Se connecterBaru saja lelaki tua itu selesai mengucapkan satu kalimat, seteguk darah hitam kembali menyembur dari mulutnya."Jangan bicara!" sela Jimmy dengan suara berat. "Aku keluarkan racunnya dulu!""Ng ... nggak ada gunanya .... Racunnya sudah masuk ke jantung dan meridian .... Bahkan dewa pun ... sulit menyelamatkanku ...."Lelaki tua itu menggeleng pelan. Dia meraih tangan Jimmy dan menggenggamnya erat-erat, wajahnya dipenuhi kegembiraan."Sebelum mati ... aku masih bisa ... bertemu Tuan .... Mati sekarang pun ... aku nggak akan nyesal ....""Aku bilang jangan bicara!" bentak Jimmy sambil mendongak. Dia menatap lelaki tua itu dengan sorot mata tajam.'Sialan! Situasi belum jelas, kenapa malah langsung bunuh diri pakai racun? Apa nyawa benar-benar semurah itu?'Masih banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada lelaki tua ini. Dia tidak ingin orang tua ini mati begitu saja.Aliran energi sejati terus mengalir dari telapak tangan Jimmy ke tubuh lelaki tua itu. Namun, tak lama kemudian dia m
Karena tidak ada yang mau menampung tiga "pembawa sial" itu, mereka terpaksa mencari tempat singgah sendiri.Setelah berkeliling cukup lama, mereka akhirnya menemukan sebuah rumah tua kosong yang nyaris roboh di kota itu.Meskipun bangunannya sudah sangat usang, setidaknya masih cukup untuk berteduh dari angin dan hujan.Toh mereka bertiga bukan tipe orang yang terlalu pilih-pilih, jadi untuk sementara mereka tinggal di sana.Untungnya, supermarket di kota itu masih belum menolak menjual barang kepada mereka. Mereka masih bisa membeli makanan dan minuman. Kalau tidak, mungkin mereka harus turun ke sungai untuk menangkap ikan.Malam harinya, setelah mengganjal perut dengan beberapa potong roti, mereka menyalakan lilin dan duduk mengobrol di dalam rumah reyot itu.Saat mereka sedang menganalisis berbagai kemungkinan, Jimmy tiba-tiba merasakan adanya aura yang tidak biasa.Akhirnya datang juga! Jimmy tersenyum puas. Dia segera memberi isyarat kepada Sabrina dan Yunan.Kelopak mata keduany
Setelah itu, Jimmy juga menelepon tiga keluarga besar, yaitu Keluarga Saif, Keluarga Gutawa, dan Keluarga Riyardi. Ketiganya mengatakan bahwa masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka. Bahkan kalau Jimmy tidak mengungkitnya, mereka pun tidak tahu bahwa kejadian seperti itu pernah ada.Menjelang tengah hari, Sabrina dan Yunan kembali ke hotel. Saat menceritakan pengalaman mereka, Sabrina hanya bisa tertawa getir.Awalnya, dia berniat menyewa ekskavator dan berpura-pura akan meratakan rumah itu. Namun, begitu mendengar bahwa dia ingin menghancurkan rumah itu, pihak penyedia langsung mengusirnya.Bahkan ketika Sabrina menawarkan harga fantastis sebesar 1 miliar, mereka tetap bergeming. Dia bahkan ingin menyewa ekskavator, lalu mengoperasikannya sendiri hanya untuk berpura-pura, tetapi mereka tetap tidak mau.Sabrina bahkan hampir terpikir untuk membeli ekskavator sendiri!Saat Sabrina menceritakan hal itu kepada Jimmy, pemilik hotel tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa.
Malam makin larut dan suasana kian sunyi. Jimmy duduk sendirian di tengah reruntuhan yang dipenuhi rumput liar itu.Dengan bantuan cahaya dari ponsel, dia masih bisa melihat beberapa perabot yang telah lama lapuk.Tempat ini memang sudah sangat rusak. Namun, jejak kehidupan Sabrina dan Nara di masa lalu masih samar-samar terlihat.Jimmy sangat ingin bertemu dengan sosok yang disebut-sebut sebagai hantu itu. Sayangnya, harapan itu harus pupus.Dia sudah menunggu di antara reruntuhan yang dipenuhi ilalang itu sejak malam hingga fajar menyingsing, tetapi tidak ada satu pun hantu yang datang mencarinya.Sepanjang malam itu, Jimmy juga memikirkan banyak hal. Namun, satu hal tetap tidak bisa dia pahami.Apa sebenarnya tujuan orang itu diam-diam menjaga rumah tua yang nyaris roboh ini? Kalau memang ingin menunggu mereka kembali, bukankah lebih masuk akal jika rumah itu diperbaiki?Di satu sisi melarang siapa pun menyentuh rumah itu, di sisi lain membiarkannya hancur perlahan oleh waktu. Bukan
Tidak mungkin semua itu ulah arwah. Sabrina berdiri di sini dalam keadaan sehat walafiat, dari mana datangnya arwah?Setelah menceritakan berbagai kejadian aneh itu, sang nenek masih tak lupa mengingatkan mereka, "Hari sudah hampir gelap. Jangan di sini lagi, cepat pergi! Aku ini bukan mau nakut-nakuti kalian. Kalau nggak percaya, coba saja tanya orang-orang di kota. Pokoknya jangan sekali-kali berniat menguasai rumah itu.""Baik, baik, kami ngerti. Terima kasih atas peringatannya, Nek," jawab Jimmy sambil mengangguk berulang kali.Nenek ini berniat baik mengingatkan mereka. Mustahil Jimmy membantah dan mengatakan semua itu omong kosong.Orang lain boleh percaya. Yang jelas, mereka tidak percaya.Nenek itu memang berhati baik. Karena khawatir mereka tidak mendengarkan, dia bahkan menunggu sampai melihat mereka pergi dengan mobil sebelum akhirnya menghela napas lega dan meninggalkan tempat itu.Setelah kembali ke Kota Hijoar, mereka mencari sebuah rumah makan sederhana untuk makan malam
Ketiganya menoleh ke belakang dengan heran, memandang seorang nenek yang memanggul keranjang kecil di punggungnya.Usia nenek itu sudah cukup lanjut, tubuhnya sedikit membungkuk. Rambutnya pun hampir seluruhnya memutih. Sekilas, usianya mungkin sekitar 70 tahun.Apakah nenek itu sedang berbicara kepada mereka? Ketiganya saling memandang dengan bingung.Akhirnya, dari kejauhan Jimmy bertanya kepada sang nenek, "Nenek bicara sama kami?""Dasar anak ini, kalau bukan sama kalian, sama siapa lagi?" timpal sang nenek sambil melambaikan tangan kepada mereka. "Cepat kembali! Jangan dekati tempat angker itu!""Tempat angker?" Sabrina sedikit mengernyit, lalu menunjuk reruntuhan yang hampir tertelan rumput liar dan bertanya, "Maksud Nenek rumah tua ini?""Iya, iya!" Nenek itu mengangguk berulang kali, lalu mengingatkan dengan sungguh-sungguh, "Tempat itu aneh sekali! Kalian masih muda, jangan main-main sama nyawa sendiri."Aneh? Ketiganya kembali saling berpandangan. Rumah reyot seperti itu mema
"Pura-pura saja terus!" Rafael mendengus sinis, lalu berkata, "Laura, menurutku hari ini dia memang nggak punya niat baik. Dia sengaja datang ke sini buat bikin keributan supaya menyeret Keluarga Sucipto!""Dia lagi balas dendam sama kamu! Sama seperti terakhir kali, waktu dia fitnah kamu selingkuh
Jimmy!Secara pribadi, Jimmy sebenarnya tidak mencolok. Namun, transportasi yang dinaiki benar-benar mencolok!Di acara seperti ini, siapa yang tidak datang dengan mobil mewah? Dia malah naik skuter listrik butut. Mau tidak menarik perhatian pun sulit.Dalam sekejap, Jimmy langsung menarik perhatian
Begitu semua orang sadar kembali, kerumunan langsung gempar."Tsk, tsk, sampai bisa bikin Pak Howard dari Grup Horizon keluar sendiri buat menyambutnya. Pamornya benar-benar besar!""Orang sehebat itu malah datang naik skuter listrik, rendah hati banget ya?""Kamu nggak ngerti! Itu namanya percaya d
Setelah menerima telepon dari Laura, Jimmy masih agak bingung.'Yasmin salah minum obat? Kenapa dia cari masalah denganku? Sialan, bajingan mana lagi yang mengadu domba kami?''Jangan-jangan ... Rafael? Berengsek! Pasti bocah tolol itu!''Selain pamer dan cari muka, bajingan itu seharian cuma bisa c







