Beranda / Urban / Ah! Mantap Mas Ramli / Bab 176 duda ting-ting

Share

Bab 176 duda ting-ting

Penulis: Miss Luxy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 21:18:56

Setelah berkata dengan Ramli. Lalu Rangga menatap istrinya nanar. "Dan kamu, Vin! Aku nggak nyangka kamu mengusirku hanya karena kamu bela mereka! Aku harap kamu tidak akan menyesal!" katanya sebelum keluar dari rumah. Vina tidak membalasnya dengan panjang lebar karena ia sudah malas bicara dengan suaminya. Namun cuma beberapa patah kata saja yang terucap dari bibirnya.

"Sampai ketemu di pengadilan, Mas!"

Singkat, padat dan sangat jelas. Kali ini Vina tidak main-main dengan ucapannya. Seketika Rangga langsung pergi tanpa pamit.

Akhirnya pria itu meninggalkan rumah yang selama ini ia tempati bersama Vina selama lima tahun.

Setelah Rangga pergi. Bagas dan Ayu lekas menghampiri ayah mereka yang sedang terluka. Terlihat darah cukup banyak keluar dari dada Ramli dan membasahi kaus yang dikenakannya.

"Ayah, ayah terluka!" kata

Bagas yang sangat khawatir dengan keadaan sang ayah. Begitu juga dengan Ayu yang justru terlihat sedang menangis.

"Ayah, ayah nggak kenapa-kenapa, kan!
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Miss Luxy
siap, kakak. ...️
goodnovel comment avatar
Chippy Ray
mohon uploadnya yang banyak yaaa ini sedikit banget
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 184 pertanyaan Vina

    Ramli masih berdiri di tempatnya dan kepala pelayan itu seolah sedang melihat orang penting padahal di depannya hanya pria biasa yang sedang mencari keberadaan Vina dan anak-anaknya. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu jika ini adalah Tuan, sungguh! Saya tidak tahu!" lanjut kepala pelayan itu sambil menundukkan kepalanya di hadapan Ramli yang masih memunggunginya seolah sedang memberikan hormat. Meskipun ia tidak melihat wajahnya dengan jelas, tapi dari warna suara khas seorang Aland sudah sangat bisa dikenali. Orang-orang yang ada di sana ikut terkejut dengan sikap kepala pelayan yang mendadak baik, padahal mukanya sangat garang dan kejam seperti wajah Tuan Takur di film-film India. Ramli pun perlahan menoleh. Dilihatnya kepala pelayan itu masih menundukkan wajahnya. Lalu Ramli mendekat dan berkata kepada pria itu. "Aku harap kamu tutup mulut dan jangan sampai ada orang yang tahu ini adalah aku, mengerti!" katanya sangat lirih. Kepala pelayan itu langsung patuh dan tidak memb

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 183 dilarang masuk

    Vina kembali menjawabnya dengan santai. Terlihat di wajahnya yang tenang dan tidak terlalu marah dengan ucapan sahabatnya itu. "Ramli bukan sembarang pelayan, mungkin bagi orang yang belum tahu bagaimana dia pasti menganggap dia pelayan kampung, tapi aku tidak melihat seperti itu. Ramli itu bukan pelayan biasa!" katanya dengan lembut. Monica cukup tertarik mendengar jawaban Vina. Ia menaikkan salah satu alisnya. Entah kenapa ia merasa sahabatnya itu memandang pelayan itu dengan tatapan lain. "Hello, Vina! Kamu ngomong kayak gini kayak bukan Vina yang aku kenal dulu loh. Sejak kapan kamu mengagumi pelayan, Beb? Ini bukan dirimu, Vin!" kata Monica dengan senyum miringnya. Vina tersenyum lagi. Wanita itu menghela napas panjang sambil menatap kedua anak Ramli. "Salah satu alasanku adalah, mereka!" Vina jelas-jelas menunjuk ke arah Bagas dan Ayu meskipun hanya dengan tatapan bola matanya. Monica menoleh dan masih tidak mengerti. "Mereka? Anak-anak pelayan itu? Astaga, Vina! Uda

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 182 memanusiakan manusia

    Ramli tahu arah tatapan mata Monica. Pria itu mengira jika Monica pasti mengenali bekas lukanya di siku. Dengan cepat Ramli menyembunyikannya dengan mengalikan perhatian Monica. "Maaf Mbak, Nona, Bu, eh Tante, itu hiasan bajunya mau copot!" kata Ramli sambil menunjuk ke arah dada Monica, di mana ada sebuah hiasan pita baju berbentuk kupu-kupu di tengah belahan dada yang terlihat hendak copot. Sontak Monica melihat ke arah dadanya yang besar. Memang benar, hiasan pita itu hampir saja terlepas. Di sisi lain Vina langsung menatap wajah Ramli dengan tajam. Ramli tahu kenapa Vina menatapnya seperti itu. Seakan-akan dirinya sedang mengambil kesempatan untuk melihat bentuk buah dada Monica yang besar. Ramli menatap gugup dan memelas, berharap Vina tidak salah paham terhadapnya. Sementara itu Monica segera merapikan kembali pita tersebut dengan wajah cuek tanpa melihat ke arah Ramli. Seolah dirinya tak sudi melihat wajah pelayan itu. "Shit! Pasti Vina berpikiran macam-macam." Seketi

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 181 bekas luka

    "Oh, itu Ramli, dia pelayanku, dan anak-anak itu adalah anaknya!" jawab Vina. Monica langsung membelalakkan matanya mendengar jawaban Vina. Bagaimana bisa Vina membawa pelayan dan anak-anaknya kw Mall yang tentunya pasti banyak mata yang melihat. Seorang wanita sosialita sepertinya nggak malu membawa pelayan ke tempat umum, apalagi melihat penampilan Ramli yang benar-benar membuat mata para wanita menjadi sepet. Beruntung Ramli memakai masker sehingga Monica tidak akan mudah mengenalinya. "Pelayan kamu! Astaga Vina! Kenapa kamu bawa pelayan kampung itu keliling mall, beb? Sorry, bukannya aku ngehina kamu. Tapi coba pikir deh! Itu orang ya ampun engga enak banget dilihatnya. Masa iya ke mall pakai sendal jepit yang talinya udah jamuran gitu. Vina plis dehh!" kata Monica sambil berbisik menatap wajah Ramli dengan tatapan jijik. Vina cuma tersenyum, bagaimana pun Ramli di mata perempuan lain, baginya Ramli adalah pria yang paling tampan sedunia. "Tidak apa-apa, aku memang sengaja

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 180 segede melon

    Vina terlihat begitu akrab dengan perempuan bernama Monica itu. Anak-anak Ramli nampak bersama ayah mereka karena tak ingin mengganggu Vina yang sedang bertemu dengan temannya. Di sisi lain Ramli masih belum mau menoleh, pria itu pura-pura melihat orang-orang yang sedang lalu lalang di sekitarnya. "Ayah, ada temannya Bu Vina. Temannya cantik ya, Yah! Kenapa ya orang kota itu mukanya cantik-cantik, putih, bersih. Nggak kayak di kampung, mbak-mbak di kampung mukanya nggak sebening ini!" kata Bagas, anak laki-laki Ramli yang sudah bisa menilai bagaimana perempuan cantik itu. "Eh, orang kota itu perawatannya mahal. Sampai ratusan juta segala. Jadi wajar mukanya pada mulus, bening, lalat hinggap aja kepleset. Kalau perempuan desa mukanya asli dan natural. Lihat aja wajah nenek kalian, meskipun udah tua tapi mukanya masih bersih dan natural karena nggak tersentuh bahan kimia. Tapi ayah juga suka kok sama wanita desa. Buktinya ayah mau nikah sama ibu kalian!" jawab Ramli sembari mengac

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 179 bertemu Monica

    "Serius!" Rangga sendiri juga antusias dengan laporan dari anak buahnya. "Kami sudah menemukan identitas mereka, hanya saja sekarang mereka tidak ada di desa. Sumber mengatakan mereka dibawa pria itu pergi ke sebuah tempat! Jadi, kami masih belum tahu di mana keberadaan mereka!" ungkap anak buah Rangga. "Pria? Apa itu Aland?" Rangga bertanya dengan sangat penasaran. Lebih-lebih Tuan Andreas yang juga ikut mendengarkannya. "Menurut informasi sepertinya begitu. Kata mereka, nenek tua itu dan anaknya menemukan pria yang sedang terluka parah dan bertepatan dengan hilangnya jasad Aland Orlando di sekitar lereng gunung itu. Dan kami sangat yakin sekali bahwa itu memang Aland Orlando, dan setelah kami berikan perbandingan foto Aland dan pria yang ditemukan, ternyata memiliki banyak kemiripan!" ungkap pria itu, mengingat saat ditemukan wajah Aland sudah rusak dan susah untuk dikenali. "Cari sampe ketemu! Aku ingin hidup Aland hancur seperti di dalam neraka, sebelum aku mati, aku ingin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status