Home / Romansa / Kawin Grebek / 10. Suami Pengangguran

Share

10. Suami Pengangguran

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-09-11 22:42:46

Pagi itu Cita sudah rapi dengan pakaian sederhananya, siap mengangkut nampan berisi kue gabin dan bolu kukus untuk dititipkan ke warung Bu Is.

"Mau dibawa semuanya sekaligus?" Rayhan yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap istrinya. Pria itu menyandarkan tubuhnya di ambang pintu, memerhatikan Cita yang terlihat kerepotan menyesuaikan posisi nampan di tangannya.

"Iya," sahut Cita tanpa menoleh.

Rayhan melangkah mendekat, mengulurkan tangan hendak mengambil alih nampan besar itu. "Sini, bi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kawin Grebek   23. Tukang Sayur Tampan

    Motor Rayhan yang tadi sepi, kini sudah dikerumuni oleh beberapa wanita paruh baya dengan pakaian rumahan mereka. Kerumunan ibu-ibu yang makin bertambah itu mendadak saling dorong di depan keranjang sayur Rayhan."Mas, bayam berapa?""Cabai seperempat kilo, Mas!""Mas, aku duluan mau beli kubis ini berapa?!"Suara teriakan yang sahut-menyahut menanyakan harga itu mulai terdengar. Mereka bahkan sampai saling senggol untuk mengambil sayuran incaran mereka."Hei! Yang bener aja, dong! Kasihan Mas-nya dikerubungi!" seru wanita yang tadi sudah berbelanja. Tanpa sadar ia meninggalkan kedua anaknya hanya untuk melerai para tetangganya itu."Ibu... Ayo pulang, Bu! Adek mau eek!" seru si anak bungsu."Haduh. Ya udah ayo pulang!" sahut sang ibu yang kembali menggandeng anak bungsunya untuk pulang. Sesekali ia menoleh ke arah sang tukang sayur tampan yang kini tampak kebingungan dengan pelanggan dadakan yang langsung datang bergerombol itu."Mas, saya dulu!"

  • Kawin Grebek   22. Penculik

    "Bukan! Tukang sayul itu biasanya kakek-kakek," jawab sang adik polos."Iya, ya? Itu juga bajunya hitam-hitam semua, pakai masker sama topi lagi, kaya yang ada di Tikitaka!" balas sang kakak."Jangan-jangan... itu penculik anak yang lagi vilal, Mas? Yang mukanya ditutupin telus sukanya naik motol, telus bawa kelanjang buat wadah anak-anak?" celetuk si adek yang masih cadel itu dengan suara yang cukup keras hingga terdengar di telinga Rayhan."Iya! Mukanya nggak kelihatan sama sekali, Dek! Ih, serem banget! Ayo lari, nanti kita dimasukin ke dalam keranjangnya!" seru sang kakak mulai menarik lengan kecil adiknya."Eh. Aku bukan-""Ibuuuu!!!"Sebelum Rayhan sempat untuk meluruskan kesalahpahaman konyol tersebut, kedua anak itu sudah berteriak kencang."Penculik! Ada penculik!" teriak sang adik sambil berlari tunggang-langgang kembali ke arah gang asal mereka. Suara sandal jepit mereka terdengar beradu dengan jalanan tanah dan bergema kencang sebelum akhirnya

  • Kawin Grebek   21. Perhatian Istri

    "Kenapa? Nggak doyan? Nggak doyan pun harus tetap kamu makan, Mas. Awas aja kalau nanti di warung Bu Is aku dengar kamu pingsan pas hari pertama keliling!" ucap Cita sembari berkacak pinggang. Tak peduli dengan busa sabun di kedua tangannya. Rayhan tak menjawab. Pria itu langsung duduk, meraih sendok, lalu menyuap nasi goreng itu ke mulutnya. Matanya membelalak pelan. Rasa nasi goreng buatan istrinya ternyata sangat lezat, tak kalah dari nasi goreng di pedagang kaki lima. "Ck. Habis makan jangan lupa dicuci sendiri alat makannya. Awas aja kalau ditinggal!" decak Cita merasa kesal karena diabaikan. Rayhan menatap punggung Cita yang masih sibuk di depan bak cuci piring. "Nggak nyangka ya, kamu peduli padaku." Wajah Cita kembali menegang. Entah kalimat itu pujian atau ejekan. "Peduli matamu! Itu biar Mas punya tenaga buat narik motor. Kalau Mas pingsan di jalan gara-gara kelaparan, yang repot bayar utang Bank Plecit itu siapa? Aku juga, kan?!"

  • Kawin Grebek   20. Hari Pertama Kerja

    Rayhan mengerang pelan. Bukannya bangun, ia malah menarik selimut hingga menutup seluruh wajahnya. "Berisik, ini masih dingin...." gumamnya.Cita menautkan kedua alisnya. "Bangun, nggak?! Katanya suruh bangunin!" serunya mulai kesal."Hmm? Dingin... Lima menit lagi...." gumam Rayhan lagi masih dengan kedua mata terpejam."Nggak ada lima menit lima menitan! Nanti sayurannya keburu diborong tengkulak lain baru tahu rasa kamu!" Cita yang tidak sabaran langsung meraih lengan Rayhan dan menariknya kuat-kuat. "Ayo bangun!""Hm?" Rayhan membuka kedua matanya sebentar, lalu memejamkannya lagi. "Sssstt. Diamlah....""Ck. Mas Rayhan yang menyuruhku membangunkanmu buat pergi ke pasar. Ingat, ya! Hari ini hari pertama Mas jualan. Niat jualan nggak sih?" omel Cita benar-benar kesal."Iya, iya... Sebentar. Kamu cerewet sekali," gumam Rayhan yang masih berat untuk membuka mata.Cita mendengus pelan. Tak disangka bahwa Rayhan cukup sulit dibangunkan. Namun malam tadi Cit

  • Kawin Grebek   19. Rahasia Terbongkar

    Wajah Mak Gonjreng langsung merah padam mendengarnya. Rasa gengsinya sebagai orang yang merasa paling berkecukupan di RT tersebut serasa dicoreng seketika. "Idih! Nggak sudi, ya!" sergah Mak Gonjreng cepat, mengibaskan tangannya ke udara dengan sombongnya. "Palingan sayurannya juga jelek-jelek, layu, sisa-sisa pasar! Ya kali orang kaya kayak Mak beli sayur di tukang keliling begitu? Mak itu kalau beli sayur selalu ke supermarket di kota! Yang segar, yang tempatnya ber-AC!" cibirnya menghina. Cita menghela napas panjang agar tetap tenang. Lalu ia mengangguk-angguk pelan sembari menatap gelang emas berderet di kedua tangan Mak Gonjreng. "Oh... Jadi Mak sukanya beli sayuran ke supermarket kota ya, Mak?" "Ya iyalah. Kamu mana ngerti. Suami Mak kan kerja, terus dapat kiriman juga dari anak Mak yang kerja di laut. Lagian ya suami kamu itu pengangguran. Mana ada uang buat beli stok sayuran segar? Yang ada pasti ngambil dari sampah pasar yang sudah je

  • Kawin Grebek   18. Tetangga Julid

    "Bohong soal apa?""Bank Plecit itu pelitnya setengah mati sama nasabah baru!" ujar Cita dengan kedua matanya memicing curiga. "Bu Yanti kemarin cerita kalau mau pinjam uang lima ratus ribu saja di Bank Plecit harus pakai jaminan BPKB atau alat elektronik, terus disurvei dulu rumahnya. Kok Mas Rayhan yang bukan orang asli sini boleh pinjam uang sebanyak itu? Apa lagi Mas nggak punya jaminan dan baru tadi malam ngide mau jualan. Bank Plecit mana yang sebodoh itu mau kasih pinjaman belasan juta dalam hitungan jam sama pengangguran yang baru pindah?"Rayhan mengedip dua kali. Ia merasa terhina dengan ucapan Cita, namun juga tak menyangka bahwa Cita yang dikenal sebagai Janda Cantik dan cukup pendiam itu ternyata benar-benar cerewet dan cukup kritis saat berhadapan dengannya. Ia berdeham pelan, sedikit salah tingkah ketika disudutkan oleh logika istrinya yang ternyata cukup tajam. Rayhan lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Sebaiknya Mas Rayhan balikin motor dan duit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status