ホーム / Romansa / Kawin Grebek / 17. Uang dari Mana?

共有

17. Uang dari Mana?

作者: Rizu Key
last update 公開日: 2026-09-18 21:42:51

"Sudahlah. Aku mau pulang. Makasih sudah membawakan pesananku," ujar Rayhan sembari menyalakan mesin motornya.

"Tunggu." Gilang menahan lengan Rayhan.

"Apa?"

"Kamu serius mau jualan sayuran? Kamu itu kan-"

"Bukan urusanmu," potong Rayhan sembari memberikan tatapan tajam.

"Kalau gitu kasih tahu aku di mana kamu tinggal sekarang," ucap Gilang kemudian.

"Kamu tidak perlu tahu."

"Aku ini temanmu, Ray. Tante Lilis juga khawatir soal kamu," bujuk Gilang lagi.

Rayhan terdiam sejenak. "Soal Mamah... Ka
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Kawin Grebek   118. Ketegangan di Ruang Makan

    Tubuh Cita langsung menegang. Ia semakin erat meremas jemarinya di bawah meja. Namun tak ada suara yang terdengar dari mulutnya."Kenapa kalian bohong soal bayi itu?" tanya Pramono kemudian.Sontak saja Cita mendongakkan kepalanya. Kaget mendengar pertanyaan tersebut. Sementara Pramono sama sekali tak melembutkan tatapannya yang tajam.Cita tertunduk, jemarinya yang saling meremas di bawah meja bergetar hebat saat mendengar pertanyaan dari ayah mertuanya. Tenggorokannya terasa kering dan begitu sulit untuk sekadar menelan ludah. Jantungnya bergemuruh keras di dalam dada, ia takut dan saat ini Rayhan tak bersamanya.Lilis mengerutkan keningnya. Wanita paruh baya itu menatap suaminya, lalu beralih menatap Cita dengan sorot mata yang penuh keterkejutan."Apa maksudnya, Pah?" tanya Lilis dengan suara sedikit bergetar, memecah keheningan yang mencekam. "Zain itu cucu kita, anak kandung Rayhan."Bima kikut mengernyitkan dahi. Ia meletakkan sendoknya yang tadinya ha

  • Kawin Grebek   117. Seseorang Pulang

    Malam kembali datang. Di depan meja makan yang besar, piring-piring porselen tertata rapi menyajikan hidangan malam yang cukup sederhana. Namun, suasana di ruangan itu terasa sedikit canggung, sisa dari keributan dan kejutan yang terjadi pagi harinya.Cita duduk di salah satu kursi kayu berukir, meremat jemarinya yang terasa dingin dan sedikit berkeringat.Di seberang meja, Lilis menyantap makan malamnya dengan tenang dan anggun. Sementara di sebelah Lilis, Bima tampak sudah menghabiskan setengah dari porsi makannya dengan sangat cepat."Ehem!" Bima berdeham. Ia yang pada dasarnya memang tidak bisa diam dan selalu menjadi pemecah keheningan, akhirnya meletakkan sendoknya. Ia menatap bangku kosong di samping Cita yang seharusnya diisi oleh sang kakak. Lalu di sisi lain, merupakan posisi untuk sang kepala keluarga, yaitu ayahnya."Mah," panggil Bima sembari mengunyah suapan terakhirnya dan menoleh ke arah sang ibu. "Si Kanebo Kering itu ke mana? Kok jam segini belum kelihat

  • Kawin Grebek   116. Semua Salah Rayhan

    "Beneran, Bi? Jangan bercanda!" seru Bima sembari tertawa hambar, mencoba menepis rasa terkejutnya. "Dia itu bidadari yang semalam ada di mimpiku! Dia ART baru, kan? Nggak mungkin dia istrinya si cowok kaku itu!"Bi Jum hanya bisa meringis canggung. Ia sangat paham betapa bertolak belakangnya sifat kedua putra majikannya ini. Rayhan yang tenang, kaku, dan cenderung pendiam, sangat berbanding terbalik dengan Bima yang ceplas-ceplos, santai, dan kadang kelewat dramatis."Aduh, Den Bima... Bibi nggak bercanda," ujar Bi Jum pelan namun tegas. "Non Cita ini memang betulan istrinya Den Rayhan. Kakak Den Bima dan menantu Nyonya Lilis.""HAH?!"Bima melangkah mundur satu langkah. Ia menatap Cita dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata melotot sempurna. Cita yang berdiri di dekat tempat cuci piring semakin salah tingkah. Jemari tangannya yang masih basah refleks saling bertaut di depan dress tosca-nya. Sementara Cita juga tak menduga bahwa suaminya memiliki seorang ad

  • Kawin Grebek   115. Dikira ART

    Drrrt drrrt drrrt Suara getaran ponsel membangunkan Cita. Tanda alarm berbunyi. Wanita itu mengerjap perlahan, lalu menggeliat pelan. Gerakan kecil itu membuatnya langsung teringat pada Zain. Dengan sigap, wanita berambut panjang itu menoleh ke sisi kanannya.Zain masih terlelap dalam posisi telentang, napasnya terdengar begitu teratur dan damai. Bayi mungil itu tampak sangat nyaman di atas bantal empuk, memeluk boneka kecil berbentuk kucing kesayangannya dengan sebelah tangan mungilnya. Cita tersenyum hangat, mengecup pelan dahi Zain sebelum meraih ponsel yang terletak di atas nakas.Saat layar ponselnya dinyalakan, di sana terdapat sebuah notifikasi pesan dari Rayhan yang masuk pada pukul dua dini hari.[Rayhan: Maaf Cit. Aku baru sempat pegang hp sekarang. Aku mungkin bakalan sangat sibuk karena jadwal mendadak padat sekali. Kamu dan Zain baik-baik di sana. Makan yang banyak dan tidur yang nyenyak. Aku baik-baik saja di sini.]Membaca pesan itu, rasa hangat

  • Kawin Grebek   114. Bidadari di Dalam Rumah

    Malam itu sudah tiga hari Rayhan pergi lembur. Cita hanya bersama Zain saja di dalam kamar lama milik suaminya. Rayhan juga tidak mengirimkan pesan lagi setelah ia memberikan kabar bahwa dirinya sudah tiba di tempat tujuan."Mas Rayhan pasti sangat sibuk...." gumam Cita.Wanita itu memangku Zain yang mulai tertidur dalam pelukannya. Lalu ia menatap ke arah jendela kamar yang besar, menampakkan langit malam yang cerah tanpa bintang."Jadi gini ya kalau dititipi warisan rumah mewah. Andai rumahku masih ada, mungkin aku nggak akan bawa Zain hidup menderita dan bisa ajak Mas Rayhan tinggal bersama," gumam wanita itu lagi sembari menatap menerawang jauh, teringat dengan kehidupan masa lalunya saat keluarganya masih utuh.Cita menghela napas pelan. Kehangatan tubuh Zain di pangkuannya perlahan mereda seiring dengan lelapnya si kecil. Bayi mungil itu mulai bernapas teratur, tenggelam dalam mimpi indahnya. Dengan sangat hati-hati, Cita beranjak dari kursi sudut kamar dan mel

  • Kawin Grebek   113. Oma Sudah Sayang

    Lilis menautkan kedua alisnya. Ia lalu kembali menatap Zain yang masih memasang wajah ceria menggemaskan."Andai saja dulu Oma menemukan kamu lebih awal, Zain. Kamu nggak akan tinggal di kontrakan kecil yang pengap itu, Sayang," gumam Lilis pelan seolah mengajak Zain bicara. "Salahkan ayahmu itu yang sok-sokan mau hidup mandiri dan menggelandang seperti kucing jantan di luar sana sebelum akhirnya membawa ibumu pulang," omelnya kemudian yang disusul suara tawa ceria khas bayi.Di sekitar Lilis, tidak hanya ada satu atau dua orang ART seperti yang diketahui Cita selama ini. Ada beberapa asisten rumah tangga lain yang bertugas di bagian dalam rumah mewah tersebut, hilir mudik membereskan sudut-sudut ruangan sambil mencuri-curi pandang ke arah cucu kesayangan majikan mereka.Zain perlahan-lahan mulai kelelahan setelah cukup lama tertawa dan bercanda dengan sang nenek. Kelopak mata bayi mungil itu tampak semakin berat. Tak lama kemudian, Zain terlelap dengan damai di atas sof

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status