MasukRamli masih berdiri di tempatnya dan kepala pelayan itu seolah sedang melihat orang penting padahal di depannya hanya pria biasa yang sedang mencari keberadaan Vina dan anak-anaknya. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu jika ini adalah Tuan, sungguh! Saya tidak tahu!" lanjut kepala pelayan itu sambil menundukkan kepalanya di hadapan Ramli yang masih memunggunginya seolah sedang memberikan hormat. Meskipun ia tidak melihat wajahnya dengan jelas, tapi dari warna suara khas seorang Aland sudah sangat bisa dikenali. Orang-orang yang ada di sana ikut terkejut dengan sikap kepala pelayan yang mendadak baik, padahal mukanya sangat garang dan kejam seperti wajah Tuan Takur di film-film India. Ramli pun perlahan menoleh. Dilihatnya kepala pelayan itu masih menundukkan wajahnya. Lalu Ramli mendekat dan berkata kepada pria itu. "Aku harap kamu tutup mulut dan jangan sampai ada orang yang tahu ini adalah aku, mengerti!" katanya sangat lirih. Kepala pelayan itu langsung patuh dan tidak memb
Vina kembali menjawabnya dengan santai. Terlihat di wajahnya yang tenang dan tidak terlalu marah dengan ucapan sahabatnya itu. "Ramli bukan sembarang pelayan, mungkin bagi orang yang belum tahu bagaimana dia pasti menganggap dia pelayan kampung, tapi aku tidak melihat seperti itu. Ramli itu bukan pelayan biasa!" katanya dengan lembut. Monica cukup tertarik mendengar jawaban Vina. Ia menaikkan salah satu alisnya. Entah kenapa ia merasa sahabatnya itu memandang pelayan itu dengan tatapan lain. "Hello, Vina! Kamu ngomong kayak gini kayak bukan Vina yang aku kenal dulu loh. Sejak kapan kamu mengagumi pelayan, Beb? Ini bukan dirimu, Vin!" kata Monica dengan senyum miringnya. Vina tersenyum lagi. Wanita itu menghela napas panjang sambil menatap kedua anak Ramli. "Salah satu alasanku adalah, mereka!" Vina jelas-jelas menunjuk ke arah Bagas dan Ayu meskipun hanya dengan tatapan bola matanya. Monica menoleh dan masih tidak mengerti. "Mereka? Anak-anak pelayan itu? Astaga, Vina! Uda
Ramli tahu arah tatapan mata Monica. Pria itu mengira jika Monica pasti mengenali bekas lukanya di siku. Dengan cepat Ramli menyembunyikannya dengan mengalikan perhatian Monica. "Maaf Mbak, Nona, Bu, eh Tante, itu hiasan bajunya mau copot!" kata Ramli sambil menunjuk ke arah dada Monica, di mana ada sebuah hiasan pita baju berbentuk kupu-kupu di tengah belahan dada yang terlihat hendak copot. Sontak Monica melihat ke arah dadanya yang besar. Memang benar, hiasan pita itu hampir saja terlepas. Di sisi lain Vina langsung menatap wajah Ramli dengan tajam. Ramli tahu kenapa Vina menatapnya seperti itu. Seakan-akan dirinya sedang mengambil kesempatan untuk melihat bentuk buah dada Monica yang besar. Ramli menatap gugup dan memelas, berharap Vina tidak salah paham terhadapnya. Sementara itu Monica segera merapikan kembali pita tersebut dengan wajah cuek tanpa melihat ke arah Ramli. Seolah dirinya tak sudi melihat wajah pelayan itu. "Shit! Pasti Vina berpikiran macam-macam." Seketi
"Oh, itu Ramli, dia pelayanku, dan anak-anak itu adalah anaknya!" jawab Vina. Monica langsung membelalakkan matanya mendengar jawaban Vina. Bagaimana bisa Vina membawa pelayan dan anak-anaknya kw Mall yang tentunya pasti banyak mata yang melihat. Seorang wanita sosialita sepertinya nggak malu membawa pelayan ke tempat umum, apalagi melihat penampilan Ramli yang benar-benar membuat mata para wanita menjadi sepet. Beruntung Ramli memakai masker sehingga Monica tidak akan mudah mengenalinya. "Pelayan kamu! Astaga Vina! Kenapa kamu bawa pelayan kampung itu keliling mall, beb? Sorry, bukannya aku ngehina kamu. Tapi coba pikir deh! Itu orang ya ampun engga enak banget dilihatnya. Masa iya ke mall pakai sendal jepit yang talinya udah jamuran gitu. Vina plis dehh!" kata Monica sambil berbisik menatap wajah Ramli dengan tatapan jijik. Vina cuma tersenyum, bagaimana pun Ramli di mata perempuan lain, baginya Ramli adalah pria yang paling tampan sedunia. "Tidak apa-apa, aku memang sengaja
Vina terlihat begitu akrab dengan perempuan bernama Monica itu. Anak-anak Ramli nampak bersama ayah mereka karena tak ingin mengganggu Vina yang sedang bertemu dengan temannya. Di sisi lain Ramli masih belum mau menoleh, pria itu pura-pura melihat orang-orang yang sedang lalu lalang di sekitarnya. "Ayah, ada temannya Bu Vina. Temannya cantik ya, Yah! Kenapa ya orang kota itu mukanya cantik-cantik, putih, bersih. Nggak kayak di kampung, mbak-mbak di kampung mukanya nggak sebening ini!" kata Bagas, anak laki-laki Ramli yang sudah bisa menilai bagaimana perempuan cantik itu. "Eh, orang kota itu perawatannya mahal. Sampai ratusan juta segala. Jadi wajar mukanya pada mulus, bening, lalat hinggap aja kepleset. Kalau perempuan desa mukanya asli dan natural. Lihat aja wajah nenek kalian, meskipun udah tua tapi mukanya masih bersih dan natural karena nggak tersentuh bahan kimia. Tapi ayah juga suka kok sama wanita desa. Buktinya ayah mau nikah sama ibu kalian!" jawab Ramli sembari mengac
"Serius!" Rangga sendiri juga antusias dengan laporan dari anak buahnya. "Kami sudah menemukan identitas mereka, hanya saja sekarang mereka tidak ada di desa. Sumber mengatakan mereka dibawa pria itu pergi ke sebuah tempat! Jadi, kami masih belum tahu di mana keberadaan mereka!" ungkap anak buah Rangga. "Pria? Apa itu Aland?" Rangga bertanya dengan sangat penasaran. Lebih-lebih Tuan Andreas yang juga ikut mendengarkannya. "Menurut informasi sepertinya begitu. Kata mereka, nenek tua itu dan anaknya menemukan pria yang sedang terluka parah dan bertepatan dengan hilangnya jasad Aland Orlando di sekitar lereng gunung itu. Dan kami sangat yakin sekali bahwa itu memang Aland Orlando, dan setelah kami berikan perbandingan foto Aland dan pria yang ditemukan, ternyata memiliki banyak kemiripan!" ungkap pria itu, mengingat saat ditemukan wajah Aland sudah rusak dan susah untuk dikenali. "Cari sampe ketemu! Aku ingin hidup Aland hancur seperti di dalam neraka, sebelum aku mati, aku ingin







