LOGINJam 12 malam. Gerimis masih mengguyur tipis kota Jogjakarta. Hawa dingin menyelimuti kampung Jetis. Kampung kecil nan asri, tempat Zoya tinggal.
Rumah sudah gelap. Zoya duduk di pinggir kasur. Di depannya koper butut warna biru. Tangannya gemetar memasukan baju. Dua potong. Daleman. Dan uang 800 ribu yang ia kumpulkan dari hasil bantuin jualan kue ibu di pasar. Foto Bapak yang udah kusam, juga ia masukkan. "Pokoknya aku harus pergi,” bisiknya dalam hati. Pelan-pelan dia nyeret koper ke pintu belakang. Seperti maling tengah malam, ia nengok kanan kiri, takut ketahuan. Sambil nahan napas, jantungnya dag dig dug, meraih gagang pintu. `KLIK` Pintu kebuka. Aman. Dia lari kecil, keluar dari rumah diam-diam. Selang 10 menit kemudian. Di halte bus pinggir jalan. Sepi. Hanya ada lampu jalan yang kuning. Dan angin malam yang dingin menyelimuti sekitar jalan. Zoya duduk di bangku halte. Koper dipeluk. Jaketnya dipakai kebalik. Matanya lurus ke depan. 'Ke mana aku akan pergi? Mau ke mana aku sekarang?' HP di tangan. Tak ada siapa-siapa yang bisa dihubungi. `Braaam... Ngeng!' Suara motor ngebas dari jauh. Makin dekat. Terus berhenti pas di depan halte. Ninja hitam doff. Zoya langsung nunduk. Takut. Helm dibuka. “Zoya!" Suara itu. Datar. Tapi kaget. Deg! Suara bas itu begitu familiar di telinga Zoya. Reflek ia segera mendongak. Enzo. Kaos hitam, jaket kulit. Mukanya kusut. Kayak habis begadang tiga malam. “Kamu ngapain di sini, huh?" bentak Enzo. Tapi nadanya khawatir. Zoya langsung berdiri. Mau lari. “Gak usah ikut campur! Bukan urusanmu!" Enzo cepet nahan lengan Zoya. Mencengkram pelan tidak kencang. “Lepas!” Zoya berontak. Air matanya sudah mau jatuh. "Aku capek! Aku gak mau nikah! Aku mau pergi aja." “Terus mau ke mana?!” Enzo nanya. Suaranya pelan. “Bawa koper? Jam 12 malam? Kamu pikir dunia ini aman buat cewek sendirian kayak kamu?!” Zoya diam. Bahunya naik turun. Enzo narik napas. Duduk di bangku halte sebelah Zoya. Jaga jarak. “Aku tau kamu takut.” “Aku juga takut. Tiba-tiba harus nikahin orang yang gak aku kenal. Dan tiba-tiba jadi bahan omongan satu RT.” Zoya hanya melirik diam. "Tapi lari gak akan nyelesaiin apa-apa, Zoya.” lanjut Enzo. “Besok mereka tetep ngomongin kamu. Lusa juga. Yang ada kamu capek sendirian di luar sana.” "Dan pastinya Ibumu nanti bakalan sedih banget liat kamu gak ada." "Bahkan, setelah kamu pergi, namamu bakal lebih jelek lagi. Karena mereka pikir, kamu lari dari tanggung jawab." Hati Zoya mencelos. Tak bisa membayangkan bagaimana raut wajah sedih Ibunya kini. “Terus aku harus apa?” isakan Zoya pecah. “Aku masih trauma, Enzo! Aku baru 7 bulan cerai! Aku takut gagal lagi! Takut disakitin lagi!” Hening. Cuma ada suara jangkrik. 'Krik ... Krik!' Dan rintik hujan yang menetes pelan dari atap seng halte bus. Enzo terdiam lama. Terus pelan-pelan dia nepuk pundaknya sendiri. "Sini.” Zoya menoleh kaget. “Apa?” "Nangis aja! Di sini. Gak ada yang liat, kok.” Benteng Zoya akhirnya runtuh. Dia langsung nyungsep ke pundak Enzo. Nangis sekenceng-kencengnya. Isak yang ditahan 7 bulan ini. Enzo kaku tiga detik. `Gila. Ini pertama kali ada cewek nangis di bahuku.' Tangannya ragu. Terus pelan-pelan naik. Membelai lembut kepala Zoya. Batin Enzo, `Anjir. Dia ringan banget. Kayak gak makan 3 hari.` 'Kenapa dia harus nanggung semua ini sendirian sih? Ditinggal suami, dibilang mandul, dihakimi satu kampung.' Dada Enzo yang biasanya kosong, rasanya seperti ketusuk. Sakit. “Aku takut...” isak Zoya. "Aku masih trauma." “Iya. Aku tau," jawab Enzo pelan. Suaranya tidak sedatar biasanya. Agak serak. Dia ngerasain bahu Zoya yang gemeteran. Rambutnya bau shampoo melati. Sederhana. `Cerewet. Galak. Tapi pas nangis... rapuh banget.` 'Aku gak bisa biarin dia pergi gini aja. Gak tau kenapa, aku jadi pingin lindungi nih cewek.' 15 menit. Baru reda. "Udah nangisnya?" tanya Enzo pelan dan hati-hati. Seolah dia takut jika Zoya bakalan terluka lagi. Canggung, Zoya menarik kepalanya dari senderan bahu Enzo yang hangat. Segera ia mengusap sisa air matanya yang masih mengalir. “Pulang yuk.” Enzo berbisik. “Ibu kamu pasti nungguin.” Zoya manggut pelan. Masih sesenggukan. -- Di boncengan Ninja, Zoya diam. Peluk kopernya. Tidak mau pegangan. Enzo jalan pelan. Takut ngebut. Di sepanjang jalan, Enzo diam membatin. 'Tadi pas dia nangis di pundak, kok dada aku anget ya?' 'Biasanya juga kalau ada cewek nangis aku risih. Ini malah pengen aku lindungin.' 'Dia kuat. Jualan kue jam 3 pagi. Ditampar satu RT masih kuat bertahan.' 'Mungkin... mungkin nikah 1 bulan ini bukan ide buruk. Boleh dicoba dulu.' 'Eh, tapi kalau cuma nikah satu bulan. Itu kecepatan. Masa satu bulan cerai lagi? Bakalan tambah buruk nama dia nanti.' 'Oh, apa mungkin 6 bulan. Ya, boleh dicoba.' Dia melirik lewat spion. Zoya merem. Air mata masih ada di pipinya. Bibir Enzo tersenyum tipis. `Menarik. Ternyata lebih menarik dari yang aku kira.` `Ngeng.` Udara angin malam dingin menusuk tulang. Tapi, tak sedingin hati kedua orang itu, yang berisik dengan pemikirannya masing-masing. -- Jam 1 pagi. Rumah Zoya terang. Dari luar terdengar suara Ibu Fatimah panik. "ZOYA? Koe nang ngendi, Nduk!!" Pintu kamar Zoya kebuka lebar. Kasurnya kosong. Koper biru ilang. Baju di lemari berantakan. Ibu Fatimah langsung lari ke dapur. Ke belakang. Ke kamar mandi. "ZOYA?! Oalah, NDUK!!" Suaranya pecah. Tangan Ibu gemetar buka pintu. Nyari ke gang. Ke mushola sebelah. Daster yang dipake sampai kebalik. Rambut yang biasanya dikonde rapi udah awut-awutan. Di tangannya masih megang mukena. Tadi habis sholat tahajud doain Zoya. "Ya Allah... anakku... jangan sampe kenapa-kenapa." Isaknya sudah gak karuan. Raka juga ikutan panik, nyari pake motor keliling gang. "Mbak! Mbak Zoya!" Bu RT sampe kebangun. "Lho kenapa, Bu Fatimah?" "Anakku ilang, Bu! Kopernya dibawa!" Satu rumah riuh. Tapi hening. Takut. Pas suara motor `ngeng` berhenti di depan rumah. Pintu kebuka. Zoya masuk. Di belakangnya Enzo. Nuntun koper biru. Ibu yang tadinya mau teriak marah, langsung lemes. Lututnya gemeter. "Ya Allah, Zoya." Suaranya parau. Air matanya langsung ngucur. Zoya langsung berjongkok. Peluk kaki Ibunya. Nangis lagi. “Maafin Zoya, Bu! maaf...” Ibu ikut nangis. Ngusap rambut Zoya pelan. "Ibu tau nak... Ibu tau... 7 bulan ini Ibu liat kamu kuat banget." Raka yang habis keliling gang, lega. Melihat pemandangan itu. Dadanya ikut sesek. Pas Enzo mau pamit, Raka nyamperin di teras. "Bang... makasih ya.” Suara Raka serak. “Makasih udah nyegah Mbak Zoya. Makasih udah nolongin.” Enzo nyalain motor. Senyum tipis. “Dia bukan barang yang harus dijagain, Ka. Dia manusia. Kasih dia waktu.” `Ngeng!` Ninja hitam menjauh. Raka masuk. Liat Ibu dan Zoya masih pelukan di lantai. Jam satu lewat. Rumah hening lagi. Tinggal tiga hari lagi menunggu. Batin Zoya berdoa, 'Ya Allah... kuatkan hambamu ini. Dalam menghadapi semua cobaan.'Jam 20:00 malam. Rumah Bautista baru selesai makan malam, tapi tanpa Damar. Damar belum pulang dari Superstar sejak kejadian siang tadi. Pintu utama terbuka kasar. `BRAK!` Damar masuk dengan langkah berat. Jas manager nya sudah tidak rapi, dasinya longgar, name tag `DAMAR - MANAGER` nya miring. Wajahnya kusut, merah, dan penuh keringat. Jelas habis ngamuk seharian di gudang. Frisca yang sedang gendong bayi di sofa langsung bangun. "Ya ampun, Mas! Kamu kenapa? Pulang kantor kok, kusut gitu? Mukanya ditekuk kayak habis berantem aja?" Vanessa yang sedang maskeran di sofa sebelah juga ikut menoleh. "Iya, Damar. Kamu kenapa? Ada masalah di toko?" Damar membanting tas kerjanya ke sofa. `BUGH!` Bayi Frisca yang digendong sampai kaget dan nangis. "Iya, ini semua gara-gara adik tiri kamu, si Enzo!" bentak Damar, suaranya masih tinggi sisa emosi di gudang. Frisca langsung melotot mendengar nama Enzo. "Enzo? Enzo ngapain lagi? Dia kan gak pernah mau ke Superstar!" Damar
'CIIIT!` Suara rem mobil sport hitam mewah milik Enzo berhenti mulus tepat di depan gerbang rumah besar keluarga Bautista. Enzo turun duluan. Kemeja putihnya agak berantakan, jasnya sudah ia lempar di jok belakang. Tanpa ragu, ia buka pintu penumpang dan kembali mengangkat tubuh Zoya dengan bridal style. Tidak diturunkan sama sekali dari kantor. "Mas, turunin... aku bisa jalan kok," bisik Zoya malu-malu. "Diam. Kakimu bengkak," jawab Enzo pelan. Pintu rumah dibuka, Enzo masuk sambil terus gendong Zoya. Di ruang tamu, Frisca dan Vanessa lagi duduk santai menyilangkan kaki sambil menyeruput teh. Mereka berdua menoleh. Awalnya bingung dan melongo. Mereka melihat Enzo menggendong seorang wanita cantik. Rambutnya tergerai rapi, dress creamnya elegan, kulitnya glowing. Jauh banget dari Zoya yang mereka kenal yang biasanya kucel pakai daster. "Eh, itu siapa yang digendong sama Enzo? Sepertinya bukan Zoya deh?" bisik Vanessa ke Frisca, kaget. Frisca juga mengerutkan dahi, "
Pelan, mereka lewat koridor, turun tangga besi, masih di gendong terus! Karyawan di lantai 1 dan lantai 2 auto berhenti kerja, melongo dan berbisik. "Sumpah itu Zoya? Glowing banget digendong Pak Enzo! Beda banget sama yang dulu!" "Iya, dulu cuma kasir biasa. Tapi, sekarang udah jadi Nyonya Besar beneran!" Setiap langkah Enzo yang pelan tapi pasti itu seperti pernyataan. Bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi Zoya yang nunduk-nunduk di gudang, tidak ada lagi Zoya yang dicap mandul. Yang ada hanya Nyonya Zoya Bautista, yang kakinya saja tidak boleh menyentuh lantai kotor supermarket ini. Di ujung koridor lantai 2, Amelia melihat itu semua. Mukanya yang tadi merah karena malu, sekarang ungu kehitaman! Panas! Iri! Benci! "Curang! Curang! Harusnya aku yang digendong Kak Enzo! Harusnya aku yang jadi Nyonya Besar!" geramnya dalam hati sambil menginjak-injak lantai sampai heelsnya mau patah. Sementara Pak Deon yang masih berdiri di depan pintu ruangannya, hanya bisa geleng-gelen
BRAK!` Pintu ruangan Pak Deon terbuka kasar! Enzo keluar dengan wajah merah padam. Dari dalam ruangan kaca, ia melihat semua. Di detik terakhir, Enzo dengan sigap menangkap tubuh Zoya yang hampir jatuh! Zoya langsung jatuh ke pelukan Enzo. Grep! "Sayang! Kamu gak apa-apa?!" Zoya memeluk dada Enzo, gemetar. "Aku gak papa," jawabnya pelan. Enzo yang melihat siapa pelakunya, matanya langsung menyala. "KAMU BILANG APA TADI SAMA ISTRI SAYA?! DAN KAMU BERANI DORONG ISTRI SAYA?!" Wajah Amelia langsung pucat dan nangis takut beneran. Tangannya yang masih di udara langsung turun lemas. "Ma... maaf Kak Enzo. A-aku... tadi gak sengaja." Enzo sudah mengepalkan tangan, mau lanjut bentak Amelia lagi, TAPI... "SUDAH CUKUP, ENZO!" Suara berat Pak Deon membentak dari dalam ruangannya. Ia keluar dengan wajah super dingin dan kecewa. Ia menatap Enzo, Zoya, dan Amelia yang masih mematung di koridor. Semua staff langsung diam, takut. "Jangan bikin malu di kantor! Ini kantor, bukan
Pintu kaca tertutup. `KLEK!` Hanya tersisa Pak Deon dan Enzo di dalam ruangan kerja yang ber-AC dingin. Zoya menunggu di luar. Pak Deon melepas kacamatanya, dan menaruhnya di atas meja. Lalu sambil memijat ujung hidung dia mulai menatap Enzo dengan tatapan menyelidik. Wajahnya tidak marah, tapi lebih ke kecewa dan serius. "Duduk!" Enzo tidak duduk. Ia masih berdiri tegak. "Ada apa, Pa?" Pak Deon menghela napas panjang. "Papa mau tanya serius sama kamu, Enzo. Kamu balik ke kantor ini, kamu serius mau kerja? Mau bantu Papa ngurus Superstar ini? Atau kamu cuma mau main-main? Bikin keributan sama Damar?" Enzo terdiam. "Papa lihat sendiri kan dari tadi. Kamu bawa Zoya ke sini, pamer di depan Damar. Kamu mau bikin kantor ini jadi arena tinju kamu sama Damar rebutan perempuan, Enzo?" "Bukan gitu, Pa," jawab Enzo dingin. "Aku bawa istri sendiri ke kantor. Salahnya di mana?" Pak Deon mengebrak meja pelan. `BRAK!` "Salahnya, istri kamu itu mantan istri karyawan Papa
Tok-tok! "Masuk."'Klik!' Pintu terbuka. Pak Deon mengangkat kepala. Kacamata bacanya hampir jatuh menoleh ke arah sumber suara. Enzo dan Zoya berdiri di depan pintu. Bergandengan tangan. "Enzo?!" Pak Deon spontan berdiri. Wajahnya kaget bukan main. "Kamu... kamu ngapain di sini?" Belum sempat Enzo jawab, mata Pak Deon turun ke tangan mereka yang bergandengan. Lalu menatap Zoya. Wajah kaget Pak Deon langsung berubah. Senyumnya hilang. Jadi datar, bahkan sedikit kesal. "Zoya?" Pak Deon menghela napas berat. "Kamu bawa dia ke sini, Enzo?" Enzo tersenyum, masih bangga. "Iya, Pa. Sengaja aku pingin kenalin istri aku, Zoya. Dan mulai hari ini aku mau bekerja di sini, Pa. Di kantor pusat." Pak Deon tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lantai bawah. Dari situ, dia bisa memantau semua karyawan di sana. "Enzo, kamu tau apa yang kamu lakukan?" suara Pak Deon pelan tapi tegas, menahan marah. "Ini kantor pusat, Superstar, Z







