuk tajam. "Justru karena kelakuan sok polos dan tipu dayanya itulah, hidupku hancur dan aku harus menderita selama lima tahun dalam pernikahan beracun. Jika dia memang merasa 'merelakan' Alres untukku, kenapa dia tidak mencoba merebutnya secara terang-terangan di awal sebelum aku dan Alres menikah?"Alena menatap Angel yang kini pucat pasi. "Kenapa dia harus menunggu aku menjadi istrinya dulu, lalu perlahan merusak rumah tanggaku dari dalam dengan pura-pura menjadi wanita paling malang di dunia?"Alres yang berdiri tak jauh dari sana seketika tertegun he
Pintu kamar rawat VIP kembali terbuka. Dokter Peter keluar dengan raut wajah sangat serius dan penuh keprihatinan yang tertata rapi. Di luar, Alres, dua petugas kepolisian, serta Dion, Rafael, Kevin, dan Angel masih menunggu dengan cemas."Dokter, bagaimana kondisi Keira?" tanya Alres cepat dengan suara parau.Dokter Peter menarik napas panjang, menyesuaikan kacamata di pangkal hidungnya sebelum berbicara dengan nada klinis yang meyakinkan dan penuh wibawa."Tuan Alres, Pak Polisi, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, Nona Keira mengalami Disosiatif Stupor yang dipicu oleh Sinkop Vaskular berat pasca-kejadian tenggelam tadi malam dan sebelumnya," terang Dokter Peter seraya menunjukkan berkas rekam medis resmi di tangannya."Tekanan emosional dan trauma yang ekstrem membuat respons saraf otaknya menurun drastis hingga ia kehilangan kesadaran secara berkala," lanjut Dokter Peter. "Untuk penanganan medis dasar, rumah sakit kami tentu sanggup. Namun, untuk pemulihan trauma sarafnya secara
Langkah kaki yang tergesa-gesa menggema riuh di lorong Rumah Sakit Internasional Hilstown. Dion, Rafael, Kevin, dan Angel berjalan cepat dengan raut wajah panik dan tidak percaya. Kabar penangkapan Keira atas tuduhan pencemaran nama baik hingga percobaan pembunuhan yang disampaikan Alres via telepon benar-benar menghantam mereka bagai petir di siang bolong.Setibanya di depan kamar rawat VIP, langkah mereka terhenti sejenak. Dua petugas kepolisian berseragam lengkap berdiri tegap bersama beberapa pria berjas hitam dengan postur tubuh tinggi tegap, menjaga pintu kamar tersebut dengan ketat dan mengintimidasi. Beruntung, setelah dokter pribadi Keira keluar dan memberikan izin, mereka dipersilakan masuk satu per satu.Di dalam kamar, Keira masih terbaring kaku tak sadarkan diri di atas bangsal dengan selang infus menancap di tangannya. Sementara Alres terduduk di sofa ujung ruangan, memijat pelipisnya dengan raut wajah yang amat gelisah dan lesu."Alres! Ini beneran?!" Kevin membuka suar
Langkah kaki Regan terhenti di anak tangga pertama. Dahinya berkerut dalam, menatap ke arah pintu utama yang berukir megah. Jam dinding raksasa di sudut ruang tengah menunjukkan hampir pukul satu malam. Siapa yang bertamu di jam yang teramat tak lazim ini?Dengan langkah tenang namun waspada, Regan memutar arah jalannya menuju ruang tamu. Ia menarik napas panjang sebelum memutar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.Rasa terkejut seketika menghantam Regan saat sosok wanita paruh baya bertubuh anggun, dibalut gaun malam mahal dan mantel bulu elegan, berdiri di balik pintu. Senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibirnya yang terpoles lipstik merah ceri."Mami ...?" gumam Regan, matanya membelalak pelan. "Kapan Mami pulang dari Bristown? Kenapa langsung ke sini dan bukannya ke kediaman utama?"Miranti, ibunda Regan, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. Suara ketukan high heels-nya menggelegar ritmis di atas lantai marmer, menebarkan aroma parfum mawar Prancis yang kuat
Di dalam kabin mobil mewah yang melaju tenang membelah keheningan malam kota, aroma leather berpadu dengan wangi parfum maskulin milik Regan.Regan melirik sekilas ke arah kursi penumpang di sampingnya, tempat Alena duduk termenung menatap keluar. Jemari wanita itu saling bertautan di pangkuannya, menyiratkan sisa-sisa ketegangan dari apa yang baru saja terjadi di rumah sakit dan aula pesta."Alena," panggil Regan lembut, memecah kesunyian yang sempat mendominasi. "Kamu tampak begitu tenang, tapi aku tahu pikiranmu sedang melayang ke mana-mana. Apa kamu benar-benar yakin tidak ingin menuntut semua kasus Keira secara bersamaan? Termasuk menyeret Angel yang selama ini menjadi kaki tangannya?"Alena menoleh perlahan. Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Dua dakwaan itu—pencemaran nama baik dan percobaan pembunuhan di eskalator—sudah lebih dari cukup untuk membuat Keira mendekam sangat lama di balik jeruji besi, Regan. Hukum akan bekerja setimpal padanya."Alena
"Apa maksud kalian?!" Alres membentak, matanya menatap tajam para pria berjas yang ternyata didampingi oleh dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap.Petugas polisi melangkah maju seraya mengacungkan sebuah amplop dokumen resmi. "Kami membawa surat perintah penangkapan atas nama Nona Keira. Beliau resmi dilaporkan atas kasus pencemaran nama baik serta penyebaran berita bohong terhadap Nona Alena. Selain itu, berdasarkan bukti baru yang diserahkan, Nona Keira juga dijerat pasal percobaan pembunuhan atas insiden di mal, di mana beliau terbukti sengaja mendorong Nona Alena dari atas eskalator.""Apa?!" Alres terperanjat hebat, kaget setengah mati. Wajahnya pucat seketika. "Apakah Anda tidak salah tuduhan?! Keira tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!"Polisi menyerahkan surat perintah penangkapan beserta berkas salinan bukti kepada Alres. Dengan tangan yang gemetar hebat, Alres membaca setiap lembar dokumen tersebut. Di dalamnya terlampir rekaman CCTV mal yang memperlihatkan gera







