Share

Kau Menolakku, Aku Berpaling
Kau Menolakku, Aku Berpaling
Author: Sri_Eahyuni

Diabaikan

Author: Sri_Eahyuni
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-17 16:00:27

Malam ini begitu dingin. Hujan mengguyur sejak sore, membasahi bumi tanpa jeda. Namun, dinginnya udara tak sebanding dengan dinginnya perlakuan Mas Ogi terhadapku. Di dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat kami berbagi kasih, justru hatiku kembali dibuat remuk berkeping-keping.

"Longgar banget, Bun, enggak kerasa apa-apa," ujar Mas Ogi, suamiku.

Namun begitu, ia tetap menuntaskan hasratnya hingga selesai.

Selepas itu, dia pergi begitu saja tanpa memperdulikan rasa sakit di hatiku.

Kata-kata Mas Ogi tak hanya menusuk relung hati ini, tapi juga mengoyak harga diriku sebagai seorang istri.

Malam ini bukan kali pertama ia mengucapkannya.

Bagaimana tidak longgar, dua bidadari sudah kuhadirkan ke dunia untuknya.

"Buruan ke kamar mandi sana, terus tidur," kata Mas Ogi, membuyarkan lamunanku.

"Mas, aku masih pengen," rengekku.

"Besok aja lagi. Salah siapa longgar," jawabnya semakin mengiris hatiku.

Setelah dari kamar mandi ia langsung merebahkan tubuhnya di sampingku lalu memejamkan mata.

Demi Mas Ogi, setiap hari aku berlatih senam aerobik dan kegel, berkat postingan seseorang yang lewat di beranda.

Berlatih sendiri di rumah ternyata tak semudah yang kupikir. Bukan hasil maksimal yang kudapatkan, malah badan pegal-pegal semua.

Akhirnya, ku beranikan diri meninggalkan komentar di salah satu video terbarunya,

"Lentur banget, Kak. Jadi pengen ikut latihan. Kalau deket, pasti udah aku ikutan gabung."

Tak kuduga, hanya beberapa menit kemudian, notifikasi masuk.

"Gas ikutan, Kak! Olahraga anti pelakor!"

Aku tersenyum kecil membaca balasan itu. Spontan, rasa penasaran membuncah.

"Lokasi mana, Kak?"

Kutulis dengan hati-hati, berharap tempatnya tak terlalu jauh. Jika memang dekat, aku sudah bertekad akan datang.

Dan beberapa saat kemudian, balasannya muncul lagi.

"Di Studio Movefit, dekat taman kota Jepara. Latihan tiap hari mulai jam satu siang."

Aku membacanya dengan jantung sedikit berdebar. Tempat itu… tak sampai empat puluh menit dari rumahku.

Dalam hati aku mengangguk.

Aku akan datang. Demi mas Ogi bisa menghargaiku.

Sekarang di sinilah aku, sedang latihan yang dipandu Mbak Ika. Wanita beranak tiga itu nampak segar, meski usianya sudah menginjak kepala empat. Ia tampak seperti perempuan dua puluhan—penuh semangat dan energi.

"Ayok, terus... bokongnya di goyangin!" teriak Mbak Ika sambil tersenyum lebar, menambah semangat kami yang sudah mulai berkeringat.

Aku mencoba menyesuaikan gerakan, walau otot-ototku masih kaku dan malas diajak bergerak. Tapi aura positif Mbak Ika membuatku tak ingin menyerah.

Di sekelilingku, beberapa peserta lain juga sibuk mengikuti instruksi, tertawa dan saling menyemangati.

“Ayo, Manda! Jangan kalah semangat!” seru Mbak Ika dengan suara yang ceria dan penuh energi.

“Kita ulang lagi, gerakan kaki ke kanan, lalu ke kiri, terus ayunkan tangan sampai sejajar bahu!” imbuh Mbak Ika.

Aku mengusap keringat yang mulai mengalir di dahiku, berusaha mengikuti setiap gerakannya dengan sekuat tenaga.

“Ingat, napas yang teratur, jangan sampai ngos-ngosan, ya. Biar tubuh makin lentur dan bugar!” Mbak Ika tersenyum sambil memberi semangat ke semua peserta, membuat suasana jadi hangat dan menyenangkan.

“Bagus, Manda! Terus yok semangat!"

Suara musik yang upbeat memenuhi ruangan, menambah semangat kami untuk terus bergerak dan melupakan sejenak segala beban pikiran.

Namun langkah kaki seseorang mengalihkan perhatian kami dari Mbak Ika.

“Bang Jo…!! Huhuuu…!!” teriak teman-teman serempak sambil bertepuk tangan, sampai kegiatan senam pun terhenti sejenak.

Lelaki bertubuh tinggi itu tersenyum hangat dan membalas,

“Halo, semuanya! Masih semangat kan?"

Teman-teman langsung menyambutnya dengan sorak dan tepuk tangan semakin riuh.

"Semangat dong, Bang."

Lelaki yang dipanggil Bang Jo itu berbisik sebentar pada Mbak Ika. Mbak Ika pun tersenyum sambil mengangguk-angguk. Apakah Bang Jo suaminya, ya?

Setelah itu, Mbak Ika langsung mematikan musik, membuat kami semua saling melirik, penasaran.

Bang Jo menepuk tangan dua kali, lalu berkata, “Oke, teman-teman, mohon waktunya sebentar, saya mau menyampaikan sesuatu yang penting.”

Suasana jadi langsung hening.

“Besok lusa, MoveFit Angels Squad kita dapet undangan dari Pak Lurah buat ikutan memeriahkan jalan sehat 17 Agustusan. Jadi, siap-siap ya, kita bakal tampil bareng!”

Semua teman-teman langsung heboh, ngobrol kecil sambil senyum-senyum. Nama MoveFit Angels Squad adalah grup senam kami. Sedangkan aku sendiri tak tahu mengapa mereka begitu bahagia mendapat sebuah undangan.

Mbak Ika lalu mengangkat tangannya, mengajak semua untuk kembali fokus.

“Oke, teman-teman, yuk kita lanjut! Semangat, jangan sampai kendor! Apalagi ada Bang Jo yang akan membersamai kita!”

"Huuu.... Huuuu...!!" sorak gembira memenuhi ruangan ini.

Aku pun kembali mengatur napas, mencoba menyerap energi positif yang Bang Jo dan Mbak Ika bawa hari ini.

Semua teman-teman langsung terlihat lebih semangat dua kali lipat dari sebelumnya, apalagi waktu Bang Jo mulai berjalan ke arah kami. Lelaki itu memperhatikan satu per satu dari kami, membuat aku otomatis berusaha bergerak lebih baik, lebih luwes, namun kenyataannya gerakanku jauh dari kata sempurna.

Sampai akhirnya dia berhenti tepat di depanku. Tatapannya fokus, memperhatikanku dari kepala sampai kaki. Rasanya gugup setengah mati, kayak lagi disidang.

“Kamu kaku banget. Harusnya nggak gini, tapi begini.” Tangannya langsung membenarkan posisiku. Sentuhannya ringan, tapi cukup bikin jantungku makin nggak karuan. Apalagi saat tangannya tak sengaja menyentuh buah berhargaku.

"Huuu... Bang Jo aku juga mau di benerin dong," rengek Mbak Desi dengan manja. Wanita seumaran denganku yang berdiri di sampingku itu seorang janda beranak satu.

Pandangan Bang Jo beralih pada Mbak Desi, "Mbak Desi udah bagus banget, udah luwes."

"Uh... Makasih, Bang." Mbak Desi mengerlingkan sebelah matanya dan bang Jo hanya membalas dengan senyuman.

"Bang Jo, maaf Manda anak baru. Dia baru ikut pelatihan dua kali." Dari depan Mbak Ika ikut menimpali.

Memang benar, satu Minggu aku memutuskan hanya untuk mengambil dua kali latihan saja. Dengan alasan jarak yang jauh dan biaya masih menjadi kendala. Dan saat ini aku memasuki Minggu kedua.

Bang Jo fokus padaku kembali, "Oh... Anak baru. Ya udah pokoknya harus semangat buat bisa mengimbangi yang lain."

Aku tak menjawab apa pun selain mengangguk pelan. Kami sekarang ada di posisi jongkok, menahan napas seperti yang diinstruksikan Mbak Ika. Keringat mulai mengalir, tapi fokusku malah terganggu karena Bang Jo berdiri tepat di belakangku.

Kebetulan aku ada di posisi paling pojok, paling belakang pula.

“Kakinya majuin dikit... perutnya tarik ke atas, tahan ya,” ujar Bang Jo pelan, suaranya terdengar dekat di telingaku dan tanpa ku duga kedua tangan Bang Jo......

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Gara-gara Dolly

    "Ada apa sih, Mas?" tanyaku panik saat sampai di teras."Si Dolly keluar. Cepat kamu ikutin dia dan ajak pulang," jawab mas Ogi santai. Bahkan dia sibuk memandikan bu rung yang lainnya. "Tak kirain ada apa, tak tahunya cuma bu rung me bor. Gitu bilangnya kok da rurat," gerutuku dengan kesal.Dolly, nama bu rung kesayangan Mas Ogi. Bu rung murai batu itu memiliki suara yang tajam dan merdu, dengan variasi kicauan yang bisa membuat siapa pun yang mendengarnya berhenti sejenak. Bulu ekornya panjang, melengkung anggun, dan selalu tampak mengembang saat ia berkicau dengan penuh semangat.Bukan hanya bu rung murai batu yang di pelihara, masih ada bu rung Kacer, bu rung cucak ijo dan lainnya. Bu rung-bu rung itulah yang membuat mas Ogi malas bekerja."Berani kamu protes!" "Eh, iya-iya. Yang Dolly Dolly," sahutku cepat berusaha menenangkan Mas Ogi yang sudah terlihat kesal. Aku segera melangkah ke halaman, mataku menyapu sekeliling mencari jejak Dol ly. Namun tak kunjung dengar ada suara ki

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Ketagihan

    Matanya kembali terpejam, tapi bi birnya berkata, "Kayaknya terasa beda. Mengi git.""Kalau punyaku enak, punyamu juga harus kuat dan tahan lama dong!" rutukku. Namun semua kalimat itu hanya tertahan di tenggorokan, aku terlalu takut untuk mengungkapnya. Takut mas Ogi tersinggung dan akan menyakitiku lagi.Suara dengkuran halus terdengar jelas dari bibir mas Ogi. Tanpa membersihkan diri lelaki itu kembali terlelap dalam mimpi. Dengan cepat aku membersihkan diri dan menyusul mas Ogi menyelami alam mimpi.Entah jam berapa Mas Ogi minta di layani dan kali ini aku yang bergerak. Mas Ogi sudah menuntaskan keinginan, aku melanjutkan tidur. Badanku masih terlalu lelah."Yah, aku mau berangkat, minta u ang sakunya dong," ujar Naomi. Gadis itu memang sangat manja dengan ayahnya."Ayah enggak pegang uang, Kak. Kamu sendiri kan tahu uang ayah semua diberikan sama Bunda," balas Mas Ogi. Anak-anakku sudah rapi dengan seragam sekolahnya masing-masing."Enggak mau ah, Bunda ngasihnya selal.u dikit.

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Menyesal, tapi....

    "Alhamdulillah..." Aku menghembuskan nafas lega setelah sampai di depan rumah dengan selamat.Aku menoleh ke belakang, lelaki itu berhenti di jalanan dan masih duduk di atas motornya. Terlihat jelas di mataku dia menggaguk, lalu kembali melajukan sepeda motornya. Siapakah dia?"Astaghfirullah, Bang Jo!" pekikku tertahan. Setelah melihat punggungnya, aku yakin itu Bang Jo.Kenapa Bang Jo mengikutiku ya? Apa dia ingin tahu di mana rumahku? Atau hanya ingin memastikan aku selamat sampai rumah?Kriet...!! Aku yang sedang menduga-duga pun teralihkan dengan suara pintu rumah yang terbuka."Bagus ya jam segini baru pulang. Apa begini tugas seorang istri? Hah!" bentak mas Ogi. Wajahnya merah padam penuh amarah, ia melakah lebar ke arahku.Tubuhku sudah gemetar terlebih dulu, dengan kasar mas Ogi menyeretku mas masuk ke dalam rumah. Brug...!!Tubuhku di lempar begitu saja di lantai, bahkan dahiku terbentur meja. Darah segera terasa mengalir di pelepis."Ampun, Mas. Aku salah," ucapku dengan

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Dosa Satu Malam

    "Astaghfirullah...!!" Aku terperanjat bangun. Pikiranku seperti linglung, dan kini ku sadari aku tengah tertidur entah berapa lama. Selimut tebal menutupi tubuhku yang ternyata polos tanpa memakai sehelai benang. Di sebelahku ada Bang Jo yang menatap dengan tatapan yang tak bisa ku artikan."Bang Jo! Apa yang sudah kamu lakuin ke aku?!" teriaku. Lelaki itu hanya diam saja dan mencoba untuk meraihku. Aku beringsut mundur dengan tubuh yang gemetar.'Astaghfirullah ya Allah, apa yang sudah ku lakukan? Apa aku sudah tidur dengan Bang Jo?' batinku berkecambuk."Jawab, Bang! Jangan diam aja!" bentakku dengan bibir bergetar. Lelaki itu ternyata juga tidak mngenakan pakaian dan kami berada dalam satu selimut. Tentu saja aku sudah melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku, Asmanda. Usiaku 32 tahun sudah memiliki 2 putri yang cantik. Suamiku , Yogi Pradana, usianya 49 tahun. Aku berada di tempat ini supaya bisa menjadi wanita yang sempurna, wanita yang bisa melayani suami dengan ma

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Pesona Rumput Tetangga

    Aku menatap tajam ke arah Bang Jo. Tapi yang kutemukan justru tatapan lembut, seolah dia tak merasa bersalah sedikit pun. Ini pertama kalinya ada lelaki lain—selain Mas Ogi—yang menyentuh tubuhku. Apakah Bang Jo juga bersikap seperti ini pada setiap member baru? Entah berapa lama kita saling bertatapan, musik itu tak terdengar kembali. Justru berganti dengan suara riuh ledekan."Ciiee..... Huuhh... Meleleh aku, Bang, di tatap seperti itu...!!" terdengar suara Mbak Desi yang paling kencang.Seketika aku menoleh, dan ternyata semua orang-orang menatap kami. Bang Jo segera menjauh dariku dan berjalan ke arah depan."Oke semuanya. Jam latihan sudah berakhir," ucap Bang Jo sesekali membenarkan jam tangannya dan mengamati angka jam tersebut. "Kita sambung besok lagi ya. Hemm... Untuk Manda, ada jam tambahan buat kamu biar cepet luwes dan maksimal. Dan saya sendiri yang akan melatih, karena Ika pasti punya kesibukan lainnya," tutur bang Jo."Duh, Manda, kamu punya pesona apa sih bisa dapet

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Diabaikan

    Malam ini begitu dingin. Hujan mengguyur sejak sore, membasahi bumi tanpa jeda. Namun, dinginnya udara tak sebanding dengan dinginnya perlakuan Mas Ogi terhadapku. Di dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat kami berbagi kasih, justru hatiku kembali dibuat remuk berkeping-keping."Longgar banget, Bun, enggak kerasa apa-apa," ujar Mas Ogi, suamiku.Namun begitu, ia tetap menuntaskan hasratnya hingga selesai. Selepas itu, dia pergi begitu saja tanpa memperdulikan rasa sakit di hatiku. Kata-kata Mas Ogi tak hanya menusuk relung hati ini, tapi juga mengoyak harga diriku sebagai seorang istri. Malam ini bukan kali pertama ia mengucapkannya. Bagaimana tidak longgar, dua bidadari sudah kuhadirkan ke dunia untuknya. "Buruan ke kamar mandi sana, terus tidur," kata Mas Ogi, membuyarkan lamunanku. "Mas, aku masih pengen," rengekku. "Besok aja lagi. Salah siapa longgar," jawabnya semakin mengiris hatiku. Setelah dari kamar mandi ia langsung merebahkan tubuhnya di sampingku lalu memejamk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status