Home / Romansa / Kawin Sama Mantan / Tunangan yg berselingkuh.

Share

Kawin Sama Mantan
Kawin Sama Mantan
Author: Ellina Exsli

Tunangan yg berselingkuh.

Author: Ellina Exsli
last update Last Updated: 2025-09-24 23:48:04

"Lelaki mana yang tidak selingkuh? Bahkan jika dia sangat lurus, di hadapan wanita yang dicintainya, dia pasti akan meninggalkan calon istrinya."

Sebuah pesan asing dari nomor tak dikenal mengusik makan siang Agnesia.

Pesan itu diiringi sebuah foto gadis cantik yang tersenyum di atas tempat tidur, lalu di sampingnya ada wajah tampan yang tampak tidur meski tak memperlihatkan seluruh wajah. Hanya dengan sekilas, Sia tahu bahwa pria itu adalah tunangannya.

Sia tertawa kecil, namun tangannya menggenggam erat benda persegi panjang di tangannya.

"Hal yang paling menjijikkan di dunia ini adalah pria yang tak cukup dengan satu wanita. Dan hal paling menyedihkan adalah dihianati oleh orang yang paling kau cintai. Hanya saja, kenapa hal itu terjadi padaku?"

Meski sedikit dingin, di mata Agnesia, Aaric adalah pria baik yang selalu mengutamakannya. Seluruh keluarga Aaric bahkan memperlakukannya melebihi putri kandung mereka.

Dia yang haus akan kasih sayang orang tua, akhirnya luluh dan bersikap sangat patuh. Seiring berjalannya waktu, dia benar-benar jatuh cinta dan berpikir bahwa Aaric juga mencintainya.

"Aaric, Tujuh Tahun aku bersikap sangat baik padamu. Aku bahkan benar-benar mencintaimu dengan tulus dan berharap kita segera menikah. Lalu, akhirnya kau memberiku hadiah besar, yaitu pengkhiatan."

Sekali lagi, mata Sia melihat foto tersebut dan dia sangat yakin bahwa pria di dalam foto tersebut benar-benar tunangannya.

"Tak kusangka, kau benar-benar murah hati membiarkan mereka tinggal di hotelmu. Tapi Sia, bukankah wanita itu sedikit mirip denganmu? Yah, meski dia terlihat lebih polos dan lembut."

Pesan selanjutnya kembali masuk, mata Sia bergeser membaca isi pesan melalui notifikasi tanpa berniat membukanya. Dan pesan ini berhasil membuatnya tertawa. Selain penghianatan, hal kedua yang paling dia benci adalah dia disamakan dengan orang lain.

Kali ini Aaric benar-benar memberinya hadiah besar.

"Kupikir kenapa dia bersikap sangat baik padaku, ternyata aku hanya mirip dengan wanita yang dicintainya."

Tiba-tiba Sia merasa konyol karena mengingat betapa seringnya dia mengungkapkan cinta meski tak mendapatkan jawaban, Sia mengambil kesimpulan bahwa Aaric pasti juga mencintainya. Kini semua telah jelas, keraguan yang terpendam mulai saling terhubung bagai benang-benang yang saling tertaut.

Aaric tidak mencintainya.

Aaric hanya berlaku baik karena dia mirip seseorang.

"Sungguh kebodohan yang luar biasa."

Sia tak tahu indentitas pengirim pesan, tapi dia sangat berterimakasih karena telah menyadarkannya dari kebodohan. Akhirnya dia menghubungi orangnya di hotel dan sangat terkejut setelah tahu kenyataannya. Melemparkan ponselnya ke jok belakang dia melajukan mobilnya untuk mencari tahu kebenaran.

"Selamat siang, Nona. Apakah ada yang bisa kami bantu?"

Sia mengabaikan salam staf hotel. Dia langsung melangkah masuk menuju lift khusus untuk pergi ke lantai Empat puluh.

"Nona, anda tidak bisa menerobos masuk seperti ini. Nona,"

Mungkin sangat terkejut karena Sia ingin menggunakan lift khusus, staf hotel itu pun mengejarnya panik setelah berkali-kali melarangnya masuk.

"Nona, tolong jangan bersikap seperti ini. Nona bisa menggangu kenyamanan pengunjung hotel kami."

Sia berhenti saat lengannya dicekal kuat oleh staf hotel. Dia melihat tangan asing yang mencoba menarik lengannya.

"Aku tunangannya," tolak Sia tak menurut. "Aku hanya ingin tahu hal apa yang dilakukan tunanganku karena telah menyewa sebuah Suites Room untuk Satu tahun penuh Tiga Bulan lalu."

"Nona, anda melanggar privasi hotel kami. Saya sudah menghubungi keamanan jadi-"

"Keamanan?" potong Sia dingin. Dia berbalik untuk melihat wajah staf hotel yang menghentikannya dengan seksama. "Apakah kau staf baru di sini?"

Hal wajar jika dia tak dikenali karena selama beberapa tahun terakhir Aaric telah meng-handle hampir semua properti milik keluarga yang diberikan padanya. Dengan alasan ingin membuatnya nyaman, Sia dengan bodohnya mempercayai semuanya.

Staf hotel itu menganggukkan kepala sopan. "Benar, jadi nona-"

"Apakah managermu tak mengatakan sesuatu? Hubungi dia. Katakan, Sia ada di sini."

Staf hotel itu sedikit tertawa. Meski terdengar sedikit meremehkan tapi dia belum pernah bertemu gadis bernama Sia ini selama dua bulan dia bekerja di sini. "Nona Sia, tolong berhenti main-main. Manager bukan orang yang bisa nona panggil bahkan jika nona ingin,"

"Jika begitu berikan kartu kamarnya. Bukankah itu kamar di lantai Empat Puluh?"

"Nona, anda sudah melewati batas," Staf hotel itu mulai sedikit mengeraskan suaranya. "Mohon kembali sebelum-"

"Nona Sia, Nona Sia, Ya Tuhan, kenapa nona datang secara tiba-tiba tanpa konfirmasi terlebih dahulu? Nona seharusnya menghubungiku dulu,"

Ucapan staf hotel itu terhenti saat suara memburu diikuti tiga pasang kaki berjalan sangat tergesa. Dia bernapas lega karena akhirnya managernya ada di sini untuk membantunya.

"Manager, nona ini mencoba menerobos masuk, jadi saya telah menahan juga menghubungi keamanan hotel. Mungkin sebentar lagi-"

"Apa yang kau katakan?" Potong manager itu cepat. Ekspresinya terlihat sangat kacau dan dia segera mendekati Sia yang masih diam mengamati. "Nona Agnesia, dia masih baru di sini. Dia tidak tahu bahwa nona adalah cucu dari pemilik hotel ini. Selanjutnya aku akan mendisiplinkannya dengan baik."

Hal-hal seperti itu bukanlah urusannya. Sia hanya ingin segera tahu tentang tunangannya.

"Tidak, dia melakukan tugasnya dengan baik. Jadi Pak Lee ...." tanpa melanjutkan kata-katanya, Sia mengulurkan tangannya.

Manager hotel itu segera berbalik dan menerima sebuah kartu berwarna hitam dari salah seorang staf yang ikut bersamanya. "Di sini, Nona. Aku akan mengantar nona agar keamanan nona lebih terjaga,"

"Keamanan?" Sia tertawa mengejek. "Bukan karena kau ingin melindungi orang di dalam kamar itu agar tak mati di tanganku? Aku Sia, si pembuat onar."

Pak Lee hanya menggeleng lemah di hadapan tawa Sia yang renyah. Dia sangat tahu bahwa Sia tak akan menyakiti orang yang salah. Kemampuan Sia, bahkan dia sangat memahaminya. Meski dia menyayangkan karena Sia tiba-tiba menyerahkan seluruh urusan bisnis pada calon suami yang saat ini ada di hotel ini.

"Nona, aku tak percaya pada rumor yang beredar."

"Rumor? Apa itu rumor aku yang telah memukul pelayan, menghabiskan uang warisan dalam semalam atau aku yang berperilaku preman dan tak tahu aturan?"

"Nona Sia, tolong jangan terlalu memikirkan rumor tak berdasar. Publik mungkin tak begitu mengenal nona, tapi beberapa orang yang telah bekerja bersama nona, tidak akan percaya itu semua. Aku mempercayai mataku,"

Sia tersenyum tipis, dia memasuki lift diikuti yang lainnya.

"Tiga bulan, kenapa tak ada yang memberi tahuku?"

Pak Lee menghela napas berat, nada pertanyaan ini, dia tahu nona di depannya tengah bertanya sebagai atasannya.

"Nona, ini kesalahanku karena tidak teliti. Kamar ini bukan atas nama Tuan Aaric, tunangan nona. Lebih tepatnya dengan nama saudara perempuannya. Jadi kami berpikir bahwa ini bukanlah suatu masalah."

Sia tertawa sumbang. Ada banyak pikiran yang tumbuh terlalu cepat dan liar setelah penjelasan pak Lee sampai di telinganya. "Jadi maksud Pak Lee adalah dia ingin menginap secara gratis di hotelku selama satu Satu tahun karena merupakan calon adik iparku?"

"Nona, ini kelalaianku. Aku benar-benar salah. Meski begitu pemilik kamar tersebut jarang sekali keluar jadi kami sama sekali tak dapat memberikan info yang akurat. Lalu Tuan Aaric juga menyampaikan agar tidak mengganggu nona dengan hal-hal sepele."

Sia tak menjawab karena pintu lift telah terbuka. Pikirannya yang tumbuh liar mulai menciptakan opsi paling buruk yang akan terjadi. Tubuhnya mulai gemetar karena perasaan yang tercampur aduk.

Meski begitu dia tetap berjalan menuju nomor kamar yang tertera di kartu tangannya diikuti yang lainnya. Dengan sopan pak Lee mengetuk pintu kamar terlebih dahulu dengan harapan agar Sia tetap menunggu. Karena siapapun dapat melihat amarah yang tertahan di wajah cantik itu.

"Siapa?"

Itu memang benar, Sia mengeratkan genggaman kartu hitam di tangannya saat melihat wajah yang dikenali muncul di balik pintu. Berbagai perasaan yang tercampur aduk menghadirkan badai hebat dengan rasa sakit yang tak terkira.

"Aaric,"

Ada rasa tak percaya di ujung mata Sia saat wajah tunangannya itu benar-benar ada di hadapan matanya. Rasa sakit merayap di sudut hatinya, menimbulkan kekecewaan yang dalam.

"Si-sia, kenapa kau bisa ada di sini."

Ini sangat tiba-tiba karena Aaric tak menyangka tunangannya akan disini menemuinya.

"Aaric apakah Mona sudah datang? Kenapa kalian hanya berdiri di tengah pintu?"

Sia menahan ekspresinya dengan tatapan tak berkedip saat suara wanita asing menyela. Sepertinya orang yang mengiriminya pesan benar-benar ingin menyadarkannya. Meski sempat berharap bahwa foto dan berita itu palsu, pada akhirnya dia harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Dan dia ingin melihat segera.

"Sia, tunggu. Sia!"

Aaric menahan tubuh Sia sebisa mungkin agar tidak masuk namun pada akhirnya dia kalah cepat karena tubuh ramping itu sudah lolos dari tangannya.

"Sia!" teriak Aaric cukup keras.

Seluruh staf hotel terdiam sementara Pak Lee terlihat muram. Atas dasar apa pria ini meneriaki nona muda yang dia layani tepat di hadapan staf lain bahkan saat nonanya memergoki ada suara wanita lain? Tak peduli sedalam apa cinta nona mudanya, pria yang tak setia adalah sampah yang tak bisa di daur ulang. Dia akan menjadi orang pertama yang menentang hubungan ini.

"Sia, kenapa kau menjadi sangat tidak sopan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Wuxie Lee
astaga udh marah bngt bc nya emosi. jiwa. sia tolong jg bodoh. bsngut dan balas dendam lelaki seperti itu tolong tinggalin.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kawin Sama Mantan   86. Kunjungan Tuan Tua Valora

    Sia dan Adrian tiba di Villa ujung utara. Adrian memperlakukannya dengan sangat baik sejak mengetahui kehamilan Sia beberapa menit lalu. Sedangkan Sia merasa biasa saja, tidak terlalu senang bahkan merasa cukup buruk. Semua ini tidak ada dalam rencananya. Adrian membimbingnya masuk ke kamar mereka, ia meminta Dominic untuk membelikan aneka macam buah-buahan dan susu ibu hamil terbaik. "Mulai saat ini, kau tidak boleh keluar ke mana pun, tidak boleh melakukan aktivitas apapun, kau hanya harus istirahat. Kau tidak boleh stres, jadi aku ingin agar kau mengatakan apapun keluh kesahmu padaku." Sia menatap Adrian dalam. Lalu beralih pada perutnya yang masih rata. Ada sebuah janin yang tumbuh dalam perutnya, yang akan memanggilnya Ibu. Dia tak memiliki kenangan yang baik pada orang tuanya tapi dia cukup sadar bahwa dia tak akan melakukan hal buruk terjadi pada anaknya. Adrian mengambil tangan Sia dan menggenggamnya. "Aku tahu kau memang tak pernah menginginkanku, tetapi aku mohon sekali

  • Kawin Sama Mantan   85. Sia Hamil.

    Saat Sia hendak memejamkan matanya, rasanya tak tenang. Sia lalu memanggil salah satu pelayan yang sudah ia percaya. Pelayan pria dengan usia pertengahan tiga puluh, dengan badan tidak terlalu kekar tetapi cukup mahir beladiri, pelayan yang sebelumnya sudah ia pilih sendiri. "Nona Sia memanggil saya?" Pintu diketuk dengan sapaan dari luar, Sia membuka pintu kamarnya. "Nona memanggil saya?" Ulangnya memastikan. Sia mengangguk, ia lalu mengambil dua botol yang sejak tadi ia pandangi itu. "Kau tahu ini apa?" Pelayan itu menggeleng ragu. Sia tersenyum. Dengan singkat Sia menjelaskan. "Ini adalah obat yang menyebabkan halusinasi, jika menggunakannya dengan dosis tinggi, orang yang mengonsumsinya akan gila. Aku belum melihat pastinya, tapi aku ingin tahu reaksi nyata obatnya." Pelayan itu hanya diam saja memandangi dua botol yang dipegang Sia. Ketakutan merambah di hatinya saat melihat wajah Sia yang cantik tapi memiliki hal hal yang mengerikan. "Lalu apa tugas saya, Nona?" Sia kemb

  • Kawin Sama Mantan   84. Serahkan GrafSia.

    Houston dan Sulli pulang ke rumah utama Agraf dengan perasaan yang amat begitu kesal. Mereka dibuat malu di depan semua orang divisi. Mereka semakin dendam pada Sia sebab tak terima atas apa yang baru saja mereka terima. Setibanya di rumah, Houston dan Sulli langsung mencari Sia yang kebetulan baru saja pulang dari laboratorium. Sia kaget saat tiba-tiba rambutnya ditarik dari belakang dengan kasar oleh Sulli. "Hei! Apa yang kau lakukan?" Sia memegangi kepalanya yang sakit. "Dasar wanita licik! Kau sengaja membuatku malu!" "Memangnya ada apa?" Kini Sia bersikap lebih tenang, karena tak mungkin membalas paman dan sepupunya itu dengan teriakan juga. Toh, ia sudah merencanakan sesuatu untuk keduanya. "Kau sengaja ya tak memberikan perusahaan The GrafSia juga padaku? Kau ingat, aku adalah pimpinannya saat ini! Dari semuanya! Jadi sudah seharusnya kau memberikan The GrafSia juga!" Houston menjelaskan dengan terengah karena emosi. "Sudah seharusnya aku juga yang mengelolanya, bukan? Bu

  • Kawin Sama Mantan   83. Semut gunung yang menarik.

    Tanpa diduga, Sulli juga ikut mengambil potongan dari vas bunga yang pecah. Ia mengambil bagian yang cukup tajam, yang bisa melukainya kapan saja. Sia kaget, kini dua orang benar-benar akan membunuhnya. Namun, ia tetap bersikap tenang, tidak banyak bicara, bahkan tidak bergerak sama sekali. "Saya harap Anda berdua tidak keterlaluan pada Nona Sia!" Pengawal pribadi Sia datang dengan cepat, tetapi Houston dan Sulli dengan kompak mendekatkan senjata mereka ke leher Sia. "Aku yang berharap agar kau menjauh dari sini!" Houston memperingatkan pengawal itu, tetapi pengawal itu tidak mundur. Malah ia semakin maju hendak melawan Houston dan Sulli untuk menyelamatkan Sia. Sia yang pergerakannya terkunci, akan benar-benar mati kalau pengawal itu maju selangkah lagi. "Tidak-tidak! Kau mundur saja! Tolong jangan membuat keadaan semakin runyam!" Sia meminta pengawalnya mundur, walaupun pengawal itu hendak membantah, tetapi akhirnya menurut juga. "Paman dan Sulli, tolong lepaskan senjata kalian

  • Kawin Sama Mantan   82. The Graf Imperial bangkrut.

    Setelah kembali ke kamarnya, Sia berpikir cukup lama. Dengan Sulli yang memaksa tinggal di rumah utama, hal itu membuatnya berpikir bahwa pamannya juga pasti tak akan menyerah begitu saja. "Apa yang harus kulakukan pada ayah dan anak itu? Paman dan Sulli tak akan berdiam diri. Di sini tak ada paman Wenart, aku sendiri." Sia bergumam sendiri. Ia tahu, sebentar lagi Houston pasti akan membalaskan dendam padanya, dengan atau tanpa Sulli. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Sia menelepon Melody. Ia memiliki rencana besar dan ia membutuhkan bantuan seorang peretas handal seperti Melody saat ini. Ia langsung menelepon sahabatnya itu, tak perlu menunggu lama, Melody langsung menerima panggilannya. "Apa kau sedang sibuk?" Sia bertanya. 'Aku baru saja bangun, setelah semalaman bekerja.' Terdengar suara Melody yang malas dan masih mengantuk. "Maaf, aku mengganggu waktu istrahatmu. Tapi Melody, apa kau bisa membantuku lagi kali ini?" Suara yang malas itu tiba-tiba berubah menjadi semanga

  • Kawin Sama Mantan   81. Seluruh milikku untuk mas kawin.

    Adrian meminta Dominic untuk menyiapkan beberapa berkas dan surat-surat penting lainnya padanya. Dominic tidak banyak bertanya untuk apa, ia hanya melakukan apa yang diperintahkan tuannya. Adrian menunggu di ruang kerjanya sembari berkutat di depan layar komputernya. Dominic datang dengan tumpukan berkas yang diminta Adrian. Dominic menghela napas lelah. Ia lihat Adrian tengah fokus, hingga tak menyadari kedatangannya. Saat tahu, ia menoleh pada Dominic."Tolong buatkan surat pernyataan yang menyatakan bahwa semua aset dan surat-surat penting yang kumiliki akan dipindahkan atas nama Sia. Aku membutuhkannya secepatnya."Dominic terkejut. "Y-ya? Tuan, mengapa menjadi atas nama Nona Sia?"Adrian tersenyum. "Sebagai bukti bahwa aku benar-benar mencintainya dan tak ingin bercerai dengannya. Aku ingin memberikan seluruh aset yang kumiliki kepadanya sebagai mas kawin pernikahan kami. Karena saat kami menikah, aku bahkan tidak memberikannya apapun, bahkan seutas cincin. Jadi inilah bentuk pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status