LOGINMalam makin larut. Suara jangkrik dari luar sudah mulai bersahutan.
Enzo duduk bersila di atas tikar butut. Bersedekap. Dagunya terangkat. Sok galak. 'Aku Enzo Alvaro Bautista. Anaknya Surya Bautista Morgan. Punya 3 villa, 5 mobil, kasur busa seharga 20 juta. Masa tidur di lantai semen? Apa kata dunia nanti?' Batinnya ngomel, tapi mukanya tetep datar. Dari atas ranjang, Zoya juga melipat tangan. Tatapannya tajam, seperti elang. "Udah. Tidur sana! Kalau berisik aku tendang beneran." Enzo mendengus. `Tuh kan. Galak kayak singa. Bener kata Raka.` Dia rebahan. Punggung langsung 'Nyess!' kerasa dingin. `Astagfirullah... ini lantai apa freezer?` Zoya masih melek. Ngawasin dari atas ranjang. Sampai dengar napas Enzo sudah teratur dan pelan. `Akhirnya tidur juga`, batinnya lega. Baru dia narik selimut dan ikut merem. --- Berapa jam kemudian. Jam 2.17 Pagi `Grrr... Grrr...` Itu bukan suara kuntilanak, ataupun genderuwo yang suka keluyuran tengah malam. Itu, suara gigi Enzo yang gemeletuk, gemetar kedinginan. Dingin. Dingin banget. Kipas angin dari jendela, lantai semen dan kaos tipis, ini combo maut. Matanya kebuka setengah. Melirik ke atas. Zoya tidur meringkuk pake selimut tebal warna dusty pink. Keliatan anget. Otak playboy 10 tahunnya langsung bekerja. `Hmm... nganget bentar, harusnya gak papa kan? Dia juga istri aku. Udah sah.` Pelan-pelan, kayak maling ayam tengah malam, dia ngangkat ujung selimut Zoya. Ikut nyusup. Jaga jarak satu bantal, Aman. Begitu kena angetnya selimut, Enzo langsung desah lega. `Ah... surga.` 30 detik kemudian dia sudah ketiduran. Malah senyum-senyum. Mimpi lagi dipijitin bidadari cantik. --- PAGI. Jam setengah enam. Sinar matahari nusuk masuk dari celah gorden. Zoya mulai kebangun karena hangatnya sinar matahari yang menimpa muka. Tapi, tubuhnya masih terasa berat untuk bangun. Otomatis tangannya mulai meraba, nyari guling buat dipeluk. Tapi, yang ia temukan malah ... `EH, KOK ADA YANG ANGET DAN KERAS?!` Dada Enzo. Ya, tangan Zoya kini menempel dan jalan-jalan di sana. Mata Zoya kebuka seketika. DEPAN MUKANYA. Jarak 10cm. "Eh, d-dia?!" ENZO. Tidur nyenyak. Satu tangan hampir meluk pinggangnya. Bibir monyong. Alis rileks. Cakepnya kebangetan. Bahkan pas tidur pun masih bisa bikin jantung cewek copot. Otak Zoya nge-lag 3 detik. `Ini siapa? Oh iya suami. TAPI ... KENAPA DIA DI SINI?!` "AAA ... ENZOOOOOO!" Reflek ia berteriak. Dan kemudian .... `BUKKK!!!` Tendangan maut Zoya mendarat sempurna di perut Enzo. Pake tenaga full seratus persen. Brugh! Enzo langsung mental dari ranjang. Kepalanya nyaris kebentur lantai. Dia guling-guling sambil megang perut. "Aww .... Brengsek! BISA-BISANYA NENDANG ORANG LAGI TIDUR! KDRT INI NAMANYA!" Zoya sudah berdiri di atas ranjang. Rambut acak-acakan. Bantal di tangan. Matanya melotot. "LAH, EMANG SALAH SIAPA?! KAN UDAH DIBILANG TIDUR DI BAWAH! KENAPA NAIK?! PASTI KAMU MAU MESHUM KAN SAMA AKU?" Enzo duduk di lantai. Meringis. "Aku kedinginan tau! Lantai itu neraka! Lagian kita udah sah! Apa salahnya tidur bareng!" "SAH KEPALAMU PEANG! SAH TIDAK BERARTI BOLEH SEMBARANGAN!" `Tok tok tok!` Brakk! Pintu kamar dibanting dari luar. "ZOYA! ENZO! ADA APA RIBUT-RIBUT DARI TADI?! BARU SATU MALAM, UDAH MAU BUNUH-BUNUHAN?!" Bu Fatimah masuk dengan wajah ngamuk. Di belakangnya Raka sambil megang HP. Layarnya nyala. Mode rekam. "Waduh, guys. Baru nikah 12 jam udah ada KDRT," kata Raka santai. "Jangan lupa like comment and subscribe ya!" Sambil nahan tawa, dia sibuk merekam. Pemandangannya kacau. Zoya di atas ranjang, pake baju tidur kusut. Bantal siap lempar. Enzo di lantai. Duduk meringkuk, muka meringis megang perut, tapi masih sempet ngelirik Zoya kesal. Bu Fatimah langsung narik nafas panjang. "ASTAGHFIRULLAH... MALU SAMA TETANGGA! BARU KEMARIN AKAD, UDAH RIBUT!" Enzo yang masih kesakitan tiba-tiba mendongak. Matanya berkaca-kaca. Drama level dewa. "Sakit, Bu. Sakit banget. Tapi, lebih sakit lagi ditolak istri sendiri." `BUK!` Zoya langsung lempar bantal ke muka Enzo. "Aduh!" "DIEM KAMU! JANGAN SOK KORBAN!" Bu Fatimah geleng-geleng. "Udah udah. Berisik. Malu didengar tetangga, Zoya! Sekarang dengerin ibu!" Dia berdiri di dekat ranjang. "Enzo, kamu laki-laki. Harusnya ngalah. Zoya, kamu istri. Harusnya lembut." Terus beliau menatap dua-duanya tajam. "Gini aja. Mulai malam ini, kalian tidur bareng di ranjang. Pake guling di tengah. Titik. Gak ada debat." Zoya tak terima ingin membantah. "APA?! T-tapi, Bu!" Sementara Enzo senyum-senyum merasa menang. "TITIK!" Bu Fatimah berdiri. "Kalau masih ribut, ibu kunci dari luar!" Beliau keluar. Raka ngikut sambil cengengesan. "Bye, Guys. Besok kita lanjut part dua. Tidur pelukan pake guling." Pintu ketutup. 'Klek!' Hening. Zoya masih melirik tajam. Enzo tersenyum canggung. Sama-sama merah muka. Tapi, satu orang karena marah, dan satunya karena senang melihat kemarahan Zoya. Enzo garuk kepala. "Eh... jadi... gulingnya mau yang gede apa yang kecil?" Zoya langsung narik selimut nutup kepala. "DIAM ....""AUW!" Zoya meringis, matanya langsung berkaca-kaca nahan sakit di pinggang dan di kaki yang bengkaknya ketendang lagi. Botol minum yang ia bawa jatuh menggelinding. Damar yang duduk di sofa, refleks berdiri! Tangannya mau maju nolongin Zoya! Hatinya masih ada rasa iba juga sedikit peduli. Walau bagaimanapun juga dulu Zoya adalah istrinya. Orang yang pernah dia cinta. Dan mungkin sampai sekarang rasa itu masih ada. Tapi baru satu langkah. `SREET!` Lengan Damar langsung ditarik oleh Vanessa dari belakang. "Eh, Damar! Mau ngapain?" Reflek Frisca menoleh dan menatap Damar tajam. Seolah ngasih kode. 'Berani kamu tolongin dia, aku ngamuk!' Damar langsung mematung. Gak berani. Tangannya mengepal tapi ia mundur lagi duduk di sofa, pura-pura tak lihat. Padahal wajahnya nyesel dan bersalah banget. Ia hanya bisa menunduk, tidak tega lihat Zoya jatuh. Vanessa yang gendong bayi Frisca, malah senyum licik dari sofa, nyorakin Zoya. "Rasain. Makanya jangan sok jadi Nyonya Besar!" Zo
Jam 20:00 malam. Rumah Bautista baru selesai makan malam, tapi tanpa Damar. Damar belum pulang dari Superstar sejak kejadian siang tadi. Pintu utama terbuka kasar. `BRAK!` Damar masuk dengan langkah berat. Jas manager nya sudah tidak rapi, dasinya longgar, name tag `DAMAR - MANAGER` nya miring. Wajahnya kusut, merah, dan penuh keringat. Jelas habis ngamuk seharian di gudang. Frisca yang sedang gendong bayi di sofa langsung bangun. "Ya ampun, Mas! Kamu kenapa? Pulang kantor kok, kusut gitu? Mukanya ditekuk kayak habis berantem aja?" Vanessa yang sedang maskeran di sofa sebelah juga ikut menoleh. "Iya, Damar. Kamu kenapa? Ada masalah di toko?" Damar membanting tas kerjanya ke sofa. `BUGH!` Bayi Frisca yang digendong sampai kaget dan nangis. "Iya, ini semua gara-gara adik tiri kamu, si Enzo!" bentak Damar, suaranya masih tinggi sisa emosi di gudang. Frisca langsung melotot mendengar nama Enzo. "Enzo? Enzo ngapain lagi? Dia kan gak pernah mau ke Superstar!" Damar
'CIIIT!` Suara rem mobil sport hitam mewah milik Enzo berhenti mulus tepat di depan gerbang rumah besar keluarga Bautista. Enzo turun duluan. Kemeja putihnya agak berantakan, jasnya sudah ia lempar di jok belakang. Tanpa ragu, ia buka pintu penumpang dan kembali mengangkat tubuh Zoya dengan bridal style. Tidak diturunkan sama sekali dari kantor. "Mas, turunin... aku bisa jalan kok," bisik Zoya malu-malu. "Diam. Kakimu bengkak," jawab Enzo pelan. Pintu rumah dibuka, Enzo masuk sambil terus gendong Zoya. Di ruang tamu, Frisca dan Vanessa lagi duduk santai menyilangkan kaki sambil menyeruput teh. Mereka berdua menoleh. Awalnya bingung dan melongo. Mereka melihat Enzo menggendong seorang wanita cantik. Rambutnya tergerai rapi, dress creamnya elegan, kulitnya glowing. Jauh banget dari Zoya yang mereka kenal yang biasanya kucel pakai daster. "Eh, itu siapa yang digendong sama Enzo? Sepertinya bukan Zoya deh?" bisik Vanessa ke Frisca, kaget. Frisca juga mengerutkan dahi, "
Pelan, mereka lewat koridor, turun tangga besi, masih di gendong terus! Karyawan di lantai 1 dan lantai 2 auto berhenti kerja, melongo dan berbisik. "Sumpah itu Zoya? Glowing banget digendong Pak Enzo! Beda banget sama yang dulu!" "Iya, dulu cuma kasir biasa. Tapi, sekarang udah jadi Nyonya Besar beneran!" Setiap langkah Enzo yang pelan tapi pasti itu seperti pernyataan. Bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi Zoya yang nunduk-nunduk di gudang, tidak ada lagi Zoya yang dicap mandul. Yang ada hanya Nyonya Zoya Bautista, yang kakinya saja tidak boleh menyentuh lantai kotor supermarket ini. Di ujung koridor lantai 2, Amelia melihat itu semua. Mukanya yang tadi merah karena malu, sekarang ungu kehitaman! Panas! Iri! Benci! "Curang! Curang! Harusnya aku yang digendong Kak Enzo! Harusnya aku yang jadi Nyonya Besar!" geramnya dalam hati sambil menginjak-injak lantai sampai heelsnya mau patah. Sementara Pak Deon yang masih berdiri di depan pintu ruangannya, hanya bisa geleng-gelen
BRAK!` Pintu ruangan Pak Deon terbuka kasar! Enzo keluar dengan wajah merah padam. Dari dalam ruangan kaca, ia melihat semua. Di detik terakhir, Enzo dengan sigap menangkap tubuh Zoya yang hampir jatuh! Zoya langsung jatuh ke pelukan Enzo. Grep! "Sayang! Kamu gak apa-apa?!" Zoya memeluk dada Enzo, gemetar. "Aku gak papa," jawabnya pelan. Enzo yang melihat siapa pelakunya, matanya langsung menyala. "KAMU BILANG APA TADI SAMA ISTRI SAYA?! DAN KAMU BERANI DORONG ISTRI SAYA?!" Wajah Amelia langsung pucat dan nangis takut beneran. Tangannya yang masih di udara langsung turun lemas. "Ma... maaf Kak Enzo. A-aku... tadi gak sengaja." Enzo sudah mengepalkan tangan, mau lanjut bentak Amelia lagi, TAPI... "SUDAH CUKUP, ENZO!" Suara berat Pak Deon membentak dari dalam ruangannya. Ia keluar dengan wajah super dingin dan kecewa. Ia menatap Enzo, Zoya, dan Amelia yang masih mematung di koridor. Semua staff langsung diam, takut. "Jangan bikin malu di kantor! Ini kantor, bukan
Pintu kaca tertutup. `KLEK!` Hanya tersisa Pak Deon dan Enzo di dalam ruangan kerja yang ber-AC dingin. Zoya menunggu di luar. Pak Deon melepas kacamatanya, dan menaruhnya di atas meja. Lalu sambil memijat ujung hidung dia mulai menatap Enzo dengan tatapan menyelidik. Wajahnya tidak marah, tapi lebih ke kecewa dan serius. "Duduk!" Enzo tidak duduk. Ia masih berdiri tegak. "Ada apa, Pa?" Pak Deon menghela napas panjang. "Papa mau tanya serius sama kamu, Enzo. Kamu balik ke kantor ini, kamu serius mau kerja? Mau bantu Papa ngurus Superstar ini? Atau kamu cuma mau main-main? Bikin keributan sama Damar?" Enzo terdiam. "Papa lihat sendiri kan dari tadi. Kamu bawa Zoya ke sini, pamer di depan Damar. Kamu mau bikin kantor ini jadi arena tinju kamu sama Damar rebutan perempuan, Enzo?" "Bukan gitu, Pa," jawab Enzo dingin. "Aku bawa istri sendiri ke kantor. Salahnya di mana?" Pak Deon mengebrak meja pelan. `BRAK!` "Salahnya, istri kamu itu mantan istri karyawan Papa







