Masuk"Apa Nona jatuh cinta dengan pria bernama Dion itu?”
“Tidak ada hal yang seperti itu Marie. Aku memilihnya karena potensinya sangat besar.” Jawab Irene santai. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju ruang makan. Selama berjalan, tak henti hentinya Marie menebak alasan Irene memilih seorang asing bernama Dion sebagai pengawal pribadi. “Tapi masih banyak sekali prajurit berpengalaman yang memiliki potensi sangat besar.” Satu sudut bibir Irene terangkat, memang banyak sekali prajurit yang lebih hebat dan berpengalaman untuk dijadikan pengawal pribadinya. Namun di masa depan, Dion Willton adalah anjing setia Erald yang menjadi pemimpin pasukan kerajaan. Dan tidak ada yang lebih baik selain menjadikan orang penting Erald sebagai orang orangnya. “Kau akan memahaminya suatu saat.” Balas Irene bertepatan dengan kedatangannya di ruang makan. Kedua saudaranya sudah berada di sana, bersama seseorang paling ia rindukan selama ini. Sang Ayah, William Veshane Ester. Duke Ester itu baru saja tiba setelah beberapa hari melakukan perjalanan ke perbatasan daerah. Hati Irene berdenyut melihat wajah tampan yang seolah tidak menua. Dengan cepat ia langsung memeluk erat tubuh William, dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang itu. “Selamat ulang tahun putri Ayah. Maaf, karena menjadi yang terakhir kali mengucapkannya.” Dengan sekuat tenaga Irene menahan air matanya, suara berat bernada lembut itu sangatlah ia rindukan bertahun tahun lamanya. “Aku sangat merindukanmu ayah.” “Maaf, sayangku. Padahal ayah hanya pergi selama seminggu.” Irene menarik diri dari pelukan hangat itu, rambut hitamnya diusak lembut oleh sang ayah. “Seminggu itu lama! Aku juga sangat merindukan ayah!” Sion menyambar sambil memainkan tangannya. “Cih, bukankah kau hanya rindu mengganggu ayah saat bekerja?” Sahut Arthur mendapatkan tatapan sinis dari sang bungsu. “Kakak tidak diajak berbicara!” “Sudahlah, mari kita makan.” Titah William membungkam mulut Arthur yang ingin menyahuti ucapan Sion. Irene hanya tertawa kecil, hatinya menghangat, momen momen seperti inilah yang sangat ia rindukan selama ini. Makanan pun di sajikan, dan selama acara makan berlangsung, Irene menatap seluruh keluarganya penuh makna. Di kehidupan sebelumnya, sang ayah akan meninggal dua tahun setelah Sion lumpuh, dalam perjalanan menuju kuil suci di pegunungan kerajaan sebelah, untuk mendapatkan obat bagi Sion. Irene tahu. Semua kematian keluarganya merupakan rencana dari keluarga kerajaan yang telah disusun sedemikian rupa. Mereka mengirimkan pembunuh bayaran untuk mencegat rombongan Duke William ketika melewati hutan perbatasan. “Ayah.” Panggil Irene setelah mereka menyelesaikan makan siang. “Ada apa?” “Aku ingin mengatakan suatu hal penting, tentang pendidikan Sion.” Duke William dan Arthur saling melempar pandang. “Pendidikanku?” Bingung Sion. “Kalian mungkin berencana memasukkan Sion ke akademi Regalis tahun ini. Agar kita bisa lebih mudah dalam mengawasinya.” “Kau sudah tau hal itu rupanya. Padahal ayah ingin membahas ini Minggu depan.” Mata Sion berbinar terang, “Aku akan dimasukkan ke akademi. Di sana pasti akan mendapat banyak teman!” Irene tersenyum miris, sayangnya di sanalah Sion akan kehilangan senyuman cerianya. Perundungan yang dialami sang adik akan berakhir membuatnya kehilangan kedua kakinya dan mengalami depresi. “Tapi sepertinya Sion akan lebih baik dimasukkan ke akademi Velmor. Meskipun jaraknya sedikit lebih jauh, tapi pendidikan di sana jauh lebih baik. Apalagi Sion sangat tertarik pada dunia luar kerajaan.” “Kak Irene benar! Ketika besar nanti aku ingin berjalan jalan mengelilingi seluruh dunia.” Duke William mengangguk, “Bagaimana menurutmu Arthur?” “Aku setuju saja, lagipula di sana aku punya banyak kenalan.” "Ayah akan mempertimbangkannya." Satu langkah awal Irene telah berhasil. Perubahan akademi yang akan dimasuki Sion akan memberikan efek kupu kupu, karna akademi Velmor tidak dalam wilayah kekuasaan penuh kerajaan. “Ayah, setelah ini aku akan ke ruanganmu. Ada perubahan kecil yang aku inginkan dalam acara besok.” “Perubahan?" Arthur merotasikan kedua matanya, "Ayolah, apa kau ingin membuat kepala pelayan bekerja dua kali lipat?" "Kak Arthur keterlaluan. Ini adalah acara kak Irene, terserah jika kakak menginginkan perubahan.” Sahut Sion sembari menatap sinis sang kakak sulung, menciptakan senyum tipis di bibir Irene. “Tenang saja, kepala pelayan tidak akan kerepotan. Ini hanya perubahan kecil.”Mereka berdua terus berjalan dengan santai. Namun tiba tiba Irene merasakan sesuatu yang aneh saat melewati sebuah pintu. Ada sebuah aura aneh yang membuatnya seketika menghentikan langkah.“Ada apa Nona Ester?”Mata Irene menyisir pintu tersebut dengan teliti. Dari tampilan sebenarnya tidak ada yang aneh. Namun, tempat tersebut seolah menariknya untuk mendekat.“Ruangan apa itu?”Zoey menggaruk pelipisnya sebelum menjawab, “Itu adalah ruangan pribadi Tuan Duke Nona. Selama ini hanya beberapa orang saja yang diizinkan masuk ke dalam sana, saya juga tidak tahu pasti tentang isi ruangan tersebut.”Irene tampak terdiam sebentar, kemudian kembali berjalan menuju taman.Jarak antara taman dan ruangan tadi tidaklah jauh, hanya menghabiskan waktu tak sampai satu menit, kini keduanya telah sampai.Begitu masuk, mereka langsung disambut dengan ratusan, atau bahkan mungkin ribuan tangkai mawar berwarna merah. Tanpa adanya satupun tumbuhan atau bunga lain.Dapat Irene rasakan, aroma manis sepert
Irene memandangi sekeliling kamar tempatnya terbangun. Sebuah ruangan asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya.Interiornya tampak mewah, dipenuhi sentuhan hitam elegan yang menciptakan kesan dingin namun anggun. Tak ada satupun sudut ruangan ini yang terasa familiar, seolah ia dilemparkan ke dalam dunia baru.Ia masih mengingat dengan jelas kejadian semalam, saat penyerangan itu terjadi dan dirinya pingsan di pinggiran hutan.Mungkinkah ada seseorang yang menolongnya, atau ia telah tertangkap oleh pasukan hitam semalam. Namun sepertinya mustahil jika seorang bangsawan secara kebetulan menemukannya di jalur hutan, karena tempat itu tak pernah dilewati oleh kereta maupun patroli keamanan.Irene menurunkan kakinya dari ranjang mewah, ia baru menyadari jika gaun yang dikenakannya semalam sudah berganti dengan gaun sederhana berwarna putih.Tidak ada prasangka apapun mengenai gaun tersebut, karena dia yakin jika pelayan di sinilah yang menggantikannya.Langkah Irene pelan, namun pasti, m
Suara siulan pendek terdengar seolah menjadi sinyal, dan seketika hujan panah melesat dari berbagai arah.Dentingan pedang beradu memenuhi udara. Dion dengan sigap melompat turun dari kudanya dan berlari ke arah kereta, tubuhnya menghalangi Irene yang hendak keluar.“Anda harus segera pergi dari sini Nona. Kita telah kalah jumlah.”Wajah Dion telah dipenuhi keringat dan debu, namun sorot matanya tak goyah. “Setidaknya tiga kali lipat dari jumlah pasukan kita!”Kereta Irene dikepung dari semua arah. Jalan depan diblokir, jalan belakang dipasangi paku paku besi yang membuat roda kereta sulit bergerak. Di sisi-sisi hutan, puluhan pemanah bayangan muncul satu per satu.Sebuah panah melesat ke arah Dion.Braak!ditangkis oleh pengawal di belakangnya, namun lelaki itu tetap terguncang mundur.“Jangan turun!” serunya ke arah Irene yang hendak membuka pintu. “Terlalu berbahaya!”Irene menahan diri. Ia meraih busur kecil dari peti senjata di bawah tempat duduknya, membuka jendela hanya sedikit
Kendrick mengangkat sebelah alis, wajahnya dipenuhi ekspresi heran sekaligus geli. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi reot dengan gerakan malas, kedua kakinya disilangkan santai di atas meja, tepat di hadapan Irene.“Begitu cepat? Biasanya wanita minta makan malam dulu sebelum mengajukan permintaan semacam itu.”Irene mengerutkan dahi, namun tetap tenang. “Aku sedang tidak dalam suasana bercanda.”Kendrick menyeringai, memperlihatkan lesung pipi samar yang tak sesuai dengan reputasinya sebagai pembunuh bayaran.“Justru itu masalahnya. Kau terlalu serius. Dunia ini sudah cukup suram, Lady Irene. Sedikit humor tak akan membunuhmu.”“Aku bisa membunuhmu, kalau kau terlalu banyak bicara.” Balas Irene dingin.Ia tertawa kecil, geleng-geleng kepala. “Kau menarik juga, ya. Biasanya para bangsawan yang datang padaku menggigil ketakutan. Tapi kau? Kau mengancamku seperti sedang memarahi pelayan.”“Aku bukan bangsawan biasa.”“Ya, ya. Sudah kudengar.” Kendrick menurunkan kakinya dari meja, akhir
“Bagaimana?”“Cukup mengejutkan Tuan. Tanah yang ditemukan Lady Irene ternyata memiliki emas yang sangat berlimpah. Keluarga Ester sekarang sedang mengusahakan agar tambang itu tidak di ambil alih kerajaan.”Luke menghentikan tulisannya sejenak, “Yah, sudah kuduga. Irene memang bukan gadis biasa. Dia mengetahui banyak hal. Tatapannya penuh dendam, seolah kembali dari kematian yang buruk… semakin menarik.”“Kematian?” Bingung Hendry dijawab anggukan pelan oleh majikannya.“Kematian di masa depan. Yang penuh dengan penghinaan.”Hendry semakin bingung, ia tak memahami apa yang dimaksud Luke saat ini.“Apa di masa depan, Lady Irene akan mengalami kematian yang penuh dengan penghinaan?” Tebaknya, membuat sang Duke menoleh.“Tidak ada yang mengetahui masa depan Hendry. Kirimkan Ben untuk tetap mengawasi Irene, jangan sampai kejadian malam tadi terulang kembali.”Hendry menundukkan kepalanya, “Baik, Tuan Duke.”“Apa saya juga perlu mencari dalang penyerangan Lady Irene?”“Tidak,” Luke menjed
Arthur menatap Irene sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku masih tak menyangka kau ternyata sudah sebesar ini.”“Kita hanya berbeda beberapa tahun kak.”Netra hazel sulung Ester itu kembali menatap sang adik.“Tapi di mataku, kau tetap masih kecil.”Irene membalas tatapan kakaknya, “Apa ada anak kecil yang berinvestasi dengan membeli tanah berisi emas?”“Tidak.” Jawab Arthur cepat, “Tapi kau berkata hanya iseng membeli tanah itu di lelang.”“Bukankah firasatku luar biasa?” Kata Irene sembari menaikturunkan alisnya, menciptakan tawa ringan yang jarang terdengar dari Arthur.Suasana santai tercipta di taman, membuat hati Irene perlahan menghangat.Selama lebih dari tiga puluh tahun menjalani hidup, ia menyadari. Hanya keluarganya lah yang mencintai tanpa pamrih, menyayangi tanpa batas, dan melindungi tanpa pernah diminta.Hanya dengan keluarganya, Irene bisa diterima tanpa memandang siapapun dirinya.“Aku akan pergi malam ini.” Ucap Arthur tiba tiba.“Lagi?”Anggukan diberikan sang kakak







