LOGINJimmy tiba di Vila Halmon saat hari sudah pukul enam sore.Yasmin entah pergi ke mana, untuk sementara belum kembali. Edward si anak sialan itu, kembali menjadi koki dan sibuk sendiri di dapur.Jimmy duduk bersama Edgar, lalu langsung bertanya, "Bukannya kamu mau menunggu sampai aku dan cucu kesayanganmu mengurus akta nikah? Kenapa sekarang tiba-tiba mau pergi?""Apa, kamu nggak rela aku pergi?" tanya Edgar sambil tersenyum."Masalah rela atau nggak, bukan aku yang berhak menentukan." Jimmy tersenyum sambil menggeleng, "Aku cuma penasaran saja.""Penasaran?" Edgar tersenyum tipis, "Di satu sisi karena aku memang ada urusan di ibu kota, di sisi lain juga karena aku sudah memikirkannya dengan matang.""Sudah memikirkannya?"Jimmy terkejut, lalu berkata dengan senang, "Jadi, kamu memutuskan untuk membatalkan pertunangan?"Melihat mata Jimmy yang langsung berbinar, Edgar tak bisa menahan senyum.Cucunya itu setiap hari bilang Jimmy tidak tahu malu. Padahal sebenarnya, Jimmy benar-benar tid
Melihat keadaan Gwenny seperti itu, kepala pelayan jadi ragu dan tidak berani bertindak."Lakukan!" teriak Rita dengan marah. Kepala pelayan menguatkan hati, lalu tiba-tiba mengerahkan tenaga di tangannya.Krek!"Aaahhh!!" Lengan Gwenny dipatahkan, seketika terdengar jeritan menyayat hati."Tutup mulutnya!" Rita kembali memerintahkan, "Jangan sampai orang lain menertawakan keluarga kita!"Kepala pelayan tidak berani membangkang. Dia terpaksa menutup mulut Gwenny agar dia tidak terus berteriak."Mmhh ...."Wajah Gwenny terdistorsi karena rasa sakit, air mata mengalir deras tanpa henti. Rita tidak lagi menoleh pada cucunya, melainkan menatap dingin ke arah Jimmy, "Sekarang kamu puas?""Cukup." Jimmy sedikit mengangguk, "Kamu memang punya ketegasan seperti seorang wanita tangguh."Meskipun dia memandang rendah wanita tua ini, Jimmy tetap harus mengakui bahwa Rita memang cukup keras. Selain itu, dia juga tetap tenang di tengah kekacauan dan mampu mengambil keputusan dengan cepat.Orang sep
Benar-benar dipukul!Dengan satu ayunan tongkat itu, tulang tangan Rita sudah pasti hancur.Walaupun masih bisa disembuhkan dan tidak akan membuat cacat. Namun di usia Rita sekarang, tulang tangan yang remuk seperti itu pasti akan membuatnya menderita cukup lama.Semua orang menatap Jimmy dengan tercengang. Banyak yang mengira dia hanya menakut-nakuti Rita.Tak disangka, Jimmy benar-benar bertindak.Apa yang dia katakan, benar-benar dia lakukan! Jika Jimmy mengatakan akan mematahkan tangannya, berarti memang akan dilakukannya!"Nenek!" teriak Gwenny ketakutan. Kemudian, dia mundur dengan panik ke arah sekelompok preman itu. Sebelumnya, dia sama sekali tidak percaya Jimmy berani mematahkan tangannya.Namun sekarang, dia benar-benar percaya.Jimmy bahkan berani mematahkan tangan neneknya, apalagi tangannya?Wajah Gwenny tampak penuh ketakutan saat bersembunyi di belakang orang-orang itu, lalu berteriak, "Cepat selamatkan Nenek! Hajar dia sampai mati!"Mendengar teriakan Gwenny, semua ora
"Lumayan juga."Jimmy mengangkat bahu. "Katakan saja, kalian mau gimana?"Rita menoleh ke arah cucunya dan bertanya, "Dia pakai tangan yang mana memukulmu?""Dua-duanya!" kata Gwenny dengan wajah penuh amarah."Kamu salah ingat, ya?" Jimmy berkata sambil tersenyum, "Seingatku aku cuma pakai tangan kanan."Mata Gwenny menyala penuh amarah dan berteriak, "Aku bilang dua tangan ya dua tangan!""Baik!"Rita tidak ingin mendengar Jimmy "berkelit", lalu berkata dengan nada dingin, "Berlutut di tanah, biarkan cucuku menampar wajahmu sampai bengkak, lalu patahkan kedua tanganmu. Kalau begitu, urusan hari ini selesai!""Kamu yakin mau begitu?" Jimmy tersenyum tipis. "Aku sarankan kamu pikirkan lagi. Ingat nasihat Master Acharya tadi."Jimmy benar-benar tidak mengerti. Kenapa selalu ada orang yang merasa jumlah banyak berarti pasti unggul?Wanita tua ini mengaku percaya pada dewa, tapi sama sekali tidak punya belas kasih.Rita mendengus dingin, lalu berkata dengan nada meremehkan, "Dari sikapmu,
Mengetahui Gwenny membawa orang untuk mencari masalah, Jimmy segera bangkit dan mengucapkan terima kasih kepada Acharya, lalu mengikuti biksu kecil itu keluar.Acharya juga bergegas mengikuti mereka.Saat berjalan keluar kuil, Jimmy kembali bertanya, "Bagaimana pandangan Master Acharya tentang membunuh?"Acharya tersenyum. "Membunuh satu orang demi menyelamatkan seratus orang adalah kebajikan! Menghukum yang jahat dan menegakkan kebaikan juga merupakan kebajikan! Bahkan di ajaran agama, ada pula sosok penjaga yang murka."Jimmy mengangguk sambil tertawa, "Memang seharusnya begitu!" Dia sempat mengira Acharya akan mengatakan bahwa semua pembunuhan adalah dosa. Tak disangka, Acharya malah mengatakan hal seperti itu.Inilah yang disebut biksu agung sejati. Bukan orang yang hanya pandai mengucapkan belas kasih palsu.Tak lama kemudian, mereka sampai di luar. Di samping Gwenny sudah berdiri puluhan orang, sekitar 30-40 orang. Di antara mereka, ada seorang wanita tua yang berdiri dengan tong
"Penghalang batin?" Acharya sedikit terkejut, "Silakan Tuan Jimmy ceritakan."Jimmy merapikan pikirannya sejenak, lalu menceritakan masa lalunya secara singkat kepada Acharya. Ini juga pertama kalinya sejak ingatannya pulih, dia secara sukarela menceritakan masa lalunya kepada orang lain.Dari perkenalannya dengan Yunda, hingga kemudian pergi ke luar negeri untuk membantai, sampai berada di ambang menjadi iblis, lalu ingatan dan kekuatannya disegel selama lima tahun oleh Syamsul dengan mempertaruhkan nyawanya, serta tentang kedua orang tuanya.Meskipun Jimmy menceritakannya dengan singkat, tetap saja butuh lebih dari sepuluh menit untuk selesai. Setelah mendengar semuanya, Acharya pun terkejut.Setelah lama terdiam, Acharya menghela napas pelan. "Usiamu masih muda, tapi pengalamanmu bisa disebut legendaris."Jimmy menggeleng sambil tersenyum pahit. "Soal legendaris atau nggak, aku sendiri nggak tahu. Tapi aku bisa merasakan bahwa sifat iblis dalam tubuhku mulai bangkit kembali. Karena
Keduanya berjalan keluar dari Restoran Sanusi. Begitu sampai di luar, Laura langsung menepis tangan Jimmy dengan kesal."Sekarang kamu puas banget ya?" Laura menatap Jimmy dengan jengkel.Jimmy menggeleng sambil tersenyum. "Cuma beresin dua sampah, nggak ada yang perlu dibanggakan.""Kamu ...." Laur
Melisa mengirim foto itu kepadanya, bukankah memang untuk memancingnya datang?Hanya Laura yang masih polos, mengira Melisa benar-benar mau memperkenalkan "orang penting" kepadanya!Wajah Laura menunjukkan sedikit kebingungan, lalu dia menatap Melisa dan Heston, meminta penjelasan."Ternyata kamu ng
Dua tamparan Jimmy tadi sama sekali tidak ringan. Begitu dua tamparan mendarat, kepala Melisa langsung berdengung. Dari sudut bibirnya mengalir sedikit darah.Saat Jimmy melepaskan tangannya, Melisa bahkan tidak bisa berdiri tegak. Tubuhnya oleng, lalu dia jatuh terduduk di lantai."Melisa!" Laura t
Saat melihat wajah asli Jimmy dengan jelas, kelopak mata Izzul langsung berkedut keras. Rasa takut yang luar biasa langsung menyerang, hampir membuatnya jatuh terduduk di lantai.Izzul masih bisa memaksakan diri untuk berdiri, tetapi beberapa orang yang masuk bersamanya tidak punya ketenangan sepert







