Share

Hari H

Author: YOSSYTA S
last update publish date: 2026-08-05 10:06:42

Hari H. Jam 10 pagi.

Halaman rumah Zoya penuh kursi plastik. Tenda biru seadanya.

Bu RT muter-muter ngatur. “Bu, itu meja buat penghulu! Bu, itu buat tamu!”

Warga datang semua. Bawa amplop. Bawa gosip.

“Jadi, beneran nikah, ya?”

“Denger-denger sih, gara-gara kepergok kemarin."

"Katanya calon suaminya itu teman kerja Raka di supermarket."

Di dalam kamar, Zoya duduk. Baju pengantin sewaan warna dusty pink. Rambut disanggul simpel. Makeup seadanya ditolongin tetangga. Tangannya dingin. Gemetaran.

"Nduk... udah ya." Ibu Fatimah ngusap punggungnya pelan. "Bismillah. Hadepin aja.”

Zoya hanya mengangguk pasrah. Air matanya ditahan.

Batinnya berisik, `Ya Allah... tujuh bulan aku jadi janda. Sekarang aku mau akad sama orang asing? Kuatin aku, ya Allah.'

Di ruang tamu, Enzo sudah duduk. Kemeja putih dan celana hitam. Rambut gondrong yang biasanya acak-acakan kini disisir rapi.

Wajahnya datar. Tapi telapak tangannya gemetar, basah oleh keringat dingin.

Penghulu datang. Duduk di hadapan Enzo. Semua diam.

“Bismillahirrahmanirrahim... kita mulai akad nikahnya.”

Zoya keluar. Jalan pelan. Kepala nunduk. Dadanya berdebar. Deg-degan tidak karuan.

Pas duduk di depan penghulu, dia tak berani melihat Enzo. Padahal wajahnya cakepnya kebangetan, bisa bikin semua cewek muda yang turut hadir di sana melongo tak bisa berkedip sedetik pun.

“Enzo Alvaro Bautista bin Deon Bautista Morgan, bersedia saya nikahkan dengan Zoya Amanda bin Abdul Rahman. Dengan mas kawin 10 gram mas, seperangkat alat sholat dan uang sebesar 10 juta rupiah dibayar tunai?”

Hening 3 detik. Hanya terdengar suara kipas angin muter pelan.

Zoya merem. `Bismillah. Andai ini hanya mimpi, maka bangunkan hamba dari mimpi buruk ini, ya Allah!'

Dengan wajah tegang Enzo menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia berkata, "SAYA TERIMA NIKAHNYA ZOYA AMANDA BIN ABDUL RAHMAN .... DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI.”

Suara Enzo tegas. Datar. Tapi jelas. Menggema satu ruangan.

"Bagaimana para saksi? Sah?!"

`SAH!'

`Alhamdulillah`.

Ada yang bisik-bisik. "Wah, gak ngira. Mas kawinnya banyak juga, ya."

Beberapa ibu-ibu ada yang motret diam-diam pake HP.

Zoya masih nunduk. Air matanya jatuh ke pangkuan. "Ternyata ini bukan mimpi. Tapi kenyataan.

Enzo melirik. Dia melihat tangan Zoya gemetaran di atas pangkuan.

Pelan, dia geser. Beraniin diri nyentuh punggung tangan Zoya. Sekali. Buat nenangin.

Zoya kaget. Kayak kesetrum. Langsung narik tangannya, sembunyiin ke belakang.

Batin Enzo, `Sial. Ngapain aku menyentuh dia?"

'Tapi, dia sekarang ... istriku? Astagfirullah. Ini benar akad? Bukan settingan kan?`

Acara selesai. Foto cuma pakai HP. Salaman. Makan.

Zoya dari tadi diam. Senyum saja tidak. Cuma tertunduk, gelisah, wajah cemberut bagai tertekan.

Sore. Tamu bubar.

Zoya sudah masuk duluan ke kamar.

Setelah cukup malam, Enzo yang duduk di ruang tengah bareng Raka, disuruh masuk oleh Bu Fatimah.

Namun, sebelum masuk, Raka mencegah. "Eh, Bang!"

Enzo menoleh, dahinya mengerut. "Ya, ada apa?"

"Em, hati-hati ya! Soalnya Mbakku galak kayak singa!" Dengan cengir kuda, Raka sengaja mengejek.

Setelah itu dia pun melipir masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Geleng kepala, Enzo mendengus kesal. Dengan tangan gemetar ia meraih gagang pintu besi yang sudah karatan. Lalu ia memutarnya pelan.

'Krekk!'

Pintu terbuka pelan.

Sambil nahan napas, Enzo mulai memasuki sebuah kamar yang menurutnya berukuran sangatlah kecil.

Ruangan itu rapi. Ada dipan kecil seukuran dua orang, meja rias butut di pojokan dan lemari baju dengan ukuran mini.

'Gila, ini kamar apa pos ronda? Kecil amat,' gumamnya dalam hati.

Hingga akhirnya dia terpaku saat melihat Zoya yang kini sedang berdiri di samping ranjang. Sambil melipat tangan, wanita itu menatap tajam.

Enzo jadi salah tingkah. "Eh, Zoya," ucapnya cengir kuda.

"Puas kamu sekarang?" tanya Zoya tanpa senyum.

"Huh?! Ma-maksudnya?!" Seperti orang bodoh, Enzo malah melongo kebingungan.

Zoya mulai jalan mendekat. "Ya, sekarang kamu sudah puas kan? Karena sudah berhasil nikah sama aku?"

"Oh, itu." Seperti tanpa dosa, wajah Enzo kembali terlihat normal, datar, santai tanpa beban.

"Sekarang kamu bilang terus terang! Sebenarnya apa tujuanmu mau menikahi aku, huh?"

"Lah, kan udah jelas. Aku cuma mau nolongin kamu. Coba untuk tanggung jawab, itu aja, kok."

"Terus setelah kita nikah, mau ngapain?" Bagai seorang penjahat, Enzo terus diintrogasi.

Sambil garuk-garuk leher, Enzo bagai sedang berpikir. "Em ... mungkin ya, bikin anak," ceplosnya memang sengaja.

"Apa?!" Tentu saja Zoya yang kaget langsung mendelik tajam. "Jangan harap, setelah kamu berhasil nikah sama aku, terus kamu mau berbuat macam-macam sama aku. Aku gak Sudi!"

Bukannya takut. Enzo malah merendahkan suara. "Sssttt! Jangan teriak, Zoya. Nanti dikira aku lagi ngapa-ngapain kamu. Tapi, kalau aku ngapa-ngapain juga gak papa kali. Kan udah sah. Hehehe...."

"Ikh ... kamu ini!" Karena kesal, Zoya langsung memukuli Enzo geram.

Bug-bug-bug!

"Aw ... aw ... ya ya ampun, Zoya! Tolong aku dianiaya!" sambil menangkis Enzo berpura-pura teriak.

Zoya yang panik langsung membekap mulutnya dengan tangan. Sampai kemudian, keduanya pun terdiam dengan posisi yang saling berdekatan.

Dada keduanya berdebar kencang. Jarak mereka cuma sejengkal.

Tangan Zoya masih ngebekap mulut Enzo. Napas mereka saling beradu.

Mata Enzo menatap Zoya lekat. `Astaga, bibirnya...`

Mata Zoya juga membesar. `Ya Allah, deket banget...`

`TOK TOK TOK!'

Suara ketukan pintu bikin mereka berdua langsung meloncat kaget.

"Zoya... Enzo... berisik apaan di dalem?!" Suara Bu Fatimah dari luar. Ketus.

"Duh, gawat, ada Ibu!" batin Zoya takut ketahuan.

Zoya langsung melepas tangan dari mulut Enzo. Wajahnya merah padam.

Enzo berpura-pura batuk. "E-Eh... gak apa-apa, Bu! Zoya... kesandung!"

'Duk!'

Zoya langsung nyikut perut Enzo. Bisik marah, "Yang bener aja ngelesnya!"

Dari luar Bu Fatimah masih ngomel, "Udah sana tidur! Udah sah itu! Gak usah ribut!"

Hening. Bu Fatimah pergi.

Zoya sama Enzo saling tatap. Canggung.

Lalu Zoya langsung nyelonong ke ujung ranjang. "Sekarang jawab jujur! Apa tujuanmu sebenernya mau nikahin aku? Jangan bilang cuma tanggung jawab! Aku gak bodoh!"

Enzo garuk kepala. Duduk di pinggir ranjang. Wajah tengilnya hilang. Ganti serius.

"Oke, aku jujur," kata Enzo pelan. "Aku emang terpaksa nikah sama kamu karena gak mau kamu diarak warga. Tapi... aku juga terpaksa butuh istri."

Zoya mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

"Keluargaku di Jakarta mau jodohin aku sama anak temannya Papa. Aku gak mau. Aku kabur ke Jogja. Nah, Papa bilang, kalau aku bisa nikah sama cewek pilihanku sendiri tahun ini, perjodohan itu batal."

Zoya melongo. "Jadi aku cuma kamu jadiin... alat buat batalin perjodohan?"

"Bukan alat," Enzo cepat menyela. "Kita sama-sama butuh. Kamu butuh diselamatin dari fitnah warga. Aku butuh diselamatin dari perjodohan. Jadi gimana kalau pernikahan ini kita anggap pura-pura aja? Buat tutup mulut warga. Kontrak. 6 bulan. Setelah itu kita cerai baik-baik. Gak ada yang dirugikan."

Zoya terdiam lama. Otaknya muter.

Pura-pura. 6 bulan. Setelah itu bebas.

"Oke, setuju," kata Zoya akhirnya, dengan syarat. "Tapi ada aturannya! Pertama, tidak boleh saling ganggu! Kedua, jaga jarak, tidak boleh menyentuh! Ketiga, di luar kita pura-pura mesra, di dalam kita orang asing! Oke?!"

Enzo yang emang dasarnya tengil, cuma nyengir kuda. "Oke, Bos. Siap. Tidak menyentuh. Kecuali kalau kamu yang minta duluan."

"Ikh! Gak bakal!"

Habis itu Zoya yang mendengus kesal langsung rebahan di atas kasur. Narik selimut sampai kepala.

Enzo garuk kepala. Bingung mau tidur di mana.

'Okelah kalau gitu.' Baru juga dia akan merebahkan badan.

"Eh, mau ngapain?!" Zoya ngintip dari balik selimut, melotot.

"Ya mau tidurlah."

"Ikh ... gak boleh!" Zoya langsung dorong Enzo untuk turun dari ranjang. "Kamu tidur bawah sana!"

"Apa?! Maksud kamu aku tidur di lantai?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Els Arrow
malu-malu kucing kah mau tidur wkwkwk lanjuttt
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    KONTRAK SELESAI

    JAM 12 MALAM. Enzo tak bisa tidur. Di sebelahnya, punggung Zoya masih bergetar pelan. `Hiks... hiks...` Hatinya `JLEB!` Sakit. Tangannya udah gatel pengen narik Zoya ke pelukan. Tapi otaknya, nahan. Hingga... JAM 1 PAGI. Matanya masih betah melek, melirik ke arah pintu kamar. Pikirannya langsung tertuju ke Damar, yang tidur di kamar sebelah. 'Damar!' Darahnya langsung naik. Tangan ngepal sampai buku-buku jarinya putih. Batinnya menggelegak, 'Aku samperin sekarang. Aku hajar tuh orang! Beraninya dia peluk Zoya!' Tapi dia melirik lagi ke Zoya yang masih nangis sesenggukan, lalu ngelirik jam dinding. Masih tengah malam. Kalo ribut sekarang, satu rumah kebangun. Nenek kebangun. Bi Ijah kebangun. Bakal gaduh. Akhirnya dia bangun pelan-pelan. Tak tega melihat Zoya nangis terus di sebelah. Dia ambil kunci mobil dan jaket, keluar kamar tanpa suara. Di garasi, dia geber mobil. Muter-muter Jakarta, dari jam 1 sampai jam 3 pagi gak tentu arah. Hujan rintik-rintik. La

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Jebakan Frisca

    PUKUL 9 MALAM - DI KAMAR. Dari sore, Zoya sudah cantik, sudah wangi, rambut diurai masih sedikit basah, habis keramas. Dia pakai baju tidur satin dari Lyora. Hatinya deg-degan menunggu Enzo pulang. Tapi, kenapa belum pulang juga? Sejak kejadian Damar maksa peluk di kolam siang tadi, dia pengen banget cerita ke Enzo. Biar gak salah paham. `KLEK!` Pintu kamar kebuka. Enzo pulang. Mukanya kusut, dingin, tanpa senyum. Beda sama pagi tadi yang janjiin mau bawain es krim. Rupanya 2 jam lalu Frisca sudah kirim bom kedua. Setelah foto, dia kirim video Damar peluk Zoya di pinggir kolam. Videonya dipotong, pas Zoya berontak gak kelihatan. Caption Frisca, "Enzo, maaf. Aku liat Zoya sama Damar di taman tadi siang, akrab banget peluk-pelukan. Dan aku dengar, Zoya bilang masih sayang sama Damar. Dia mau nikahin kamu, karena mau balas dendam sama aku, dan cuma mau manas-manasin Damar doang." "Ternyata selama ini kita dibohongi sama Zoya!" JEDERR! Otak Enzo muter liar sepanjang ja

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Pertengkaran Hebat

    Frisca muncul dari balik pintu masuk rumah. HP masih di tangan. Muka merah padam. Napasnya ngos-ngosan. Dari tadi dia sudah berada di sana. Sembunyi di balik pilar. Sengaja merekam. Menahan emosi melihat semuanya dari awal.Damar kaget, langsung pucat pasi."F-Frisca?! Kamu... kamu dari kapan di sini?"Frisca jalan cepat, hentakin kaki.`TUK TUK TUK!` Sepatu hak tingginya nusuk lantai marmer sampai berdecit."JANGAN PURA-PURA BEGO, DAMAR! AKU LIAT SEMUANYA! DARI KAMU PELUK ZOYA! DARI KAMU BILANG MAU BALIKAN! SEMUANYA AKU DENGER!"Damar panik, ngeles cepat. Sambil geleng kepala, dia angkat tangan kayak orang ketangkep basah."Bukan! Bukan kayak gitu! Tadi itu..." Diam sejenak, otaknya sibuk mencari alasan yang masuk akal. Keringetnya netes, gelagapan. "Zoya tadi mau jatuh. Dia kesandung, mau jatuh ke kolam. Jadi, aku reflek, gak sengaja! Sumpah!""KESANDUNG?!" Frisca tertawa sinis, air matanya sudah mau netes tapi ditahan. Bibirnya bergetar nahan marah."DAN, KAMU REFLEK PELUK DIA SAM

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Kolam Renang

    Satu minggu Enzo jadi WO dadakan. Hari ini dia masih keluar lagi. Cek final lighting gedung sama Nenek. Zoya ditinggal di rumah. Akhirnya bisa napas. Duduk santai di pinggir kolam renang, kaki dicelupin ke air, sambil telponan sama Enzo. "Mas, udah selesai?" Di telpon, suara Enzo capek tapi semangat, "Udah. Tapi biasa, Nenek tadi bawel banget. Kamu di rumah jangan kemana-mana ya! Nanti aku bawain es krim kesukaan kamu." "Iya, Mas. Makasih, ya." Zoya senyum. Wajahnya berseri dan hatinya pun menghangat, tidak seperti hari kemarin, tegang. Telpon mati. `TUT...` Zoya pindah duduk di kursi rotan, senderan. Angin siang sepoi-sepoi terasa sejuk menerpa wajah. Untuk pertama kalinya seminggu ini dia bisa duduk santai tanpa mikirin kebaya, gedung, atau tatapan Frisca. Tapi ketenangan itu tak lama. `Tap... tap...` Langkah kaki. Zoya noleh. Dan langsung kaku. Damar. Damar berdiri di belakang, dekat pintu masuk rumah. Pakai kaos oblong, muka kusut. Tak ada Frisca di deketny

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Persiapan Pesta

    KEESOKAN Harinya - JAM 7 PAGI. Ruang makan masih dingin. Habis kejadian bom semalam. Pak Deon belum turun sarapan. Damar dan Frisca pun sama, masih di kamar. Tapi satu orang udah rapi dari jam 6 pagi. Kemeja putih, rambut sisir ke belakang. Enzo. Zoya bangun dengan mata bengkak habis nangis semalam. Masih tetap menyiapkan makanan untuk semua orang. Begitu meliat Enzo lagi teleponan sambil bawa map tebal, ia pun heran. "Mas? Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Enzo matiin telepon, senyum. Mode kucing besarnya balik lagi. Gak ada sisa marah semalam. "Ngurus istri mau jadi pengantin lagi, Sayang." Dia tarik kursi lalu duduk. "Ngomong-ngomong orang-orang gak ada yang sarapan?" "Gak tau. Mungkin mereka masih marah." Zoya masih terlihat sedikit sedih. "Sudahlah, biarkan saja mereka. Yang terpenting kamu gak boleh capek-capek. Harus banyak istirahat. Agar pas pesta nanti kamunya vit, jangan sampai sakit." "Iya, betul kata Enzo." Nenek yang baru datang langsung nyahut.

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Perlawanan Enzo

    "Oke, jika itu maunya Papa."Satu ruangan langsung nengok ke Enzo.Suara Enzo pelan. Tapi dinginnya nusuk sampai ke tulang.Frisca yang tadinya udah senyum kemenangan, langsung tegak duduk. Vanessa juga ikut nahan napas.Enzo tarik Zoya lebih rapat ke pelukannya. Rahangnya mengeras, `KREK!` terdengar jelas."Jika dalam satu tahun Zoya tak juga hamil. Maka--"Dia jeda. Sengaja.Semua orang tahan nafas. Wajahnya kaku, tegang. Bahkan jam dinding yang terdengeran pelan seolah langsung berhenti berdetak.Lalu Enzo natap Pak Deon lurus, senyumnya miring. Senyum yang paling ditakutin relasi bisnisnya."-aku yang akan keluar dari rumah ini, bersama Zoya!"`JEDERRR!!`Satu rumah auto kaget!"Mas ...." Dengan mata sembab, Zoya langsung geleng kepala panik. Tangannya narik-narik lengan Enzo. "Mas, jangan ngomong gitu."Nenek yang tadinya mau marah ke Pak Deon, langsung `HAH?!` Matanya melotot! Tongkatnya hampir lepas! "ENZO! JAGA BICARA KAMU!"Pak Deon lebih kaget lagi. Wajah bos besarnya yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status