Share

Bab 85

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-09-18 17:39:34

Alena menatap pria tinggi yang berdiri beberapa langkah di belakang Keira. Dadanya langsung terasa sesak ketika mengenali wajah itu.

Keira yang tadi terlihat tegang juga langsung menoleh. Wajahnya sempat menunjukkan keterkejutan yang membuatnya mencengkeram erat gaunnya.

"Alres?"

Pria itu berjalan mendekat. Tatapannya berpindah dari Keira kepada Alena. Ada ketegangan di wajahnya, tetapi kali ini bukan hanya karena melihat keduanya bersama.

"Untuk apa kamu mengintimidasi Keira?" tanyanya kepada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 87

    Alena baru saja memasuki lobi Hartawan Corporation. Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Alres dan Keira di kafe tadi.Ia tidak menyangka Keira bisa menyimpan kebencian sedalam itu kepada keluarga Hartawan. Setelah semua yang diberikan ayahnya, bagaimana mungkin Keira menganggap semua bantuan tersebut sebagai sesuatu yang harus dibayar dengan hidup mereka?Namun, yang lebih membuat Alena bingung adalah Alres. Pria itu tahu Keira berbohong tentang donor darah, tetapi masih berusaha mencari alasan untuknya.Alena menghela napas panjang. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, ia tidak menyadari ada tiang di depannya. Tubuhnya hampir menabrak tiang tersebut. Namun, sebelum dahinya mengenai permukaan tiang, sebuah telapak tangan menahan dahinya.Alena terkejut. Ia mengangkat wajah. "Regan?"Regantara berdiri di depannya. Tangannya masih berada di depan dahi Alena, memastikan perempuan itu tidak benar-benar menabrak tiang."Kamu sedang memikirkan apa sampai hampir menabrak t

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 86

    Setelah Alena tak lagi terlihat dalam pandangannya, Alres berbalik. Keira masih berdiri di depan pintu kafe. Wanita itu menatap Alres dengan wajah yang sulit dibaca.Alres berjalan mendekatinya dengan langkah tenang, tetapi wajahnya terlihat dingin. "Kita bicara di dalam."Keira mengangguk pelan. Mereka kembali ke meja yang tadi digunakan untuk berbicara dengan Alena.Setelah duduk, Alres langsung menatap Keira. "Kenapa kamu berbohong tentang donor darah?"Keira terdiam. Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal. "Aku ...." Untuk beberapa saat, Keira terlihat kesulitan menjawab.Alres tidak mengalihkan pandangan. "Aku sudah tahu darah kalian tidak cocok. Alena tidak mungkin menerima darahmu lima tahun lalu."Keira menunduk. Air mata tiba-tiba jatuh dari sudut matanya. "Maaf."Alres mengerutkan kening."Aku tidak punya pilihan waktu itu.""Apa yang harus kamu pilih, keira?"Keira menggeleng. "Alres, aku benar-benar tidak punya pilihan."Ia mengusap air matanya. "Saat itu, ak

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 85

    Alena menatap pria tinggi yang berdiri beberapa langkah di belakang Keira. Dadanya langsung terasa sesak ketika mengenali wajah itu.Keira yang tadi terlihat tegang juga langsung menoleh. Wajahnya sempat menunjukkan keterkejutan yang membuatnya mencengkeram erat gaunnya."Alres?"Pria itu berjalan mendekat. Tatapannya berpindah dari Keira kepada Alena. Ada ketegangan di wajahnya, tetapi kali ini bukan hanya karena melihat keduanya bersama."Untuk apa kamu mengintimidasi Keira?" tanyanya kepada Alena.Alena mengerutkan kening. "Mengintimidasi?""Aku sudah menceritakan masalah kecelakaan lima tahun lalu kepadamu." Suara Alres terdengar tegas. "Kenapa kamu masih terus mengejar Keira?"Alena terdiam. Jadi Alres tidak mendengar semuanya.Pria itu pasti datang setelah percakapan mereka berlangsung. Dia tidak mendengar rekaman suara Angel dan Keira, ia juga tidak mendengar pengakuan Keira tentang rencananya terhadap Alena. Pasti yang ia dengan tentang donor darah dan pertanyaannya tentang ke

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 84

    Keesokan harinya, Alena benar-benar menemui Keira. Ia sengaja mengikuti Keira ketika perempuan itu pergi makan siang bersama Angel. Alena tidak ingin membuat keributan, apalagi membicarakan masalah ini di depan banyak orang.Begitu melihat keduanya duduk di sebuah meja, Alena langsung menghampiri. Angel yang pertama kali menyadari kehadirannya."Wow, siapa ini?" Angel tersenyum sinis. "Si pembajak desain?"Alena tidak meladeni. Tatapannya hanya tertuju kepada Keira. "Kita perlu bicara empat mata."Keira mengangkat alis. "Angel bukan orang asing. Kamu bisa langsung bicara."Alena menarik kursi. Lalu berbisik di telinga Keira. "Oke. Kalau memang kamu ingin semua orang tahu."Senyum Keira langsung menghilang. Ia menoleh kepada Angel. "Tunggu di sana sebentar."Angel terlihat tidak senang, tetapi akhirnya bangkit dan meninggalkan meja.Keira kemudian membawa Alena ke meja paling ujung. Setelah mereka duduk, Keira langsung bertanya, "Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Alena menatapnya ten

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 83

    Setelah membawa Alena keluar dari kediaman Hartawan, ia segera membawanya pulang. Begitu sampai di Vila Amarilis miliknya, Regantara segera memanggil dokter pribadinya.Ia sendiri membawa Alena ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Tubuh perempuan itu masih panas dan sesekali menggeliat gelisah."Siapkan air dingin," perintah Regantara kepada salah satu pembantu. Ia ingin membantu menurunkan panas tubuh Alena sambil menunggu dokter datang.Tidak lama kemudian, dokter tiba dan langsung memeriksa keadaan Alena. Pembantu rumah tangga Regantara juga sudah mengganti pakaian Alena dengan pakaian yang lebih nyaman. Dokter memberikan obat penawar dan meminta Regantara terus mengawasi kondisinya.Beberapa waktu kemudian, napas Alena mulai teratur. Perempuan itu akhirnya tertidur. Regantara duduk di sisi ranjang dan menatap wajahnya. Namun, ingatannya kembali pada beberapa saat setelah ia membawa Alena ke kamar mandi.Saat itu Alena masih berada di bawah pengaruh obat. Ketika Regantara

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 82

    Alena perlahan membuka mata.Langit-langit putih menjadi hal pertama yang dilihatnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyadari bahwa ia sedang berada di sebuah kamar yang tidak dikenalnya.Alena langsung bangkit. Tubuhnya terasa lemas. Kepalanya sedikit berat dan panas masih terasa di sekujur tubuhnya. Ia menunduk memeriksa pakaiannya. Bukan pakaian yang dikenakannya semalam.Jantung Alena berdetak lebih cepat.Ia segera turun dari tempat tidur dan melihat sekeliling kamar. Tidak ada satu pun barang yang dikenalnya. Ini bukan kamar di rumah Hartawan.Alena berjalan keluar kamar dengan langkah pelan. Ia menuruni tangga dan semakin yakin bahwa tempat ini bukan kediaman Hartawan. Namun, sebelum sempat mencari tahu lebih jauh, ingatannya tentang kejadian semalam kembali muncul.Alres menariknya dan menciumnya secara paksa. Kemudian tubuhnya tiba-tiba merasa aneh. Alena berhenti di anak tangga terakhir. Tangannya mengepal. Ternyata Alres bisa melakukan hal seperti itu kepadanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status