Compartir

Pesona Rumput Tetangga

Autor: Sri_Eahyuni
last update Fecha de publicación: 2026-10-17 16:02:11

Aku menatap tajam ke arah Bang Jo. Tapi yang kutemukan justru tatapan lembut, seolah dia tak merasa bersalah sedikit pun. Ini pertama kalinya ada lelaki lain—selain Mas Ogi—yang menyentuh tubuhku. Apakah Bang Jo juga bersikap seperti ini pada setiap member baru?

Entah berapa lama kita saling bertatapan, musik itu tak terdengar kembali. Justru berganti dengan suara riuh ledekan.

"Ciiee..... Huuhh... Meleleh aku, Bang, di tatap seperti itu...!!" terdengar suara Mbak Desi yang paling kencang.

Seketika aku menoleh, dan ternyata semua orang-orang menatap kami. Bang Jo segera menjauh dariku dan berjalan ke arah depan.

"Oke semuanya. Jam latihan sudah berakhir," ucap Bang Jo sesekali membenarkan jam tangannya dan mengamati angka jam tersebut.

"Kita sambung besok lagi ya. Hemm... Untuk Manda, ada jam tambahan buat kamu biar cepet luwes dan maksimal. Dan saya sendiri yang akan melatih, karena Ika pasti punya kesibukan lainnya," tutur bang Jo.

"Duh, Manda, kamu punya pesona apa sih bisa dapet sesi khusus segala?" goda Mbak Lilis sambil nyenggol-nyenggol lenganku.

Aku hanya tersenyum canggung, mencoba menutupi degup jantung yang masih belum stabil. Bukan karena capek, tapi karena tatapan Bang Jo tadi terasa terlalu dekat… terlalu lama.

"Eh, jangan GR dulu, siapa tahu Bang Jo cuma kasihan," celetuk Mbak Reni dari sebelah, diikuti tawa kecil teman-teman yang lain.

"Bang Jo, untuk saya kapan?" tanya Mbak Desi dengan suara yang terdengar mendayu-dayu. Wanita itu berpakaian sangat terbuka, bagiku dia hanya memakai CD dan BH saja. Apa dia tidak malu nyaris tanpa benang yang menutupi tubuhnya?

Ahh... Entahlah. Aku yang tak pernah keluar rumah dan biasa angkrem di rumah pun merasa asing dengan suara dan pemandangan di luar seperti ini.

"Sudah...! Sudah...! Kita akhiri pertemuan kita kali ini. Go go Semangat teman-teman!" sahut Mbak Ika menenangkan kericuhan ini.

"Semangat....!" jawab teman-teman semua dengan serempak. Lalu mereka siap berkemas, ada yang duduk lebih dulu untuk minum dan beristirahat sebentar. Ada juga yang langsung keluar karena buru-buru ada acara selanjutnya.

"Man, jangan sia-siain kesempatan bareng Bang Jo," ujar Mbak Desi yang duduk di sebelahku.

Aku yang baru selesai menuguk air minum yang ku bawa dari rumah pun menoleh, "Maksud, Mbak Desi, apa ya?"

"Kamu harus tahu, Man, semua orang di sini tuh ngidamin Bang Jo. Selain dia yang tampan dan gagah pasti sexy banget tuh goyangan, bikin nagih!" jelasnya.

"Astaghfirullah, jadi kalian pada ngayalin Bang Jo sejauh itu, Mbak?"

Mbak Desi malah tertawa, lalu memasukkan botol minumnya ke dalam tas dan mengenakan jaket untuk menutupi tubuhnya. Entah kenapa selama senam dia terlihat begitu terbuka—mungkin alasan gerah atau ada maksud lain, aku tidak tahu. Tapi setiap kali selesai latihan, dia selalu menutupi lagi tubuhnya dengan celana panjang dan jaket.

Ia mencangklong tasnya dan sempat berbisik di dekatku, "Aku aja yang udah sering tampil seksi belum pernah sekalipun dilirik Bang Jo. Lah kamu, Manda, yang tertutup malah bisa narik perhatian lelaki macho itu. Selamat menikmati ya... Kalau bisa sekalian aja bawa ngamar, biar kamu nggak polos-polos amat!"

Setelah berkata seperti itu, Mbak Desi berlalu begitu saja, menyusul teman-teman lain sambil tertawa kecil. Tawanya terdengar seperti ejekan yang sengaja ditinggalkan untukku.

Aku diam di tempat. Tak paham dengan arah pembicaraannya, apalagi maksud di balik ucapannya. Apa dia sedang bercanda? Atau… memang udah sinting?

"Ehem..."

Mendengar suara deheman aku segera menoleh ke belakang, ada bang Jo sedang berdiri menatapku.

"Manda, apa udah siap?" tanya Bang Jo.

"Su-dah," balasku agak gugup.

Bang Jo langsung menuju dimana sound nya berada dan memutar musik. Setelah itu ia kembali padaku. Kali ini tak ada yang aneh, Bang Jo melatihku dengan proposional. Dua jam telah berlalu dan latihan pun dia akhiri, apalagi aku benar-benar kelelahan.

"Sudah cukup, Man, sepertinya kamu kelelahan. Tapi sudah lumayan ada kemajuan," tutur Bang Jo.

"Suwun, Bang, ncen aku capek banget." Aku mengelap keringat di wajahku dengan handuk kecil, setelah itu baru meneguk sisa air putih di botol.

Aku merasa bang Jo terus mengamati ku, membuat diri ini semakin risih.

"Kenapa, Bang? Apa ada yang aneh denganku?" tanyaku penasaran.

"Eh, enggak kok," balas Bang Jo. Ia segera mengalihkan pandangannya.

"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Bang. Udah sore takut di cariin anak-anakku," pamitku. Aku segera berkemas dan mencangklong tas. Berdua dengan lelaki asing membuatku tak nyaman dan semakin risih. Tak ingin melihat bang Jo lagi, aku segera berlalu meninggalkannya.

“Manda, kamu tinggal di mana?” tanya Bang Jo. Ternyata dia mengikuti di belakangku.

“Di Banyuputih, Bang. Naik motor sekitar empat puluh menit dari sini.”

“Wah jauh juga ya. Sendirian?” tanyanya sambil mempercepat langkah menyamai arahku.

Aku mengangguk kecil. “Iya, udah biasa. Anak-anak di rumah sama Ayahnya.”

Bang Jo terdiam sebentar, lalu berkata, “Lain kali kalau capek atau kehujanan, jangan ragu bilang ya. Siapa tahu aku bisa bantu nganter.”

Aku menoleh cepat. “Nggak usah, Bang. Aku biasa sendiri.”

“Biasa sendiri bukan berarti harus terus sendiri,” balasnya sambil tersenyum tipis.

"Suwun enggeh, Bang, atas perhatiannya." Sampai di luar gedung aku menatap langit yang begitu gelap, ku kira sudah magrib namun saat melihat jam di layar hp ternyata masih jam 16.48.

"Duh, mau hujan. Mana enggak bawa mantol lagi," gerutuku kesal. Namun begitu aku tetap ingin pulang, bersama Bang Jo berdua itu tidak baik karena pasti ada orang ketiga yaitu syaiton.

Aku segera berlari ingin menuju dimana sepeda motorku terparkir, namun tiba-tiba tanganku di cengkeram. Aku menoleh ke arah tangan itu ternyata tangan Bang Jo.

"Pulang nanti aja, hujan," ujar Bang Jo menatap diriku dan langit secara bergantian.

"Enggak apa-apa, Bang, aku pulang sekarang. Kalau di nanti-nanti malah keburu hujan." Aku tak mengindahkan ucapan lelaki itu dan memaksa untuk tetap pulang.

Bres...!! Bres...!! Bres...!!

Air langit turun begitu deras, tanpa gerimis. Dia nyaris seperti tumpahan ember raksasa dari langit—mengguyur bumi tanpa jeda, membuat jalanan basah seketika dan udara berubah dingin.

"Tuh kan, hujan deras. Ngiyup aja dulu, Man, pulang kalau udah reda hujannya," ujar Bang Jo. Dia mencoba menarik tanganku, namun aku enggan mengikutinya. Hatiku penuh keraguan.

"Aku harus pulang, Bang. Anak-anakku nunggu," jawabku pelan, menepis sentuhannya secara halus. Tapi dia tetap berdiri di sampingku, tidak segera mundur.

"Mereka pasti ngerti kalau ibunya kehujanan. Lagian cuma sebentar kok. Aku cuma pengen kamu nggak sakit."

“DUARRR!!!”

Petir menyambar tak jauh dari tempat kami berdiri. Suaranya menyusul dengan dentuman panjang seperti gendang raksasa dipukul dengan tenaga penuh.

Refleks, aku terlonjak kaget dan tanpa sadar langsung memeluk erat tubuh Bang Jo.

Bukannya menolak, lelaki itu justru membalas pelukanku dan menangkan.

"Tenang, Man... Kamu takut ya sama petir? Sebaiknya kita masuk dulu ya," ucapnya pelan di dekat telingaku.

Karena memang takut petir, aku pun mengikutinya. Kami masuk ke dalam studio yang sudah sepi. Beberapa alat olahraga sudah dirapikan. Di sudut ruangan ada sofa kecil berwarna abu-abu. Kami duduk di sana, menunggu hujan reda.

Entah kenapa yang tadinya sangat gerah, dengan cepat kini mendadak dingin sekali. Aku merapatkan tubuhku pada tubuh lelaki yang baru ku kenal. Padahal aku tahu bersentuhan langsung dengan bukan mukrim itu dosa besar.

Tapi... Sudah lah mungkin sekali ini saja Ya Allah karena aku takut petirnya yang keras dan bersahut-sahutan.

"Dingin banget ya, Man. Kalau di rumah udah pasti pakai selimut yang tebel," ujar bang Jo sembari mengusap-usap lenganku.

Aku tak menjawab dan hanya mengangguk saja. Tentu, kalau di rumah aku pasti sudah minta di kelonin Mas Ogi, meski kadang dia menolak aku pasti akan memepetnya.

"Kalau di rumah hujan-hujanan gini kamu ngapain aja, Man?"

Entah kenapa Bang Jo malah bertanya seperti itu. Padahal pikiranku sedang kawut antara mikirkan anak-anakku dan juga mas Ogi.

"Man, kok diam aja." Tanpa ku duga bang Jo menyentuh daguku lembut namun membuatku kaget. Aku pun menoleh ke arahnya. Pandangan kami saling bertemu, bahkan seakan-akan terkunci.

Hujan deras, dan kami pun berada di satu ruangan hanya berdua, wajah bang Jo mendekat dan semakin mendekat pada wajahku.

Cup.....

Satu kecupan mendarat di bibirku, tanganku mencoba mendorong dada bidangnya, namun.....

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Curiga

    Kepalaku terasa pusing, mata pun berat untuk terbuka. Namun, suara tangisan dan cekcok yang riuh memaksaku membuka mata perlahan. Sosok pertama yang terlihat adalah Hilya, sedang menangis di sampingku.“Bunda, jangan mati! Aku mau sama Bunda! Kalau Bunda mati, aku juga mau ikut...!”Sedangkan di luar sana suara mas Ogi terdengar kesal, "Buk, aku tuh cuma ngasih pelajaran sama Manda biar dia nurut sama aku. Kalau, Ibu dan Bapak belain dia terus lama-lama akan manja dan semakin enggak tahu diri!""Istrimu itu manusia, Gi, nggak seharusnya bisa menuruti semua kemauanmu, koe iku wis dewasa jangan seperti anak kecil terus yang apa-apa minta di turutin, apa-apa minta di layani, sedangkan kamu sendiri nggak mau menuruti keinginannya. Ingat! Kamu punya dua anak perempuan, apa kamu enggak kawatir kalau nanti saat jadi istri juga di bentak-bentak suaminya, di siksa suaminya. Kamu itu mbok ya punya perasaan dikit kenapa, jangan gedein ego saja!" Suara Pak Mendil, bap

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Gara-gara Dolly

    "Ada apa sih, Mas?" tanyaku panik saat sampai di teras."Si Dolly keluar. Cepat kamu ikutin dia dan ajak pulang," jawab mas Ogi santai. Bahkan dia sibuk memandikan bu rung yang lainnya. "Tak kirain ada apa, tak tahunya cuma bu rung me bor. Gitu bilangnya kok da rurat," gerutuku dengan kesal.Dolly, nama bu rung kesayangan Mas Ogi. Bu rung murai batu itu memiliki suara yang tajam dan merdu, dengan variasi kicauan yang bisa membuat siapa pun yang mendengarnya berhenti sejenak. Bulu ekornya panjang, melengkung anggun, dan selalu tampak mengembang saat ia berkicau dengan penuh semangat.Bukan hanya bu rung murai batu yang di pelihara, masih ada bu rung Kacer, bu rung cucak ijo dan lainnya. Bu rung-bu rung itulah yang membuat mas Ogi malas bekerja."Berani kamu protes!" "Eh, iya-iya. Yang Dolly Dolly," sahutku cepat berusaha menenangkan Mas Ogi yang sudah terlihat kesal. Aku segera melangkah ke halaman, mataku menyapu sekeliling mencari jejak Dol ly. Namun tak kunjung dengar ada suara ki

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Ketagihan

    Matanya kembali terpejam, tapi bi birnya berkata, "Kayaknya terasa beda. Mengi git.""Kalau punyaku enak, punyamu juga harus kuat dan tahan lama dong!" rutukku. Namun semua kalimat itu hanya tertahan di tenggorokan, aku terlalu takut untuk mengungkapnya. Takut mas Ogi tersinggung dan akan menyakitiku lagi.Suara dengkuran halus terdengar jelas dari bibir mas Ogi. Tanpa membersihkan diri lelaki itu kembali terlelap dalam mimpi. Dengan cepat aku membersihkan diri dan menyusul mas Ogi menyelami alam mimpi.Entah jam berapa Mas Ogi minta di layani dan kali ini aku yang bergerak. Mas Ogi sudah menuntaskan keinginan, aku melanjutkan tidur. Badanku masih terlalu lelah."Yah, aku mau berangkat, minta u ang sakunya dong," ujar Naomi. Gadis itu memang sangat manja dengan ayahnya."Ayah enggak pegang uang, Kak. Kamu sendiri kan tahu uang ayah semua diberikan sama Bunda," balas Mas Ogi. Anak-anakku sudah rapi dengan seragam sekolahnya masing-masing."Enggak mau ah, Bunda ngasihnya selal.u dikit.

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Menyesal, tapi....

    "Alhamdulillah..." Aku menghembuskan nafas lega setelah sampai di depan rumah dengan selamat.Aku menoleh ke belakang, lelaki itu berhenti di jalanan dan masih duduk di atas motornya. Terlihat jelas di mataku dia menggaguk, lalu kembali melajukan sepeda motornya. Siapakah dia?"Astaghfirullah, Bang Jo!" pekikku tertahan. Setelah melihat punggungnya, aku yakin itu Bang Jo.Kenapa Bang Jo mengikutiku ya? Apa dia ingin tahu di mana rumahku? Atau hanya ingin memastikan aku selamat sampai rumah?Kriet...!! Aku yang sedang menduga-duga pun teralihkan dengan suara pintu rumah yang terbuka."Bagus ya jam segini baru pulang. Apa begini tugas seorang istri? Hah!" bentak mas Ogi. Wajahnya merah padam penuh amarah, ia melakah lebar ke arahku.Tubuhku sudah gemetar terlebih dulu, dengan kasar mas Ogi menyeretku mas masuk ke dalam rumah. Brug...!!Tubuhku di lempar begitu saja di lantai, bahkan dahiku terbentur meja. Darah segera terasa mengalir di pelepis."Ampun, Mas. Aku salah," ucapku dengan

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Dosa Satu Malam

    "Astaghfirullah...!!" Aku terperanjat bangun. Pikiranku seperti linglung, dan kini ku sadari aku tengah tertidur entah berapa lama. Selimut tebal menutupi tubuhku yang ternyata polos tanpa memakai sehelai benang. Di sebelahku ada Bang Jo yang menatap dengan tatapan yang tak bisa ku artikan."Bang Jo! Apa yang sudah kamu lakuin ke aku?!" teriaku. Lelaki itu hanya diam saja dan mencoba untuk meraihku. Aku beringsut mundur dengan tubuh yang gemetar.'Astaghfirullah ya Allah, apa yang sudah ku lakukan? Apa aku sudah tidur dengan Bang Jo?' batinku berkecambuk."Jawab, Bang! Jangan diam aja!" bentakku dengan bibir bergetar. Lelaki itu ternyata juga tidak mngenakan pakaian dan kami berada dalam satu selimut. Tentu saja aku sudah melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku, Asmanda. Usiaku 32 tahun sudah memiliki 2 putri yang cantik. Suamiku , Yogi Pradana, usianya 49 tahun. Aku berada di tempat ini supaya bisa menjadi wanita yang sempurna, wanita yang bisa melayani suami dengan ma

  • Kau Menolakku, Aku Berpaling   Pesona Rumput Tetangga

    Aku menatap tajam ke arah Bang Jo. Tapi yang kutemukan justru tatapan lembut, seolah dia tak merasa bersalah sedikit pun. Ini pertama kalinya ada lelaki lain—selain Mas Ogi—yang menyentuh tubuhku. Apakah Bang Jo juga bersikap seperti ini pada setiap member baru? Entah berapa lama kita saling bertatapan, musik itu tak terdengar kembali. Justru berganti dengan suara riuh ledekan."Ciiee..... Huuhh... Meleleh aku, Bang, di tatap seperti itu...!!" terdengar suara Mbak Desi yang paling kencang.Seketika aku menoleh, dan ternyata semua orang-orang menatap kami. Bang Jo segera menjauh dariku dan berjalan ke arah depan."Oke semuanya. Jam latihan sudah berakhir," ucap Bang Jo sesekali membenarkan jam tangannya dan mengamati angka jam tersebut. "Kita sambung besok lagi ya. Hemm... Untuk Manda, ada jam tambahan buat kamu biar cepet luwes dan maksimal. Dan saya sendiri yang akan melatih, karena Ika pasti punya kesibukan lainnya," tutur bang Jo."Duh, Manda, kamu punya pesona apa sih bisa dapet

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status