MasukAngin sore mulai berembus pelan, mengibaskan rambut Melon yang kini duduk bersandar di pohon, napasnya sedikit terengah setelah "perang buah" kecil yang mereka lakukan. Jeruk tertidur pulas di atas tikar, dengan Milo yang meringkuk di sampingnya seperti penjaga setia. Pipinya belepotan bekas semangka, tapi ia tetap terlihat damai.
Kiwi duduk di dekat mereka, mencoba mengelap pipinya dengan tisu sambil mencuri pandang ke arah Melon yang kini diam, memandangi langit dengan pandangan kosong. Kiwi menyenggol lengannya pelan. “Kok jadi diam? Kalah perang, ya?” Melon mengerjap, lalu tersenyum. “Enggak. Cuma mikir.” “Serius banget. Sampai nggak berkedip.” Melon menghela napas. “Aneh aja. Saya nggak nyangka bisa ketawa-tawa lagi kayak tadi. Apalagi sama orang baru yang...,” ia berhenti sejenak, menatap Kiwi dengan tatapan geli, “...nama ibunya Bu Nangka.” Kiwi tertawa. “Itu pertanda Tuhan masih sayang sama kamu. Kalau kamu bisa ketawa hari ini, berarti Tuhan kasih kamu izin buat bahagia lagi.” Melon menunduk. “Kamu gampang banget ngomongin bahagia.” “Karena saya sering sedih juga,” ucap Kiwi pelan. “Tapi saya selalu cari celah buat ketawa. Soalnya kalau nunggu hidup jadi sempurna dulu, saya nggak bakal pernah tertawa.” Melon menatap Kiwi. “Kamu kehilangan seseorang juga?” Kiwi mengangguk. “Dulu. Tunangan saya ninggalin pas saya lagi susun rencana pernikahan. Tiba-tiba dia bilang... dia pengin hidup sendiri dulu, nyari jati diri. Saya bingung, emang selama ini dia pake jati siapa?” Melon menahan tawa, tapi gagal. Tawanya meledak dan membuat Jeruk menggeliat sebentar dalam tidurnya. “Maaf,” ucap Melon cepat, menutup mulutnya. Kiwi ikut tertawa pelan. “Itu dulu. Sekarang saya lebih santai. Hidup nggak harus selalu sesuai rencana. Kadang, ketemu janda galak di taman juga bisa jadi jalan baru yang... tak terduga.” Melon menatap Kiwi. “Saya bukan galak.” “Oke. Koreksi: tegas. Tapi manis.” Melon tersipu. “Kalau saya bilang saya mulai nyaman, kamu bakal kabur?” Kiwi menaikkan alis. “Kabur? Justru saya bakal bilang, ini saatnya beli sepatu yang kuat buat lari ke masa depan bareng-bareng.” Melon menghela napas, pelan tapi lega. “Terima kasih, Kiwi.” Kiwi tersenyum lebar. “Kapan-kapan kamu ajak saya ke rumah, ya. Biar bisa salaman sama Ibu Mertua Nangka.” Melon menjitak bahunya pelan. “Bisa nggak... sehari aja kamu nggak bawa-bawa buah?” “Bisa,” sahut Kiwi cepat. “Asal kamu janji terus nemenin saya kayak gini.” Langit makin redup. Matahari mulai sembunyi, meninggalkan warna jingga yang melukis senja. Di bawah pohon, di antara sisa perang buah dan gelak tawa, mereka duduk bersebelahan. Tak ada janji. Tak ada rencana muluk. Hanya dua orang dewasa yang lelah, akhirnya saling menemukan dalam kehangatan sederhana. Dan di tikar taman yang mulai dingin, Jeruk masih tertidur, tak tahu bahwa ibunya... mungkin sedang jatuh cinta lagi. Angin malam mulai terasa lebih dingin saat Kiwi merapikan tikar, mengangkat perlahan Jeruk yang masih tertidur dalam gendongannya. Kepala kecil itu bersandar di bahu Kiwi dengan nyaman, sementara Milo berjalan di depan mereka, sesekali menoleh seolah memastikan semua berjalan aman. Melon menggandeng tas bekal dan botol minum. Ia menoleh ke Kiwi sambil tersenyum samar. “Kamu kuat juga ya gendong Jeruk. Dia itu berat lho.” Kiwi melirik ke bahu tempat Jeruk bersandar. “Mungkin karena hatiku lagi ringan, jadi terasa seimbang.” Melon mengernyit. “Kamu lagi nyanyi lagu dangdut?” Kiwi terkekeh pelan. “Enggak. Itu kalimat orisinal dari seorang pria yang digandeng takdir buat nemuin janda keren di taman.” Mereka berjalan menyusuri trotoar menuju rumah Melon. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menciptakan bayangan panjang dari langkah mereka yang berdampingan. Sesampainya di depan pagar rumah, Melon membuka kunci dan menahan pintu gerbang agar Kiwi bisa masuk duluan. “Biarin Jeruk tidur di kamar. Nanti saya bangunin buat makan malam,” kata Melon pelan, membimbing Kiwi ke dalam. “Boleh saya nitipin bahu juga sekalian?” tanya Kiwi sambil senyum menggoda. Melon tak menjawab, hanya memutar bola mata sambil menahan senyum. Kiwi menuruni tangga pelan menuju kamar Jeruk, lalu meletakkan anak itu di tempat tidur dengan hati-hati. Ia menarik selimut sampai ke dada Jeruk dan membenarkan posisi guling. Melon berdiri di ambang pintu, menyandarkan tubuh pada kusen, menatap Kiwi dengan pandangan yang tak biasa—penuh rasa syukur sekaligus takut. “Aku belum siap kalau harus kehilangan orang lagi,” katanya pelan. Kiwi menatapnya, lalu mendekat. Ia berdiri di depan Melon, wajahnya tenang tapi serius. “Kalau kamu takut kehilangan, jangan berdiri di pintu. Masuk ke dalam. Tutup pintunya. Kunci, dan... jangan kasih aku keluar.” Melon mengedip. “Kamu ini ngomongnya...” “Serius,” potong Kiwi. “Kamu nggak perlu buru-buru percaya. Tapi cukup tahu, aku bukan cuma mampir buat numpang main sama Jeruk atau Milo.” Melon menunduk. “Aku tahu. Tapi aku masih belajar... untuk percaya lagi.” Kiwi tersenyum, lalu meraih tangan Melon dan menggenggamnya lembut. “Kalau begitu, belajarnya jangan sendiri.” Melon terdiam. Lalu pelan-pelan, ia menggenggam balik tangan Kiwi. Tak ada ciuman, tak ada pelukan. Hanya genggaman. Tapi dalam genggaman itu, ada janji yang belum diucapkan, dan harapan yang mulai tumbuh pelan-pelan—seperti biji buah yang akhirnya menemukan tanah subur untuk bertunas kembali. Malam semakin larut. Lampu ruang tengah menyala temaram, hanya satu sudut yang terang, tempat Melon duduk diam di sofa dengan cangkir teh di tangannya. Uap hangat mengepul pelan, tapi tak cukup menenangkan pikirannya yang mulai berkabut. Dari dapur, terdengar suara Kiwi sedang membereskan gelas. Jeruk sudah tertidur pulas, dan Milo sudah meringkuk di bawah meja, mendengkur pelan. Melon menatap teh di tangannya. Lama. Seolah mencari jawaban dari riak kecil yang muncul di permukaannya. Sesekali, ia menggigit bibir, matanya tak lepas dari dinding kosong di depannya. Kiwi muncul dari balik dapur, menyeka tangan dengan handuk kecil. Ia berjalan ke sofa, duduk tak jauh dari Melon. “Teh-nya nggak diminum?” tanya Kiwi pelan. Melon menghela napas. “Aku... kepikiran.” “Jeruk mimpi buruk?” Melon menggeleng. “Bukan soal Jeruk. Ini soal aku.” Kiwi mengerutkan kening. “Apa?” Melon menatap Kiwi, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku takut kamu lihat aku... nggak cukup baik.” Kiwi terdiam. Ia menunggu, membiarkan Melon bicara tanpa dipotong. “Aku ini janda, Kiwi,” kata Melon pelan. “Aku punya anak. Aku pernah gagal. Hidupku udah nggak sederhana lagi. Aku nggak punya kemurnian yang biasanya dicari laki-laki. Aku... merasa rusak.” Suara terakhirnya pecah. Ia buru-buru menghapus air mata, malu kalau terlihat rapuh. Kiwi tidak bicara. Ia hanya memiringkan badan, mengulurkan tangan, lalu memegang cangkir teh Melon, menaruhnya di meja. Setelah itu, ia menggenggam tangan Melon erat-erat. “Kamu tahu,” ucap Kiwi lembut, “kalau kamu rusak, berarti aku ini apa? Barang reject?” Melon menoleh, bingung. “Aku juga pernah patah. Pernah dibohongi. Pernah ditinggal tanpa alasan. Tapi apa aku menyerah jatuh cinta? Nggak.” Kiwi mengusap jemari Melon pelan. “Kamu bukan rusak, Melon. Kamu justru perempuan paling tangguh yang pernah aku temui. Kamu membesarkan Jeruk dengan cinta, kamu masih bisa tertawa, dan kamu nggak pernah jual kesedihanmu ke siapa pun. Itu bukan rusak. Itu kuat.” Melon menggigit bibir. “Tapi... kalau suatu hari kamu sadar, kamu bisa dapat yang lebih ‘lengkap’ dari aku...” Kiwi menyandarkan kepalanya ke bahu Melon. “Melon, dengar. Aku bukan cari ‘lengkap’. Aku cari yang bisa jalan bareng. Yang bisa duduk sama di taman, saling lempar semangka, lalu tertawa. Dan itu... cuma ada di kamu.” Melon tak tahan lagi. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia membiarkan Kiwi tetap bersandar, tangan mereka masih saling menggenggam. “Satu lagi,” bisik Kiwi. “Apa?” “Kalau kamu merasa nggak layak dicintai karena statusmu, ingat... kamu punya satu status lagi yang jauh lebih penting.” Melon menoleh pelan. “Status apa?” Kiwi menatapnya lekat. “Status sebagai perempuan yang berhasil bikin seorang pria jatuh cinta tanpa syarat.” Dan malam pun menjadi saksi bisu, saat dua hati yang pernah patah... mulai percaya bahwa mereka masih layak untuk bahagia.Malam itu hujan turun tiba-tiba. Melon berdiri di teras, menatap jalan basah ketika sebuah mobil berhenti. Kiwi turun, jaketnya setengah basah, wajahnya tegang. “Ada apa?” tanya Melon cepat. Kiwi langsung bicara, tanpa basa-basi. “Lele tahu rencana kita.” Melon menghela napas pendek. “Cepat juga.” “Dia nelpon. Nadanya manis, tapi isinya racun,” lanjut Kiwi. “Dia bilang aku cuma lari ke kamu karena nggak punya pilihan lain.” Melon menatap Kiwi tajam. “Dan kamu jawab apa?” “Aku bilang,” Kiwi mendekat satu langkah, “aku memilih kamu. Bukan karena terpaksa. Tapi karena aku sadar, selama ini yang aku cari ada di depan mata.” Hujan makin deras. Dari dalam rumah, Jeruk mengintip. “Dia nggak akan berhenti,” kata Melon datar. “Aku tahu. Makanya aku datang,” Kiwi menatap Melon serius. “Aku mau kita hadapi bareng. Nggak ada lagi diam-diam.” Belum sempat Melon menjawab, ponsel Kiwi berdering lagi. Nama Lele muncul. Kiwi mengangkatnya, menyalakan pengeras suara. “Kiwi,” su
Malam datang dengan hujan rintik yang turun pelan, membuat rumah terasa lebih sunyi dan hangat. Jeruk sudah terlelap di kamar, lampu tidur menyala redup. Melon dan Kiwi duduk di ruang tamu, hanya ditemani suara hujan dan jam dinding.Kiwi menyandarkan punggung, menatap langit-langit. “Aku kepikiran satu hal,” katanya pelan.Melon memeluk lututnya. “Apa?”“Nama belakang.”Melon menoleh. “Hah?”“Setelah nikah. Kamu nggak harus pakai namaku,” lanjut Kiwi cepat, seolah takut disalahpahami. “Aku cuma mau tahu… kamu maunya gimana.”Melon terdiam. Hujan terdengar makin jelas. “Aku ingin tetap jadi Melon,” jawabnya akhirnya. “Bukan karena menolak kamu. Tapi karena aku sudah lama belajar berdiri dengan nama ini.”Kiwi mengangguk tanpa ragu. “Aku suka jawabannya.”Melon menatapnya, heran. “Serius?”“Iya. Aku jatuh cinta sama perempuan yang tahu siapa dirinya,” ucap Kiwi tenang. “Bukan yang menghilang demi pernikahan.”Kalimat itu membuat dada Melon terasa hangat sekaligus perih. Ia menunduk, la
Beberapa hari berlalu dengan tenang. Kiwi menepati janjinya—datang menemui Jeruk tanpa janji berlebihan, tanpa sikap seolah semuanya sudah kembali seperti dulu. Ia datang, mendengarkan cerita Jeruk, tertawa secukupnya, lalu pulang tanpa drama. Dan justru di situlah Melon mulai melihat sesuatu yang berbeda.Bukan kata-kata.Sikap.Sore itu, setelah Jeruk tertidur karena kelelahan bermain, Melon duduk di ruang tengah. Kiwi masih ada di sana, duduk berseberangan, secangkir teh di tangannya. Suasana canggung, tapi tidak berat.“Mel,” Kiwi membuka suara lebih dulu. Tidak menggoda, tidak bercanda. “Aku mau ngomong. Dan kali ini… serius.”Melon mengangguk. “Aku dengar.”Kiwi menarik napas. “Aku nggak mau kamu setuju apa pun karena Jeruk. Kalau kamu menutup pintu, aku terima. Tapi kalau ada celah sedikit aja… aku mau memperbaiki semuanya dari awal. Bukan sebagai orang lama. Tapi sebagai laki-laki yang belajar.”Melon menatapnya lama. Wajah Kiwi terlihat lebih matang, lebih tenang. Tidak defen
Jeruk menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara kecil tapi jelas, seolah sudah memikirkan ini lama.“Om Kiwi…”“Iya?” jawab Kiwi, suaranya langsung melunak.“Kalau Om masih sayang sama aku…” Jeruk menelan ludah, “…boleh nggak Om nikah sama Mama Melon?”Hening.Melon langsung membeku. Wajahnya pucat seketika.“Jeruk!” serunya pelan tapi tegas. “Kamu nggak boleh bilang begitu.”Jeruk menoleh cepat. “Kenapa, Bu? Aku cuma pengin kita bareng lagi. Aku capek pura-pura nggak kangen.”Di seberang, Kiwi tak langsung menjawab. Napasnya terdengar berat, bukan karena bercanda kali ini—tapi karena pertanyaan itu datang dari tempat paling jujur.“Jeruk…” Kiwi akhirnya bicara, pelan dan hati-hati. “Kamu tahu nggak, menikah itu bukan cuma soal kangen.”Jeruk mengangguk kecil. “Aku tahu. Tapi kalau Om nikah sama mama, aku nggak perlu kangen lagi.”Kalimat itu membuat dada Melon sesak. Ia berjongkok di depan Jeruk, memegang bahu kecil itu.“Sayang, dengar Ibu ya. Kamu boleh kangen. Tapi kepu
Pagi hari.Matahari baru merayap naik ketika suara ketukan lembut terdengar di pintu rumah Melon. Ia sedang menyiapkan sarapan Jeruk di dapur — roti panggang kesukaan anak itu — saat suara itu membuat tubuhnya menegang.Jeruk yang duduk di kursi kecilnya langsung menegakkan tubuh. “Mama, ada orang?” tanyanya polos.Melon mengusap kepala Jeruk cepat. “Iya, sayang. Mama cek dulu.”Langkah Melon pelan, nyaris ragu, sampai akhirnya ia membuka pintu.Dan di sanalah Kiwi berdiri.Dengan hoodie abu-abu, rambut sedikit berantakan, dan mata yang terlihat kurang tidur. Kiwi menelan ludah ketika tatapannya bertemu tatapan Melon—canggung, kaget, dan sedikit gugup. Udara pagi yang dingin tidak mampu mengalahkan rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi dadanya.“Kiwi…” Melon hampir berbisik.“Aku… cuma mau lihat Jeruk,” jawab Kiwi pelan, suaranya serak seolah ia sendiri belum yakin berdiri di situ.Sebelum Melon sempat berkata apa pun, suara kecil meluncur dari ruang tengah.“Kiwi!!!”Jeruk berlari sece
Sore itu, cahaya matahari menembus kaca besar toko buku, memantulkan warna keemasan di lantai kayu. Suasana tenang—hanya ada suara lembut halaman yang dibalik dan tawa kecil Jeruk di pojok ruangan. Melon sedang menyusun buku-buku baru di rak tengah ketika Pak Bram datang menghampiri sambil membawa selembar kertas.“Bu Melon, ini daftar buku yang baru masuk minggu depan. Kalau mau, kamu bantu pilih mana yang cocok ditaruh di rak depan,” ujarnya.Melon menerima kertas itu. “Boleh, Pak. Saya senang bisa bantu.”Pak Bram tersenyum, lalu beranjak ke ruang belakang. Melon menatap daftar buku itu lama, memperhatikan judul-judulnya: kisah keluarga, perjalanan hidup, tentang orang-orang yang bangkit dari kehilangan. Tanpa sadar, senyum kecil terbit di wajahnya. “Lucu ya,” gumamnya pelan. “Buku pun kadang tahu apa yang kita butuh baca.”“Kalimat yang bagus,” suara tiba-tiba terdengar di belakangnya.Melon menoleh. Seorang pria berdiri di dekat rak. Wajahnya tenang, berusia sekitar akhir tiga pu







