Home / Urban / Kebangkitan Sang Raja Teknologi / Bab 68. Pertama, Serang Manusianya

Share

Bab 68. Pertama, Serang Manusianya

Author: KiraYume
last update Last Updated: 2025-08-27 23:10:07

Di bunker Quantix, waktu seakan berjalan lebih lambat. Dua puluh empat jam telah berlalu sejak Freya dan Leo menghilang. Tapi tidak ada tuntutan. Tidak ada pesan, menimbulkan pertanyaan yang terus berputar.

“Untuk apa mereka menculik Freya dan Leo?”

Kinar muncul kembali di layar besar, wajahnya kusut oleh kelelahan. Rambut yang biasanya rapi kini agak berantakan, matanya sedikit sembab.

“Rencana Rayhan butuh waktu,” katanya, nada suaranya berat. “Para informannya sedang bekerja, tapi ngelacak van hitam ilegal di kota sebesar ini … itu udah kayak nyari jarum di tumpukan jerami.”

Raven duduk di kursinya, bahunya jatuh, tapi sorot matanya masih menyala dengan kegelisahan. Matanya merah, jelas ia belum tidur. Tangannya terkepal di pangkuan, seakan menahan dirinya sendiri agar tidak meledak.

“Kita nggak bisa menunggu,” ujarnya, suaranya parau namun tegas. “Setiap jam yang berlalu, Freya dan Leo berada dalam bahaya yang lebih besar. Kita harus mencari jalan kita sendiri.”

Dia menoleh ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Sang Raja Teknologi   Bab 76. Jiwa Yang Terancam

    “Oke, santai bro… becanda. Oke, tiga menit,” ujar Raven, kali ini lebih pelan, meski nada sinisnya masih samar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara pengap bercampur karat, lalu menempelkan telapak tangannya lebih kuat ke besi licin. Tangannya sudah basah, entah oleh keringat atau air yang menetes dari dinding.Ia terus naik. Satu langkah. Dua langkah. Tubuhnya menegang, setiap gesekan sarung tangan, karat menempel, meninggalkan warna kusam yang memudar.Ketika akhirnya sampai di puncak, Raven menempelkan bahunya ke palka. Ia mendorong perlahan. Engsel tua itu berdecit lirih, suara yang terdengar terlalu jelas di telinga, membuatnya refleks berhenti. Ia menahan napas. Seluruh tubuhnya diam membeku, hanya jantungnya yang masih berdenyut cepat. Ia menunggu. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada gerakan. Tidak ada tanda-tanda reaksi.“Aman,” suara Tirta terdengar, lega. Setelah drone serangga kecil itu sudah melayang keluar lebih dulu, sayapnya nyaris tak mengel

  • Kebangkitan Sang Raja Teknologi   Bab 75. Dalam Lorong Bawah Tanah

    Raven menunduk, menatap lingkaran besi tua yang menutup mulut got di bawah kakinya. Jalanan malam itu lengang. Lampu jalan redup, suara mesin kendaraan hanya sesekali terdengar jauh. Jari-jarinya yang berbalut sarung tangan hitam menelusuri permukaan dingin itu, memastikan tidak ada yang mengintai dari balik bayangan.Di sampingnya, Tirta merogoh tasnya dengan cekatan. Satu per satu, alat-alat keluar dan diletakkannya di tanah. Smartwatch beserta tablet kecil yang menyala dengan cahaya biru, binocular berlapis lensa hijau, sebuah drone mungil yang tampak rapuh, hingga sepasang alat pertahanan kecil yang lebih menyerupai mainan dibanding senjata. Raven tersenyum tipis, meski matanya tetap dingin. Ia lalu menekan tombol kecil di telinga kanannya. “Kalian dengar suaraku?”Suara Kinar terdengar jelas dari seberang jalan. “Terdengar jelas, Raven. Ingat. Jangan banyak gaya, fokus saja.”Raven berjongkok, menempelkan telinga ke permukaan penutup got. Hanya suara tetes air samar yang terdeng

  • Kebangkitan Sang Raja Teknologi   Bab 74. Di Waktu Yang Tersisa

    “Raven benar. Kita tidak bisa langsung menyerbu,” suara Kinar terdengar tegas dari layar panggilan video, seolah mengambil alih ruangan meski ia hanya berupa proyeksi. Tatapannya menusuk, nada suaranya tanpa kompromi. “Kita bahkan belum tahu berapa banyak orang yang ada di dalam, seberapa berat persenjataan mereka, dan yang paling penting, di mana tepatnya Freya dan Leo disekap. Satu langkah gegabah bisa berarti kehilangan mereka selamanya.”Kata-katanya membuat ruangan bunker sejenak membeku. Semua orang tahu Kinar benar, tapi mengakui kebenaran itu berarti menelan frustrasi mereka sendiri.“Kita butuh intelijen,” lanjutnya, nada suaranya turun sedikit, lebih dingin tapi tak kalah mantap. “Kita butuh mata di dalam, sebelum kita bicara soal penyelamatan.”Tirta sudah mencondongkan tubuh ke layar komputer, jemarinya bergerak cepat. “Aku akan coba meretas jaringan di sekitar area itu. CCTV publik, lalu lintas Wi-Fi industri, bahkan sinyal satelit yang lewat. Akan ada celah. Entah itu k

  • Kebangkitan Sang Raja Teknologi   Bab 73. Segalanya Bertemu

    Clara menegakkan punggungnya. Dari tadi ia hanya memperhatikan, membiarkan Raven dan Tirta bertukar dugaan. Kini potongan puzzle itu mulai merangkai pola yang familiar baginya. “Ini masuk akal,” ucapnya mantap. “Radja nggak akan menyewa tim profesional papan atas seperti Dominion. Terlalu mahal, terlalu berisiko. Yang dia butuhkan justru tim bayaran kelas menengah, cukup terlatih tapi mudah diatur. Orang-orang yang efektif, tapi tidak sempurna. Orang-orang yang cukup ceroboh untuk menjatuhkan SD card di TKP.”Raven menghela napas panjang, menutup matanya sesaat. Ada kelelahan yang berat, bercampur dengan rasa getir karena jawaban itu terasa begitu dekat. “Ya. Bukannya nggak mungkin,” katanya pelan, lalu membuka mata menatap Clara. “Kita tahu siapa musuh kita sejak awal. Kita terlalu banyak distraksi hingga melupakan lawan kita yang sebenarnya.”Clara menjahit serangkaian benang-benang logika. “Jadi, penculikan ini…” ia menatap layar laptop yang masih memunculkan foto itu, “…adalah

  • Kebangkitan Sang Raja Teknologi   Bab 72. Mengubah Segalanya

    “Kami sudah mencoba membukanya,” kata Kinar, suaranya pelan tapi tegang. Ia mengangkat kartu memori mungil itu di depan kamera, seolah memperlihatkan artefak kuno. “Selain fisiknya sudah rusak, kemungkinan besar datanya juga terenkripsi. Tim forensik kepolisian bilang butuh waktu berminggu-minggu untuk pulihkannya.” Ia berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah Raven. “Apa kalian bisa melakukan sesuatu?”Raven mencondongkan tubuhnya ke depan, sorot matanya menyala dengan harapan yang sudah lama meredup. “Apakah kau bisa mengirimkannya?”Tanpa banyak kata, Kinar mengangguk. “Bisa, kita punya kurir khusus. Jalur tercepat.”Beberapa jam kemudian, kurir bersenjata memasuki bunker Quantix. Kotak kecil bersegel diserahkan ke Raven, seolah mereka sedang menerima relik berharga. Dengan hati-hati, Raven membuka segel itu, lalu meletakkan SD card ke atas meja kerja.“Baiklah,” gumamnya. “Mari kita lihat rahasia kecil apa yang kau sembunyikan.”Raven menatap kartu memori kecil itu seakan se

  • Kebangkitan Sang Raja Teknologi   Bab 71. Itu Adalah Serpihan Bukti

    Raven berdiri di depan papan tulis digital, stylus di tangannya mengetuk perlahan. Nafasnya panjang, seperti sedang merangkai benang kusut di kepalanya. Tim lain menunggu, hening, hanya bunyi kipas server yang terdengar di bunker.“Baik,” katanya akhirnya, menuliskan garis besar dengan huruf besar dan tegas:INSIDEN SATU – Pengintaian : Senyap, presisi. Menggunakan teknologi spectral imaging. Tujuannya mengumpulkan informasi. Tidak ada korban.Raven berhenti sejenak, menoleh ke Clara dan Tirta, lalu melanjutkan:INSIDEN DUA – Penculikan : Kasar, brutal. Menggunakan truk lapis baja, kekerasan terang-terangan. Tujuannya membawa Freya dan Leo secara fisik. Berisiko tinggi.Dua kolom besar itu kini berdiri berdampingan di layar. Kontrasnya terasa mencolok, seakan dua tangan yang berbeda menggambar dengan tinta yang tak sama.Raven menoleh lagi ke timnya. “Sekarang, apa yang bisa kita simpulkan? Dari sudut pandang strategis, kedua operasi ini… tidak berasal dari prinsip yang sama.”Clara b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status