LOGINTeriakan Bu Lastri sepertinya tidak mempengaruhi Vina. Wanita itu sengaja memberikan pelajaran berharga pada wanita itu agar tidak seenaknya menuduh orang sembarangan. Begitu juga dengan Agus dan Pras. Hari itu juga mereka dibawa ke pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Tapi sepertinya Pras masih memiliki dendam pada Aland. Saat pria itu diborgol polisi melewati depan Aland. Untuk sejenak ia berhenti dan memberikan beberapa kata. "Puas kalian! Aku tidak akan pernah melupakan semua ini. Aku pasti akan membalasnya, ingat itu!" ancam Pras. Aland tidak membalasnya. Ia serahkan semuanya kepada yang berwajib. Setelah Pras dibawa ke mobil polisi. Di belakangnya Agus yang sedang dibawa dengan tandu karena tubuh pria itu sudah tidak berdaya. Tapi, ia masih sadar dan bisa mendengar. Agus merintih kesakitan, samar terlihat bayangan Vina dan Aland yang sedang berdiri memperhatikan dirinya. Pria itu sekuat tenaga mengangkat tangannya. Sambil menunjuk ke arah V
"Itu bukannya Ramli!" "Jadi, Tuan Aland itu nyamar jadi Ramli!" "Gawat! Ternyata Ramli adalah orang kaya!" "Wah nggak nyangka banget! Penyamarannya sempurna sekali!" Orang-orang sedang berbisik membicarakan Ramli dan Aland yang ternyata adalah satu orang. Lantas, Romi kembali membela sang bos untuk menjelaskan semuanya. "Sekarang kalian terkejut, hah? Siapa tadi yang sedang mencari Ramli? Jangan pura-pura budeg!" bentak Romi sambil melihat ke arah satu-satu Warga terutama kepada Bu Lastri dan teman-temannya. "Kalian tahu! Pria yang kalian hina, kalian olok-olok ternyata adalah orang kaya yang sudah membiayai pembangunan di kampung kita. Bisa-bisanya kalian bicara seperti itu!" lanjut Romi dengan penuh emosi. "Dengar, ya! Aku sudah merekam siapa-siapa saja yang sudah menghina Tuan Aland. Dan di sini jejak digital kalian tidak akan bisa hilang. Siapa pun di antara kalian yang tadi menghina bos, maka bersiaplah berurusan dengan polisi!" ancam Romi tak segan-segan sambil m
Bu Lastri terdiam, tapi wajahnya masih menunjukkan kesinisannya. Sambil menyilangkan kedua tangannya, Bu Lastri mencibir ucapan Bagas. "Heh! Harusnya kamu itu kasihan sama ayah kalian, si Ramli. Bisa-bisanya kalian ini malah datang ke sini dan meluk Tuan Aland. Apalagi kalian panggil apa tadi? Ayah! Iyuhhh, PD banget kalian manggil ayah sama horang kayah!" ujar Bu Lastri yang diiringi tawa beberapa wanita di sampingnya. "Bagas! Memangnya kalian itu siapanya Tuan Aland sampai-sampai sok dekat gitu. Kamu ini sebenarnya mikirin Ramli apa enggak sih! Kok jadi Tuan itu yang kalian panggil ayah, aneh!" sambung seorang wanita. "Bu Lastri, Tuan Aland memang ayah kami!" jawab Bagas apa adanya. Para wanita itu kembali tertawa terbahak-bahak. "Ho ya ampun, mana si Ramli ini. Anak-anaknya pada mabok kecubung gini dibiarin pergi!" ejek Bu Lastri. Tentu saja Bu Mar sebagai nenek dari Bagas, wanita itu tidak terima jika cucunya dihina seperti itu oleh tetangganya. "Cukup Bu Lastri! Tid
Agus langsung tersenyum menyeringai. Seolah pria itu sudah berhasil membuktikan bagaimana Vina. "Nah! Bapak-bapak dan ibu-ibu bisa lihat dan dengar sendiri apa yang Vina katakan. Dia! Perempuan itu sudah mengakuinya!" ucap Agus dengan lantang. Semua warga masih bisik-bisik. Apalagi Bu Lastri and the geng. Mereka tersenyum sinis seakan menganggap Vina adalah perempuan murahan. "Hmmm, kan, kan! Udah kebukti sekarang. Dugaan saya bener kan ibu-ibu. Vina itu perempuan murahan. Nggak masuk akal sih kalau dia bisa sedekat itu sama Tuan Aland. Pasti mereka ada apa-apanya!" umpat Bu Lastri. "Iya ih, jijik banget. Bisa-bisanya apemnya dibagi sama dua pria sekaligus. Emang perempuan kegatelan aja itu!" balas salah seorang diantaranya. Lalu, Agus berjalan mendekati Vina sambil menatap nanar perempuan yang masih dicintainya itu. Sebenarnya Agus sangat kecewa karena dirinya sudah lama menaruh hati tapi tidak pernah Vina mengerti. Dan sekarang Vina justru telah melayani dua orang sekaligus.
Apa yang Agus katakan langsung disanggah oleh Ani sendiri. Wanita itu yang semula hanya diam dan menangis. Sekarang, dirinya harus berdiri tegar di kakinya sendiri. Sungguh, ini sangat keterlaluan. Apa yang dikatakan Agus adalah sebuah tuduhan yang sangat fatal. "Itu tidak benar!" Dengan lantang, Ani bicara di tengah-tengah warga. Agus dan Pras langsung menatap tajam ke arah wanita itu. "Hei, kau! Lebih baik kamu diam wanita jalang!" tunjuk Pras dengan matanya yang memerah. "Tidak! Aku tidak akan diam. Sudah cukup perbuatan kalian yang selama ini tertutup oleh kebohongan kalian yang manis!" sahut Ani yang kini mulai berani menantang ucapan Pras. Lalu, wanita itu melihat ke arah seluruh warga. Sambil berkaca-kaca, wanita itu akan mengucapkan sebuah kenyataan yang selama ini ia pendam sendirian. "Bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya. Dan untuk Pak lurah yang terhormat, tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Anda. Hari ini saya ingin mengucapkan sebuah rahasia besar yang s
Pak Waluyo membulatkan matanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua anak laki-lakinya. Apa hubungan mereka dengan Ani? Janda muda di kampung itu. "Pras dan Agus?" kata Pak lurah mengulangi ucapan Vina. "Betul, Pak. Sepertinya saya harus mengutarakan kebenaran ini pada semua warga agar Ani bisa mendapat keadilan," kata Vina lagi. Wanita itu merangkul Ani sambil melihat ke arah Agus dan Pras yang sedang cemas. Sepertinya Agus tidak terima dengan tuduhan Vina. Pasti dia mendapatkan pengaruh dari Ani. Pria itu pun berusaha untuk membela diri. "Maksud kamu apa, Vin? Kamu nuduh aku seperti itu! Apa hubungannya dengan wanita itu? Aku tidak mengerti!" kata Agus pura-pura tidak tahu. "Seharusnya kamu tanyakan pada dirimu sendiri, Gus. Apa yang sudah kamu lakukan pada wanita malang ini. Kamu, dan adikmu itu!" jawab Vina yang juga menunjuk ke arah Pras. Pras yang memiliki watak lebih keras dari kakaknya, pemuda itu langsung menghampiri Vina dan berusaha untuk menutup mulut wanita