Compartir

Enzo Mulai Modus

Autor: YOSSYTA S
last update Fecha de publicación: 2026-09-02 14:29:50

Jempol Enzo yang masih menempel di ujung bibir Zoya, membuat waktu seolah berhenti.

Hangat. Kasar sedikit. Tapi menenangkan.

"Eh!" Zoya langsung menepis tangan Enzo pelan. Wajahnya merah padam.

"Itu... coklatnya belepotan," ucap Enzo santai. Dia menyeringai. Seolah tidak terjadi apa-apa. "Makanya aku bersihkan. Malu kalau dilihat orang."

Zoya menunduk cepat. Menyeruput es krimnya buru-buru. Padahal dingin, tapi pipinya tetap terasa panas.

Sekilas Zoya melirik ke sekitar. Orang-orang masih lal
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Pelukan Yang Menenangkan

    "Sshhtt ..." Enzo berbisik di atas kepala Zoya. Dagunya bersandar di poni Zoya. Napasnya hangat, berantakan. "Udah. Gak usah ngomong." Zoya masih diam. Kaku. Tangannya masih megang erat kantong `GOLD & DIAMOND` di dada. Tapi pelukan itu... hangat. Beda sama bentakan Tara. Beda sama dorongan mereka dulu. Pelukan ini gak nyakitin. Pelukan ini malah bikin dadanya yang sesak dari tadi, pelan-pelan mengendur. Tenang dan nyaman. "Aku tau kamu masih takut." Suara Enzo serak, pelan banget, cuma buat Zoya denger. Tangannya ngusap punggung Zoya. Pelan. Berulang. "Aku tau kamu masih ngerasa kecil pas liat mereka. Aku ngerti." Air mata Zoya yang dari tadi dia tahan, akhirnya jebol juga. Netes di kemeja Enzo. Satu. Dua. Dia gak nangis kenceng. Cuma sesenggukan pelan. "A-aku... aku kira udah lupa." "Nggak apa-apa kalau belum lupa." Enzo makin mengeratkan pelukannya. "Kamu gak harus kuat terus di depan aku." Ia mengangkat satu tangannya, ngusap pelan rambut Zoya. Jari-jarinya n

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Trauma Masa Lalu

    Enzo dan Zoya jalan berdampingan di trotoar Malioboro. Malam itu ramai. Lampu-lampu kuning dari toko batik dan angkringan bikin jalanan seperti diselimuti emas. Suara pedagang es puter yang dorong gerobaknya sambil teriak, "Es puter, es puter dingin!" bersahutan dengan suara musik jalanan. Tapi di antara mereka... hening. Hening yang berat. Cuma ada suara becak yang 'kreket-kreket', tawa rombongan turis, dan langkah kaki mereka yang beriringan. 'Tap. Tap. Tap.' Dekat, tapi berasa sejauh langit dan bumi. Zoya masih memeluk kantong `GOLD & DIAMOND` itu erat di dada. Belum sekali pun dia berani menoleh ke arah Enzo. Bukan karena takut Enzo marah. Tapi, karena di dalam kepalanya masih keputar suara Tara tadi. `Dasar cewek murahan. Gak tau diri.` `Pantesan dari SMA gak pernah berubah.` Dadanya sesak. Tangannya dingin. Rasa dipermalukan 5 tahun lalu itu... kambuh lagi. Dan dia benci banget sama dirinya sendiri karena masih ngerasain itu. Enzo juga diam. Tangannya y

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Datang Tepat Waktu

    "Eh, tapi tunggu! Berarti, itu sama aja kamu pakai uang perusahaan tanpa ijin, dong? Nanti yang ada kamu bisa dipecat, Enzo." Wajah Zoya yang semula terlihat kesal berubah jadi khawatir. "Mending sekarang kamu balikin aja tuh perhiasan! Biar kamu nggak dipecat dari pekerjaan." Melihat ekspresi wajah panik Zoya. Enzo malah jadi tersenyum kecil merasa geli juga sekaligus senang. "Udah, tenang! Semua bisa diatur!" jawabnya santai. "Huh?!" Dahi Zoya semakin mengerut keheranan. "Bisa diatur bagaimana? Itu tadi uang sebanyak 47 juta loh, Enzo!" "Ya, anggap aja aku punya hutang dengan perusahaan. Dan nanti kan aku bisa menyicil potong gaji tiap bulan." Lagi-lagi Enzo menjawabnya dengan tenang seperti tanpa beban. "Tapi--" "Udah, gak usah terlalu dipikirkan!" Enzo nyodorin kantong belanja tadi. "Perhiasannya tetep buat kamu. Anggap aja bonus akhir tahun dari 'kantor'." Pada akhirnya Zoya hanya bisa pasrah menerima kantong belanja itu. Berat. Ia mengangguk pelan. "Hm... baik

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Mulai Ada Yang Aneh

    Tara nyengir, menutup mulutnya dengan tangan. "Paling juga pura-pura mau borong. Kartunya juga pasti kosong, nggak ada isinya!" ejeknya sambil melipat tangan. "Iya kan?" Dina dan Salsa ikut mengangguk cepat, tapi matanya tetap melirik ke arah kartu hitam itu. Penasaran. 3 detik kemudian. `BEEP.` Mesin EDC berbunyi. Struk keluar panjang. Manajer toko langsung membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih banyak, Pak. Transaksi sebesar empat puluh tujuh juta lima ratus ribu berhasil." Hening selama 2 detik. Lalu pecah. "ITU TADI BENERAN DIBAYAR?!" bisik salah satu pengunjung. "Gila sih itu kartu... black card ya?" "Siapa cowok itu sebenarnya?" Wajah Tara seketika pucat pasi. Tangannya yang melipat langsung lemas. Dina dan Salsa saling lirik. Kaget. "Eh, siapa sih, tuh cowok?" tanya Dina pelan, matanya tidak lepas dari Enzo. "Dari tadi diem aja di dekat Zoya. Tapi..." "Ganteng banget sumpah," sahut Salsa berbisik. "Terus auranya... kayak CEO gitu." "Eh, iya

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    TOKO PERHIASAN

    Sepulang kerja, Enzo kembali mengajak Zoya keluar. "Jalan-jalan bentar, yuk! Ke Malioboro," ajaknya sambil nyender di kusen pintu kamar Zoya. Zoya langsung salah tingkah. Ia baru saja selesai berganti baju. Kemeja katun warna krem yang dibelikan Enzo kemarin, dipadukan dengan celana jeans baru. Sederhana, tapi entah kenapa di badan Zoya rasanya jadi beda. Lebih rapi. Lebih... perempuan. "Ih, nggak usah," tolak Zoya sambil menarik-narik ujung kemejanya. "Malu tau." "Malu kenapa? Bagus kok," sahut Enzo. Matanya menatap Zoya dari atas sampai bawah. Lama. "Tuh kan, aku bilang juga apa, kemeja ini cocok buat kamu, Zoya." Pipi Zoya langsung panas. Ia buru-buru mengambil tas selempang dan berjalan duluan. "Ya udah, hayuk!" Awalnya mereka memang hanya berniat jalan-jalan di Malioboro. Melihat keramaian, jajan es puter, foto-foto di depan stasiun. Tapi entah bagaimana, langkah Enzo malah berhenti lagi di depan pintu masuk Malioboro Mall. "Eh? Kok, jadi ke sini lagi?" tanya Zoy

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Enzo Mulai Modus

    Jempol Enzo yang masih menempel di ujung bibir Zoya, membuat waktu seolah berhenti. Hangat. Kasar sedikit. Tapi menenangkan."Eh!" Zoya langsung menepis tangan Enzo pelan. Wajahnya merah padam."Itu... coklatnya belepotan," ucap Enzo santai. Dia menyeringai. Seolah tidak terjadi apa-apa. "Makanya aku bersihkan. Malu kalau dilihat orang."Zoya menunduk cepat. Menyeruput es krimnya buru-buru. Padahal dingin, tapi pipinya tetap terasa panas. Sekilas Zoya melirik ke sekitar. Orang-orang masih lalu lalang.`Laki-laki ini... kenapa bisa setenang itu memperlakukanku seperti ini? Di depan banyak orang pula?`"Enak?" tanya Enzo sambil menyandarkan punggung ke kursi besi."Enak," jawab Zoya pelan."Nah kan. Udah lama ya nggak makan es krim?" Enzo menatapnya. Tajam, tapi lembut.Zoya tersentak. "Eh, kok tau?"Sambil tersenyum tengil, jari Enzo mengetuk-ngetuk meja. "Tadi kamu ngelirik gerai ini tiga kali. Aku merhatiin."`DEG!`"Nih, kalau gitu punya aku juga buat kamu aja!" Enzo menyodorkan e

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status