แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Renee
Caitlyn tahu dari mana suasana murung itu berasal. Besar kemungkinan karena pertunangan antara Levan dan Gaby. Hatinya terasa semakin perih. Dia menepis tangan Dexter, lalu turun dari tempat tidur. "Aku malam ini tidur di kamar tamu saja."

Dexter tidak berbicara, hanya meraih pergelangan tangannya dan menariknya kembali.

"Dexter, aku nggak mau." Sudut mata Caitlyn memerah. "Kamu bisa nggak, tolong hormati aku sedikit?"

"Aku suamimu. Sekarang aku punya kebutuhan. Kamu bisa nggak hormati aku sedikit juga?"

"Selama ini apa aku pernah menolakmu? Aku pernah melawan?"

Posisi keduanya begitu dekat, tetapi suasana di kamar sedingin es.

Dexter tertawa pelan. Matanya penuh ketidaksenangan. "Caitlyn, berhubungan badan denganku begitu menyakitkan ya?"

Mendengar itu, Caitlyn memejamkan mata. Air mata mengalir tanpa suara.

....

Dari kamar mandi terdengar suara air mengalir deras. Setelah beberapa detik menenangkan diri, Caitlyn bangkit dan pergi ke kamar tamu.

Beberapa hari berikutnya, Caitlyn tidur di kamar tamu. Dexter pun tidak mencarinya.

Tak lama kemudian, tibalah hari Sabtu, hari di mana Keluarga Mahadira dan Keluarga Sirait sepakat bertemu untuk membicarakan pernikahan.

Dexter mengirim pesan kepada Caitlyn, menginformasikan waktu dan tempat. Namun, sampai hampir waktunya tiba dan orang tua Keluarga Sirait sudah datang, Caitlyn belum juga muncul.

Dexter berdiri, dengan tenang merapikan ujung lengannya. Tubuhnya tegap dan berwibawa. "Aku pergi telepon dulu."

Gaby ikut berdiri. "Aku juga keluar dulu."

Dexter ke depan restoran dan menelepon, tetapi tidak ada jawaban.

Gaby berjalan menghampiri, bertanya pelan, "Kak Dexter, Kak Caitlyn punya masalah denganku ya?"

Dexter menekan rasa jengkelnya, lalu menyahut dengan lembut, "Nggak ada, Gaby. Jangan pikir yang aneh-aneh."

"Tapi aku nggak tenang." Mata Gaby berkaca-kaca. "Kak Dexter, sebenarnya ... aku agak takut."

"Takut apa?" tanya Dexter.

"Levan bilang, karena kami sudah bertunangan, aku harus pindah ke rumah lama. Tapi ...." Gaby menatapnya, matanya penuh harap. "Kak Dexter, kamu dan Kak Caitlyn ... bisa ikut tinggal di sana juga, 'kan?"

Kelopak mata Dexter sedikit berkedut. Dia menatap Gaby, pandangannya lembut. Kemudian, dia mengangguk pelan. "Baiklah."

Caitlyn belum sempat memarkir mobilnya ketika melihat pemandangan itu. Gadis itu tersenyum bahagia, manja, menatap Dexter dengan mata yang berbinar. Sementara Dexter menunduk sedikit, bibirnya melengkung tipis, sorot matanya penuh kelembutan.

Caitlyn memarkir mobil dan berjalan ke arah mereka.

"Kenapa lama banget? Aku kira ada apa-apa di jalan," ujar Dexter sambil mengangkat alis. "Kenapa telepon nggak kamu angkat?"

Nada suara Caitlyn terdengar kurang senang. "Macet, ponselku di-silent."

Dia melirik Gaby sekilas, tatapannya tidak ramah.

Gaby tersenyum sambil berucap, "Yang penting sudah datang. Yuk, kita masuk. Semua orang sudah menunggu."

Caitlyn tidak berbicara lagi, langsung masuk ke restoran.

Gaby dan Dexter berjalan di belakang. Dilihat dari luar, mereka tampak seperti pasangan suami istri.

Semua orang sudah berkumpul. Setelah berbasa-basi, dua keluarga mulai membicarakan acara pertunangan.

Caitlyn seperti orang luar. Hanya diam, menunduk, makan sendiri. Tiba-tiba, dia mendengar Gaby berkata, "Aku ingin Kak Dexter dan Kak Caitlyn juga tinggal di rumah lama. Kalau ramai, rumah terasa lebih hangat."

Caitlyn langsung mendongak. Dulu waktu mereka menikah, Dexter yang bersikeras ingin tinggal terpisah. Jujur saja, pasangan muda tinggal sendiri memang lebih nyaman. Tinggal di rumah lama Keluarga Mahadira? Caitlyn tidak akan sudi!

Andhika masih mending, tetapi Yulia si ibu tiri, Levan si adik tiri, belum lagi Gaby yang merupakan cinta pertama Dexter .... Dia harus tinggal serumah dengan mereka?

Caitlyn menatap Dexter dan meletakkan peralatan makannya. Semua orang sedang menunggu jawaban Dexter. Akhirnya, Dexter menjawab tanpa ragu, "Baiklah."

Caitlyn langsung berkerut. Dia setuju? Tanpa berdiskusi dulu dengannya? Kalau mereka pindah ke sana, bukankah artinya mereka harus tidur sekamar lagi?

Yulia sebenarnya tidak ingin Dexter kembali tinggal di rumah besar, tetapi setelah melirik Caitlyn, dia tersenyum. "Bagus juga. Nanti kalau Caitlyn hamil, aku bisa bantu jaga."

Hamil? Mereka sebelumnya sudah sepakat, atau lebih tepatnya Dexter yang memutuskan sendiri bahwa mereka belum akan punya anak. Yulia malah membahas soal kehamilan.

Gaby tampak bahagia. "Kak Dexter, Kak Caitlyn, kalau kalian balik tinggal di sana, aku bakal punya teman. Senangnya!"

Tentu saja. Gaby adalah orang yang paling berharga di hati Dexter. Permintaannya mana mungkin ditolak? Bahkan tinggal serumah dengannya mungkin sudah menjadi impian Dexter.

Pendapat Caitlyn sepenuhnya diabaikan. Atau sebenarnya tidak ada satu pun di meja itu yang peduli padanya.

Tidak heran. Dia tak punya latar belakang, tak punya dukungan, bahkan suaminya pun tak berpihak padanya. Kalaupun dia menolak, siapa yang akan mendengarkan?

Semua orang tampak senang saat makan malam, kecuali Caitlyn. Ketika hendak pulang, Gaby tersenyum manis sambil menatap Dexter. "Kak Dexter, cepat-cepat pindah ya!"

Dexter menjawab, "Besok aku pindah."

Caitlyn menarik napas panjang dan bersiap menuju mobilnya. Namun, tangannya tiba-tiba ditarik. Semua orang sudah pergi, tersisa mereka berdua.

Dexter menatapnya tajam tanpa ekspresi. "Naik mobilku."

"Aku bawa mobil sendiri." Caitlyn melepaskan tangannya. "Aku nggak setuju pindah rumah. Kalau kamu mau balik, silakan. Atas dasar apa aku harus ikut?"

Kalau mereka kembali ke rumah lama, mau tak mau dia harus tidur sekamar dengan Dexter. Dengan semua orang di rumah, dia tidak mungkin menolak dan tidur di kamar tamu.

"Atas dasar apa?" Dexter menunduk, tatapannya dingin. "Karena biaya operasi ayahmu aku yang tanggung, karena rumah keluargamu aku yang beli ...."

Melihat wajah Caitlyn yang seketika memucat, Dexter langsung memalingkan wajah. "Cukup?"

Ujung jari Caitlyn bergetar. Hatinya sungguh hancur. Dia menutup mata. Satu kata muncul dengan tegas di benaknya, "cerai". Dia tidak ingin mempertahankan pernikahan ini lagi.

Setelah terdiam lama, Caitlyn berkata, "Cukup. Terserah kamu. Aku ikut pindah."

Selesai berbicara, dia berbalik dan pergi. Dexter pun berdiri tegak di kegelapan malam. Sosoknya tampak tajam dan tegas.

Caitlyn pulang ke rumah. Dia malas mandi, tetapi lebih malas lagi bertemu Dexter.

Sejak kecil Caitlyn adalah siswa teladan, terutama dalam sains. Dia berpikir logis dan terstruktur. Risiko yang bisa dikendalikan selalu dia hindari.

Satu hal yang tidak bisa dia kendalikan adalah hatinya sendiri. Dia tahu mencintai Dexter adalah jalan tanpa akhir, tetapi dulu dia tetap jatuh juga.

Dexter punya semua yang diinginkan wanita. Tampan, karismatik, sukses besar dalam dunia bisnis. Pria seperti itu mudah membuat wanita mana pun kehilangan arah.

Caitlyn pun begitu. Dia berusaha menjadi istri yang baik dan penurut. Namun, pada akhirnya dia tetap tidak dipandang. Kini, sudah saatnya berhenti. Dia ingin hidup untuk dirinya sendiri.

Dengan tekad seperti itu, malam itu Caitlyn mengurung diri di kamar tamu. Mungkin, ini malam terakhirnya untuk bisa hidup bebas, juga bentuk perlawanan.

Keesokan paginya, dia terbangun karena suara alarm. Setelah melamun beberapa menit, dia bangkit dan mencuci muka.

Begitu keluar dari kamar tamu, Caitlyn melihat Dexter masih di rumah. Sepertinya pria itu baru selesai lari pagi. Dia mengenakan pakaian olahraga abu-abu, rambutnya tampak alami. Tidak seperti presdir dingin, tetapi lebih seperti pria muda yang bersantai.

Caitlyn segera mengalihkan pandangannya.

"Sore nanti bereskan barang-barang," kata Dexter. "Kita pindah."

Begitu terburu-buru? Tentu saja. Cinta lamanya sedang menunggu.

"Sore ini aku ada urusan," jawab Caitlyn. Melihat wajah Dexter menjadi suram, dia menambahkan, "Malam saja."

"Mau aku bantu?" tanya Dexter.

Caitlyn menggeleng.

Dexter tidak berbicara lagi dan naik ke lantai atas.

Caitlyn menyantap sarapan, lalu pergi ke institut penelitian. Begitu duduk, tampak seseorang yang menjulurkan kepalanya dari pintu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 460

    Jangankan makan, sedikit saja ada aroma yang tidak biasa, perutnya langsung bereaksi.Sore harinya, Caitlyn kembali ke Universitas Hardison, lalu menerima telepon dari Dexter lagi.Dexter bertanya, "Akhir pekan nanti ada waktu? Kita ajak anak jalan-jalan."Sudah beberapa hari Caitlyn tidak bertemu Rezi, dia sangat merindukannya. Hanya saja, mengingat Dexter sedang membangun kedekatan dengan anak itu, dia terpaksa menahan rasa rindunya."Sabtu aku ada waktu," sahutnya. "Bisa?""Bisa. Kita ajak dia ke Sea World saja. Dia suka lumba-lumba."Caitlyn mengiakan.Malam harinya, saat sudah di rumah, dia tidak perlu menunggui Yasmin lagi, juga tidak ada anak di sisinya. Untuk sesaat, dia malah merasa tidak terbiasa.Caitlyn melihat ponselnya. Sejak terakhir kali Lusia meneleponnya, setelah itu mereka tidak pernah berhubungan lagi.Padahal waktu itu Lusia tampak sangat membutuhkan uang. Anehnya, setelah itu dia sama sekali tidak menghubunginya lagi. Entah masalahnya sudah selesai atau belum.Cai

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 459

    Maksud dokter jelas, janin itu belum tentu bisa dipertahankan.Di hati Irvin, Yasmin selalu berada di urutan pertama. Hal yang paling membuatnya bahagia bukanlah karena Yasmin mengandung anaknya, melainkan karena Yasmin bersedia melahirkan anak untuknya.Saat kembali berdiri di depan pintu kamar rawat Yasmin, yang tersisa di hatinya hanyalah rasa sakit dan iba.Yasmin adalah perempuan yang selalu menjaga penampilan dan sangat rapi. Sekarang karena hamil, dia muntah sampai keadaannya menjadi sangat berantakan.Tak perlu dibayangkan pun sudah tahu betapa menyedihkannya kondisi itu.Caitlyn sedang membuka pintu kamar sambil menggenggam ponselnya. Dexter baru saja menelepon.Saat mengangkat kepala, dia melihat Irvin. Dia berkata ke arah ponsel, "Nanti aku telepon balik."Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu bergeser memberi jalan. "Cepat sekali sampainya. Masuklah."Irvin mengangguk ringan, lalu melangkah masuk dengan kaki jenjangnya. Di saat seperti ini, ucapan terima kasih saja sudah t

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 458

    Hower sempat bertanya di meja perawat, jadi dia sudah tahu bahwa Yasmin sedang hamil. Namun, saking kagetnya, dia sampai lupa menanyakan alasan Yasmin dirawat.Memangnya hamil pun perlu dirawat di rumah sakit? Atau memang Yasmin saja yang terlalu manja?Caitlyn berkata, "Dia nggak bisa makan apa pun dan muntahnya parah sekali. Kalau nggak dirawat dan diberi infus, dia bisa kolaps."Hower belum pernah berurusan dengan perempuan hamil selain Caitlyn. Seingatnya, waktu Caitlyn hamil dulu, dia sama sekali tidak mengalami reaksi seperti ini.Barulah Hower menyadari kalau Yasmin memang terlihat lebih kurus. Tadi dia memang tidak terlalu memperhatikan penampilan Yasmin, apalagi Yasmin sedang berbaring di ranjang rumah sakit.Pipi Yasmin memang sejak dulu sudah tirus, tetapi sekarang kesannya tampak lebih kurus dan rapuh. Aura seorang wanita karier yang biasanya dia pancarkan pun jadi lebih redup."Memang lebih kurus," kata Hower. "Kenapa melahirkan anak bisa serepot ini?"Dia menoleh ke Caitl

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 457

    Sebenarnya Caitlyn ingin memberi tahu Irvin. Hanya saja, dia tidak punya posisi untuk melakukan itu.Dia adalah sahabat terbaik Yasmin. Sebelumnya saat Yasmin hamil, Caitlyn sudah pernah menghubungi Irvin sekali. Kalau kali ini dia ikut campur lagi, bagaimanapun rasanya kurang pantas.Sekarang Hower sudah tahu, justru lebih baik. Namun, dia juga tidak bisa menunjukkan kalau dirinya senang, jadi hanya berkata, "Sepertinya memang cuma bisa begitu."Yasmin membuka mata, meliriknya, lalu memberinya tatapan yang seolah menyuruhnya memahami sendiri maksudnya.Caitlyn buru-buru menahan senyum yang hampir muncul di sudut bibirnya.Hower berkata, "Kalau begitu, aku keluar sebentar."Setelah keluar dari kamar rawat, dia langsung menelepon Irvin lagi.Irvin tidak menyangka Hower akan menelepon balik. "Hari ini kamu nggak ada kerjaan ya?""Pulanglah," kata Hower. "Ada urusan pertunangan, akta nikah, sampai pesta pernikahan yang harus kamu urus.""Maksudmu apa? Kamu mau menikah?" Irvin sangat terke

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 456

    Yasmin berkata, "Kami sudah putus. Memangnya masih ada gunanya bahas ini?"Hower berkata, "Kalau begitu, aku akan tanya Irvin. Kalau dia mengakui kalian memang sudah putus, aku nggak akan beri tahu dia."Yasmin berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke, telepon dia sekarang. Nyalakan pengeras suaranya."Bagaimanapun, dia dan Irvin sudah membicarakan soal putusnya hubungan mereka. Irvin juga sudah menyetujuinya.Hower langsung menelepon.Di luar negeri saat ini masih pagi. Irvin sedang joging. Suara Irvin terdengar sedikit terengah-engah. "Ada apa?"Mulut Hower memang tidak pernah bersekolah. Dia berkata, "Jangan-jangan kamu lagi asyik di kasur sama cewek ya? Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu."Irvin sampai ingin memakinya. "Aku lagi joging, ngomong apa sih!"Hower sudah menyalakan pengeras suara, jadi dia tidak lagi bercanda. Dia langsung bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Yasmin?"Hower langsung ke intinya.Irvin merasa heran. "Sudah selama ini baru kepikiran p

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 455

    Caitlyn baru saja turun ke lantai satu untuk membayar biaya obat yang memang harus dibayar secara terpisah. Dia sama sekali tidak tahu kalau ada seseorang yang mengikutinya.Toh rumah sakit penuh dengan orang. Dia tidak sempat memperhatikan satu per satu.Setelah kembali ke kamar rawat, dia mengobrol sebentar lagi dengan Yasmin, lalu menerima telepon dari Hower.Dia merasa heran, kenapa Hower menelepon lagi. Dia pun mengangkat telepon dan menyapa.Hower langsung bertanya, "Kamu di mana?""Aku sama Yasmin," jawab Caitlyn. "Malam ini nginap di rumahnya.""Oh." Hower tertawa pelan. "Sejak kapan rumah Yasmin pindah ke bangsal kebidanan dan kandungan?"Jantung Caitlyn berdegup kencang. Dia refleks menoleh ke arah Yasmin.Yasmin mengerjapkan mata, sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.Caitlyn menyalakan pengeras suara, lalu bertanya, "Maksudmu apa?""Maksudku, aku sudah lihat kamu di rumah sakit," kata Hower. "Sekarang aku ada di depan kamar rawat kalian."Yasmin langsung tak bisa

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 6

    Aneh juga. Begitu dia berbicara, anjing itu langsung menyalak karena melihat Caitlyn. Gaby buru-buru menggendongnya, lalu menunduk sambil berkata, "Aku bawa Coco keluar dulu."Tak lama kemudian, Gaby menaruh Coco di luar pintu, lalu kembali masuk.Caitlyn sudah duduk. Andhika berusaha mencairkan sua

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 5

    Caitlyn melambaikan tangan padanya. "Cepat sini!"Bianca berlari sambil tersenyum, menyerahkan segelas susu kedelai di tangannya. "Cepat minum, masih hangat."Bianca juga bekerja di institut penelitian, tetapi dia tidak terlibat dalam proyek-proyek inti."Aku sudah sarapan." Caitlyn menariknya agar

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 8

    "Jangan banyak tanya." Dexter mulai terdengar tidak sabar. "Sudahlah, bukan urusan besar. Aku masih ada rapat sebentar lagi."Mason tertawa. "Jangan begitu dong, jarang-jarang kamu ngomong kayak begini. Menghibur orang juga ada caranya. Setidaknya kasih tahu dulu, kamu mau hibur siapa? Caitlyn? Ngga

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 7

    Caitlyn menegakkan punggungnya, hanya ujung jarinya yang sedikit bergetar. Lehernya jenjang. Saat berdiri seperti ini, dia tampak seperti seekor angsa putih yang anggun dan penuh kebanggaan.Dia menatap Dexter yang berjalan mendekat. Tatapannya dingin dan keras kepala. Tak ada sepatah kata pun yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status