Share

Bab 6

Author: Hanu
Semua orang terdiam.

Amelia perlahan mengangkat tangan. "Aku."

Proses transfusi darah berlangsung sangat lama.

Saat jarum menusuk pembuluh darahnya, Amelia bahkan tidak merasakan sakit.

Dia hanya memandang darah merah yang mengalir perlahan melalui selang infus, setetes demi setetes masuk ke tubuh Arnold.

"Cukup! Kalau diambil lagi, kau bisa syok!" perawat mengingatkan sambil mengerutkan dahi.

Amelia menggeleng pelan. "Ambil sedikit lagi, dia membutuhkannya."

Pada akhirnya, dia pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah.

Saat sadar kembali, hari sudah menjelang sore keesokan harinya.

Amelia berjalan tertatih menuju ruang rawat Arnold dengan tubuh lemah.

Baru sampai di depan pintu, dia sudah mendengar suara pertengkaran yang tegang dari dalam.

"Minta maaf." Suara Arnold terdengar sedingin es.

"Kenapa kami harus minta maaf?" Sekelompok sahabatnya tersenyum sinis karena marah. "Stella itu pembawa sial! Belum cukup dia menyebabkan kematian paman sama bibi, sekarang dia juga hampir membuatmu mati!"

Brak! Terdengar suara benda berat terbalik, seperti meja yang ditendang.

"Aku ulangi sekali lagi." Arnold berbicara kata demi kata, suaranya begitu suram hingga menakutkan. "Urusanku dengannya bukan hak kalian buat ikut campur."

"Kalau nggak mau minta maaf, mulai sekarang kita nggak perlu lagi berhubungan."

Ruang rawat mendadak sunyi.

Beberapa saat kemudian, beberapa orang itu menatap Stella dengan geram sebelum akhirnya memaksakan satu kata keluar dari mulut mereka. "Maaf."

"Kak Arnold, kami melakukan ini demi kebaikanmu." Salah satu dari mereka berbicara dengan mata memerah. "Sebesar apa pun cintamu ke Stella, itu nggak bakal mengubah kenyataan bahwa kalian nggak mungkin bersama."

"Hargailah orang yang ada di depan matamu."

"Kemarin Amelia sampai pingsan karena mendonorkan darah buatmu, tapi bukannya pergi menemuinya, kau malah berada di sini membela Stella."

"Kalau dia tahu, entah seberapa hancur hatinya."

Setelah mengatakan itu, mereka membanting pintu dan pergi.

Amelia berdiri di luar pintu dengan tubuh dingin membeku.

Melalui celah pintu, dia melihat Stella menerjang ke pelukan Arnold sambil menangis tersedu. "Arnold, terima kasih, kalau bukan karena kau, aku benar-benar nggak sanggup hidup lagi."

Arnold tetap diam dan tidak mendorongnya menjauh.

Stella mengangkat wajahnya dan bertanya lirih, "Apa kau mau ... pergi menemui Amelia?"

Jakun Arnold bergerak pelan. Setelah lama terdiam, dia berkata dengan suara rendah, "Apa kau mau aku pergi?"

Stella menggigit bibir bawahnya lalu menggeleng.

"Kalau begitu, aku nggak bakal pergi," jawab Arnold.

Saat Amelia berbalik, dia merasa seolah ada sesuatu yang hancur di dalam dadanya.

Lampu lorong rumah sakit tampak pucat menyilaukan. Dia berjalan perlahan sambil berpegangan pada dinding, pandangannya beberapa kali menggelap.

Efek samping akibat kehilangan terlalu banyak darah membuat kepalanya pening dan tubuhnya limbung, tetapi semua itu bahkan tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

Setelah kembali ke rumah, Amelia tidak keluar sama sekali selama tiga hari penuh.

Dia tidak pergi menemui Arnold, juga tidak mengganggu kebersamaan Arnold dan Stella.

Sampai pada hari itu, dia menerima seragam polisi yang dikirim dari kesatuannya.

Seragam itu tampak rapi, sementara lambang kepolisian di pundaknya memantulkan cahaya dingin di bawah sinar matahari.

Dia mencuci dan menjemurnya dengan hati-hati. Jarinya mengusap nomor registrasi pokok milik kakaknya, membuat matanya sedikit memanas.

Baru saja hendak menyimpannya, pintu rumah tiba-tiba terbuka.

Arnold berdiri di ambang pintu. Tatapannya jatuh pada seragam polisi di tangan Amelia, lalu dahinya sedikit berkerut. "Itu apa?"

Amelia segera melipat pakaian itu dan memasukkannya ke dalam lemari. "Bukan apa-apa, cuma barang kenang-kenangan dari teman."

Arnold tidak bertanya lagi. Dia hanya memberi isyarat kepada sekretaris di belakangnya untuk menyerahkan sebuah kotak hadiah yang tampak mewah.

"Soal transfusi darah waktu itu, terima kasih." Suaranya rendah, nada bicaranya tenang seperti sedang membicarakan urusan pekerjaan.

Amelia tidak menerimanya. Dia hanya tersenyum tipis. "Nggak perlu terlalu sungkan. Gimanapun juga, kita ini ...."

"Suami istri." Arnold menyambung perkataannya dengan tatapan tenang. "Tetapi ucapan terima kasih tetap harus disampaikan."

Setelah mengatakannya, dia meletakkan kotak hadiah itu di atas meja lalu berbalik masuk ke ruang kerja.

Amelia memandangi punggung Arnold, sementara hatinya terasa seperti ditusuk jarum-jarum halus.

Tidak, sebentar lagi kita bukan lagi suami istri.

Nantinya, kita hanya akan menjadi kakak dan adik.

Dia menyimpan seragam polisi itu dengan rapi dan baru saja hendak beristirahat ketika ponselnya tiba-tiba berdering.

Panggilan itu berasal dari Stella.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 21

    Arnold sudah menentukan waktu keberangkatan dengan helikopter. Keesokan siangnya, dia akan meninggalkan Wilayah Tite.Dia tidak bisa membawa Amelia pergi, juga tidak sanggup menyaksikan wanita itu bermesraan dengan pria lain.Malam sebelum pergi, dia duduk sendirian sambil menggenggam cincin pernikahan mereka, mengusapnya perlahan berulang kali.Dulu, saat menikah, dia pernah marah besar sampai melempar cincin itu ke taman bunga. Setelah kembali ke rumah, dia mencarinya di halaman belakang vila selama sehari semalam sebelum akhirnya menemukan cincin itu lagi.Mungkin, itulah satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan Amelia.Tiba-tiba, suara ledakan besar memecah sunyi malam.Setelah dentuman pertama, rentetan tembakan dan ledakan berikutnya membuat tenda berguncang hebat. Arnold langsung terbangun, buru-buru mengenakan cincin itu di jarinya lalu berlari keluar."Serangan udara! Cepat evakuasi!"Sirene darurat melengking tajam membelah langit malam.Di luar tenda sudah kacau b

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 20

    Di luar rumah sakit jiwa, hujan deras mengguyur tanpa henti.Arnold keluar dari gerbang dan langsung berdiri di tengah hujan, membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya.Melihat itu, sang asisten buru-buru menyusul sambil mengangkat payung di atas kepalanya.Stella sudah disiksa hingga nyaris tidak berbentuk manusia lagi. Kekerasan yang diterimanya setiap hari benar-benar membuat kondisi mentalnya hancur, bahkan berkembang menjadi gangguan panik.Karena itu pula, saat melihat Arnold, dia tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil dan menusuk punggung tangan pria itu dengan ganas. Untungnya hanya luka luar ringan. Stella segera ditahan dan kembali dikurung di ruang bawah tanah.Di tengah hujan deras, Arnold mengeluarkan ponselnya lalu menelepon pengawalnya di Wilayah Tite."Siapkan helikopter. Malam ini juga aku berangkat."Dia menatap langit kelabu di atas sana sambil mengepalkan tangan erat.Amelia, kali ini biar aku yang mencintaimu.Begitu helikopter mendarat, Arnold kembali tiba di k

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 19

    Belakangan ini, kobaran perang akhirnya mereda, tim penyelamat untuk pertama kalinya menikmati sedikit ketenangan.Sejak Arnold pergi, suasana hati Amelia terlihat jauh lebih baik. Bahkan Cedric pun ikut menjadi lebih bahagia karenanya.Memandang punggungnya yang sedang berlatih, hati Cedric seolah tenggelam ke dasar lautan.Entah sejak kapan, perasaannya terhadap Amelia berubah. Pada awalnya, memang benar dia hanya ingin menjaga Amelia karena dia adalah adik Rainer.Kemudian, semuanya didasari oleh keinginan pribadinya sendiri."Mulai besok aku cuti singkat. Kau juga belum bisa menjalankan tugas, jadi ikut aku jalan-jalan, ya."Di suatu hari, Cedric mengetuk pintu kamar Amelia."Mau ke mana?" tanya Amelia.Namun, Cedric tampaknya sengaja ingin membuat penasaran. Dia tersenyum tipis."Mau ikut? Kalau ikut, nanti juga tahu."Saat pesawat mendarat di Eru, Amelia masih merasa semuanya begitu tidak nyata.Mereka naik mobil menuju sebuah kota kecil tempat melihat aurora. Cedric ternyata sud

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 18

    Saat Stella mendengar suara pintu utama dibuka, dia langsung berdiri dengan gembira.Dia tahu Arnold tidak mungkin setega itu.Namun, ketika melihat ekspresi wajah pria itu dengan jelas, senyumnya langsung membeku.Tatapan Arnold sedingin es saat berjalan lurus ke arahnya."Arnold ... kau ...."Suara Stella bergetar. Dia refleks mundur selangkah."Kenapa?"Suara Arnold rendah, menahan badai amarah. Tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat hingga terasa sangat sakit."Sebenarnya apa kesalahan Amelia? Kenapa kau terus-menerus menyakitinya?"Wajah Stella pucat pasi. Dia berusaha melepaskan diri."A ... aku nggak ....""Nggak?"Arnold langsung melempar setumpuk foto ke wajahnya.Foto-foto itu berjatuhan di lantai, mulai dari tangkapan layar CCTV vila di tepi danau hingga catatan transaksi dengan pembunuh bayaran luar negeri, semua kejahatannya terbukti dengan jelas.Kaki Stella melemas hingga dia jatuh terduduk di lantai. Air mata langsung mengalir deras."Arnold, a

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 17

    Stella bagai disambar petir. Tubuhnya terhuyung mundur dua langkah."Nggak ... nggak mungkin!"Arnold memijat pelipisnya dengan lelah."Stella, kau sudah berubah, berhentilah keras kepala. Kita sama-sama perlu menenangkan diri."Tiba-tiba Stella menjerit histeris. Dia meraih vas bunga di dekatnya lalu membantingnya ke dinding."Aku berubah? Yang berubah itu kau! Kau sudah dibutakan oleh perempuan jalang itu!""Diam!"Di tengah suara pecahan porselen yang memekakkan telinga, Arnold tidak mampu lagi menahan emosinya. Dia mencengkeram dagu Stella dengan kuat, menatap wajah wanita itu yang telah dipenuhi kebencian dengan sorot kecewa."Aku nggak mengizinkanmu mengatakan Amelia seperti itu."Sejak kapan gadis lembut dan penuh pengertian dalam ingatannya berubah menjadi seperti ini?Jangan-jangan Stella memang selalu seperti ini, hanya saja selama ini dia tidak pernah menyadarinya.Tatapan Arnold dipenuhi kegelapan. Perlahan dia menenangkan diri, melepaskan tangannya lalu berbalik pergi.Nam

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 16

    Arnold menaiki jet pribadinya, sementara ponselnya terus bergetar tanpa henti.Stella mengirim belasan pesan suara, menangis histeris di setiap rekamannya."Arnold! Kau sudah sampai mana? Aku benar-benar bakal melompat!"Dia memijat pelipisnya, lalu langsung mematikan ponselnya.Arnold menatap hamparan awan di luar jendela, tiba-tiba begitu banyak kenangan memenuhi benaknya.Dia teringat saat pertama kali Amelia memasak untuknya. Karena terlalu gugup, Amelia sampai melukai jarinya sendiri saat memotong, tetapi tidak berani mengatakannya. Dialah yang akhirnya menyadari dan membantunya menghentikan pendarahan.Dia juga teringat bagaimana Amelia diam-diam mengambil buku berbahasa asing dari rak bukunya, lalu belajar beberapa kalimat bahasa Phanres sendiri. Entah dari mana gadis itu menyalin sepotong puisi cinta berbahasa Phanres dan menyelipkannya di dalam buku sebelum mengembalikannya.Dia teringat setiap kali pulang dari acara jamuan, tidak peduli seberapa larut malamnya, selalu ada lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status