Share

Bab 3

Author: Hanu
Dokter datang untuk membalut lukanya. Telapak tangan dan lututnya mendapat beberapa jahitan. Dokter mengatakan luka itu kemungkinan akan meninggalkan bekas. Amelia mendengarnya dengan tatapan kosong, tanpa reaksi apa pun.

Setelah semua orang pergi, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari ahli restorasi barang antik terbaik di kota.

Pukul dua dini hari, dia diam-diam keluar rumah dan mendatangi sebuah studio yang masih buka sesuai alamat yang ditemukannya.

Setelah mendengar penjelasannya, ahli restorasi tua itu menggeleng. "Kaca bingkai tua seperti ini sulit dicari. Proses perbaikannya juga membutuhkan waktu."

"Berapa pun biayanya nggak masalah," kata Amelia dengan cemas, "Saya mohon, ini sangat penting."

Ahli restorasi itu menghela napas. "Tiga hari. Itu sudah yang paling cepat."

Selama tiga hari berikutnya, Amelia hampir tinggal di studio itu.

Dia tidak berani pulang untuk menghadapi Arnold, juga tidak ingin pria itu tahu apa yang sedang dia lakukan.

Saat ahli restorasi bekerja, dia duduk di samping sambil memperhatikan, membantu mengambil alat dan melakukan pekerjaan ringan.

Arnold tidak mencarinya.

Tidak ada satu telepon ataupun pesan darinya.

Pada sore hari ketiga, bingkai foto itu akhirnya selesai diperbaiki.

Saat ahli restorasi menyerahkannya kepada Amelia, Arnold tiba-tiba mendorong pintu dan masuk.

"Tuan muda mencari ahli restorasi ke seluruh kota sebelum akhirnya menemukan tempat ini," jelas kepala pelayan pelan dari belakang.

Wajah Arnold masih terlihat muram, tetapi ketika melihat bingkai foto yang telah kembali utuh, bahunya yang tegang tampak sedikit mengendur.

"Bagian ini, dan bagian sini, harus sangat hati-hati," katanya sambil menunjuk sudut bingkai kepada ahli restorasi, "Ukiran ini dibuat dengan tangan. Nggak boleh ada sedikit pun kerusakan."

Ahli restorasi itu mengangguk. "Tenang saja. Saya sudah bekerja di bidang restorasi selama empat puluh tahun. Kerusakan seperti ini bukan masalah besar."

Dia memandang Arnold dengan rasa penasaran. "Bingkai foto ini pasti sangat berarti bagi Anda, ya?"

Arnold tidak menjawab. Dia hanya menerima bingkai itu dengan sangat hati-hati, seolah sedang memegang benda rapuh yang amat berharga.

Amelia berdiri di samping sambil merasakan dadanya seperti diremas oleh tangan tidak kasatmata.

Dia tahu asal-usul bingkai foto itu.

Itu adalah foto pertunangan Arnold dan Stella.

Tuan besar dulu pernah membakarnya, tetapi Arnold entah dari mana mendapatkan kembali salinan foto itu, bahkan membuat bingkai yang sama persis seperti aslinya.

Yang dia pedulikan sejak awal bukanlah bingkai foto itu, melainkan masa lalu yang tidak akan pernah bisa kembali lagi.

"Terima kasih," kata Arnold kepada ahli restorasi itu, lalu menoleh kepada Amelia, "Pulanglah."

Itu adalah kalimat pertama yang dia ucapkan kepadanya dalam tiga hari terakhir.

Amelia mengangguk. Baru saja melangkah, tiba-tiba pandangannya menggelap.

Selama tiga hari ini dia hampir tidak makan, sementara pikirannya terus berada dalam ketegangan. Kini, tubuhnya akhirnya tidak mampu bertahan lagi.

Pada detik terakhir sebelum kehilangan kesadaran, dia melihat layar ponsel Arnold menyala.

Di sana tertulis nama Stella.

Arnold mengangkat telepon itu, wajahnya langsung berubah drastis.

"Baik, aku ke sana sekarang."

Lalu dia berbalik dan meninggalkan studio restorasi itu tanpa menoleh sedikit pun kepada Amelia yang terjatuh di lantai.

Saat sadar kembali, Amelia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit.

Dia perlahan membuka mata. Pandangannya masih agak kabur, tetapi dia langsung melihat Arnold duduk di sisi ranjangnya.

Pria itu menopang dahinya dengan satu tangan sambil memejamkan mata untuk beristirahat. Ada lingkar samar di bawah matanya, seolah dia berjaga semalaman.

Begitu mendengar sedikit gerakan darinya, Arnold langsung membuka mata dan menatap wajahnya.

"Sudah bangun?" Suaranya rendah dan serak karena lelah. "Bagaimana perasaanmu?"

Amelia tertegun, sedikit linglung.

Dia ingat, sebelum pingsan, Arnold menerima telepon dari Stella dan pergi dari studio restorasi tanpa menoleh lagi.

Namun, sekarang, pria itu justru menjaga di sisi ranjangnya?

"Bukannya kau pergi menemui Nona Stella?" tanyanya pelan. Suaranya kering seperti digesek amplas.

Gerakan Arnold sempat terhenti sesaat. Setelah itu, dia menuangkan segelas air hangat dan menyerahkannya kepada Amelia.

"Dia baik-baik saja." Nada suaranya tenang, seolah sudah mempertimbangkan kata-katanya lama sekali sebelum berbicara. "Dia mengalami depresi. Beberapa waktu lalu dia sempat memiliki kecenderungan bunuh diri, karena itulah aku membawanya pulang ke negara ini."

Arnold berhenti sejenak, lalu mengangkat pandangan menatap Amelia. Tatapannya tampak rumit.

"Jangan terlalu banyak berpikir. Aku sama dia nggak mungkin bersama."

Jari Amelia yang menggenggam gelas air perlahan mengencang.

Tidak mungkin?

Tetapi di hatimu, bukankah kamu masih mencintainya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 21

    Arnold sudah menentukan waktu keberangkatan dengan helikopter. Keesokan siangnya, dia akan meninggalkan Wilayah Tite.Dia tidak bisa membawa Amelia pergi, juga tidak sanggup menyaksikan wanita itu bermesraan dengan pria lain.Malam sebelum pergi, dia duduk sendirian sambil menggenggam cincin pernikahan mereka, mengusapnya perlahan berulang kali.Dulu, saat menikah, dia pernah marah besar sampai melempar cincin itu ke taman bunga. Setelah kembali ke rumah, dia mencarinya di halaman belakang vila selama sehari semalam sebelum akhirnya menemukan cincin itu lagi.Mungkin, itulah satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan Amelia.Tiba-tiba, suara ledakan besar memecah sunyi malam.Setelah dentuman pertama, rentetan tembakan dan ledakan berikutnya membuat tenda berguncang hebat. Arnold langsung terbangun, buru-buru mengenakan cincin itu di jarinya lalu berlari keluar."Serangan udara! Cepat evakuasi!"Sirene darurat melengking tajam membelah langit malam.Di luar tenda sudah kacau b

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 20

    Di luar rumah sakit jiwa, hujan deras mengguyur tanpa henti.Arnold keluar dari gerbang dan langsung berdiri di tengah hujan, membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya.Melihat itu, sang asisten buru-buru menyusul sambil mengangkat payung di atas kepalanya.Stella sudah disiksa hingga nyaris tidak berbentuk manusia lagi. Kekerasan yang diterimanya setiap hari benar-benar membuat kondisi mentalnya hancur, bahkan berkembang menjadi gangguan panik.Karena itu pula, saat melihat Arnold, dia tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil dan menusuk punggung tangan pria itu dengan ganas. Untungnya hanya luka luar ringan. Stella segera ditahan dan kembali dikurung di ruang bawah tanah.Di tengah hujan deras, Arnold mengeluarkan ponselnya lalu menelepon pengawalnya di Wilayah Tite."Siapkan helikopter. Malam ini juga aku berangkat."Dia menatap langit kelabu di atas sana sambil mengepalkan tangan erat.Amelia, kali ini biar aku yang mencintaimu.Begitu helikopter mendarat, Arnold kembali tiba di k

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 19

    Belakangan ini, kobaran perang akhirnya mereda, tim penyelamat untuk pertama kalinya menikmati sedikit ketenangan.Sejak Arnold pergi, suasana hati Amelia terlihat jauh lebih baik. Bahkan Cedric pun ikut menjadi lebih bahagia karenanya.Memandang punggungnya yang sedang berlatih, hati Cedric seolah tenggelam ke dasar lautan.Entah sejak kapan, perasaannya terhadap Amelia berubah. Pada awalnya, memang benar dia hanya ingin menjaga Amelia karena dia adalah adik Rainer.Kemudian, semuanya didasari oleh keinginan pribadinya sendiri."Mulai besok aku cuti singkat. Kau juga belum bisa menjalankan tugas, jadi ikut aku jalan-jalan, ya."Di suatu hari, Cedric mengetuk pintu kamar Amelia."Mau ke mana?" tanya Amelia.Namun, Cedric tampaknya sengaja ingin membuat penasaran. Dia tersenyum tipis."Mau ikut? Kalau ikut, nanti juga tahu."Saat pesawat mendarat di Eru, Amelia masih merasa semuanya begitu tidak nyata.Mereka naik mobil menuju sebuah kota kecil tempat melihat aurora. Cedric ternyata sud

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 18

    Saat Stella mendengar suara pintu utama dibuka, dia langsung berdiri dengan gembira.Dia tahu Arnold tidak mungkin setega itu.Namun, ketika melihat ekspresi wajah pria itu dengan jelas, senyumnya langsung membeku.Tatapan Arnold sedingin es saat berjalan lurus ke arahnya."Arnold ... kau ...."Suara Stella bergetar. Dia refleks mundur selangkah."Kenapa?"Suara Arnold rendah, menahan badai amarah. Tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat hingga terasa sangat sakit."Sebenarnya apa kesalahan Amelia? Kenapa kau terus-menerus menyakitinya?"Wajah Stella pucat pasi. Dia berusaha melepaskan diri."A ... aku nggak ....""Nggak?"Arnold langsung melempar setumpuk foto ke wajahnya.Foto-foto itu berjatuhan di lantai, mulai dari tangkapan layar CCTV vila di tepi danau hingga catatan transaksi dengan pembunuh bayaran luar negeri, semua kejahatannya terbukti dengan jelas.Kaki Stella melemas hingga dia jatuh terduduk di lantai. Air mata langsung mengalir deras."Arnold, a

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 17

    Stella bagai disambar petir. Tubuhnya terhuyung mundur dua langkah."Nggak ... nggak mungkin!"Arnold memijat pelipisnya dengan lelah."Stella, kau sudah berubah, berhentilah keras kepala. Kita sama-sama perlu menenangkan diri."Tiba-tiba Stella menjerit histeris. Dia meraih vas bunga di dekatnya lalu membantingnya ke dinding."Aku berubah? Yang berubah itu kau! Kau sudah dibutakan oleh perempuan jalang itu!""Diam!"Di tengah suara pecahan porselen yang memekakkan telinga, Arnold tidak mampu lagi menahan emosinya. Dia mencengkeram dagu Stella dengan kuat, menatap wajah wanita itu yang telah dipenuhi kebencian dengan sorot kecewa."Aku nggak mengizinkanmu mengatakan Amelia seperti itu."Sejak kapan gadis lembut dan penuh pengertian dalam ingatannya berubah menjadi seperti ini?Jangan-jangan Stella memang selalu seperti ini, hanya saja selama ini dia tidak pernah menyadarinya.Tatapan Arnold dipenuhi kegelapan. Perlahan dia menenangkan diri, melepaskan tangannya lalu berbalik pergi.Nam

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 16

    Arnold menaiki jet pribadinya, sementara ponselnya terus bergetar tanpa henti.Stella mengirim belasan pesan suara, menangis histeris di setiap rekamannya."Arnold! Kau sudah sampai mana? Aku benar-benar bakal melompat!"Dia memijat pelipisnya, lalu langsung mematikan ponselnya.Arnold menatap hamparan awan di luar jendela, tiba-tiba begitu banyak kenangan memenuhi benaknya.Dia teringat saat pertama kali Amelia memasak untuknya. Karena terlalu gugup, Amelia sampai melukai jarinya sendiri saat memotong, tetapi tidak berani mengatakannya. Dialah yang akhirnya menyadari dan membantunya menghentikan pendarahan.Dia juga teringat bagaimana Amelia diam-diam mengambil buku berbahasa asing dari rak bukunya, lalu belajar beberapa kalimat bahasa Phanres sendiri. Entah dari mana gadis itu menyalin sepotong puisi cinta berbahasa Phanres dan menyelipkannya di dalam buku sebelum mengembalikannya.Dia teringat setiap kali pulang dari acara jamuan, tidak peduli seberapa larut malamnya, selalu ada lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status