Home / Romansa / Kawin Grebek / 30. Julid Number One

Share

30. Julid Number One

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-09-25 22:11:13

Terdengar suara familiar yang mendadak memotong ucapan Bu Is. Itu suara Mak Gonjreng, tetangga paling julid nomor satu di RT tersebut.

Rayhan menoleh. Lagi-lagi ia hampir menjatuhkan tali bra milik istrinya. Jika tali itu jatuh, Mak Gonjreng akan punya topik baru untuk bahan julidnya esok pagi.

Mak Gonjreng yang baru tiba di warung langsung menyipitkan mata. Ia tak sengaja menangkap gerakan tergesa Rayhan yang baru saja memasukkan sisa plester dan gumpalan tali merah muda ke dalam saku jaketnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kawin Grebek   32. Dekapan Tiba-Tiba

    "Mas Rayhan, Sayang! Maaasss!"Rayhan kembali merinding. Tak mau menunggu lebih lama lagi karena Maria sudah tertinggal cukup jauh, Rayhan segera melesat melewati jalanan tanah lalu berputar dan segera tiba di depan kontrakannya.Sementara itu, Maria yang tertinggal merasakan sakit di kakinya yang menginjak kerikil tajam. Sepatu berhak tingginya ia genggam karena patah."Duh, ke mana sih Mas Rayhan? Cepat banget larinya," gerutu Maria dengan suara bass yang sangat berat namun dibuat manja. Banci itu memungut bagian tumit sepatunya yang patah, lalu mendesah gusar. "Gara-gara Mas Rayhan, hak sepatuku jadi korban. Awas ya kalau ketemu lagi di terminal, tak peluk sampai lemes kamu!"Maria berdiri diam di persimpangan itu selama satu menit. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Rayhan yang seolah menghilang ditelan kegelapan malam.Setelah merasa benar-benar kehilangan jejak pemuda itu, Maria akhirnya menyerah. Dengan melangkah pincang sambil mengomel tak jelas, sosok bergaun

  • Kawin Grebek   31. Adek Kangen, Loh!

    Sensasi dingin membeku mendadak menjalar dari telapak kaki hingga merambat naik ke tengkuk Rayhan. Jantungnya berdegup kencang, hingga pria itu membeku di tempat untuk sesaat. Rasa gusar akibat omelan ibunya di telepon serta kejengkelan pada Mak Gonjreng seketika sirna, tergantikan oleh rasa merinding.Di bawah lampu jalanan yang hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, berdiri sesosok tubuh tinggi jangkung yang sangat familiar. Seseorang yang memakai gaun ketat motif macan tutul yang agak kesempitan di bagian bahunya yang lebar, lengkap dengan riasan wajah tebal dan wig pirang andalan sedang melambai-lambai ke arahnya."Duh, Mas Rayhan ganteng... Kok malem-malem sendirian aja sih di jalanan sepi gini? Nyari aku, ya? Sama aku juga nyariin Mas dari kemarin."Suara bass yang terdengar melengking manja dan dibuat-buat itu terdengar cukup nyaring di kesunyian malam. Maria menyunggingkan senyuman lebar yang memperlihatkan lipstik merah muda menyala di bibirnya, lalu melangkah maju deng

  • Kawin Grebek   30. Julid Number One

    Terdengar suara familiar yang mendadak memotong ucapan Bu Is. Itu suara Mak Gonjreng, tetangga paling julid nomor satu di RT tersebut.Rayhan menoleh. Lagi-lagi ia hampir menjatuhkan tali bra milik istrinya. Jika tali itu jatuh, Mak Gonjreng akan punya topik baru untuk bahan julidnya esok pagi.Mak Gonjreng yang baru tiba di warung langsung menyipitkan mata. Ia tak sengaja menangkap gerakan tergesa Rayhan yang baru saja memasukkan sisa plester dan gumpalan tali merah muda ke dalam saku jaketnya.Melihat Rayhan yang tampak terkejut, Mak Gonjreng semakin bersemangat mendekat. "Ealah, Mas Rayhan! Kenapa kok kaget gitu? Apa yang Mas Rayhan sembunyikan? Atau Mas Rayhan habis aneh-aneh sama si mantan janda?"Pertanyaan bernada ejekan itu meluncur mulus dari bibir Mak Gonjreng. Bu Is yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengelus dada, paham betul tabiat tetangganya yang satu itu.Rayhan mengepalkan tangan kanannya di dalam saku jaket, merasakan tali bra merah muda itu da

  • Kawin Grebek   29. Gara-Gara Tali BH

    Rayhan melangkah menuju lemari plastik yang ada di sudut ruangan. Dengan gerakan sedikit kasar, ia menyambar jaket kulit hitam yang tergantung di paku dinding, lalu mengenakannya begitu saja tanpa peduli resletingnya belum tertutup sempurna.Jari telunjuknya yang terbalut tali bra merah muda lengkap dengan bercak jamur itu sengaja ia tekuk rapat ke dalam kepalan tangan. Meski terasa perih, namun ini lebih baik dari pada memamerkan tali pakaian dalam wanita itu pada para tetangganya."Kok belum pergi?" tanya Cita yang sudah selesai mencuci piring.Rayhan masih berdiri di depan pintu beberapa detik, bergeming memunggungi Cita. Sementara Cita mengelap tangannya yang basah dengan rok dasternya dan berjalan mendekat."Ada apa?" tanya wanita itu.Rayhan memutar tubuhnya perlahan, menatap Cita."Kamu mau titip apa biar sekalian?" tanyanya. Matanya sengaja diarahkan ke samping, enggan menatap langsung wajah istrinya.Cita terdiam sebentar. Ia menatap Rayhan yang lebih tinggi darinya, lalu mat

  • Kawin Grebek   28. Tali BH

    Tatapan mata mereka saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Cita mendongak, matanya yang bulat menatap lurus ke arah Rayhan penuh kekhawatiran yang tak ia sadari. Sementara bibirnya masih sibuk menahan pendarahan di jari sang suami.Di dalam ruangan temaram itu, jantung Rayhan mendadak berdegup kencang, jauh lebih cepat daripada saat ia dikejar Maria si banci terminal.Sensasi hangat dan basah yang melingkupi ujung jari telunjuknya membuat seluruh syaraf di tubuh Rayhan seolah lumpuh mendadak. Ia membeku di tempatnya berjongkok saat desiran aneh mulai muncul di dalam dadanya.Jantung Rayhan juga berdegup kencang, saat kedua matanya saling bertemu dengan kedua mata bulat dan bening Cita. Jarak wajah mereka yang kini hanya berkisar belasan sentimeter membuat Rayhan bisa merasakan embusan napas Cita yang hangat mengenai kulit tangannya.Cita mengulum jari itu cukup dalam dan lama selama beberapa detik, menyedot darah segar yang terus keluar agar pendarahannya tertahan. Setelah dira

  • Kawin Grebek   27. Emut

    Malam harinya, aroma gurih dari kuah santan kembali memenuhi seisi kontrakan Cita dan Rayhan yang sempit. Cita berdiri di dekat kompor, mengaduk pelan panci berisi sayur lodeh sisa tadi siang yang dihangatkan kembali. Sementara Zain sudah kembali tidur ditemani oleh Rayhan yang duduk di ambang pintu sembari serius dengan pembukuan bisnis berjualan sayurnya.Setelah menaruh dua piring nasi dan semangkuk sayur lodeh panas di atas tikar, Cita memanggil suaminya. Rayhan yang baru saja selesai merapikan pembukuan sederhana hasil dagangannya hari ini segera duduk bersila di hadapan Cita. Rasa trauma mual akibat teringat kotoran bayi tadi siang seolah menguap begitu saja, berganti dengan rasa lapar yang tak bisa ditahan. Kali ini, tanpa ragu sedikit pun, Rayhan menyantap makanan itu dengan lahap dalam diam. Sementara Cita hanya tersenyum tipis melihat cara makan Rayhan yang begitu menikmati masakannya.'Kamu ternyata pria yang cukup baik, Mas. Tapi sayang kamu seharusnya nggak berakhir menik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status