تسجيل الدخول"Bos!" Romi juga memanggil sang atasan. Sepertinya Aland benar-benar dilema. Padahal ia belum tahu yang sebenarnya. Nyonya Ratna menegakkan kepalanya. Dilihatnya sang keponakan pergi meninggalkan ruangan. Aland benar-benar marah. Sedangkan dirinya tidak ingin anaknya celaka di tangan keponakan. "Aku harus bicara dengannya. Aku harus bicara yang sebenarnya jika Erick adalah saudara sepupunya...!" batin Nyonya Ratna sambil beranjak berdiri untuk menyusul Aland. Melihat itu, Vina langsung memanggil Nyonya Ratna. Romi pun ikut menahan karena ia tahu jika Aland sedang dalam keadaan emosi. "Tante mau ke mana?" Suara Vina seketika membuat nyonya Ratna berhenti. "Nyonya di sini saja. Sepertinya bos masih butuh sendiri!" kata Tomi yang ikut menenangkan wanita itu. "Tapi aku harus bicara dengannya, dia harus tahu yang sebenarnya. Aku tidak mau Aland menyakitinya, aku tidak mau...!" rengek Nyonya Ratna. Tentu saja Vina menjadi lebih penasaran. Karena apa yang dikatakan nyonya Ratna
Aland mengerutkan keningnya mendengar kata Nyonya Ratna. Kenapa wanita itu ingin dirinya memaafkan Erick? Ada hubungan apa ini! "Maksud Tante apa?" Aland mendekati sang Tante dengan tatapan yang serius. Nyonya Ratna sepertinya sangat gugup. Ia bingung harus menjawab apa. "Ehh! Iya, aku rasa mungkin kamu cuma salah paham, Land. Aku tahu sekali anaknya Rose itu. Dia anak yang baik, jadi nggak mungkin Erick mencelakai kalian!" jawab Nyonya Ratna. Wanita itu berusaha untuk membela putranya. "Salah paham! Tante, aku nggak ngerti ya apa yang Tante pikirkan tentang laki-laki itu. Sudah jelas-jelas aku menanyai anak buahnya yang waktu itu hampir saja membuat istriku tidak selamat. Mereka menjawabnya dengan jelas bahwa Erick Hermawan lah yang telah membayar mereka untuk mencelakaiku. Masih kurang jelas juga!" Aland membalasnya dengan nada tinggi. Kali ini pria itu merasa kesal karena sang Tante justru membela pria yang ingin membunuhnya. "Aland, dengarkan Tante dulu!" sahut Nyonya Ratna.
Aland juga ikut bertanya. Pasalnya jika nyonya Ratna tahu nama ibunya Erick, itu artinya Nyonya Ratna juga mengenal pria itu. "Iya, dari mana Tante tahu nama ibunya Erick? Tante kenal sama mereka?" tanya Aland dengan wajah yang tak kalah serius dari Vina. Ruangan berubah menjadi lebih dingin. Nyonya Ratna yang sedang menggendong baby Raisya, wanita itu harus terlihat tenang agar sang bayi tidak menangis. Sementara itu Romi, sepertinya pria itu harus mengungkapkan semuanya. Tapi, ia juga memikirkan bagaimana respon Aland nanti jika tahu bahwa Erick adalah adik sepupunya sendiri. "Ya Tuhan, ini semakin pelik. Aku harap bos bisa mengerti keadaan nyonya Ratna. Sebenarnya kasihan juga melihatnya seperti ini. Dia pasti sangat merindukan putranya!" batin Romi yang masih berdiri di belakang Aland. Karena Nyonya Ratna sudah terlanjur mengatakan demikian. Akhirnya wanita itu mengaku jika dirinya sudah mengenal Nyonya Rose. "Ohhh iya, aku.. aku cuma menebak saja. Tante lupa kalau dulu
Romi yang sejatinya sudah tahu rahasia besar Nyonya Ratna. Pria itu pun langsung terkesiap. Bahkan, ia belum sempat cerita pada bosnya tentang siapa Erick Hermawan itu. "Gawat! Ada Nyonya Ratna di sini. Tapi sepertinya Nyonya Ratna tidak akan tahu selagi aku nggak ngasih tahu kalau Erick itu adalah anaknya, masih aman lah!" batin Romi. Aland yang mendengar sang Tante bertanya tentang Erick, pria itu pun menjawab apa adanya. "Erick Hermawan itu adalah musuh kita, Tante. Dia sengaja datang ke Indonesia untuk membunuhku. Entahlah, aku sendiri tidak tahu apa salahku padanya sehingga dia ingin mencelakai aku dan istriku. Itulah kenapa Vina melahirkan secara darurat di dalam mobil, semua itu gara-gara dia!" ungkap Aland. Nyonya Ratna nampak terdiam sesaat. Nama belakang Erick mengingatkannya pada nama seorang pria yang tak lain adalah suami Nyonya Rose, Hermawan. "Erick Hermawan! Kenapa aku merasa nggak asing dengan nama itu, ya Tuhan, jangan-jangan!" gumam Nyonya Ratna yang mulai
Nyonya Ratna juga ikut memeluk Aland. "Hai, Land. Gimana kabarmu?" tanya nyonya Ratna sesaat ia melepaskan pelukannya. Aland tersenyum sambil memperhatikan sekeliling. "Seperti yang Tante lihat sekarang. Kebahagiaan menjadi bapak lagi masih menghiasi wajahku yang yang tampan kan, Tante?" Seperti biasa, Aland masih suka bercanda dengan sang Tante yang sudah lama tidak bertemu. "Kamu ini dari dulu tidak pernah berubah! Ohhh iya, di mana cucu keponakanku yang baru?" sahut Nyonya Ratna sambil memperhatikan sekeliling. Lantas, Vina langsung menunjukkan di mana Baby Raisya ditidurkan. Nyonya Ratna sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan cucu perempuannya yang konon memiliki wajah yang sangat mirip sekali dengan Vina. "Dia di sana!" tunjuk Aland pada kotak bayi di mana sang anak sedang beristirahat. Nyonya Ratna langsung berjalan menuju ke kotak bayi baby Raisya. Perlahan wajah mungil bayi perempuan itu mulai terlihat. Nyonya Ratna tersenyum senang, segera ia mengangk
Karena Nyonya Ratna yakin jika wanita yang dilihatnya adalah Rose, ia pun segera menghampirinya. Ia tahu betul jika Rose adalah wanita yang diamanahkan untuk merawat bayinya oleh kedua orang tuanya. Di saat Nyonya Rose selesai membayar barang yang dibelinya, tiba-tiba wanita itu terkejut bukan main saat melihat wajah Nyonya Ratna di hadapannya. "Hai, nyonya Rose. Akhirnya kita bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Apa kabar Anda?" sapa Nyonya Ratna yang terlihat tenang. Ia hanya menyapa wanita itu bukan bermaksud lain. Tapi, nyonya Rose terlihat khawatir dan takut. Wanita itu pun menjawab singkat, setelah itu ia langsung pergi agar Nyonya Ratna tidak bertanya macam-macam lagi. "Ya Tuhan, wanita itu! Kenapa harus sekarang aku bertemu dengannya! Semoga saja dia tidak berniat mengambil Erick dari sisiku. Aku nggak mau Erick meninggalkan aku!" gerutu Nyonya Rose yang nampak gugup, takut jika Nyonya Ratna bertemu dengan putranya di saat sekarang. Tak ingin Nyonya Ratna curiga. Nyo







