Amelia buru-buru menutup bagian pengeras suara ponselnya, lalu mengangkat kepala menatap Arnold yang tiba-tiba masuk membuka pintu."Nggak ada apa-apa," katanya pelan sambil memaksakan senyum, "Aku cuma menelepon kakek buat menanyakan kabar."Wajah Arnold tampak lelah. Rambut di dahinya sedikit berantakan, kancing kerah kemejanya terbuka longgar, memperlihatkan samar-samar goresan tipis di tulang selangkanya, seperti bekas cakaran kuku.Dia tidak banyak bertanya, hanya menggumam pelan, "Hm," lalu berkata, "Aku ada urusan yang harus diselesaikan. Beberapa hari ini aku nggak bakal datang."Amelia mengangguk dan memandangnya pergi.Sampai sosok Arnold benar-benar menghilang di ujung lorong, barulah dia perlahan melepaskan tangan yang menutupi ponsel.Di seberang telepon, Tuan Besar Simon menghela napas panjang. "Amelia, kehilanganmu adalah ketidakberuntungan Arnold."Mata Amelia langsung memanas, tenggorokannya terasa sesak. "Kakek, soal perceraian ... aku mau mengatakannya sendiri kepada
Read more