Share

Bab 7

Author: Hanu
"Amelia, mari kita bicara." Di seberang telepon, suara Stella terdengar tercekat oleh tangis. "Aku menunggumu di tepi danau."

Angin di tepi danau bertiup sangat kencang.

Stella mengenakan gaun putih tipis, sementara rambut panjangnya berantakan diterpa angin.

Di tangannya tergenggam selembar kertas. Begitu melihat Amelia, air matanya langsung jatuh.

Buk! Dia langsung berlutut di depan Amelia.

"Tolong ... kembalikan Arnold kepadaku ...." Tubuhnya gemetar hebat karena menangis. Dia menyerahkan surat diagnosis depresi berat kepada Amelia. "Aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa dia ... aku bakal mati ...."

Amelia tertegun, lalu mengulurkan tangan hendak membantunya berdiri. "Kau bangun dulu."

Namun, Stella malah mencengkeram pergelangan tangannya erat-erat. Kukunya hampir menusuk kulit Amelia. "Kalau kau nggak setuju, aku nggak bakal bangun!"

Amelia menarik napas dalam-dalam. Dia baru saja hendak mengatakan bahwa dirinya sudah mengaktifkan kembali nomor registrasi pokoknya dan sebentar lagi akan bercerai dengan Arnold.

Namun, melihat Amelia lama tidak menjawab, ekspresi Stella tiba-tiba berubah.

"Jadi kau memang sengaja mencari masalah, ya?" Dia tiba-tiba berdiri dengan tatapan dingin. "Arnold sama sekali nggak mencintaimu! Kau mungkin bisa memanfaatkan kakek buat mempertahankan dirinya tetap di sisimu, tapi kau nggak bakal pernah bisa mempertahankan hatinya!"

"Aku bisa membuktikannya padamu."

"Di antara kita berdua, dia nggak bakal pernah memilihmu!"

Belum selesai kata-katanya, Stella tiba-tiba meraih pergelangan tangan Amelia dan mendorongnya dengan keras ke dalam danau.

Byur!

Air danau yang dingin langsung menelan tubuhnya.

Amelia tidak bisa berenang. Keempat anggota tubuhnya berjuang mati-matian, tetapi dia hanya bisa merasakan tubuhnya terus tenggelam makin dalam.

Air masuk ke rongga hidungnya, sementara rasa sesak mulai menghimpit.

Dalam keadaan samar-samar, dia melihat Arnold berlari ke arah mereka lalu melompat ke danau tanpa ragu sedikit pun.

Kemudian, pria itu langsung menarik Stella ke pelukannya dan membawanya naik ke daratan tanpa menoleh lagi.

Dia bahkan tidak melihat ke arah danau untuk kedua kalinya.

Oksigen di dada Amelia habis perlahan, kesadarannya makin kabur.

Hal terakhir yang dia lihat adalah punggung Arnold yang membawa Stella pergi.

Saat sadar kembali, cahaya lampu yang menyilaukan membuat Amelia menyipitkan mata.

"Kau sudah sadar?" Seorang perawat sedang mengganti perbannya. Nada suaranya datar. "Untung staf di sekitar danau menemukanmu tepat waktu. Kalau nggak, keadaanmu bisa berbahaya."

Tenggorokan Amelia terasa panas dan sakit. "Siapa yang membawaku ke rumah sakit?"

"Petugas di sekitar danau." Perawat itu berhenti sejenak. "Kami sempat menelepon keluargamu, tetapi sepertinya dia lagi menjaga gadis lain, jadi nggak sempat datang."

"Perlu kami hubungi lagi?"

Amelia memejamkan mata lalu menggeleng pelan. "Nggak perlu."

"Sudah nggak perlu lagi."

Dia mengabaikan larangan perawat dan tetap mengurus kepulangan lebih cepat dari rumah sakit.

Saat kembali ke rumah, beberapa koper sudah terletak di ruang tamu.

Arnold berdiri di dekat sofa. Begitu melihat Amelia pulang, dia tampak sedikit tertegun.

"Kau sudah pulang?" Nada suaranya terdengar agak canggung. "Aku sebenarnya mau memberitahumu, kondisi Stella akhir-akhir ini makin parah. Dokter bilang dia nggak bisa ditinggal sendirian."

"Aku mau membawanya tinggal di rumah ini buat sementara waktu." Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan. "Ini cuma karena hubungan kami di masa lalu, nggak ada maksud lain. Waktu di danau kemarin aku menyelamatkannya lebih dulu juga karena takut dia memanfaatkan kesempatan itu buat bunuh diri."

Amelia mengangguk tenang. "Lakukan saja sesuai keputusanmu. Kau nggak perlu memberitahuku."

Arnold mengernyit, seolah merasa sikapnya agak aneh. Dia baru saja hendak berbicara ....

Tiba-tiba nada dering ponselnya berbunyi.

Telepon dari Stella.

Arnold mengangkatnya dan berbicara beberapa kalimat dengan suara rendah. Setelah menutup telepon, dia mengambil mantelnya. "Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, kita bicarakan nanti."

Amelia membuka mulut, ingin menghentikannya dan mengatakan ....

"Kita bercerai saja."

Namun, Arnold sudah melangkah pergi tanpa memberinya kesempatan berbicara.

Setengah jam kemudian, Amelia menerima telepon dari kesatuannya.

"Amelia, misinya dimajukan! Satu jam lagi berkumpul di bandara!"

Amelia menutup telepon, lalu mengenakan seragam polisi itu. Setelah itu, dia meletakkan surat perceraian yang sudah ditandatangani di atas meja.

Lalu dia mengangkat kopernya dan pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi.

Arnold, kali ini, aku mengembalikan kebebasanmu kepadamu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 21

    Arnold sudah menentukan waktu keberangkatan dengan helikopter. Keesokan siangnya, dia akan meninggalkan Wilayah Tite.Dia tidak bisa membawa Amelia pergi, juga tidak sanggup menyaksikan wanita itu bermesraan dengan pria lain.Malam sebelum pergi, dia duduk sendirian sambil menggenggam cincin pernikahan mereka, mengusapnya perlahan berulang kali.Dulu, saat menikah, dia pernah marah besar sampai melempar cincin itu ke taman bunga. Setelah kembali ke rumah, dia mencarinya di halaman belakang vila selama sehari semalam sebelum akhirnya menemukan cincin itu lagi.Mungkin, itulah satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan Amelia.Tiba-tiba, suara ledakan besar memecah sunyi malam.Setelah dentuman pertama, rentetan tembakan dan ledakan berikutnya membuat tenda berguncang hebat. Arnold langsung terbangun, buru-buru mengenakan cincin itu di jarinya lalu berlari keluar."Serangan udara! Cepat evakuasi!"Sirene darurat melengking tajam membelah langit malam.Di luar tenda sudah kacau b

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 20

    Di luar rumah sakit jiwa, hujan deras mengguyur tanpa henti.Arnold keluar dari gerbang dan langsung berdiri di tengah hujan, membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya.Melihat itu, sang asisten buru-buru menyusul sambil mengangkat payung di atas kepalanya.Stella sudah disiksa hingga nyaris tidak berbentuk manusia lagi. Kekerasan yang diterimanya setiap hari benar-benar membuat kondisi mentalnya hancur, bahkan berkembang menjadi gangguan panik.Karena itu pula, saat melihat Arnold, dia tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil dan menusuk punggung tangan pria itu dengan ganas. Untungnya hanya luka luar ringan. Stella segera ditahan dan kembali dikurung di ruang bawah tanah.Di tengah hujan deras, Arnold mengeluarkan ponselnya lalu menelepon pengawalnya di Wilayah Tite."Siapkan helikopter. Malam ini juga aku berangkat."Dia menatap langit kelabu di atas sana sambil mengepalkan tangan erat.Amelia, kali ini biar aku yang mencintaimu.Begitu helikopter mendarat, Arnold kembali tiba di k

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 19

    Belakangan ini, kobaran perang akhirnya mereda, tim penyelamat untuk pertama kalinya menikmati sedikit ketenangan.Sejak Arnold pergi, suasana hati Amelia terlihat jauh lebih baik. Bahkan Cedric pun ikut menjadi lebih bahagia karenanya.Memandang punggungnya yang sedang berlatih, hati Cedric seolah tenggelam ke dasar lautan.Entah sejak kapan, perasaannya terhadap Amelia berubah. Pada awalnya, memang benar dia hanya ingin menjaga Amelia karena dia adalah adik Rainer.Kemudian, semuanya didasari oleh keinginan pribadinya sendiri."Mulai besok aku cuti singkat. Kau juga belum bisa menjalankan tugas, jadi ikut aku jalan-jalan, ya."Di suatu hari, Cedric mengetuk pintu kamar Amelia."Mau ke mana?" tanya Amelia.Namun, Cedric tampaknya sengaja ingin membuat penasaran. Dia tersenyum tipis."Mau ikut? Kalau ikut, nanti juga tahu."Saat pesawat mendarat di Eru, Amelia masih merasa semuanya begitu tidak nyata.Mereka naik mobil menuju sebuah kota kecil tempat melihat aurora. Cedric ternyata sud

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 18

    Saat Stella mendengar suara pintu utama dibuka, dia langsung berdiri dengan gembira.Dia tahu Arnold tidak mungkin setega itu.Namun, ketika melihat ekspresi wajah pria itu dengan jelas, senyumnya langsung membeku.Tatapan Arnold sedingin es saat berjalan lurus ke arahnya."Arnold ... kau ...."Suara Stella bergetar. Dia refleks mundur selangkah."Kenapa?"Suara Arnold rendah, menahan badai amarah. Tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat hingga terasa sangat sakit."Sebenarnya apa kesalahan Amelia? Kenapa kau terus-menerus menyakitinya?"Wajah Stella pucat pasi. Dia berusaha melepaskan diri."A ... aku nggak ....""Nggak?"Arnold langsung melempar setumpuk foto ke wajahnya.Foto-foto itu berjatuhan di lantai, mulai dari tangkapan layar CCTV vila di tepi danau hingga catatan transaksi dengan pembunuh bayaran luar negeri, semua kejahatannya terbukti dengan jelas.Kaki Stella melemas hingga dia jatuh terduduk di lantai. Air mata langsung mengalir deras."Arnold, a

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 17

    Stella bagai disambar petir. Tubuhnya terhuyung mundur dua langkah."Nggak ... nggak mungkin!"Arnold memijat pelipisnya dengan lelah."Stella, kau sudah berubah, berhentilah keras kepala. Kita sama-sama perlu menenangkan diri."Tiba-tiba Stella menjerit histeris. Dia meraih vas bunga di dekatnya lalu membantingnya ke dinding."Aku berubah? Yang berubah itu kau! Kau sudah dibutakan oleh perempuan jalang itu!""Diam!"Di tengah suara pecahan porselen yang memekakkan telinga, Arnold tidak mampu lagi menahan emosinya. Dia mencengkeram dagu Stella dengan kuat, menatap wajah wanita itu yang telah dipenuhi kebencian dengan sorot kecewa."Aku nggak mengizinkanmu mengatakan Amelia seperti itu."Sejak kapan gadis lembut dan penuh pengertian dalam ingatannya berubah menjadi seperti ini?Jangan-jangan Stella memang selalu seperti ini, hanya saja selama ini dia tidak pernah menyadarinya.Tatapan Arnold dipenuhi kegelapan. Perlahan dia menenangkan diri, melepaskan tangannya lalu berbalik pergi.Nam

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 16

    Arnold menaiki jet pribadinya, sementara ponselnya terus bergetar tanpa henti.Stella mengirim belasan pesan suara, menangis histeris di setiap rekamannya."Arnold! Kau sudah sampai mana? Aku benar-benar bakal melompat!"Dia memijat pelipisnya, lalu langsung mematikan ponselnya.Arnold menatap hamparan awan di luar jendela, tiba-tiba begitu banyak kenangan memenuhi benaknya.Dia teringat saat pertama kali Amelia memasak untuknya. Karena terlalu gugup, Amelia sampai melukai jarinya sendiri saat memotong, tetapi tidak berani mengatakannya. Dialah yang akhirnya menyadari dan membantunya menghentikan pendarahan.Dia juga teringat bagaimana Amelia diam-diam mengambil buku berbahasa asing dari rak bukunya, lalu belajar beberapa kalimat bahasa Phanres sendiri. Entah dari mana gadis itu menyalin sepotong puisi cinta berbahasa Phanres dan menyelipkannya di dalam buku sebelum mengembalikannya.Dia teringat setiap kali pulang dari acara jamuan, tidak peduli seberapa larut malamnya, selalu ada lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status