LOGIN"Aku tidak sopan?" Tawa kecil pun lolos dari bibir Sia. "Aaric, perhatikan kata-katamu."
Mendengar tawa dan tatapan tak berperasaan itu hati Aaric mengeras. "Sia, keluar! Keluar sekarang juga!" Teriak Aaric dengan tangan meraih lengan Agnesia cukup kuat. "Aaric, apakah ada masalah? Kenapa kau berteriak?" Suara lembut lain kembali terdengar, membuat Aaric melepaskan tangannya dari lengan Sia. "Ah, Aa-aaric, siapa dia?" Agnesia mematung, matanya jatuh pada wajah cantik yang hanya mengenakan kemeja panjang Aaric dengan rambut basah. Berbalik, dia mengamati wajah Aaric yang terlihat segar dengan rambut yang sama basahnya. Tanpa sadar tawa kecil kembali lolos dari bibirnya. Kini opsi terburuk yang dia pikirkan telah memberikan kepastian yang paling menyakitkan. "Jadi seperti itu," gumam Sia jelas. Bibirnya tersenyum lebar meski air mata menggantung di kedua matanya. Sekuat tenaga, dia menahannya seperti dia yang berusaha berdiri kuat dengan kedua kakinya. "Sia, aku bisa jelaskan. Dia-" Tanpa mendengarkan penjelasan Aaric, Agnesia lebih tertarik pada wanita asing yang baru saja dia temui. "Apakah pria itu kekasihmu?" Jari telunjuknya yang gemetar melayang menunjuk tubuh Aaric. "Aa-aaric, dia-" Menyadari ada yang salah wanita itu menatap wajah Aaric karena tak menemukan kata-kata yang pas. Dia bahkan tak bisa memberikan kepastian dari pertanyaan yang Sia ajukan. "Aku tanya sekali lagi, apakah dia kekasihmu?" Ulang Agnesia meminta kepastian. Seluruh tubuhnya gemetar hebat dengan napas berat. Air matanya lolos namun dia dengan cepat menghapusnya. "Sia, apa yang kau tanyakan?" tanya Aaric tak mengerti, lebih tepatnya dia benci kecanggungan ini. "Y-yya, tti-tidak." Agnesia mengatupkan rahangnya saat mendengar jawaban yang ragu-ragu. Seluruh dunianya terasa runtuh. Tapi sekali lagi dia berharap jawaban yang pasti. "Ya, atau tidak!" "Sia, jangan salah paham. Viola hanya teman masa kecilku," jelas Aaric ambil bagian. "Kau membuatnya tidak nyaman." "Y-ya, kami hanya teman kecil. Sudah bersama sejak kecil. Ka-kami, maksudku, ja-jangan salah paham." Viola sangat gugup, tutur katanya bahkan terbata-bata. "Sia, kembalilah ke apartemen. Aku akan menyusulmu." Ekspresi yang dingin, intonasi datar dan perintah untuk kembali lagi-lagi Aaric layangkan. Seolah semua yang terlihat sangat wajar. Tak ada kehangatan di mata Aaric atau pun rasa bersalah karena sudah menggoreskan luka. Agnesia mengutuk ketulusannya karena berpikir Aaric adalah pria baik yang akan menjadi suaminya. Tapi seharusnya dia sadar, kenapa tunangannya ini selalu bersikap dingin padanya. Tak peduli meski dia menunjukkan rasa cintanya yang tulus berkali-kali, Aaric sama sekali tak peduli. "Ah, kekasih masa kecil," ulang Agnesia dengan anggukkan kepala ringan. "Lalu kenapa dia ada di hotel keluargaku?" Dari sekian banyak pertanyaan, pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari bibir Sia. Dia tak memiliki keberanian untuk bertanya hal lainnya karena saat ini hatinya sudah tak lagi tertata. Semua hancur berantakan, dengan rasa kecewa dan sakit yang luar biasa. Aaric mendesah ringan, matanya melirik Pak Lee dan staf hotel yang masih berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar. Dia benci kehadiran orang asing, dan dia benci menjadi sorotan. "Bisakah kalian pergi?" Pak Lee dan staf lainnya menatap Sia sebagai konfirmasi asing. "Tidak, mereka akan tetap di sini," tolak Sia cepat. Kedua matanya sangat merah, nada suaranya terdengar sumbang. "Sia," panggil Aaric dalam sebagai kode peringatan. "Mereka berhak berada di sini, mereka ada untuk memastikan keamananku," jelas Sia lagi. Aaric hanya diam namun tatapan matanya yang dingin sudah cukup mengkonfirmasi. Dia tak suka karena untuk pertama kalinya gadis itu menolak perintahnya. Karena Sia sangat penurut, selalu mengekorinya kemana pun. "Aa-aaric, aku, aku akan memberikan kalian waktu untuk bicara." Viola bukan satu-satunya orang yang tidak nyaman dengan kecanggungan ini. Dia telah berada Tiga bulan disini dan Aaric selalu menemuinya secara berkala. Dia tahu bahwa Aaric telah memiliki tunangan, tapi dia tak menyangka bahwa hotel yang dia tempati milik tunangan Aaric. Agnesia segera menoleh saat suara pelan Viola terdengar sedikit ketakutan. Karena tak ada penjelasan yang Aaric berikan, Sia menganggap masalah ini selesai. Dia bisa memahami semuanya. Atau lebih tepatnya alasan kenapa Aaric selalu menunda pernikahan hingga hari ini. Sia bahkan sempat berpikir bahwa mungkin saja Aaric ingin menyiapkan banyak hal untuknya. Tapi kini, kepalanya seolah sengaja dihantam baru besar. Menyadarkan dirinya dari dunia kebodohan. "Tidak, kau bisa lakukan apapun yang kau mau. Kekasihmu ini telah menyewa tempat ini selama satu tahun penuh. Bukankah begitu, Aaric?" Viola menatap Aaric namun tatapan Aaric yang dingin seolah menembus tulangnya. Akhirnya dia memutuskan mundur dan membiarkan mereka bicara. "Sia, aku tak memiliki hubungan apapun dengannya. Sudah berapa kali kujelaskan? Jangan berlebihan," Bagi Sia ucapan Aaric terdengar seperti alasan yang dibuat seadanya. Dan dia tak lagi merasa simpati atau pun mengharapkan penjelasan yang lebih lagi. "Kau menyewa Suites Room selama satu tahun penuh untuk teman masa kecilmu dan masih bisa mengatakan kalian tak memiliki hubungan apapun? Aku bahkan menangkap kalian dalam kamar yang sama pagi ini dan kau minta aku percaya?" "Sia, ini tak terlihat seperti yang kau kira." "Semua orang yang melihat akan mengira hal yang sama. Yah, lagi pula aku juga baru tahu bahwa tunanganku ini sangat murah hati," Agnesia menekan kata tunangan hingga suasana ruangan terasa kian berat. "Sia, aku akan menjelaskan nanti. Pulanglah ke Apartemen, malam ini kita akan berangkat bersama ke pesta VlorA Company," tolak Aaric seolah tak ada masalah yang sedang terjadi. Agnesia mengendurkan senyumnya. Dia tidak menurut justru berjalan mengitari ruangan. "Kenapa aku harus pulang? Aku ingin melihat tempat yang sering kau kunjungi bahkan tempat yang bisa membuatmu tinggal dengan nyaman. Karena saat tinggal bersamaku kau memperlakukan apartemen seperti tempat tidur, tak lebih. Pulang pergi bekerja lalu tidur. Kita bahkan jarang bicara atau bertemu untuk merundingkan tentang asmara kita." Ada rasa pahit yang menghantam sudut hati Agnesia. Aaric, tunangannya itu dia pikir seseorang yang gila kerja. Dia kira Aaric memang berkepribadian dingin dengan semua orang. Dengan ketampanan yang rupawan, sudah menjadi hal biasa bagi Sia untuk melihat Aaric menolak banyak perempuan. Dia bangga karena terpilih menjadi tunangannya. Dia membalas dengan memberikan cinta yang tulus dan berharap Aaric melakukan yang yang sama. Hanya saja ternyata dia salah paham. Agnesia tak pernah berpikir bahwa mungkin saja Aaric memiliki orang yang istimewa. Dan Aaric bukan tak tahu caranya berekspresi, itu karena Aaric tak mencintainya. Karena orang istimewa di hati Aaric bukanlah dia. Dia tunangannya, tapi dia tak tahu apapun tentang Aaric. Dia tunangannya tapi dia sama sekali tak dapat menyentuh seujung jari pun tubuh Aaric. Dia menawarkan dirinya, bahkan jika itu tubuhnya dia akan memberikannya. Tapi sekarang semua menjadi sangat tak berguna. Setelah memikirkan itu semua, Agnesia merasakan kekosongan atas semua kebodohan yang telah dia lakukan. Aaric menatap tajam saat Agnesia berjalan menuju ruangan kamar, dia mengikuti dan melihat tubuh yang lebih pendek darinya itu tertegun di tengah pintu. Mengikuti arah pandang Agnesia, dia jelas melihat ruangan kamar yang berantakan, teman masa kecilnya yang berdiri tak jauh dari ranjang, lalu pada sebuah gaun yang terpasang di sebuah manekin dengan sangat indah. Matanya sedikit tertegun, tangannya terulur untuk menyentuh pundak Agnesia namun terhenti di udara. "Ternyata seperti ini," ujar Agnesia menahan getir di hati. Dia tersenyum lebar saat melihat gaun di manekin adalah gaun yang sama dengan gaun yang akan dia kenakan di pesta nanti. Rasa kecewa mencambuk seluruh isi kepalanya. "Aku akan mengingat hal ini dengan sangat baik." "Sia, aku bisa jelaskan soal ini." Agnesia berbalik dan menjauh ketika melihat tangan Aaric terulur padanya. Membayangkan tangan yang sudah menyentuh wanita lain itu menyentuhnya rasa mual menghampiri hingga membuatnya jijik tak terkira. "Aku selesai," ujar Agnesia dengan jelas. Aaric tercengang melihat penolakan yang Agnesia lakukan. Pertama kalinya, seorang Agnesia yang selalu patuh dan terlihat begitu mencintainya itu menjauhinya. Bahkan sebelum dia bisa mengucapkan sesuatu sosok itu melewatinya dengan acuh tak acuh. Jelas, ini bukan Agnesia yang dia kenal. "Oh aku lupa, pastikan kau membayar semuanya dengan benar. Jika kuingat, kau mengambil kamar ini dengan nama adik perempuanmu, Mona." Tak ada jawaban yang Aaric berikan karena Sia tiba-tiba membahas tentang pembayaran. Benar, hotel ini milik Agnesia sebagai pertukaran mahar yang akan Sia bawa saat mereka menikah nanti. Tapi ketika tunangannya itu membahas perihal pembayaran, harga dirinya terluka. "Aaric, kau tahu aku sangat serakah bukan?" Aaric mendongak, Agnesia bukanlah orang yang perhitungan jika itu dengannya. Bahkan kata serakah sama sekali tidak cocok untuk gadis cantik yang akan menjadi istrinya. Dia sangat mengenal Agnesia dengan sangat baik selama pertunangan mereka. Tapi kali ini Agnesia terlihat tak seperti yang dia kenal. "Sia, kau-" "Aku tunanganmu tapi aku tak harus memberikan tempat tinggal gratis pada simpananmu, bukan?" potong Sia cepat bahkan sebelum Aaric bicara jelas. "Oh satu lagi, pastikan simpananmu tak membuat keributan sampai kita membatalkan pertunangan. Aku akan membicarakan hal ini dengan Kakek." "Apa maksudmu dengan pembatalan pertunangan? Aku tak memiliki simpanan," tolak Aaric tak terima. "Sia, sudah kukatakan ini tak seperti yang kau lihat." Agnesia sekali lagi mengangguk seolah percaya. "Baiklah, lanjutkan kesibukan kalian. Kita bertemu saja di pesta nanti malam." "Sia, tunggu," "Pak Lee pastikan menagih dengan benar tanpa meninggalkan potongan sedikit pun," intruksi Agnesia dengan langkah kaki keluar dari ruangan. "Dimengerti, Nona." Pak Lee segera mengikuti langkah kaki Agnesia bersama staf lainnya. "Sia, tunggu, Sia, Sia, Sia!"Tanpa diduga, Sulli juga ikut mengambil potongan dari vas bunga yang pecah. Ia mengambil bagian yang cukup tajam, yang bisa melukainya kapan saja. Sia kaget, kini dua orang benar-benar akan membunuhnya. Namun, ia tetap bersikap tenang, tidak banyak bicara, bahkan tidak bergerak sama sekali. "Saya harap Anda berdua tidak keterlaluan pada Nona Sia!" Pengawal pribadi Sia datang dengan cepat, tetapi Houston dan Sulli dengan kompak mendekatkan senjata mereka ke leher Sia. "Aku yang berharap agar kau menjauh dari sini!" Houston memperingatkan pengawal itu, tetapi pengawal itu tidak mundur. Malah ia semakin maju hendak melawan Houston dan Sulli untuk menyelamatkan Sia. Sia yang pergerakannya terkunci, akan benar-benar mati kalau pengawal itu maju selangkah lagi. "Tidak-tidak! Kau mundur saja! Tolong jangan membuat keadaan semakin runyam!" Sia meminta pengawalnya mundur, walaupun pengawal itu hendak membantah, tetapi akhirnya menurut juga. "Paman dan Sulli, tolong lepaskan senjata kalian
Setelah kembali ke kamarnya, Sia berpikir cukup lama. Dengan Sulli yang memaksa tinggal di rumah utama, hal itu membuatnya berpikir bahwa pamannya juga pasti tak akan menyerah begitu saja. "Apa yang harus kulakukan pada ayah dan anak itu? Paman dan Sulli tak akan berdiam diri. Di sini tak ada paman Wenart, aku sendiri." Sia bergumam sendiri. Ia tahu, sebentar lagi Houston pasti akan membalaskan dendam padanya, dengan atau tanpa Sulli. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Sia menelepon Melody. Ia memiliki rencana besar dan ia membutuhkan bantuan seorang peretas handal seperti Melody saat ini. Ia langsung menelepon sahabatnya itu, tak perlu menunggu lama, Melody langsung menerima panggilannya. "Apa kau sedang sibuk?" Sia bertanya. 'Aku baru saja bangun, setelah semalaman bekerja.' Terdengar suara Melody yang malas dan masih mengantuk. "Maaf, aku mengganggu waktu istrahatmu. Tapi Melody, apa kau bisa membantuku lagi kali ini?" Suara yang malas itu tiba-tiba berubah menjadi semanga
Adrian meminta Dominic untuk menyiapkan beberapa berkas dan surat-surat penting lainnya padanya. Dominic tidak banyak bertanya untuk apa, ia hanya melakukan apa yang diperintahkan tuannya. Adrian menunggu di ruang kerjanya sembari berkutat di depan layar komputernya. Dominic datang dengan tumpukan berkas yang diminta Adrian. Dominic menghela napas lelah. Ia lihat Adrian tengah fokus, hingga tak menyadari kedatangannya. Saat tahu, ia menoleh pada Dominic."Tolong buatkan surat pernyataan yang menyatakan bahwa semua aset dan surat-surat penting yang kumiliki akan dipindahkan atas nama Sia. Aku membutuhkannya secepatnya."Dominic terkejut. "Y-ya? Tuan, mengapa menjadi atas nama Nona Sia?"Adrian tersenyum. "Sebagai bukti bahwa aku benar-benar mencintainya dan tak ingin bercerai dengannya. Aku ingin memberikan seluruh aset yang kumiliki kepadanya sebagai mas kawin pernikahan kami. Karena saat kami menikah, aku bahkan tidak memberikannya apapun, bahkan seutas cincin. Jadi inilah bentuk pe
Sia langsung berjalan di tengah-tengah para wartawan yang heboh dengan pernyataan Houston. Houston dan Sulli yang melihat kedatangan Sia pun terkejut. Para pengawal tidak ada yang berani menahan Sia, walaupun berkali-kali Houston memberi perintah. Sia dengan anggun menghampiri Houston dan Sulli, berdiri disamping mereka dan merebut mikrofon. "Apa yang kau lakukan, Sia?" Houston bertanya dengan marah. "Mengungkap kebenaran!" Balas Sia tegas. "Ayah, apa yang sedang ia lakukan?" Sulli gelisah, begitu juga Houston. Para wartawan dan media massa semakin berbisik karena melihat Sia yang tiba-tiba naik ke panggung. "Saya adalah cucu dari Tuan Agraf, pemilik dan pemimpin keluarga Agraf. Kedatangan saya ke mari adalah untuk meluruskan kabar bohong yang telah beredar yang mengatakan bahwa Kakek saya sudah meninggal. Padahal kenyataannya tidak, Kakek saya, Tuan Agraf, saat ini dalam kondisi baik-baik saja!" Sia mengungkapnya dengan tegas. Semua yang ada di sana makin heboh. "Jadi mak
Pagi harinya, Sia terbangun dengan terkejut ketika ia merasakan sebuah tangan mengelus lembut rambutnya. Ia kaget saat melihat Adrian sedang tersenyum menatapnya. "Apa yang kau lakukan?" Sia langsung berdiri menjauh, di sisi lain terlihat Dominic yang masih terlelap. "Hanya mengelus rambut istriku." Adrian tersenyum nakal. Jika tidak ada Dominic, dia pasti lebih berani. "Sayang, aku-" "Stop," potong Sia cepat. Dia bergidik ngeri saat ingatannya berputar tentang kekejaman Adrian. Lalu juga tentang tuan Tua yang ingin perceraian. "Sayang, kita-" "Adrian, kurasa kau sudah jelas tentang satu hal. Mari kita bekerjasama demi kebaikan kita berdua." Sia beranjak, ia hendak ke kamarnya untuk membersihkan diri, tetapi Adrian tiba-tiba mengatakan hal yang membuatnya menghentikan langkahnya. "Aku tak akan pernah melepaskanmu, Sia. Tidak akan. Bahkan walaupun kakekku datang memohon agar aku menceraikanmu, semua itu tidak akan pernah kulakukan. Sekali milikku akan tetap menjadi mil
Setelah beberapa jam menyetujui permintaan Sia untuk menjaga Tuan Agraf, Wenart tiba-tiba berubah pikiran. Ia mengkhawatirkan Sia. "Nona, kalau aku menjaga Tuan Tua, lalu siapa yang akan menjaga Nona nantinya?" Sedangkan saat ini, dirinya dan Tuan Tua sudah berada di rumah baru yang letaknya agak jauh dari apartemen Sia maupun rumah utama keluarga Agraf. Di mana di rumah itu Houston maupun anggota keluarga Agraf lainnya tidak akan tahu keberadaan Tuan Agraf. "Paman, aku harus kembali ke apartemen sekarang untuk mengurus beberapa hal." Sia baru saja keluar dari kamar Tuan Agraf sembari sibuk menyimpan ponsel di dalam tasnya. "Sia, setelah kupikir-pikir, aku juga tak bisa membiarkanmu pergi sendiri dan mengurus semuanya sendiri. Bukan berarti aku tidak bersedia menjaga Tuan Tua, hanya saja, ya kau tahu sendiri keadaan sedang kacau. Houston bisa mengirim orang kapan saja untuk menyakitimu." Sia mendesah. Ia menatap Wenart dengan seksama. "Tapi kalau bukan Paman yang menjaga Kake







