MasukLaura tidak terlalu biasa dengan panggilan Argani."Seharusnya iya." Yasmin mengangguk pelan.Laura berpikir sejenak, lalu menjawab, "Dia memang pernah bilang dia menyembuhkan penyakit Pak Argani. Tapi waktu itu kami semua nggak percaya, bahkan mengira dia sedang berbohong ...."Saat membicarakan hal itu, wajah Laura kembali menunjukkan rasa malu.Benar saja!Dugaan di dalam hati Yasmin akhirnya terkonfirmasi, dia pun tidak bertanya lagi.Setelah berbicara singkat dengan Laura, dia membawa rombongannya masuk ke aula.Saat itu aula sedang ramai dengan orang-orang yang saling bersulang, suasana sangat meriah. Namun begitu Yasmin dan rombongannya masuk, suasana langsung menjadi sedikit tegang. Semua orang menatap mereka dengan hati-hati, sambil diam-diam merasa bingung.Apa Broto menyinggung Yasmin? Atau Yasmin datang untuk mencari masalah hari ini?Di tengah kebingungan semua orang, Yasmin langsung berjalan menuju Broto. Kalau dulu, Broto pasti sudah merasa tidak tenang. Namun, sekarang
Mirip dengan orang itu?Ucapan Dorman langsung membuat Yasmin tercengang. Beberapa orang lainnya juga terkejut."Jangan-jangan kamu mau bilang kalau Jimmy itu orang hebat itu?""Dorman, kamu jangan bercanda!""Kalau dibilang tunangan Yasmin ini jago di bidang medis sih aku percaya, tapi kalau dibilang dia orang hebat itu, mati pun aku nggak percaya!""Benar! Mana mungkin!""Kalau dia sehebat itu, Yasmin pasti sudah benar-benar jadi miliknya sejak lama!"Untuk sesaat, semua orang langsung menggeleng dan menolak dugaan Dorman. Sekalian juga tidak lupa menggoda Yasmin.Yasmin bahkan berkata dengan yakin, "Dia nggak mungkin orang itu!"Dorman menggeleng. "Pendengaranku seharusnya nggak salah."Yasmin kembali menggeleng. "Mungkin saja suaranya mirip dengan orang itu. Di dunia ini bahkan ada orang yang wajahnya mirip, apalagi cuma suara?""Tapi bentuk tubuhnya juga agak mirip." Dorman berkata serius, "Malam itu aku memang nggak melihat wajahnya dengan jelas karena gelap, tapi garis besar tub
Argani yang ada di dalam mobil langsung menggeleng sambil tersenyum. "Jenderal Yasmin, kamu mikir kejauhan. Aku nggak bantu mendamaikan mereka.""Kamu?"Yasmin melangkah mendekat, lalu menatap Argani di dalam mobil dengan heran. "Kamu Argani? Cucu Keluarga Pratama?""Iya." Argani mengangguk sambil tersenyum.Mata Yasmin sedikit menyipit, lalu berkata, "Kebetulan sekali, aku memang ingin cari kamu. Nggak nyangka bisa ketemu di sini hari ini!""Cari aku?"Argani memandang Yasmin dengan bingung. Sepertinya dia tidak punya hubungan apa-apa dengan Yasmin. Untuk apa Yasmin mencarinya?"Benar, cari kamu!"Yasmin mengangguk, tatapannya tiba-tiba menjadi tajam. "Argani, aku peringatkan kamu, sebaiknya jangan bawa Jimmy melakukan hal-hal buruk. Kalau nggak, aku nggak akan melepaskanmu!"Mendengar peringatan Yasmin, tiga orang di dalam mobil langsung terdiam. Peringatan ini benar-benar tidak masuk akal. Argani bahkan tertawa getir. Apa maksudnya dia membawa Jimmy melakukan hal buruk?Apa yang bis
"Sepertinya mantan istrimu itu mulai menyesal sudah bercerai denganmu."Di dalam mobil, Argani tersenyum sambil membicarakan Laura.Soal Laura, Argani benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Hanya bisa bilang, dia contoh nyata orang yang punya kartu bagus tapi dimainkan dengan sangat buruk. Kalau saja Laura tidak bercerai dengan Jimmy, mana mungkin hidupnya jadi seperti ini?Kalau begitu, bukan dia yang mencari kerja sama ke sana kemari, tapi orang lain yang akan datang memohon kerja sama dengannya!"Mana ada soal menyesal atau nggak."Jimmy menggeleng sambil tersenyum getir. "Yang penting dia nggak benci aku saja sudah cukup."Kalau bukan karena dia tanpa sengaja mengetahui soal Laura meminta Yaniel membuat robot, mungkin tidak akan ada rangkaian kejadian setelah itu. Sekarang, hanya bisa bilang bahwa hidup memang sulit diprediksi.Argani tertawa kecil, lalu menggoda, "Kenapa dia benci kamu? Sekarang mungkin dia malah ingin rujuk denganmu."Rujuk?Jimmy melirik Argani dengan kesal.
Raut wajah Laura terlihat sangat buruk, dirinya tampak jauh lebih lesu. Jimmy berjalan mendekat dan berkata, "Turut berduka," lalu bertanya, "Kenapa nggak masuk kalau sudah telanjur datang? Kenapa malah diam di mobil?""Aku nggak masuk." Laura memaksakan senyum tipis, lalu menggeleng, "Aku datang untuk bertemu klien. Katanya dia sedang menghadiri acara di sini, jadi aku menunggunya di sini.""Siapa?" Jimmy tersenyum, "Mau aku bantu panggilkan supaya dia keluar dan bicara denganmu?""Nggak perlu repot, aku tunggu saja." Laura menggeleng lemah, "Aku nggak punya maksud lain, cuma kebetulan melihatmu, jadi sekalian menyapa."Laura memang tersenyum, tapi senyumnya sangat dipaksakan.Melihat ekspresinya seperti itu, Jimmy tidak bisa menahan rasa iba. Dia memang bukan wanita luar biasa, tapi setidaknya berasal dari keluarga terpandang. Dulu Laura memang sombong, tapi dalam setiap gerak-geriknya masih terlihat penuh percaya diri.Sekarang, dia tampak kehilangan kepercayaan diri, seperti orang
Saat Jimmy tiba, acara pertunangan sudah berjalan setengah.Broto awalnya ingin menempatkan Jimmy di meja tamu utama, tapi Jimmy tidak duduk di sana, dia memilih duduk satu meja dengan Zisel dan yang lainnya. Orang-orang di meja itu memang tidak semuanya akrab dengannya, tapi setidaknya semua pernah saling bertemu.Argani juga ada di sana.Saat ini Argani sedang sangat sibuk, tapi tetap datang menghadiri pertunangan Felix dan Noella. Bisa dibilang, ini sudah sangat menghargai Broto."Urusan pemakaman bibimu sudah selesai?" tanya Jimmy saat mengobrol santai dengan Zisel.Dua hari ini dia tidak menanyakan soal Keluarga Sucipto, jadi tidak tahu perkembangan selanjutnya."Kemarin baru selesai pemakamannya." Zisel menghela napas pelan. "Sebenarnya aku mau kasih tahu kamu, tapi kakek dan pamanku nggak mengizinkanku."Jimmy dan Laura sudah lama resmi bercerai. Sekarang hubungannya dengan Ervina benar-benar sudah tidak ada apa-apa. Soal pemakaman Ervina, memang tidak perlu memberitahunya.Jimm
Azzam memang sangat kuat!Meski usianya sudah lanjut, membelah batu bata dan menghancurkan batu sama sekali bukan hal sulit baginya. Bukan tidak ada orang di ibu kota provinsi yang pernah menantangnya, tetapi tidak satu pun yang menang.Para keluarga besar di sana bahkan berebut menjadikannya penasi
Keduanya berjalan keluar dari Restoran Sanusi. Begitu sampai di luar, Laura langsung menepis tangan Jimmy dengan kesal."Sekarang kamu puas banget ya?" Laura menatap Jimmy dengan jengkel.Jimmy menggeleng sambil tersenyum. "Cuma beresin dua sampah, nggak ada yang perlu dibanggakan.""Kamu ...." Laur
Melisa mengirim foto itu kepadanya, bukankah memang untuk memancingnya datang?Hanya Laura yang masih polos, mengira Melisa benar-benar mau memperkenalkan "orang penting" kepadanya!Wajah Laura menunjukkan sedikit kebingungan, lalu dia menatap Melisa dan Heston, meminta penjelasan."Ternyata kamu ng
Dua tamparan Jimmy tadi sama sekali tidak ringan. Begitu dua tamparan mendarat, kepala Melisa langsung berdengung. Dari sudut bibirnya mengalir sedikit darah.Saat Jimmy melepaskan tangannya, Melisa bahkan tidak bisa berdiri tegak. Tubuhnya oleng, lalu dia jatuh terduduk di lantai."Melisa!" Laura t







