Share

[57] a

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-08-14 11:00:28

Ruangan akhirnya kembali sunyi setelah Adrian pergi.

Tidak ada lagi perdebatan yang membuat kepalanya terasa semakin pusing. Tidak ada lagi desakan untuknya menyerahkan pengawasan audit kepada orang lain. Hanya suara detak monitor dan sesekali langkah kaki perawat yang melintas di koridor luar. Langit di luar tampak mulai gelap pertanda hari semakin larut.

Tara mengembuskan napas panjang.

Tubuhnya masih terasa lelah. Bahkan sekadar mengangkat tangan terasa jauh lebih bera

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lia Melly
kenapa harus mertua tokoh cowok lainnya...kan canggung membayangkannya juga walaupun ayah tiri tetap namanya mertua...masih mending kalau kakak tiri atau sepupu gitu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [141]

    Keesokan paginya, apartemen kecil itu kembali dipenuhi suasana yang muram. Kara nyaris tidak memejamkan mata semalaman. Setiap kali menutup mata, yang terbayang justru wajah Tara ketika memperlihatkan akta pernikahan di depan puluhan wartawan. Berita yang terus bergulir mengenai dirinya dan Adrian. Belum lagi kedatangan penyidik yang sangat mengganggu pikirannya.Sementara Helena duduk di meja makan sederhana sambil memandangi secangkir teh yang sejak tadi tak pernah disentuhnya.Belum sempat mereka membicarakan apa yang harus dilakukan hari itu, bel pintu kembali berbunyi.Kara dan Helena saling berpandangan. Jantung Kara kembali berdegup lebih cepat dari biasanya."Siapa lagi?" gumam Helena pelan.Begitu pintu dibuka, kali ini yang berdiri di hadapan mereka bukan penyidik. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun mengenakan pakaian dinas ditemani seorang pria yang membawa map berlogo lembaga perlindungan anak."Selamat pagi. Kam

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [140]

    Langit mulai menggelap ketika Kara dan Helena akhirnya kembali ke apartemen sewaan mereka. Langkah keduanya jauh lebih lambat dibanding saat keluar beberapa jam sebelumnya. Dua koper yang tadi penuh kini terasa jauh lebih ringan, tetapi entah mengapa justru membuat dada Kara semakin sesak.Setiap ruang kosong di dalam koper itu seolah menjadi pengingat bahwa sedikit demi sedikit kehidupan yang selama ini ia banggakan telah berpindah ke tangan orang lain.Begitu pintu apartemen tertutup, Kara menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil yang sudah mulai usang. Bantalan tipisnya bahkan tak mampu meredakan rasa pegal di punggungnya. Helena duduk di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya sama-sama lelah, bukan hanya karena seharian berkeliling kota, tetapi juga karena berkali-kali harus menelan penolakan dan tatapan sinis dari orang-orang yang dulu mungkin akan menyambut mereka dengan senyum.Helena perlahan membuka amplop cokelat berisi uang hasil pen

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [139]

    “Ayo, sebaiknya kita pergi.” Helena menggamit tangan Kara dengan cepat.Akhirnya, Kara dan Helena benar-benar meninggalkan hotel itu.Masing-masing menarik koper mereka melewati lobi dengan langkah yang terasa jauh lebih berat daripada saat pertama kali datang. Beberapa tamu yang sedang duduk di area tunggu spontan menoleh. Ada yang hanya melirik sekilas, ada pula yang langsung berbisik begitu mengenali wajah Kara dari berita yang sejak siang memenuhi layar televisi dan media sosial.Kara mempercepat langkah. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya semakin erat menggenggam gagang koper. Ia berusaha mengabaikan setiap bisikan yang terdengar di telinganya, tetapi semakin ia berusaha tidak peduli, suara-suara itu justru terasa semakin jelas.Begitu keluar dari pintu utama hotel, mereka segera menghentikan sebuah taksi. Pengemudi turun, membuka bagasi, lalu memandang tumpukan koper dan kardus yang mereka bawa."Maaf, Bu." Ia menggeleng pela

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [138]

    Mobil yang membawa Tara perlahan meninggalkan halaman pengadilan. Belum sampai kendaraan itu keluar dari gerbang utama, suasana di belakangnya sudah berubah jauh lebih riuh dibanding sebelumnya.Para wartawan yang sejak tadi memenuhi halaman pengadilan nyaris berlarian menuju mobil siaran masing-masing. Sebagian sibuk menelepon redaksi, sebagian lagi langsung mengirimkan rekaman yang baru saja mereka ambil. Tak sedikit pula reporter yang memilih melakukan siaran langsung tanpa menunggu kembali ke studio."Breaking news! Persidangan mantan CEO Ashbourne Group kembali menggemparkan publik!""Dalam sidang hari ini, Adrian Ashbourne resmi dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara atas kasus penggelapan dana dan penyalahgunaan wewenang.""Namun yang lebih mengejutkan, persidangan hari ini justru mengungkap fakta lain yang selama ini tidak pernah diketahui publik."Video ketika Adrian berlutut di depan Tara tersebar hanya dalam hitungan menit. Disusul rek

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [137] b

    Di sisi lain, para wartawan tak lagi mampu menyembunyikan keterkejutan mereka. Kamera-kamera langsung bergerak mendekat. Kilatan lampu menyambar tanpa henti, mengabadikan salinan akta yang kini menjadi bukti paling mematikan di hadapan publik."Perbesar dokumennya!""Coba ambil dari sisi sana!""Ini akta nikah! Benar-benar akta nikah!"Suasana berubah kacau.Adrian masih mematung. Lalu perlahan, keterkejutannya berubah menjadi kepanikan. Sorot matanya bergerak liar, berhenti pada satu sosok yang berdiri beberapa meter di belakang Tara.Kara.Sejak tadi wanita itu ada di sana. Memerhatikan apa yang terjadi dengan sorot tak suka tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dan kali ini, karena ucapan Tara barusan, wajahnya pun tampak terperangah, terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.Tatapan mereka bertemu dan dalam sekejap ... kemarahan menguasai wajah Adrian. "Kau!"Ia bangkit begitu cepat hingga salah satu petugas

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [137] a

    Adrian mengerjap dengan pertanyaan Tara barusan. Ia pun mengangguk tanpa ragu. “Iya, Tara. Demi anak kita.”Seluruh halaman pengadilan tenggelam dalam keheningan.Puluhan kamera masih menyorot ke arah Tara. Lampu merah siaran langsung terus berkedip, menandakan setiap detik yang terjadi sedang disaksikan ribuan pasang mata. Tak seorang pun berani mengalihkan pandangan. Bahkan para petugas yang sejak tadi bersiap membawa Adrian kembali memilih menahan langkah mereka.Di hadapan semua orang, Adrian masih berlutut.Air mata membasahi wajahnya. Napasnya belum kembali teratur setelah semua permohonan yang baru saja ia ucapkan. Ia mendongakkan kepala, memandang Tara dengan sorot penuh harap, seolah perempuan itu adalah satu-satunya orang yang masih mampu mengubah nasibnya.Tapi sepertinya, Tara masih enggan bicara."Tara,” panggil Adrian dengan suaranya serak. "Aku selalu mencintaimu."Tara hanya menatap Adrian lekat-lekat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status