MasukPelan, mereka lewat koridor, turun tangga besi, masih di gendong terus! Karyawan di lantai 1 dan lantai 2 auto berhenti kerja, melongo dan berbisik. "Sumpah itu Zoya? Glowing banget digendong Pak Enzo! Beda banget sama yang dulu!" "Iya, dulu cuma kasir biasa. Tapi, sekarang udah jadi Nyonya Besar beneran!" Setiap langkah Enzo yang pelan tapi pasti itu seperti pernyataan. Bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi Zoya yang nunduk-nunduk di gudang, tidak ada lagi Zoya yang dicap mandul. Yang ada hanya Nyonya Zoya Bautista, yang kakinya saja tidak boleh menyentuh lantai kotor supermarket ini. Di ujung koridor lantai 2, Amelia melihat itu semua. Mukanya yang tadi merah karena malu, sekarang ungu kehitaman! Panas! Iri! Benci! "Curang! Curang! Harusnya aku yang digendong Kak Enzo! Harusnya aku yang jadi Nyonya Besar!" geramnya dalam hati sambil menginjak-injak lantai sampai heelsnya mau patah. Sementara Pak Deon yang masih berdiri di depan pintu ruangannya, hanya bisa geleng-gelen
BRAK!` Pintu ruangan Pak Deon terbuka kasar! Enzo keluar dengan wajah merah padam. Dari dalam ruangan kaca, ia melihat semua. Di detik terakhir, Enzo dengan sigap menangkap tubuh Zoya yang hampir jatuh! Zoya langsung jatuh ke pelukan Enzo. Grep! "Sayang! Kamu gak apa-apa?!" Zoya memeluk dada Enzo, gemetar. "Aku gak papa," jawabnya pelan. Enzo yang melihat siapa pelakunya, matanya langsung menyala. "KAMU BILANG APA TADI SAMA ISTRI SAYA?! DAN KAMU BERANI DORONG ISTRI SAYA?!" Wajah Amelia langsung pucat dan nangis takut beneran. Tangannya yang masih di udara langsung turun lemas. "Ma... maaf Kak Enzo. A-aku... tadi gak sengaja." Enzo sudah mengepalkan tangan, mau lanjut bentak Amelia lagi, TAPI... "SUDAH CUKUP, ENZO!" Suara berat Pak Deon membentak dari dalam ruangannya. Ia keluar dengan wajah super dingin dan kecewa. Ia menatap Enzo, Zoya, dan Amelia yang masih mematung di koridor. Semua staff langsung diam, takut. "Jangan bikin malu di kantor! Ini kantor, bukan
Pintu kaca tertutup. `KLEK!` Hanya tersisa Pak Deon dan Enzo di dalam ruangan kerja yang ber-AC dingin. Zoya menunggu di luar. Pak Deon melepas kacamatanya, dan menaruhnya di atas meja. Lalu sambil memijat ujung hidung dia mulai menatap Enzo dengan tatapan menyelidik. Wajahnya tidak marah, tapi lebih ke kecewa dan serius. "Duduk!" Enzo tidak duduk. Ia masih berdiri tegak. "Ada apa, Pa?" Pak Deon menghela napas panjang. "Papa mau tanya serius sama kamu, Enzo. Kamu balik ke kantor ini, kamu serius mau kerja? Mau bantu Papa ngurus Superstar ini? Atau kamu cuma mau main-main? Bikin keributan sama Damar?" Enzo terdiam. "Papa lihat sendiri kan dari tadi. Kamu bawa Zoya ke sini, pamer di depan Damar. Kamu mau bikin kantor ini jadi arena tinju kamu sama Damar rebutan perempuan, Enzo?" "Bukan gitu, Pa," jawab Enzo dingin. "Aku bawa istri sendiri ke kantor. Salahnya di mana?" Pak Deon mengebrak meja pelan. `BRAK!` "Salahnya, istri kamu itu mantan istri karyawan Papa
Tok-tok! "Masuk."'Klik!' Pintu terbuka. Pak Deon mengangkat kepala. Kacamata bacanya hampir jatuh menoleh ke arah sumber suara. Enzo dan Zoya berdiri di depan pintu. Bergandengan tangan. "Enzo?!" Pak Deon spontan berdiri. Wajahnya kaget bukan main. "Kamu... kamu ngapain di sini?" Belum sempat Enzo jawab, mata Pak Deon turun ke tangan mereka yang bergandengan. Lalu menatap Zoya. Wajah kaget Pak Deon langsung berubah. Senyumnya hilang. Jadi datar, bahkan sedikit kesal. "Zoya?" Pak Deon menghela napas berat. "Kamu bawa dia ke sini, Enzo?" Enzo tersenyum, masih bangga. "Iya, Pa. Sengaja aku pingin kenalin istri aku, Zoya. Dan mulai hari ini aku mau bekerja di sini, Pa. Di kantor pusat." Pak Deon tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lantai bawah. Dari situ, dia bisa memantau semua karyawan di sana. "Enzo, kamu tau apa yang kamu lakukan?" suara Pak Deon pelan tapi tegas, menahan marah. "Ini kantor pusat, Superstar, Z
"M-mbak ... Zoya?!" Amelia spontan teriak, suaranya cempreng dan kencang, sampai beberapa staff administrasi di dalam ruangan kaca menoleh dan berbisik. Zoya yang ditarik Enzo menatap Amelia dengan tatapan tenang, tapi dingin. Bukan Zoya yang dulu lagi yang selalu menunduk kalau disuruh. "Amelia," ucapnya tenang. Tapi sebenarnya dia juga kaget melihat mantan adik iparnya berada di kantor ini. Amelia melongo, menatap Zoya dari atas sampai bawah. Lalu beralih ke tangan Zoya dan Enzo yang bergandengan erat. Otaknya tidak bisa memproses. "Kamu ... kok, bisa ada di sini? Pakai baju kayak gini? Sama Kak Enzo? Kamu... kamu ngapain? Kamu kesasar ya? Ini kantor lho, bukan dapur! Sana balik!" Masih keluar sifat bossy nya. Ia masih mengira Zoya adalah Zoya yang dulu, yang bisa ia suruh-suruh. Enzo yang mendengar kalimat itu, rahangnya langsung mengeras. Matanya menyala marah. Dia menarik Zoya maju selangkah, tepat di depan Amelia. Lalu memeluk pinggang Zoya dengan posesif. "Jaga
Setelah semua karyawan membungkuk hormat ke Zoya, suasana jadi hening. Semua menahan napas. Enzo belum selesai. Ia melepaskan rangkulannya dari pinggang Zoya, lalu melangkah pelan mendekati meja kasir pusat. Mendekati Damar. Tiap langkah Enzo, membuat wajah Damar makin pucat. Enzo berhenti tepat di depan Damar. Jaraknya cuma satu meja kasir. Ia menatap lurus ke mata Damar, senyum miringnya hilang, diganti tatapan dingin seorang pewaris. "Damar." Suara Enzo pelan, tapi semua orang diam jadi terdengar jelas. "Sekarang Zoya istri saya." Enzo melirik Zoya yang masih berdiri anggun di belakangnya, lalu kembali menatap Damar. "Jadi, tolong layani dan hormati dia. Seperti kamu menghormati saya. Seperti kamu menghormati Papa saya. Paham?" Damar mengepalkan tangannya makin keras di bawah meja. Rahangnya mengeras. "Paham, Pak Enzo," jawabnya dengan suara tertahan. Matanya tidak berani menatap Enzo, tapi ekor matanya terus melirik ke dress cream Zoya yang dulu bahkan tidak m







