Home / Romansa / Kawin Grebek / 115. Dikira ART

Share

115. Dikira ART

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-11-07 21:45:12

Drrrt drrrt drrrt

Suara getaran ponsel membangunkan Cita. Tanda alarm berbunyi. Wanita itu mengerjap perlahan, lalu menggeliat pelan. Gerakan kecil itu membuatnya langsung teringat pada Zain. Dengan sigap, wanita berambut panjang itu menoleh ke sisi kanannya.

Zain masih terlelap dalam posisi telentang, napasnya terdengar begitu teratur dan damai. Bayi mungil itu tampak sangat nyaman di atas bantal empuk, memeluk boneka kecil berbentuk kucing kesayangannya dengan sebelah tangan mungil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kawin Grebek   116. Semua Salah Rayhan

    "Beneran, Bi? Jangan bercanda!" seru Bima sembari tertawa hambar, mencoba menepis rasa terkejutnya. "Dia itu bidadari yang semalam ada di mimpiku! Dia ART baru, kan? Nggak mungkin dia istrinya si cowok kaku itu!"Bi Jum hanya bisa meringis canggung. Ia sangat paham betapa bertolak belakangnya sifat kedua putra majikannya ini. Rayhan yang tenang, kaku, dan cenderung pendiam, sangat berbanding terbalik dengan Bima yang ceplas-ceplos, santai, dan kadang kelewat dramatis."Aduh, Den Bima... Bibi nggak bercanda," ujar Bi Jum pelan namun tegas. "Non Cita ini memang betulan istrinya Den Rayhan. Kakak Den Bima dan menantu Nyonya Lilis.""HAH?!"Bima melangkah mundur satu langkah. Ia menatap Cita dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata melotot sempurna. Cita yang berdiri di dekat tempat cuci piring semakin salah tingkah. Jemari tangannya yang masih basah refleks saling bertaut di depan dress tosca-nya. Sementara Cita juga tak menduga bahwa suaminya memiliki seorang ad

  • Kawin Grebek   115. Dikira ART

    Drrrt drrrt drrrt Suara getaran ponsel membangunkan Cita. Tanda alarm berbunyi. Wanita itu mengerjap perlahan, lalu menggeliat pelan. Gerakan kecil itu membuatnya langsung teringat pada Zain. Dengan sigap, wanita berambut panjang itu menoleh ke sisi kanannya.Zain masih terlelap dalam posisi telentang, napasnya terdengar begitu teratur dan damai. Bayi mungil itu tampak sangat nyaman di atas bantal empuk, memeluk boneka kecil berbentuk kucing kesayangannya dengan sebelah tangan mungilnya. Cita tersenyum hangat, mengecup pelan dahi Zain sebelum meraih ponsel yang terletak di atas nakas.Saat layar ponselnya dinyalakan, di sana terdapat sebuah notifikasi pesan dari Rayhan yang masuk pada pukul dua dini hari.[Rayhan: Maaf Cit. Aku baru sempat pegang hp sekarang. Aku mungkin bakalan sangat sibuk karena jadwal mendadak padat sekali. Kamu dan Zain baik-baik di sana. Makan yang banyak dan tidur yang nyenyak. Aku baik-baik saja di sini.]Membaca pesan itu, rasa hangat

  • Kawin Grebek   114. Bidadari di Dalam Rumah

    Malam itu sudah tiga hari Rayhan pergi lembur. Cita hanya bersama Zain saja di dalam kamar lama milik suaminya. Rayhan juga tidak mengirimkan pesan lagi setelah ia memberikan kabar bahwa dirinya sudah tiba di tempat tujuan."Mas Rayhan pasti sangat sibuk...." gumam Cita.Wanita itu memangku Zain yang mulai tertidur dalam pelukannya. Lalu ia menatap ke arah jendela kamar yang besar, menampakkan langit malam yang cerah tanpa bintang."Jadi gini ya kalau dititipi warisan rumah mewah. Andai rumahku masih ada, mungkin aku nggak akan bawa Zain hidup menderita dan bisa ajak Mas Rayhan tinggal bersama," gumam wanita itu lagi sembari menatap menerawang jauh, teringat dengan kehidupan masa lalunya saat keluarganya masih utuh.Cita menghela napas pelan. Kehangatan tubuh Zain di pangkuannya perlahan mereda seiring dengan lelapnya si kecil. Bayi mungil itu mulai bernapas teratur, tenggelam dalam mimpi indahnya. Dengan sangat hati-hati, Cita beranjak dari kursi sudut kamar dan mel

  • Kawin Grebek   113. Oma Sudah Sayang

    Lilis menautkan kedua alisnya. Ia lalu kembali menatap Zain yang masih memasang wajah ceria menggemaskan."Andai saja dulu Oma menemukan kamu lebih awal, Zain. Kamu nggak akan tinggal di kontrakan kecil yang pengap itu, Sayang," gumam Lilis pelan seolah mengajak Zain bicara. "Salahkan ayahmu itu yang sok-sokan mau hidup mandiri dan menggelandang seperti kucing jantan di luar sana sebelum akhirnya membawa ibumu pulang," omelnya kemudian yang disusul suara tawa ceria khas bayi.Di sekitar Lilis, tidak hanya ada satu atau dua orang ART seperti yang diketahui Cita selama ini. Ada beberapa asisten rumah tangga lain yang bertugas di bagian dalam rumah mewah tersebut, hilir mudik membereskan sudut-sudut ruangan sambil mencuri-curi pandang ke arah cucu kesayangan majikan mereka.Zain perlahan-lahan mulai kelelahan setelah cukup lama tertawa dan bercanda dengan sang nenek. Kelopak mata bayi mungil itu tampak semakin berat. Tak lama kemudian, Zain terlelap dengan damai di atas sof

  • Kawin Grebek   112. Diskon Lingerie

    Cita menoleh mengikuti arah telunjuk Bi Jum. Di balik gantungan kain satin yang berkilau di bawah lampu, terpajang sebuah lingerie berwarna merah maroon. Potongannya begitu terbuka, berbahan renda tipis menerawang dengan aksen tali silang yang seksi dan elegan di bagian punggung. Desainnya jelas diperuntukkan khusus untuk menggoda mata pria di malam hari."Non Cita kan cantik dan sudah jadi istrinya Den Rayhan. Coba deh beli ini. Siapa tahu hubungan kalian semakin rapet," bisik Bi Jum dengan senyuman merekah.Cita terdiam mematung. Matanya melebar sempurna. Darahnya berdesir naik ke wajah, membuat kulit putihnya mendadak memerah seperti kepiting rebus hingga ke pangkal telinga."B-Bi Jum... A-apa-apaan ini...?" bisik Cita terbata-bata, nyaris tak sanggup mengeluarkan suara saking malunya.Wanita cantik itu bahkan tak sanggup membayangkan dirinya sendiri mengenakan pakaian setipis dan seseksi itu di hadapan Rayhan. "Nggak mungkin. Saya nggak mau pakai baju kaya gitu.

  • Kawin Grebek   111. Rasa Bersalah yang Semakin Bertambah

    Cita masih berdiri bersandar di balik pintu kamarnya sambil memegang dadanya yang bergemuruh. Rona merah di pipinya perlahan memudar, berganti dengan helaan napas panjang penuh kelegaan karena berhasil melarikan diri dari sang ibu mertua. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara tangisan rewel dari dalam kamar membuat Cita buru-buru mendekati ranjang. Zain terbangun lebih cepat dari dugaan, rupanya bayi mungil itu haus dan minta digendong."Cup cup cup, Sayang. Mama di sini," ucap Cita mencoba menenangkan Zain yang menangis.Setelah membuatkan susu hangat, Zain kembali diam. Cita kembali teringat ucapan suaminya yang membuatnya malu. Tanpa membuang waktu, ia merapikan gendongan kain di tubuhnya, menaruh Zain di dada, dan bersiap melangkah keluar kamar. Ia berniat membawa serta putranya karena tidak mungkin meninggalkan bayi empat bulan itu sendirian di rumah besar yang asing baginya.Namun, begitu ia menuruni anak tangga hingga ke lantai bawah, langkah Cita terhe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status