Share

Bab 5

Author: Hanu
Amelia buru-buru menutup bagian pengeras suara ponselnya, lalu mengangkat kepala menatap Arnold yang tiba-tiba masuk membuka pintu.

"Nggak ada apa-apa," katanya pelan sambil memaksakan senyum, "Aku cuma menelepon kakek buat menanyakan kabar."

Wajah Arnold tampak lelah. Rambut di dahinya sedikit berantakan, kancing kerah kemejanya terbuka longgar, memperlihatkan samar-samar goresan tipis di tulang selangkanya, seperti bekas cakaran kuku.

Dia tidak banyak bertanya, hanya menggumam pelan, "Hm," lalu berkata, "Aku ada urusan yang harus diselesaikan. Beberapa hari ini aku nggak bakal datang."

Amelia mengangguk dan memandangnya pergi.

Sampai sosok Arnold benar-benar menghilang di ujung lorong, barulah dia perlahan melepaskan tangan yang menutupi ponsel.

Di seberang telepon, Tuan Besar Simon menghela napas panjang. "Amelia, kehilanganmu adalah ketidakberuntungan Arnold."

Mata Amelia langsung memanas, tenggorokannya terasa sesak. "Kakek, soal perceraian ... aku mau mengatakannya sendiri kepadanya."

"Tolong jangan beri tahu dia dulu, ya?"

Tuan Besar Simon terdiam sejenak. Suaranya terdengar tua dan lelah. "Kakek sudah tua. Sekarang memang sudah nggak mampu lagi mengendalikan dia."

"Kalau kau sudah memutuskan buat bercerai, bercerailah." Dia berhenti sejenak, suaranya sedikit serak. "Kakek cuma berharap kau bisa menjalani hidup ini dengan bahagia sampai akhir."

Amelia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sementara air mata mengalir tanpa suara.

"Kakek, aku pasti bakal melakukannya."

"Jangan khawatir."

Setelah keluar dari rumah sakit, Amelia mulai membereskan barang-barangnya.

Arnold sama sekali tidak pernah pulang.

Sebaliknya, media sosial Stella terus diperbarui setiap hari.

[Hari ini pergi melihat matahari terbenam. Dia bilang langit senja sangat indah, seperti saat kami berusia delapan belas tahun.]

Foto yang diunggah memperlihatkan punggung Arnold berdiri di bawah cahaya matahari senja, garis wajah sampingnya terlihat dalam dan lembut.

[Dia bilang penyakitku bakal sembuh, lalu mengajakku pergi berdoa.]

Di foto itu, Arnold sedang menyalakan dupa dengan kepala sedikit tertunduk, sorot matanya tampak serius.

[Malam ini aku insomnia lagi. Dia menemaniku mengobrol sampai pukul tiga dini hari.]

....

Amelia menelusuri semuanya satu per satu. Ujung jarinya sedikit gemetar.

Dia seharusnya sudah terbiasa.

Namun, hatinya tetap terasa seperti disayat perlahan oleh pisau tumpul, sakit hingga hampir membuatnya sesak napas.

Sampai sebuah panggilan telepon memecah kesunyian.

"Amelia! Cepat ke rumah sakit! Kak Arnold mengalami kecelakaan!" Suara salah satu sahabat Arnold terdengar tergesa-gesa, bahkan dipenuhi kepanikan.

Jantung Amelia langsung berdegup keras. Dia segera meraih mantel dan berlari keluar.

Lorong rumah sakit dipenuhi bau menyengat disinfektan bercampur aroma darah.

Amelia berlari tertatih sampai ke depan ruang gawat darurat, lalu langsung dihadapkan pada surat pemberitahuan kondisi kritis.

"Keluarga pasien, tanda tangan di sini!" kata dokter dengan tergesa.

Jari Amelia gemetar sampai hampir tidak mampu memegang pena.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Dia menoleh ke arah beberapa sahabat Arnold dengan suara bergetar.

Wajah mereka tampak suram, tatapan mereka serempak mengarah kepada Stella yang menangis tersedu di sudut ruangan.

"Tanya saja dia!" ujar salah satu dari mereka dengan geram.

Sambil terisak, Stella menjelaskan secara terputus-putus.

Tengah malam, dia tiba-tiba ingin pergi ke gunung untuk melihat hujan meteor, lalu Arnold menemaninya.

Namun, di tengah perjalanan, mereka mengalami kecelakaan beruntun.

Di saat yang sangat genting, Arnold mendorong Stella menjauh, sementara dirinya sendiri tertabrak hingga tubuhnya penuh darah dan langsung pingsan di tempat.

"Semuanya gara-gara ulahmu!" Sahabat Arnold itu murka. "Sejak kecil sampai sekarang, berapa kali Kak Arnold terluka demi kau? Kalau kau mau bintang, dia bakal memetik bintang buatmu. Kalau kau mau bulan, dia bakal mengambil bulan buatmu. Dia terlalu memanjakanmu sampai kau jadi seenaknya sendiri!"

"Tujuh tahun lalu, demi merayakan ulang tahunmu, dia tetap menyetir menjemputmu meski demamnya mencapai tiga puluh sembilan derajat. Akibatnya dia mengalami kecelakaan di tengah jalan dan dua tulang rusuknya patah!"

"Waktu usia delapan belas tahun, kau bersikeras mau bermain ski. Demi melindungimu, dia jatuh ke jurang dan hampir kehilangan nyawa!"

"Sekarang gara-gara kau lagi ...."

"Cukup!" dokter memotong dengan tegas, "Pasien kehilangan terlalu banyak darah dan persediaan darah rumah sakit hampir habis! Siapa di sini yang bergolongan darah O?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 21

    Arnold sudah menentukan waktu keberangkatan dengan helikopter. Keesokan siangnya, dia akan meninggalkan Wilayah Tite.Dia tidak bisa membawa Amelia pergi, juga tidak sanggup menyaksikan wanita itu bermesraan dengan pria lain.Malam sebelum pergi, dia duduk sendirian sambil menggenggam cincin pernikahan mereka, mengusapnya perlahan berulang kali.Dulu, saat menikah, dia pernah marah besar sampai melempar cincin itu ke taman bunga. Setelah kembali ke rumah, dia mencarinya di halaman belakang vila selama sehari semalam sebelum akhirnya menemukan cincin itu lagi.Mungkin, itulah satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan Amelia.Tiba-tiba, suara ledakan besar memecah sunyi malam.Setelah dentuman pertama, rentetan tembakan dan ledakan berikutnya membuat tenda berguncang hebat. Arnold langsung terbangun, buru-buru mengenakan cincin itu di jarinya lalu berlari keluar."Serangan udara! Cepat evakuasi!"Sirene darurat melengking tajam membelah langit malam.Di luar tenda sudah kacau b

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 20

    Di luar rumah sakit jiwa, hujan deras mengguyur tanpa henti.Arnold keluar dari gerbang dan langsung berdiri di tengah hujan, membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya.Melihat itu, sang asisten buru-buru menyusul sambil mengangkat payung di atas kepalanya.Stella sudah disiksa hingga nyaris tidak berbentuk manusia lagi. Kekerasan yang diterimanya setiap hari benar-benar membuat kondisi mentalnya hancur, bahkan berkembang menjadi gangguan panik.Karena itu pula, saat melihat Arnold, dia tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil dan menusuk punggung tangan pria itu dengan ganas. Untungnya hanya luka luar ringan. Stella segera ditahan dan kembali dikurung di ruang bawah tanah.Di tengah hujan deras, Arnold mengeluarkan ponselnya lalu menelepon pengawalnya di Wilayah Tite."Siapkan helikopter. Malam ini juga aku berangkat."Dia menatap langit kelabu di atas sana sambil mengepalkan tangan erat.Amelia, kali ini biar aku yang mencintaimu.Begitu helikopter mendarat, Arnold kembali tiba di k

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 19

    Belakangan ini, kobaran perang akhirnya mereda, tim penyelamat untuk pertama kalinya menikmati sedikit ketenangan.Sejak Arnold pergi, suasana hati Amelia terlihat jauh lebih baik. Bahkan Cedric pun ikut menjadi lebih bahagia karenanya.Memandang punggungnya yang sedang berlatih, hati Cedric seolah tenggelam ke dasar lautan.Entah sejak kapan, perasaannya terhadap Amelia berubah. Pada awalnya, memang benar dia hanya ingin menjaga Amelia karena dia adalah adik Rainer.Kemudian, semuanya didasari oleh keinginan pribadinya sendiri."Mulai besok aku cuti singkat. Kau juga belum bisa menjalankan tugas, jadi ikut aku jalan-jalan, ya."Di suatu hari, Cedric mengetuk pintu kamar Amelia."Mau ke mana?" tanya Amelia.Namun, Cedric tampaknya sengaja ingin membuat penasaran. Dia tersenyum tipis."Mau ikut? Kalau ikut, nanti juga tahu."Saat pesawat mendarat di Eru, Amelia masih merasa semuanya begitu tidak nyata.Mereka naik mobil menuju sebuah kota kecil tempat melihat aurora. Cedric ternyata sud

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 18

    Saat Stella mendengar suara pintu utama dibuka, dia langsung berdiri dengan gembira.Dia tahu Arnold tidak mungkin setega itu.Namun, ketika melihat ekspresi wajah pria itu dengan jelas, senyumnya langsung membeku.Tatapan Arnold sedingin es saat berjalan lurus ke arahnya."Arnold ... kau ...."Suara Stella bergetar. Dia refleks mundur selangkah."Kenapa?"Suara Arnold rendah, menahan badai amarah. Tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat hingga terasa sangat sakit."Sebenarnya apa kesalahan Amelia? Kenapa kau terus-menerus menyakitinya?"Wajah Stella pucat pasi. Dia berusaha melepaskan diri."A ... aku nggak ....""Nggak?"Arnold langsung melempar setumpuk foto ke wajahnya.Foto-foto itu berjatuhan di lantai, mulai dari tangkapan layar CCTV vila di tepi danau hingga catatan transaksi dengan pembunuh bayaran luar negeri, semua kejahatannya terbukti dengan jelas.Kaki Stella melemas hingga dia jatuh terduduk di lantai. Air mata langsung mengalir deras."Arnold, a

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 17

    Stella bagai disambar petir. Tubuhnya terhuyung mundur dua langkah."Nggak ... nggak mungkin!"Arnold memijat pelipisnya dengan lelah."Stella, kau sudah berubah, berhentilah keras kepala. Kita sama-sama perlu menenangkan diri."Tiba-tiba Stella menjerit histeris. Dia meraih vas bunga di dekatnya lalu membantingnya ke dinding."Aku berubah? Yang berubah itu kau! Kau sudah dibutakan oleh perempuan jalang itu!""Diam!"Di tengah suara pecahan porselen yang memekakkan telinga, Arnold tidak mampu lagi menahan emosinya. Dia mencengkeram dagu Stella dengan kuat, menatap wajah wanita itu yang telah dipenuhi kebencian dengan sorot kecewa."Aku nggak mengizinkanmu mengatakan Amelia seperti itu."Sejak kapan gadis lembut dan penuh pengertian dalam ingatannya berubah menjadi seperti ini?Jangan-jangan Stella memang selalu seperti ini, hanya saja selama ini dia tidak pernah menyadarinya.Tatapan Arnold dipenuhi kegelapan. Perlahan dia menenangkan diri, melepaskan tangannya lalu berbalik pergi.Nam

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 16

    Arnold menaiki jet pribadinya, sementara ponselnya terus bergetar tanpa henti.Stella mengirim belasan pesan suara, menangis histeris di setiap rekamannya."Arnold! Kau sudah sampai mana? Aku benar-benar bakal melompat!"Dia memijat pelipisnya, lalu langsung mematikan ponselnya.Arnold menatap hamparan awan di luar jendela, tiba-tiba begitu banyak kenangan memenuhi benaknya.Dia teringat saat pertama kali Amelia memasak untuknya. Karena terlalu gugup, Amelia sampai melukai jarinya sendiri saat memotong, tetapi tidak berani mengatakannya. Dialah yang akhirnya menyadari dan membantunya menghentikan pendarahan.Dia juga teringat bagaimana Amelia diam-diam mengambil buku berbahasa asing dari rak bukunya, lalu belajar beberapa kalimat bahasa Phanres sendiri. Entah dari mana gadis itu menyalin sepotong puisi cinta berbahasa Phanres dan menyelipkannya di dalam buku sebelum mengembalikannya.Dia teringat setiap kali pulang dari acara jamuan, tidak peduli seberapa larut malamnya, selalu ada lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status