Share

Bab 4

Author: Hanu
Amelia menundukkan pandangan dan tidak berkata apa-apa.

Arnold juga tidak melanjutkan penjelasannya. Dia hanya mengambil gelas yang telah kosong dari tangan Amelia, lalu merapikan selimutnya.

Gerakannya sangat lembut. Ujung jarinya sesekali menyentuh kulit Amelia, membawa kehangatan yang begitu familiar.

Amelia tiba-tiba teringat masa lalu.

Saat pertama kali mengalami menstruasi, dia ketakutan sampai menangis. Arnold-lah yang menjelaskan pengetahuan dasar tentang menstruasi kepadanya dengan telinga memerah. Ketika dia terserang flu dan demam tinggi tidak kunjung turun, Arnold juga yang berjaga di sisinya selama tiga hari tiga malam tanpa memedulikan risiko tertular.

Dia memperlakukan Amelia dengan sangat baik. Begitu baik sampai Amelia pernah berpikir naif bahwa perasaan cinta pasti akan tumbuh seiring waktu.

Dia memejamkan mata. Dadanya terasa sesak dan nyeri.

Ruang rawat itu sunyi, hanya terdengar suara tetesan infus.

Sampai ....

Ding!

Layar ponsel Arnold menyala.

Satu pesan, dua pesan, tiga pesan ....

Notifikasi masuk bertubi-tubi hingga layar terus berkedip.

Amelia membuka mata dan melihat Arnold sedikit mengernyit. Jarinya sempat berhenti di atas layar selama beberapa detik, tetapi pada akhirnya dia tidak membalas dan mematikan layar ponsel.

Namun, beberapa detik kemudian, layar itu kembali menyala.

Nama Stella terpampang mencolok di bilah notifikasi.

Amelia menarik sudut bibirnya dan berkata pelan, "Kalau kau khawatir padanya, pergilah menemaninya."

Wajah Arnold sedikit mendingin. Dia berkata dengan nada datar, "Kondisinya sekarang stabil. Dia cuma lagi membuat ulah. Orang yang perlu dijaga sekarang adalah kau."

Amelia menatapnya diam-diam.

Namun, tadi kamu jelas melihat ponsel itu.

Hatimu bahkan sudah terbang ke tempatnya berada.

Amelia tidak membongkarnya, hanya tersenyum tipis. "Hm."

Kerutan di dahi Arnold makin dalam. Dia kembali menjelaskan, "Jangan berpikir macam-macam. Apa yang dilakukan orang tua Stella dulu nggak bakal pernah dimaafkan sama Keluarga Wardana."

Belum selesai dia berbicara, pintu ruang rawat tiba-tiba didorong terbuka dengan keras.

Stella berdiri di ambang pintu dengan mata merah. "Jadi, ternyata kau masih nggak mau memaafkanku?"

Suaranya bergetar. "Kalau begitu, buat apa kau masih peduli sama hidup matiku?"

Setelah mengatakannya, Stella langsung berbalik dan berlari keluar.

Wajah Arnold berubah drastis. Dia segera bangkit dan mengejarnya.

Amelia terpaku selama dua detik, lalu buru-buru mencabut jarum infus di punggung tangannya dan tertatih mengikuti mereka.

Angin di atap gedung bertiup sangat kencang.

Setengah tubuh Stella sudah berada di luar pagar pembatas. Rambut panjangnya berantakan tertiup angin, tubuhnya tampak goyah seolah bisa jatuh kapan saja.

Arnold berteriak dengan suara keras, "Stella! Turun!"

Stella menoleh menatapnya. Air mata membuat pandangannya kabur. "Buat apa aku turun? Kau sangat membenciku, seluruh perhatianmu sekarang cuma buat Amelia!"

Suaranya tercekat, hampir seperti meraung. "Apa kau masih ingat dulu betapa besar cintamu padaku? Kenapa kita bisa menjadi seperti sekarang? Yang salah dalam kejadian dulu jelas bukan aku! Kalau sekarang kau sudah mencintai orang lain, lebih baik aku mati saja!"

Setelah itu, Stella berpura-pura hendak melompat turun.

Arnold langsung bergegas maju dan mencengkeram pergelangan tangannya. "Semuanya nggak kayak yang kau pikirkan!"

Dia menatap Stella erat-erat. Suaranya terdengar sangat tertekan. "Ini kesepakatan antara aku sama kakek!"

"Selama aku masih di samping Amelia, kau masih punya kesempatan buat tetap berada di negara ini."

Duar!

Bagai disambar petir, Amelia berdiri terpaku di pintu atap gedung.

Dia akhirnya mengerti.

Mengapa Arnold tiba-tiba bersedia berada di sisinya.

Ternyata semua itu hanya demi memperpanjang waktu tinggal Stella.

Stella tertegun. Air matanya masih menggantung di wajahnya. "Kalau begitu, apa kau masih mencintaiku?"

Arnold terdiam sangat lama.

Begitu lama sampai Amelia mengira dia tidak akan menjawab.

Saat Stella kembali bergerak hendak menjulurkan tubuh keluar pagar, Arnold tiba-tiba menariknya dengan kuat. "Aku mencintaimu! Sialan, aku selalu mencintaimu! Puas sekarang?"

Tangisan Stella makin pecah. Dia langsung menarik dasi Arnold dan berjinjit mencium pria itu.

Awalnya Arnold sempat mendorongnya dua kali, tetapi pada akhirnya, dia seperti benar-benar melepaskan seluruh kendali dirinya. Dia menahan belakang kepala Stella dan membalas ciumannya dengan liar.

Seolah ingin menebus seluruh penyesalan selama bertahun-tahun.

Amelia berdiri jauh di sana, seluruh tubuhnya terasa dingin.

Dia melihat mereka berciuman, melihat Arnold memeluk pinggang Stella dengan kehilangan kendali, melihat bagaimana pria itu menciumnya begitu dalam dan penuh gairah, seolah ingin meleburkan Stella ke dalam tulang dan darahnya sendiri.

Dia teringat bahwa setiap kali Arnold menciumnya, pria itu selalu lembut dan menahan diri. Ternyata itu bukan karena sifatnya. Melainkan karena Arnold tidak mencintainya.

Dia seharusnya sudah menyadarinya sejak lama.

Amelia berbalik dan melangkah pergi perlahan demi perlahan.

Saat kembali ke ruang rawat, aroma disinfektan tiba-tiba terasa menusuk hidung.

Dia mengambil ponselnya. Jarinya sempat berhenti di atas nomor kakek beberapa saat, sebelum akhirnya menekan tombol panggil.

"Kakek." Dia mendengar suaranya sendiri terdengar sangat tenang. "Aku ingin bercerai dengan Kak Arnold."

Dari seberang telepon terdengar suara cangkir pecah. "Apa anak itu melakukan sesuatu lagi?"

"Bukan." Amelia menggeleng. Matanya mulai memerah. "Aku cuma merasa ... kami nggak cocok menjadi suami istri."

"Dia sangat baik kepadaku, tetapi itu bukan cinta."

"Kakek, setelah kakakku meninggal dan Kakek membawaku pulang, bukannya waktu itu kakek pernah berjanji bakal memenuhi satu permintaanku?"

Dia menarik napas dalam-dalam. Air matanya akhirnya jatuh.

"Sekarang aku mau menggunakan permintaan itu."

"Tolong setujui perceraian aku sama Kak Arnold."

Detik berikutnya, pintu ruang rawat didorong terbuka dengan keras.

Arnold berdiri di ambang pintu sambil menatapnya lekat-lekat.

"Setuju untuk apa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 21

    Arnold sudah menentukan waktu keberangkatan dengan helikopter. Keesokan siangnya, dia akan meninggalkan Wilayah Tite.Dia tidak bisa membawa Amelia pergi, juga tidak sanggup menyaksikan wanita itu bermesraan dengan pria lain.Malam sebelum pergi, dia duduk sendirian sambil menggenggam cincin pernikahan mereka, mengusapnya perlahan berulang kali.Dulu, saat menikah, dia pernah marah besar sampai melempar cincin itu ke taman bunga. Setelah kembali ke rumah, dia mencarinya di halaman belakang vila selama sehari semalam sebelum akhirnya menemukan cincin itu lagi.Mungkin, itulah satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan Amelia.Tiba-tiba, suara ledakan besar memecah sunyi malam.Setelah dentuman pertama, rentetan tembakan dan ledakan berikutnya membuat tenda berguncang hebat. Arnold langsung terbangun, buru-buru mengenakan cincin itu di jarinya lalu berlari keluar."Serangan udara! Cepat evakuasi!"Sirene darurat melengking tajam membelah langit malam.Di luar tenda sudah kacau b

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 20

    Di luar rumah sakit jiwa, hujan deras mengguyur tanpa henti.Arnold keluar dari gerbang dan langsung berdiri di tengah hujan, membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya.Melihat itu, sang asisten buru-buru menyusul sambil mengangkat payung di atas kepalanya.Stella sudah disiksa hingga nyaris tidak berbentuk manusia lagi. Kekerasan yang diterimanya setiap hari benar-benar membuat kondisi mentalnya hancur, bahkan berkembang menjadi gangguan panik.Karena itu pula, saat melihat Arnold, dia tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil dan menusuk punggung tangan pria itu dengan ganas. Untungnya hanya luka luar ringan. Stella segera ditahan dan kembali dikurung di ruang bawah tanah.Di tengah hujan deras, Arnold mengeluarkan ponselnya lalu menelepon pengawalnya di Wilayah Tite."Siapkan helikopter. Malam ini juga aku berangkat."Dia menatap langit kelabu di atas sana sambil mengepalkan tangan erat.Amelia, kali ini biar aku yang mencintaimu.Begitu helikopter mendarat, Arnold kembali tiba di k

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 19

    Belakangan ini, kobaran perang akhirnya mereda, tim penyelamat untuk pertama kalinya menikmati sedikit ketenangan.Sejak Arnold pergi, suasana hati Amelia terlihat jauh lebih baik. Bahkan Cedric pun ikut menjadi lebih bahagia karenanya.Memandang punggungnya yang sedang berlatih, hati Cedric seolah tenggelam ke dasar lautan.Entah sejak kapan, perasaannya terhadap Amelia berubah. Pada awalnya, memang benar dia hanya ingin menjaga Amelia karena dia adalah adik Rainer.Kemudian, semuanya didasari oleh keinginan pribadinya sendiri."Mulai besok aku cuti singkat. Kau juga belum bisa menjalankan tugas, jadi ikut aku jalan-jalan, ya."Di suatu hari, Cedric mengetuk pintu kamar Amelia."Mau ke mana?" tanya Amelia.Namun, Cedric tampaknya sengaja ingin membuat penasaran. Dia tersenyum tipis."Mau ikut? Kalau ikut, nanti juga tahu."Saat pesawat mendarat di Eru, Amelia masih merasa semuanya begitu tidak nyata.Mereka naik mobil menuju sebuah kota kecil tempat melihat aurora. Cedric ternyata sud

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 18

    Saat Stella mendengar suara pintu utama dibuka, dia langsung berdiri dengan gembira.Dia tahu Arnold tidak mungkin setega itu.Namun, ketika melihat ekspresi wajah pria itu dengan jelas, senyumnya langsung membeku.Tatapan Arnold sedingin es saat berjalan lurus ke arahnya."Arnold ... kau ...."Suara Stella bergetar. Dia refleks mundur selangkah."Kenapa?"Suara Arnold rendah, menahan badai amarah. Tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat hingga terasa sangat sakit."Sebenarnya apa kesalahan Amelia? Kenapa kau terus-menerus menyakitinya?"Wajah Stella pucat pasi. Dia berusaha melepaskan diri."A ... aku nggak ....""Nggak?"Arnold langsung melempar setumpuk foto ke wajahnya.Foto-foto itu berjatuhan di lantai, mulai dari tangkapan layar CCTV vila di tepi danau hingga catatan transaksi dengan pembunuh bayaran luar negeri, semua kejahatannya terbukti dengan jelas.Kaki Stella melemas hingga dia jatuh terduduk di lantai. Air mata langsung mengalir deras."Arnold, a

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 17

    Stella bagai disambar petir. Tubuhnya terhuyung mundur dua langkah."Nggak ... nggak mungkin!"Arnold memijat pelipisnya dengan lelah."Stella, kau sudah berubah, berhentilah keras kepala. Kita sama-sama perlu menenangkan diri."Tiba-tiba Stella menjerit histeris. Dia meraih vas bunga di dekatnya lalu membantingnya ke dinding."Aku berubah? Yang berubah itu kau! Kau sudah dibutakan oleh perempuan jalang itu!""Diam!"Di tengah suara pecahan porselen yang memekakkan telinga, Arnold tidak mampu lagi menahan emosinya. Dia mencengkeram dagu Stella dengan kuat, menatap wajah wanita itu yang telah dipenuhi kebencian dengan sorot kecewa."Aku nggak mengizinkanmu mengatakan Amelia seperti itu."Sejak kapan gadis lembut dan penuh pengertian dalam ingatannya berubah menjadi seperti ini?Jangan-jangan Stella memang selalu seperti ini, hanya saja selama ini dia tidak pernah menyadarinya.Tatapan Arnold dipenuhi kegelapan. Perlahan dia menenangkan diri, melepaskan tangannya lalu berbalik pergi.Nam

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 16

    Arnold menaiki jet pribadinya, sementara ponselnya terus bergetar tanpa henti.Stella mengirim belasan pesan suara, menangis histeris di setiap rekamannya."Arnold! Kau sudah sampai mana? Aku benar-benar bakal melompat!"Dia memijat pelipisnya, lalu langsung mematikan ponselnya.Arnold menatap hamparan awan di luar jendela, tiba-tiba begitu banyak kenangan memenuhi benaknya.Dia teringat saat pertama kali Amelia memasak untuknya. Karena terlalu gugup, Amelia sampai melukai jarinya sendiri saat memotong, tetapi tidak berani mengatakannya. Dialah yang akhirnya menyadari dan membantunya menghentikan pendarahan.Dia juga teringat bagaimana Amelia diam-diam mengambil buku berbahasa asing dari rak bukunya, lalu belajar beberapa kalimat bahasa Phanres sendiri. Entah dari mana gadis itu menyalin sepotong puisi cinta berbahasa Phanres dan menyelipkannya di dalam buku sebelum mengembalikannya.Dia teringat setiap kali pulang dari acara jamuan, tidak peduli seberapa larut malamnya, selalu ada lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status