LOGINPertanyaan itu membuat suasana berubah kembali tegang. Ibu Suri membuka matanya, menatap Li Yue dengan serius.
"Tidak," jawabnya tegas. "Aku tidak akan melakukan kesalahan dua kali."
Li Yue tidak langsung menanggapi. Ia menunggu, tahu betul bahwa Ibu Suri tidak berhenti sampai di sana.
"Aku tahu sekarang sifat Liu Ri sama kej
Dari balik tirai salju yang turun tebal, seseorang muncul perlahan. Feng Wu Lan tidak ingin percaya pada sosok yang ia lihat di tengah kekacauan itu. Dalam kondisi sesulit ini, di saat hampir semua harapan runtuh, ia tidak menyangka bahwa orang itu akan ikut turun ke medan perang.Li Yue melangkah maju, nafasnya terlihat sebagai uap putih di udara dingin. Rambutnya tertiup angin, dan salju menumpuk di bahu serta lengan jubahnya. Di tangannya, senjata yang serupa lontak namun berukuran lebih kecil itu masih tergenggam erat, ujung larasnya memancarkan asap tipis."Li Yue...?" suara Feng Wu Lan keluar nyaris seperti bisikan.Ia ingin mengingkari penglihatannya, ingin percaya bahwa Li Yue tetap berada di tempat aman. Namun kenyataannya berdiri tepat di hadapannya. Wanita yang ia coba lindungi, justru datang untuk melind
Di tendanya, Feng Wu Lan baru bangun dan hendak bersiap ketika prajurit itu menerjang masuk dengan napas tersengal."Yang Mulia! Ada yang... menyerang tenda persenjataan!"Feng Wu Lan menoleh tajam. "Jelaskan.""Penjaga tenda ditemukan terluka parah, salah satunya mati. Penjaga yang masih sadar mengatakan ada kelompok orang yang menggunakan zirah kita dan membawa panji kekaisaran Feng... menyamar sebagai pasukan kita dan menyerang mereka!"Emosi Feng Wu Lan langsung menggelap."Bangunkan semua Komandan dan Jenderal," perintahnya cepat.Di sisi lain lapangan, Huo Li dan Huang Ji sudah lebih dulu tiba di tenda penyimpanan senjata setelah mendengar kabar ada penjaga yang diserang. Me
"Aku memang tidak bisa meragukan sifat licikmu, Tuan Xi." Tawa Zhu Weishan mengisi keheningan ruang rapat. "Pasukan Feng unggul di senjatanya, karena itu kita akan mengambil keunggulan pasukan milik Feng Wu Lan itu."Perkataan Zhu Weishan sontak membuat semua petinggi militer disana terkejut. Baru saja ingin menyampaikan protes, Zhu Weishan memanggil prajurit masuk."Pergi ke lapangan perang, cari dan kumpulkan baju zairah bekas prajurit serta panji-panji milik kekaisaran Feng dan bawa kemari.""Xi Zian bawa masuk lima puluh orang yang paling cekatan," lanjut Zhu Weishan tanpa menunggu prajurit itu pergi. "Tidak perlu menunggu rapat selesai. Operasi ini dimulai malam ini, setelah prajurit-prajurit itu kembali kenakan zirah itu untuk menyusup ke tenda musuh."Xi Zian, yan
Memasuki akhir minggu, Zhu Weishan memaksakan serangan besar-besaran untuk menutupi kelemahannya. Ia memerintahkan pasukan pedang untuk maju dari tengah dan tombak dari sisi kiri, berharap melumpuhkan pusat kekuatan pasukan Feng.Pertempuran itu sangat sengit.Feng Wu Lan bertarung melawan Jenderal agung yang sudah membantai banyak prajurit kekaisaran Feng. Di antara pertarungan mereka, beberapa pasukan Zhu mencoba menyerang pemimpin kekaisaran Feng itu. Beruntung, Huo Li melindungi dengan serangan panah silang yang dapat menembakkan panah dengan cepat.Di saat yang sama, Huang Ji bertemu kembali dengan Xi Zian. Berbeda dengan pertarungan yang lalu, kali ini Huang Ji mengungguli karena kekuatan senjata yang Xi Zian gunakan berkurang. Huang Ji bahkan berhasil melukai putra mantan Perdana Menteri itu.
Salju pertama yang turun pada hari ketujuh menjadi pertanda bahwa musim dingin akhirnya tiba. Pada awalnya, butiran tipis itu jatuh perlahan, nyaris seperti abu yang ditiup angin. Namun pada malam harinya, udara mengeras, suhu turun drastis, dan lapangan luas di kaki Pegunungan Huashan itu berubah dari tanah coklat dingin menjadi hamparan putih licin yang menusuk tulang.Di pagi hari pertama minggu kedua, pasukan Feng dan Zhu sama-sama membuka mata pada dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggali seminggu sebelumnya. Langkah kaki kuda meninggalkan jejak berlubang yang cepat terisi air. Beberapa tenda prajurit Feng bahkan roboh semalam terdorong angin beku dari arah utara.Di sisi barat lapangan, Feng Wu Lan berdiri di luar tendanya, nafasnya berubah menjadi uap yang langsung hilang diterpa angin. Zirah peraknya sudah ia lapisi minyak agar tidak mudah mem
_o0o_Pada hari kedua, udara pagi berhembus dingin. Kabut tipis masih menggantung di kaki pegunungan Huashan saat suara terompet perang dari barisan Kekaisaran Zhu kembali menggema. Mereka maju lebih awal, mencoba menekan pasukan Feng sebelum matahari tinggi.Huang Ji, meski masih dengan kain yang menutup tangannya, memimpin sayap kanan dengan penuh amarah. Melihat bendera merah milik Kekaisaran Zhu berkibar terlalu dekat dengan garis depan pasukan Feng membuat darahnya mendidih."Jangan biarkan mereka melewati batu penanda itu!" teriaknya, menunjuk formasi pasukan Zhu yang mulai menanjak.Serangan balasan dari pasukan tombak Jenderal Tao datang bagaikan gelombang baja. Namun tanah yang basah membuat pergerakan lambat, banyak tombak yang meleset dan pasukan panah harus m







