Share

Kabur

Author: YOSSYTA S
last update publish date: 2026-08-04 14:10:03

Jam 12 malam. Gerimis masih mengguyur tipis kota Jogjakarta. Hawa dingin menyelimuti kampung Jetis. Kampung kecil nan asri, tempat Zoya tinggal.

Rumah sudah gelap.

Zoya duduk di pinggir kasur. Di depannya koper butut warna biru.

Tangannya gemetar memasukan baju. Dua potong. Daleman. Dan uang 800 ribu yang ia kumpulkan dari hasil bantuin jualan kue ibu di pasar. Foto Bapak yang udah kusam, juga ia masukkan.

"Pokoknya aku harus pergi,” bisiknya dalam hati.

Pelan-pelan dia nyeret koper ke pintu belakang. Seperti maling tengah malam, ia nengok kanan kiri, takut ketahuan.

Sambil nahan napas, jantungnya dag dig dug, meraih gagang pintu.

`KLIK`

Pintu kebuka. Aman.

Dia lari kecil, keluar dari rumah diam-diam.

Selang 10 menit kemudian. Di halte bus pinggir jalan.

Sepi. Hanya ada lampu jalan yang kuning. Dan angin malam yang dingin menyelimuti sekitar jalan.

Zoya duduk di bangku halte. Koper dipeluk. Jaketnya dipakai kebalik. Matanya lurus ke depan.

'Ke mana aku akan pergi? Mau ke mana aku sekarang?'

HP di tangan. Tak ada siapa-siapa yang bisa dihubungi.

`Braaam... Ngeng!'

Suara motor ngebas dari jauh. Makin dekat. Terus berhenti pas di depan halte.

Ninja hitam doff.

Zoya langsung nunduk. Takut.

Helm dibuka.

“Zoya!"

Suara itu. Datar. Tapi kaget.

Deg!

Suara bas itu begitu familiar di telinga Zoya.

Reflek ia segera mendongak. Enzo. Kaos hitam, jaket kulit. Mukanya kusut. Kayak habis begadang tiga malam.

“Kamu ngapain di sini, huh?" bentak Enzo. Tapi nadanya khawatir.

Zoya langsung berdiri. Mau lari. “Gak usah ikut campur! Bukan urusanmu!"

Enzo cepet nahan lengan Zoya. Mencengkram pelan tidak kencang.

“Lepas!” Zoya berontak. Air matanya sudah mau jatuh. "Aku capek! Aku gak mau nikah! Aku mau pergi aja."

“Terus mau ke mana?!” Enzo nanya. Suaranya pelan. “Bawa koper? Jam 12 malam? Kamu pikir dunia ini aman buat cewek sendirian kayak kamu?!”

Zoya diam. Bahunya naik turun.

Enzo narik napas. Duduk di bangku halte sebelah Zoya. Jaga jarak.

“Aku tau kamu takut.”

“Aku juga takut. Tiba-tiba harus nikahin orang yang gak aku kenal. Dan tiba-tiba jadi bahan omongan satu RT.”

Zoya hanya melirik diam.

"Tapi lari gak akan nyelesaiin apa-apa, Zoya.” lanjut Enzo. “Besok mereka tetep ngomongin kamu. Lusa juga. Yang ada kamu capek sendirian di luar sana.”

"Dan pastinya Ibumu nanti bakalan sedih banget liat kamu gak ada."

"Bahkan, setelah kamu pergi, namamu bakal lebih jelek lagi. Karena mereka pikir, kamu lari dari tanggung jawab."

Hati Zoya mencelos. Tak bisa membayangkan bagaimana raut wajah sedih Ibunya kini.

“Terus aku harus apa?” isakan Zoya pecah. “Aku masih trauma, Enzo! Aku baru 7 bulan cerai! Aku takut gagal lagi! Takut disakitin lagi!”

Hening. Cuma ada suara jangkrik.

'Krik ... Krik!'

Dan rintik hujan yang menetes pelan dari atap seng halte bus.

Enzo terdiam lama. Terus pelan-pelan dia nepuk pundaknya sendiri.

"Sini.”

Zoya menoleh kaget. “Apa?”

"Nangis aja! Di sini. Gak ada yang liat, kok.”

Benteng Zoya akhirnya runtuh.

Dia langsung nyungsep ke pundak Enzo. Nangis sekenceng-kencengnya. Isak yang ditahan 7 bulan ini.

Enzo kaku tiga detik. `Gila. Ini pertama kali ada cewek nangis di bahuku.'

Tangannya ragu. Terus pelan-pelan naik. Membelai lembut kepala Zoya.

Batin Enzo, `Anjir. Dia ringan banget. Kayak gak makan 3 hari.`

'Kenapa dia harus nanggung semua ini sendirian sih? Ditinggal suami, dibilang mandul, dihakimi satu kampung.'

Dada Enzo yang biasanya kosong, rasanya seperti ketusuk. Sakit.

“Aku takut...” isak Zoya. "Aku masih trauma."

“Iya. Aku tau," jawab Enzo pelan. Suaranya tidak sedatar biasanya. Agak serak.

Dia ngerasain bahu Zoya yang gemeteran. Rambutnya bau shampoo melati. Sederhana.

`Cerewet. Galak. Tapi pas nangis... rapuh banget.`

'Aku gak bisa biarin dia pergi gini aja. Gak tau kenapa, aku jadi pingin lindungi nih cewek.'

15 menit. Baru reda.

"Udah nangisnya?" tanya Enzo pelan dan hati-hati. Seolah dia takut jika Zoya bakalan terluka lagi.

Canggung, Zoya menarik kepalanya dari senderan bahu Enzo yang hangat. Segera ia mengusap sisa air matanya yang masih mengalir.

“Pulang yuk.” Enzo berbisik. “Ibu kamu pasti nungguin.”

Zoya manggut pelan. Masih sesenggukan.

--

Di boncengan Ninja, Zoya diam. Peluk kopernya. Tidak mau pegangan.

Enzo jalan pelan. Takut ngebut.

Di sepanjang jalan, Enzo diam membatin. 'Tadi pas dia nangis di pundak, kok dada aku anget ya?'

'Biasanya juga kalau ada cewek nangis aku risih. Ini malah pengen aku lindungin.'

'Dia kuat. Jualan kue jam 3 pagi. Ditampar satu RT masih kuat bertahan.'

'Mungkin... mungkin nikah 1 bulan ini bukan ide buruk. Boleh dicoba dulu.'

'Eh, tapi kalau cuma nikah satu bulan. Itu kecepatan. Masa satu bulan cerai lagi? Bakalan tambah buruk nama dia nanti.'

'Oh, apa mungkin 6 bulan. Ya, boleh dicoba.'

Dia melirik lewat spion. Zoya merem. Air mata masih ada di pipinya.

Bibir Enzo tersenyum tipis. `Menarik. Ternyata lebih menarik dari yang aku kira.`

`Ngeng.`

Udara angin malam dingin menusuk tulang.

Tapi, tak sedingin hati kedua orang itu, yang berisik dengan pemikirannya masing-masing.

--

Jam 1 pagi. Rumah Zoya terang.

Dari luar terdengar suara Ibu Fatimah panik.

"ZOYA? Koe nang ngendi, Nduk!!"

Pintu kamar Zoya kebuka lebar. Kasurnya kosong. Koper biru ilang.

Baju di lemari berantakan.

Ibu Fatimah langsung lari ke dapur. Ke belakang. Ke kamar mandi.

"ZOYA?! Oalah, NDUK!!" Suaranya pecah.

Tangan Ibu gemetar buka pintu. Nyari ke gang. Ke mushola sebelah.

Daster yang dipake sampai kebalik. Rambut yang biasanya dikonde rapi udah awut-awutan.

Di tangannya masih megang mukena. Tadi habis sholat tahajud doain Zoya.

"Ya Allah... anakku... jangan sampe kenapa-kenapa." Isaknya sudah gak karuan.

Raka juga ikutan panik, nyari pake motor keliling gang. "Mbak! Mbak Zoya!"

Bu RT sampe kebangun. "Lho kenapa, Bu Fatimah?"

"Anakku ilang, Bu! Kopernya dibawa!"

Satu rumah riuh. Tapi hening. Takut.

Pas suara motor `ngeng` berhenti di depan rumah.

Pintu kebuka. Zoya masuk. Di belakangnya Enzo. Nuntun koper biru.

Ibu yang tadinya mau teriak marah, langsung lemes. Lututnya gemeter.

"Ya Allah, Zoya." Suaranya parau. Air matanya langsung ngucur.

Zoya langsung berjongkok. Peluk kaki Ibunya. Nangis lagi. “Maafin Zoya, Bu! maaf...”

Ibu ikut nangis. Ngusap rambut Zoya pelan. "Ibu tau nak... Ibu tau... 7 bulan ini Ibu liat kamu kuat banget."

Raka yang habis keliling gang, lega. Melihat pemandangan itu. Dadanya ikut sesek.

Pas Enzo mau pamit, Raka nyamperin di teras.

"Bang... makasih ya.” Suara Raka serak. “Makasih udah nyegah Mbak Zoya. Makasih udah nolongin.”

Enzo nyalain motor. Senyum tipis. “Dia bukan barang yang harus dijagain, Ka. Dia manusia. Kasih dia waktu.”

`Ngeng!`

Ninja hitam menjauh.

Raka masuk. Liat Ibu dan Zoya masih pelukan di lantai.

Jam satu lewat. Rumah hening lagi.

Tinggal tiga hari lagi menunggu.

Batin Zoya berdoa, 'Ya Allah... kuatkan hambamu ini. Dalam menghadapi semua cobaan.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Bu RT Mengamuk

    `Srekk!!!` Tanpa aba-aba, Beni langsung nyerang. Pake pisau. Enzo ngelak. Nangkis. Hampir saja pisau itu mengenai wajahnya. `BUG! BUG! KEDEBUG!` Suara pukulan. Tendangan. Benda berjatuhan. Beni emang jago jalanan. Tapi Enzo... Enzo ini mantan petarung. Dia ahli beladiri, dari taekwondo, karate bahkan silat, pernah ia tekuni. 5 menit. 10 menit. Beni sudah babak belur. Bibir pecah. Mata lebam. Enzo? Cuma keringetan. Napas masih teratur. `BUGH!!!` Tendangan terakhir Enzo mendarat di perut Beni. Beni jatuh. Keok. Enzo jongkok di depan Beni. Ngangkat dagu Beni. Paksa natap mata. "Ingat perjanjian kita." Suaranya serak. Sambil tersenyum miring, ia menepuk-nepuk pipi Beni pelan. "Zoya itu istri aku. Garis aku. Kalau kau lewatin, aku habisin kamu!" Dia berdiri. Jalan keluar. Ngelap tangan pake jaket. Sebelum keluar, dia noleh. "Lepasin dia. Antar pulang!" Dua anak buahnya manggut. Di luar gudang, Enzo ngangkat muka ke langit. Jam 2 pagi. `Selesai satu masal

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Adu Jotos

    `BUGHH!!!` Tinju Enzo mendarat tepat di rahang Beni. Sekali. Dua kali. Beni mental ke tumpukan kayu. `PRAKKK!!!` Kayu berantakan. "ENZOOO!" Zoya teriak ketakutan. 'Hentikan!" Keributan itu bikin seisi rumah geger. Bu Fatimah, Raka, Bu RT langsung lari ke belakang. "BERANTEM?! YA ALLAH!" teriak Bu Fatimah panik. Beni bangun. Hidungnya berdarah. "Gila kamu! Main tangan?!" Enzo maju lagi. Dada ketemu dada. "Aku udah bilang. JANGAN SENTUH ISTRI AKU!" Raka sudah narik-narik tangan Enzo. "Bang, udah, Bang!" Bu RT langsung nyamperin Beni. Nangis. "Anakku! Anakku dipukulin! Kamu keterlaluan Mas Enzo!" Terus dia nengok ke Zoya. Nunjuk. "INI SEMUA PASTI GARA-GARA KAMU! DASAR PENGGODA! PANTES DICERAIN!" `JLEBB!' Zoya langsung diam. Air matanya jatuh. Enzo langsung berdiri di depan Zoya. Ngalangin. Badan masih tegang. "BU RT. JAGA MULUT IBU!" "Berani ya kamu?! Ini rumah saya! Gang saya!" Bu RT teriak. "KALAU KAMU BERANI MUKULIN ANAK SAYA, SAYA JUGA BERANI NAG

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Tamu Tak Diundang

    Jam 8 malam, setelah makan. Di ruang tamu. Enzo, Raka dan Bu Fatimah sedang duduk mengobrol. Sementara Zoya masih sibuk membereskan meja makan. "Oh, jadi sebenarnya Nak Enzo ini adalah anak tunggal, ya?" tanya Bu Fatimah mulai ingin mengenal latar belakang sang mantu. Enzo pun mengangguk. "Ya. Tapi saya punya kakak tiri perempuan, Bu." "Oh, gitu." Bu Fatimah manggut-manggut. "Terus kamu kerjanya bareng sama Raka di supermarket?" "Iya, Bu. Tapi Bang Enzo itu Supervisor yang dikirim dari kantor pusat," sahut Raka. "Apa? Super-super -- apa tadi?" Bu Fatimah tampak kesusahan mengucapkan. "Supervisor, Bu. Kayak yang ngawasi para pegawai gitu." Raka coba menjelaskan. "Oh, gitu." "Terus ngomong-ngomong umur kamu berapa sekarang?" Bu Fatimah kembali kepo. Diam-diam Zoya yang berada di ruang tengah ikut menguping. "Umur saya 25 tahun, Bu," jawab Enzo jujur. "Oh, berarti kamu lebih muda dua tahun dari Zoya dong." "Lah, memangnya Zoya umur berapa, Bu?" Enzo jadi ingin

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Video Viral

    Siang. Zoya baru pulang dari warung. Bawa kresek belanjaan. Jalan santai sambil senyum ramah, sapa tetangga. Namun, baru masuk gang. "Eh, itu kan istrinya Mas Enzo yang KDRT itu, kan?" 'Deg!' Senyum di bibir Zoya langsung menghilang. "Nggak sopan banget ya. Cowok seganteng itu malah dikasarin." "Pantesan mukanya jutek. Galak gitu. Makanya sampai dicerain." "Aku sih kalau jadi dia, rela dipukul tiap hari." Ibuk-ibuk muda komplek. Yang kemarin like TikTok Raka. Semuanya ngerumpi. Ngeliatin Zoya dari atas ke bawah. Bisik-bisik. Tapi sengaja kenceng. Zoya berhenti. Napasnya tercekat. Tangan yang megang kresek gemeteran. `Pantesan dicerain.' `Mukanya aja kayak singa. Jutek gitu.' `Kasian Mas Enzonya.` `BLUK!` Kresek jatuh. Telur pecah. Zoya tak peduli. Dia langsung lari masuk rumah. Mata udah panas. `BRAK!` "RAKAAAA!!!" teriaknya dari ruang tengah. Raka yang lagi edit video langsung drop HP. "Kenapa, Mbak?!" "Puas kamu sekarang?!" Zoya nangis.

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Sandal Melayang

    Di ruang tengah. Raka duduk sila di lantai. Senyam-senyum sendiri sambil scroll HP. Komentar TikTok nya sudah 300 lebih. `@selerabunda_99 , 'Ya ampun kasian banget baru juga pengantin baru udah KDRT.` `@cantikmandiri , 'Ih kasian mana cowonya ganteng banget. Masa ceweknya galak kayak singa.` `@biduankampung, 'Kalau dia gak mau, sini sama aku aja Bang. Aku siap jadi istri ke 2.` `@mentimun, 'Upload part 2 nya, Bang. Mau liat lanjutannya.` Raka tertawa ngakak. "Laris manis dagangan kita, Bang Enzo!" `BRAK!` Pintu kamar kebuka. Zoya keluar. Masih pake kaos dan celana pendek. Rambut sudah kering tapi masih diikat. Lihat Raka ketawa-tawa langsung curiga. "Lagi ngapain kamu?" "Nggak... nggak apa-apa kok, Mbak," Raka buru-buru nutup HP pakai tangan. Zoya jalan mendekat. Ngintip. DI LAYAR. VIDEO TADI PAGI. Dia teriak `AAA ... ENZOOOO` terus nendang. Enzo mental. Caption nya, `POV ; Baru nikah 24 jam udah KDRT.' Views 800 ribu. "RAKAAAA!!!" Zoya langsun

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Baju Raka Yang Menyiksa

    Jam 7 pagi. Zoya sudah mandi duluan. Kaos oblong putih kebesaran dan celana pendek selutut warna abu. Rambut basah dicepol asal. Wajah bersih tanpa bedak. Dari kamar, Enzo melipir keluar. Mata masih panda. Kaos hitam semalem masih nempel di badan. Dia langsung berhenti pas liat Zoya. Yang masih sibuk menata makanan di meja. Celana pendek. Kaki mulus. Kaos jatuh sebelah. Bahunya terlihat sedikit. 'Sederhana, tapi aku suka.' Tanpa sadar dia tersenyum melihatnya. `Ya Allah... ini ujian apa gimana?' batinnya langsung istighfar. "Pa-pagi," kata Enzo suaranya serak. Zoya menoleh. Langsung reflek narik ujung kaos ke atas buat nutupin bahu. "Pagi," jawabnya dingin. Bu Fatimah dari dapur senyum-senyum. "Mandi sana Mas Enzo. Sarapan udah mateng." Enzo masuk kamar. Buka tas. Kosong. `Anjir. Lupa bawa baju. Kemaren buru-buru sih.` Dia keluar lagi. Garuk tengkuk. "Em ... Zoya." "Apa?!" Zoya nongol dari dapur bawa piring. "Aku gak bawa baju ganti." Zoya mendelik.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status