Compartilhar

Menyesal, tapi....

Autor: Sri_Eahyuni
last update Data de publicação: 2026-10-17 16:04:17

"Alhamdulillah..." Aku menghembuskan nafas lega setelah sampai di depan rumah dengan selamat.

Aku menoleh ke belakang, lelaki itu berhenti di jalanan dan masih duduk di atas motornya. Terlihat jelas di mataku dia menggaguk, lalu kembali melajukan sepeda motornya.

Siapakah dia?

"Astaghfirullah, Bang Jo!" pekikku tertahan. Setelah melihat punggungnya, aku yakin itu Bang Jo.

Kenapa Bang Jo mengikutiku ya? Apa dia ingin tahu di mana rumahku? Atau hanya ingin memastikan aku selamat sampai rumah?

Kriet...!!

Aku yang sedang menduga-duga pun teralihkan dengan suara pintu rumah yang terbuka.

"Bagus ya jam segini baru pulang. Apa begini tugas seorang istri? Hah!" bentak mas Ogi. Wajahnya merah padam penuh amarah, ia melakah lebar ke arahku.

Tubuhku sudah gemetar terlebih dulu, dengan kasar mas Ogi menyeretku mas masuk ke dalam rumah.

Brug...!!

Tubuhku di lempar begitu saja di lantai, bahkan dahiku terbentur meja. Darah segera terasa mengalir di pelepis.

"Ampun, Mas. Aku salah," ucapku dengan menangis tersedu-sedu.

"Ampun kamu bilang!"

Pruak...!!

"Nih ampun buat kamu, istri yang tak guna!" Selain mulutnya yang tajam, Mas Ogi melempar bunga hias di meja.

"Ahh.... Ampun, Mas!" Aku menjerit. Rasa sakit di kepala ini bertambah dua kali lipat saat benda itu mengenai kepalaku hingga pot bunganya yang terbuat dari tanah pecah setelah jatuh di lantai.

"Ayah, jangan sakiti Bunda!" teriak Hilya, putri bungsuku yang sudah duduk di bangku kelas dua SD.

Gadis kecil itu memelukku erat, seakan-akan memberi perlindungan dan kekuatan untuk bundana yang lemah ini.

"Kenapa, Ayah, jahat banget, selalu nyakitin Bunda terus," imbuh Hilya menatap ayahnya dengan berani.

"Heh bilangin sama Bunda kamu itu, jangan kelayapan enggak jelas terus. Pamitnya senam, tak tahunya ngelayap kayak anak ABG saja!" bentak mas Ogi.

"Mas, jangan bentak Hilya. Dia enggak salah, yang salah aku. Aku memang senam, tapi pas mau pulang hujan deras apalagi petirnya juga gede-gede. Kamu tahu sendiri kan kalau aku takut sama petir, jadi aku ngaup dulu sampai reda karena aku juga enggak bawa mantol." Aku mencoba menjelaskan meski tubuh ini sudah gemetar antara menahan lapar dan juga sakit.

"Alah banyak alasan saja! Mau jadi istri liar kan kamu, pakai alasan senam segala!" seru Mas Ogi tak mau sedikit pun mengerti.

"Ayah dengar sendiri kan, Bunda takut petir, Bunda enggak bawa mantol. Kalau bunda hujan-hujanan terus sakit gimana? Siapa yang akan ngurus Ayah?" Mungkin terlalu kerasnya sikap mas Ogi membuat gadis seumuran Hilya Qanita bisa berkata seperti itu.

"Hah ...!" Mas Ogi menendang pecahan pot bunga dengan kakinya, hampir mengenai tubuhku.

"Anak sama Ibu sama aja pinter cari alasan!" Mas Ogi berlalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.

"Bunda sakit ya?" tanya Hilya sembari meniup-niup luka di dahiku.

"Enggak apa-apa, Dek. Adek udah makan? Terus Kakak mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Udah, Bun, tadi makan di rumahnya Mbah Uti. Kakak di kamar main hp. Adek ambilin obat dulu ya."

Tanpa menunggu persetujuanku, gadis kecil itu berlari mengambil kotak P3K. Tak lama kemudian, ia kembali dengan napas sedikit terengah. Hilya sudah terbiasa mengobati luka-luka kecil di tubuhku—ini bukan kali pertama ayahnya menyakiti sang bunda.

Dengan telaten, Hilya membersihkan darah di pelipisku menggunakan kapas yang sudah dibasahi antiseptik. Wajah mungilnya tampak serius, seperti sedang melakukan tugas penting. Sesekali ia meniup pelan lukaku, mungkin karena takut aku kesakitan.

"Aku menangis bukan karena perihnya luka, tapi karena hatiku tercabik melihat gadis sekecil itu begitu dewasa dalam menghadapi kenyataan yang tidak seharusnya menjadi bagiannya.

“Sudah enggak sakit kan, Bun?” tanyanya lagi, menatapku dengan mata bening yang berkaca-kaca.

Kupaksakan senyum, mengelus rambutnya dengan lembut. “Sudah, Sayang. Terima kasih, ya…”

Hilya mengangguk, lalu memelukku erat. Hangat tubuh kecilnya seolah menjadi perban terbaik untuk luka yang tak terlihat.

Setelah menemani Hilya tidur, aku memutuskan untuk mengisi lambungku yang sudah meronta-ronta minta di isi. Namun sebelumnya aku menengok kamar sebelah mematikan putri sulung ku sudah tertidur.

Aku mengembuskan nafas panjang melihat Naomi masih betah menatap layar hp sedangkan telinganya di tutup dengan handset. Kalau sudah seperti itu dia pasti akan lupa waktu, lupa suara dan lupa segalanya.

"Sudah malam, Naom, tidur," tegurku. Namun gadis yang sudah mulai beranjak dewasa itu tak mengindahkan ucapanku, kepalanya pun masih asik geleng-geleng layaknya berjogetan .

"Naom, Naomi!" Aku kesal tak di respon sama sekali, handset ku tarik dari telinga Naomi seketika gadis itu langsung menatapku dengan kesal.

"Apa sih, Bun, ganggu orang lagi seneng aja!" ucapnya dengan ketus.

Tentu saja hatiku terasa mencoles anak yang di kandung, di lahirkan hingga di besarkan dengan sepenuh hati berani berkata dengan nada seperti itu.

"Udah malem, tidur dulu. Besok kan kamu sekolah," balasku dengan lembut. Aku selalu berkata dengan lembut di hadapan anak-anak berharap kedua anakku akan mencontoh.

"Iya! Tapi balikin dulu itu," ujar Naomi datar sembari menunjuk handset di tanganku.

Aku menyerahkan benda itu, setelah mendapat apa yang di inginkannya Naomi segera mematikan hp dan menarik selimut untuk membungkus tubuhnya.

Setelah memastikan Naomi tidak lagi bermain ponsel, aku segera melangkah menuju dapur. Di sana hanya tersisa nasi putih di dalam magic com. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk membuat nasi goreng sederhana. Hanya dengan bawang putih, cabai, dan sedikit kecap, masakan itu akhirnya terhidang di piring. Perut yang sejak sore kosong pun akhirnya terisi.

Usai makan, aku mengambil air wudhu, lalu membentangkan sajadah. Shalat Isya malam itu terasa berbeda. Biasanya aku memohon agar Allah melembutkan hati Mas Ogi, agar rumah tangga ini terasa hangat. Tapi malam ini... dengan suara lirih dan air mata yang tak kunjung reda, aku hanya bisa mengucap,

"Ya Allah... ampuni aku. Aku telah terjatuh ke dalam dosa yang Engkau murkai. Aku tak bisa menyalahkan siapa pun... hanya diriku sendiri. Aku khilaf. Aku lemah. Lindungilah Naomi dan Hilya dari akibat dosa orang tuanya. Jangan biarkan mereka tumbuh dengan luka yang aku ciptakan sendiri..."

Tubuhku gemetar dalam sujud yang panjang. Rasanya aku ingin tenggelam dalam sajadah. Ingin menghapus semuanya. Tapi waktu tak bisa diulang, dan kesalahan sudah terjadi.

Selesai berdoa, aku melangkah pelan menuju kamar. Badan dan pikiranku terasa sangat lelah. Rasanya aku hanya ingin segera merebahkan diri dan larut dalam tidur panjang, melupakan semua kepedihan malam ini.

Namun, belum sempat sepenuhnya membaringkan tubuh, Mas Ogi membuka mata. Sorot matanya merah— khas Bagun tidur. Tanpa sepatah kata, ia langsung menarik tubuhku, meminta haknya sebagai suami.

Aku terdiam, pasrah. Hanya menatap langit-langit kamar dengan hati kosong. Tak sampai lima menit, tubuh mas Ogi sudah ambruk di sampingku.

Matanya kembali terpejam, tapi bibirnya berkata.....

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Gara-gara Dolly

    "Ada apa sih, Mas?" tanyaku panik saat sampai di teras."Si Dolly keluar. Cepat kamu ikutin dia dan ajak pulang," jawab mas Ogi santai. Bahkan dia sibuk memandikan bu rung yang lainnya. "Tak kirain ada apa, tak tahunya cuma bu rung me bor. Gitu bilangnya kok da rurat," gerutuku dengan kesal.Dolly, nama bu rung kesayangan Mas Ogi. Bu rung murai batu itu memiliki suara yang tajam dan merdu, dengan variasi kicauan yang bisa membuat siapa pun yang mendengarnya berhenti sejenak. Bulu ekornya panjang, melengkung anggun, dan selalu tampak mengembang saat ia berkicau dengan penuh semangat.Bukan hanya bu rung murai batu yang di pelihara, masih ada bu rung Kacer, bu rung cucak ijo dan lainnya. Bu rung-bu rung itulah yang membuat mas Ogi malas bekerja."Berani kamu protes!" "Eh, iya-iya. Yang Dolly Dolly," sahutku cepat berusaha menenangkan Mas Ogi yang sudah terlihat kesal. Aku segera melangkah ke halaman, mataku menyapu sekeliling mencari jejak Dol ly. Namun tak kunjung dengar ada suara ki

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Ketagihan

    Matanya kembali terpejam, tapi bi birnya berkata, "Kayaknya terasa beda. Mengi git.""Kalau punyaku enak, punyamu juga harus kuat dan tahan lama dong!" rutukku. Namun semua kalimat itu hanya tertahan di tenggorokan, aku terlalu takut untuk mengungkapnya. Takut mas Ogi tersinggung dan akan menyakitiku lagi.Suara dengkuran halus terdengar jelas dari bibir mas Ogi. Tanpa membersihkan diri lelaki itu kembali terlelap dalam mimpi. Dengan cepat aku membersihkan diri dan menyusul mas Ogi menyelami alam mimpi.Entah jam berapa Mas Ogi minta di layani dan kali ini aku yang bergerak. Mas Ogi sudah menuntaskan keinginan, aku melanjutkan tidur. Badanku masih terlalu lelah."Yah, aku mau berangkat, minta u ang sakunya dong," ujar Naomi. Gadis itu memang sangat manja dengan ayahnya."Ayah enggak pegang uang, Kak. Kamu sendiri kan tahu uang ayah semua diberikan sama Bunda," balas Mas Ogi. Anak-anakku sudah rapi dengan seragam sekolahnya masing-masing."Enggak mau ah, Bunda ngasihnya selal.u dikit.

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Menyesal, tapi....

    "Alhamdulillah..." Aku menghembuskan nafas lega setelah sampai di depan rumah dengan selamat.Aku menoleh ke belakang, lelaki itu berhenti di jalanan dan masih duduk di atas motornya. Terlihat jelas di mataku dia menggaguk, lalu kembali melajukan sepeda motornya. Siapakah dia?"Astaghfirullah, Bang Jo!" pekikku tertahan. Setelah melihat punggungnya, aku yakin itu Bang Jo.Kenapa Bang Jo mengikutiku ya? Apa dia ingin tahu di mana rumahku? Atau hanya ingin memastikan aku selamat sampai rumah?Kriet...!! Aku yang sedang menduga-duga pun teralihkan dengan suara pintu rumah yang terbuka."Bagus ya jam segini baru pulang. Apa begini tugas seorang istri? Hah!" bentak mas Ogi. Wajahnya merah padam penuh amarah, ia melakah lebar ke arahku.Tubuhku sudah gemetar terlebih dulu, dengan kasar mas Ogi menyeretku mas masuk ke dalam rumah. Brug...!!Tubuhku di lempar begitu saja di lantai, bahkan dahiku terbentur meja. Darah segera terasa mengalir di pelepis."Ampun, Mas. Aku salah," ucapku dengan

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Dosa Satu Malam

    "Astaghfirullah...!!" Aku terperanjat bangun. Pikiranku seperti linglung, dan kini ku sadari aku tengah tertidur entah berapa lama. Selimut tebal menutupi tubuhku yang ternyata polos tanpa memakai sehelai benang. Di sebelahku ada Bang Jo yang menatap dengan tatapan yang tak bisa ku artikan."Bang Jo! Apa yang sudah kamu lakuin ke aku?!" teriaku. Lelaki itu hanya diam saja dan mencoba untuk meraihku. Aku beringsut mundur dengan tubuh yang gemetar.'Astaghfirullah ya Allah, apa yang sudah ku lakukan? Apa aku sudah tidur dengan Bang Jo?' batinku berkecambuk."Jawab, Bang! Jangan diam aja!" bentakku dengan bibir bergetar. Lelaki itu ternyata juga tidak mngenakan pakaian dan kami berada dalam satu selimut. Tentu saja aku sudah melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku, Asmanda. Usiaku 32 tahun sudah memiliki 2 putri yang cantik. Suamiku , Yogi Pradana, usianya 49 tahun. Aku berada di tempat ini supaya bisa menjadi wanita yang sempurna, wanita yang bisa melayani suami dengan ma

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Pesona Rumput Tetangga

    Aku menatap tajam ke arah Bang Jo. Tapi yang kutemukan justru tatapan lembut, seolah dia tak merasa bersalah sedikit pun. Ini pertama kalinya ada lelaki lain—selain Mas Ogi—yang menyentuh tubuhku. Apakah Bang Jo juga bersikap seperti ini pada setiap member baru? Entah berapa lama kita saling bertatapan, musik itu tak terdengar kembali. Justru berganti dengan suara riuh ledekan."Ciiee..... Huuhh... Meleleh aku, Bang, di tatap seperti itu...!!" terdengar suara Mbak Desi yang paling kencang.Seketika aku menoleh, dan ternyata semua orang-orang menatap kami. Bang Jo segera menjauh dariku dan berjalan ke arah depan."Oke semuanya. Jam latihan sudah berakhir," ucap Bang Jo sesekali membenarkan jam tangannya dan mengamati angka jam tersebut. "Kita sambung besok lagi ya. Hemm... Untuk Manda, ada jam tambahan buat kamu biar cepet luwes dan maksimal. Dan saya sendiri yang akan melatih, karena Ika pasti punya kesibukan lainnya," tutur bang Jo."Duh, Manda, kamu punya pesona apa sih bisa dapet

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Diabaikan

    Malam ini begitu dingin. Hujan mengguyur sejak sore, membasahi bumi tanpa jeda. Namun, dinginnya udara tak sebanding dengan dinginnya perlakuan Mas Ogi terhadapku. Di dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat kami berbagi kasih, justru hatiku kembali dibuat remuk berkeping-keping."Longgar banget, Bun, enggak kerasa apa-apa," ujar Mas Ogi, suamiku.Namun begitu, ia tetap menuntaskan hasratnya hingga selesai. Selepas itu, dia pergi begitu saja tanpa memperdulikan rasa sakit di hatiku. Kata-kata Mas Ogi tak hanya menusuk relung hati ini, tapi juga mengoyak harga diriku sebagai seorang istri. Malam ini bukan kali pertama ia mengucapkannya. Bagaimana tidak longgar, dua bidadari sudah kuhadirkan ke dunia untuknya. "Buruan ke kamar mandi sana, terus tidur," kata Mas Ogi, membuyarkan lamunanku. "Mas, aku masih pengen," rengekku. "Besok aja lagi. Salah siapa longgar," jawabnya semakin mengiris hatiku. Setelah dari kamar mandi ia langsung merebahkan tubuhnya di sampingku lalu memejamk

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status