LOGIN"Ya ampun, Mas!" Cita menepuk jidatnya sendiri, benar-benar gemas dengan kelakuan suaminya malam ini."Beras lagi mahal-mahalnya, malah dibuang ke lantai gitu aja! Mas Rayhan ini bener-bener ya, dari tadi bikin emosi. Mana itu diinjak lagi, Mas. Gimana kita makan besok?!" omel wanita cantik itu lagi sembari menunjuk-nunjuk ke arah beras yang tercecer di atas lantai."Maaf, Cit. Tadi kan nggak sengaja jatuh," jawab Rayhan membela diri dengan suara pelan."Semua gara-gara banci itu! Kamu juga seharusnya tegas dong, Mas! Bilang kalau kamu keganggu sama dia. Bukannya malah kabur!" Cita lagi-lagi mengomeli Rayhan sembari melangkah ke sudut dapur untuk mengambil sapu dan pengki."Kamu kan tahu kalau belum ngomong aja udah dikejar," jawab Rayhan membela diri.Cita menatap Rayhan sembari menggenggam sapu dan pengki di kedua tangannya. "Ya itu salahmu, Mas. Ngapain kasih uang ke dia? Udah tahu anomali.""Iya iya aku salah. Perempuan selalu benar," sahut Rayhan malas."Ck. Udah, minggir! Mas du
"Mas Rayhan!" Cita tiba-tiba berseru pelan. Wanita itu menampar lengan suaminya dengan cukup kencang."Awww.""Kamu ini, ya! Dasar nggak sopan!" omelnya masih dengan berbisik agar Zain tidak tidur. "Ngapain peluk-peluk?" gerutunya.Rayhan kembali menatap wajah Cita, berhenti meringis. "Di luar ada Maria," jawabnya."Ha? Maria? Mana?" Cita mengerutkan keningnya dalam-dalam, menatap suaminya dengan tatapan curiga sekaligus tidak percaya.Sebelumnya juga gara-gara Maria, Rayhan nekat menerobos kontrakannya dan membuat mereka digrebek warga."Jangan bohong, ya, Mas Rayhan!" bisik Cita tajam, matanya melotot ke arah wajah suaminya."Aku nggak bohong. Tadi pas mau pulang dari warung Bu Is dia tiba-tiba muncul," sahut Rayhan sungguh-sungguh.Cita kembali mengernyitkan keningnya. "Ngapain Maria malam-malam sampai ke sini? Apa jangan-jangan tadi Mas Rayhan nggak jualan ke desa sebelah, tapi malah ke terminal?" tanya Cita dengan nada menuduh."Ngapaian aku ke terminal?" Rayhan mulai kesal."Tap
"Mas Rayhan, Sayang! Maaasss!"Rayhan kembali merinding. Tak mau menunggu lebih lama lagi karena Maria sudah tertinggal cukup jauh, Rayhan segera melesat melewati jalanan tanah lalu berputar dan segera tiba di depan kontrakannya.Sementara itu, Maria yang tertinggal merasakan sakit di kakinya yang menginjak kerikil tajam. Sepatu berhak tingginya ia genggam karena patah."Duh, ke mana sih Mas Rayhan? Cepat banget larinya," gerutu Maria dengan suara bass yang sangat berat namun dibuat manja. Banci itu memungut bagian tumit sepatunya yang patah, lalu mendesah gusar. "Gara-gara Mas Rayhan, hak sepatuku jadi korban. Awas ya kalau ketemu lagi di terminal, tak peluk sampai lemes kamu!"Maria berdiri diam di persimpangan itu selama satu menit. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Rayhan yang seolah menghilang ditelan kegelapan malam.Setelah merasa benar-benar kehilangan jejak pemuda itu, Maria akhirnya menyerah. Dengan melangkah pincang sambil mengomel tak jelas, sosok bergaun
Sensasi dingin membeku mendadak menjalar dari telapak kaki hingga merambat naik ke tengkuk Rayhan. Jantungnya berdegup kencang, hingga pria itu membeku di tempat untuk sesaat. Rasa gusar akibat omelan ibunya di telepon serta kejengkelan pada Mak Gonjreng seketika sirna, tergantikan oleh rasa merinding.Di bawah lampu jalanan yang hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, berdiri sesosok tubuh tinggi jangkung yang sangat familiar. Seseorang yang memakai gaun ketat motif macan tutul yang agak kesempitan di bagian bahunya yang lebar, lengkap dengan riasan wajah tebal dan wig pirang andalan sedang melambai-lambai ke arahnya."Duh, Mas Rayhan ganteng... Kok malem-malem sendirian aja sih di jalanan sepi gini? Nyari aku, ya? Sama aku juga nyariin Mas dari kemarin."Suara bass yang terdengar melengking manja dan dibuat-buat itu terdengar cukup nyaring di kesunyian malam. Maria menyunggingkan senyuman lebar yang memperlihatkan lipstik merah muda menyala di bibirnya, lalu melangkah maju deng
Terdengar suara familiar yang mendadak memotong ucapan Bu Is. Itu suara Mak Gonjreng, tetangga paling julid nomor satu di RT tersebut.Rayhan menoleh. Lagi-lagi ia hampir menjatuhkan tali bra milik istrinya. Jika tali itu jatuh, Mak Gonjreng akan punya topik baru untuk bahan julidnya esok pagi.Mak Gonjreng yang baru tiba di warung langsung menyipitkan mata. Ia tak sengaja menangkap gerakan tergesa Rayhan yang baru saja memasukkan sisa plester dan gumpalan tali merah muda ke dalam saku jaketnya.Melihat Rayhan yang tampak terkejut, Mak Gonjreng semakin bersemangat mendekat. "Ealah, Mas Rayhan! Kenapa kok kaget gitu? Apa yang Mas Rayhan sembunyikan? Atau Mas Rayhan habis aneh-aneh sama si mantan janda?"Pertanyaan bernada ejekan itu meluncur mulus dari bibir Mak Gonjreng. Bu Is yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengelus dada, paham betul tabiat tetangganya yang satu itu.Rayhan mengepalkan tangan kanannya di dalam saku jaket, merasakan tali bra merah muda itu da
Rayhan melangkah menuju lemari plastik yang ada di sudut ruangan. Dengan gerakan sedikit kasar, ia menyambar jaket kulit hitam yang tergantung di paku dinding, lalu mengenakannya begitu saja tanpa peduli resletingnya belum tertutup sempurna.Jari telunjuknya yang terbalut tali bra merah muda lengkap dengan bercak jamur itu sengaja ia tekuk rapat ke dalam kepalan tangan. Meski terasa perih, namun ini lebih baik dari pada memamerkan tali pakaian dalam wanita itu pada para tetangganya."Kok belum pergi?" tanya Cita yang sudah selesai mencuci piring.Rayhan masih berdiri di depan pintu beberapa detik, bergeming memunggungi Cita. Sementara Cita mengelap tangannya yang basah dengan rok dasternya dan berjalan mendekat."Ada apa?" tanya wanita itu.Rayhan memutar tubuhnya perlahan, menatap Cita."Kamu mau titip apa biar sekalian?" tanyanya. Matanya sengaja diarahkan ke samping, enggan menatap langsung wajah istrinya.Cita terdiam sebentar. Ia menatap Rayhan yang lebih tinggi darinya, lalu mat







