Home / Romansa / Kecantol Cinta Janda / Bab 6 Gombalan Kiwi

Share

Bab 6 Gombalan Kiwi

Author: Author Receh
last update Petsa ng paglalathala: 2025-06-13 18:39:46

Malam semakin larut. Lampu ruang makan menyala temaram, menciptakan bayangan hangat di dinding. Melon dan Kiwi masih duduk berdampingan, tangan mereka bertaut di atas meja, tapi tak ada kecanggungan. Hanya keheningan nyaman yang menggantung di antara mereka.

Kiwi menguap kecil sambil meregangkan lengan. “Aduh, kalau ngobrol sama kamu, waktu kerasa kayak sepuluh menit. Padahal tahu-tahu udah hampir tengah malam.”

Melon tersenyum. “Kalau kamu ngantuk, pulang aja. Jangan sampai besok telat kerja gara-gara nemenin janda insecure.”

Kiwi memiringkan kepala, matanya menyipit dramatis. “Tuh kan, mulai lagi... janda insecure. Udah saya bilang, kamu jangan panggil diri kamu gitu. Kamu tuh janda rasa premium.”

Melon tertawa kecil, geleng-geleng. “Rasa premium?”

“Ya. Kalau kamu itu buah, pasti masuk golongan langka, manis, mahal, dan cepet habis kalau diburu orang,” jelas Kiwi sambil memainkan gelas airnya. “Makanya saya buru duluan sebelum diserbu yang lain.”

“Kalau kamu, buahnya apa?” tanya Melon sambil bersandar.

Kiwi menjawab cepat. “Saya? Pastilah alpukat. Luar agak keras, dalamnya lembut. Tapi kalau ketemu yang cocok, bisa dibikin jus bareng.”

Melon mengangkat alis. “Jus alpukat dan melon?”

“Romantis banget, kan?” Kiwi menyengir. “Tapi jangan lupa, kasih susu cokelat biar makin manis.”

Melon menutup wajahnya dengan tangan, geli tapi bahagia. “Kamu tuh... bisa nggak sih sehari aja nggak pakai analogi buah?”

Kiwi berdiri pelan dari kursinya. “Bisa, tapi saya takut hari kamu jadi hambar tanpa bumbu buah-buahan dari saya.”

Melon berdiri juga, mengantarnya sampai ke depan pintu. Langkah mereka pelan, seolah tak ingin malam itu cepat berakhir.

Saat Kiwi sudah berdiri di depan pagar, ia menoleh sekali lagi.

“Melon.”

“Hm?”

“Saya tahu kamu masih punya tembok, dan saya nggak akan maksa buat hancurin. Tapi... boleh nggak saya ngetuk pintunya pelan-pelan, tiap hari?”

Melon menatap Kiwi lama. “Boleh,” katanya akhirnya. “Asal kamu sabar, dan jangan bawa palu.”

Kiwi tersenyum lebar. “Janji. Saya bawa bunga aja, atau... potongan buah segar.”

“Kiwi!” tegur Melon.

“Hei, itu nama saya,” sahutnya sambil mundur, lalu memberi hormat kecil sebelum benar-benar pergi.

Melon berdiri di ambang pintu cukup lama. Setelah Kiwi menghilang di ujung jalan, ia menarik napas panjang.

Di dalam rumah, Milo menggonggong pelan, seolah ingin memastikan tuannya baik-baik saja.

Melon menutup pintu, menyandarkan punggung di sana. Wajahnya tenang, bibirnya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak lama, hatinya terasa hangat... dan sedikit penuh harapan.

Pagi datang dengan riuh suara ayam tetangga dan aroma roti bakar dari dapur. Jeruk bangun lebih awal dari biasanya, matanya masih sepet, rambut awut-awutan, tapi semangatnya seperti anak yang baru saja dijanjikan liburan ke taman bermain.

“Bu! Sarapan apa hari ini?” teriak Jeruk dari dalam kamar sambil melompat ke ruang tengah.

Melon, yang sedang menuang susu ke gelas, menoleh dengan senyum hangat. “Roti bakar keju dan susu hangat. Tapi sebelum itu, cuci muka dulu. Kamu kelihatan kayak durian jatuh.”

“Durian kan enak!” seru Jeruk sambil berlari ke kamar mandi.

Milo menggonggong pelan, seperti sedang menyemangati.

Sementara Jeruk sibuk di kamar mandi, Melon diam di dapur, menyender di meja, memandangi ponselnya. Jemarinya melayang-layang, ragu, lalu akhirnya membuka aplikasi pesan. Ada satu pesan baru dari Kiwi semalam sebelum ia tidur:

Kiwi: Pagi besok kamu mau aku bawain sarapan juga, atau cukup senyum kamu aja? Selamat tidur, Bu Janda Favorit.

Melon menahan senyum sambil mengetik balasan:

Melon: Senyum saya stoknya terbatas. Sarapan boleh, asal jangan bawa salad buah.

Tak sampai lima detik, pesan balasan masuk:

Kiwi: Siap. Saya bawain nasi uduk. Ada sambelnya, biar hubungan kita nggak hambar.

Melon menggeleng sambil tersenyum kecil.

Jeruk kembali dari kamar mandi, masih mengelap pipinya yang basah. “Bu, nanti sore Kiwi datang lagi?”

Melon mengerjap. “Kenapa nanya gitu?”

“Soalnya dia lucu. Dia ngajak Milo lari-lari muter halaman. Milo aja nggak biasanya ceria gitu,” kata Jeruk polos.

Melon pura-pura sibuk menyiapkan roti. “Lucu, ya?”

“Iya! Kayak badut buah!”

Melon menahan tawa. Badut buah... cocok sih.

Beberapa menit kemudian, suara sepeda motor terdengar dari luar pagar. Jeruk langsung berteriak, “Itu dia! Kiwi datang!”

Melon memutar tubuh dengan cepat. “Kok tahu?”

“Kan aku hafal suara motornya. Dia tuh bunyinya beda, kayak... bawa semangat!”

Melon membuka pintu. Dan benar saja, Kiwi berdiri di balik pagar, membawa plastik isi kotak nasi dan termos kecil.

“Selamat pagi, keluarga buah!” sapa Kiwi ceria, mengacungkan plastik.

Jeruk melambai dari ruang tamu. “Kiwi! Kamu bawa sambel?”

Kiwi menjawab dengan bangga, “Bawa, dong! Tapi nggak pedas-pedas banget. Soalnya saya nggak tega kalau ibu kamu kepedesan terus malah diem-dieman sama saya.”

Melon membukakan pagar dengan senyum malas-malasan. “Kamu nggak capek ya, gombalnya?”

Kiwi masuk dengan santai, menyerahkan kotak makan. “Selama kamu masih bisa senyum gara-gara gombalan saya, saya nggak bakal berhenti.”

Jeruk bersorak, “Yeay! Sarapan bareng Kiwi lagi!”

Dan pagi itu, di meja makan yang sederhana, tiga makhluk—satu janda cantik, satu bocah ceria, dan satu pria lucu yang doyan buah—tertawa bersama, menyantap nasi uduk sambil sesekali rebutan emping.

Tak ada yang terlalu manis. Tak ada yang terlalu pedas. Semua pas di lidah... dan mungkin, juga pas di hati.

Suasana di meja makan perlahan mereda, suara sendok sudah tak terdengar. Jeruk duduk sambil menyandarkan punggung ke kursi, perutnya kenyang, pipinya mengembung puas seperti anak panda habis makan bambu.

Kiwi mengelap tangannya dengan tisu, hendak membereskan kotak makan yang tadi ia bawa, ketika Jeruk tiba-tiba bersuara serius, “Mulai sekarang, aku akan panggil kamu Om Kiwi saja.”

Kiwi berhenti bergerak. Ia menoleh cepat, menatap bocah kecil itu penuh kecurigaan. “Eh? Kok mendadak berubah pikiran lagi?”

Jeruk menautkan jari-jarinya di atas meja, ekspresinya sangat dewasa untuk anak seumur dia. “Soalnya aku baru sadar... kamu itu seumuran Ibu.”

Melon yang sedang menuang air putih nyaris tersedak. “Jeruk!” tegurnya sambil tertawa tertahan.

“Tapi bener kan, Bu?” tanya Jeruk dengan polos.

Kiwi ikut tergelak. “Wah, anak ini jujur banget ya.”

Jeruk melanjutkan, serius sekali. “Tadi aku pikir manggil nama doang itu keren, kayak di film. Tapi habis aku pikir-pikir lagi... nggak sopan kalau aku nyebut nama orang dewasa yang seumuran Ibu tanpa panggilan hormat. Jadi aku manggil Om Kiwi aja. Itu lebih... dewasa.”

Kiwi meletakkan kotaknya di meja, lalu membungkuk sedikit ke arah Jeruk dengan nada dramatis, “Terima kasih, Tuan Jeruk, atas penghargaan dan kebijaksanaanmu. Saya terima gelar Om Kiwi ini dengan penuh tanggung jawab dan... uban.”

“Uban?” Jeruk melotot. “Om Kiwi punya uban?!”

Kiwi menunjuk pelipisnya dengan ekspresi sangat meyakinkan. “Sedikit. Tapi itu tanda kebijaksanaan. Uban itu bukti saya sudah pernah gagal menggoreng tahu tanpa meledak.”

Jeruk tertawa ngakak. “Om Kiwi, kamu aneh!”

“Tapi aneh yang disukai kan?” sahut Kiwi, melempar pandang ke arah Melon sambil tersenyum penuh makna.

Melon pura-pura tidak melihat. Ia malah berdiri, mulai membereskan piring-piring. “Jeruk, bantuin Ibu bawa gelas ke dapur ya.”

Jeruk masih tertawa kecil sambil membawa gelasnya, lalu berkata pelan pada Milo, “Ternyata punya Om itu seru juga ya, Milo.”

Kiwi menyusul ke dapur sambil membawa sisa plastik dan kotaknya. “Saya senang naik jabatan hari ini.”

“Jabatan apa?” tanya Melon sambil mencuci piring.

“Dari Kakak ganteng jadi Om bijak. Nggak semua orang bisa.”

Melon melirik. “Kalau kamu terus-terusan gombal kayak gini, bisa turun jabatan jadi Om genit.”

Kiwi pura-pura terkejut. “Waduh, itu jabatan berbahaya. Tapi... boleh saya naik pangkat lagi nanti?”

Melon berhenti mencuci, menatapnya sambil menyipit. “Naik pangkat jadi apa?”

Kiwi tersenyum santai, lalu menjawab pelan, “Jadi bagian tetap dari keluarga kecil ini.”

Melon menoleh cepat, pipinya memerah sedikit. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Jeruk muncul dari balik pintu dapur sambil memegang dua potong semangka.

“Ibu, Om Kiwi, ayo makan semangka bareng! Ini dari kulkas, dingin banget!”

Melon langsung mengambil napas lega. “Ayo, sebelum semangkanya habis dijilat Milo.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 33 Setelah perayaan

    Tepuk tangan masih memenuhi ballroom ketika Kiwi dan Melon berdiri berdampingan di tengah panggung. Lampu kristal di atas mereka memantulkan cahaya lembut, membuat suasana terasa semakin hangat. Melon masih sesekali mengusap sudut matanya, sementara Kiwi terus menggenggam tangannya seolah tidak ingin melepaskannya lagi. MC tersenyum melihat keduanya. "Kalau begitu, mari kita rayakan pasangan yang hari ini resmi memulai perjalanan baru mereka." Musik berubah menjadi lebih ceria. Tepuk tangan kembali terdengar. Kiwi menoleh kepada Melon. "Jadi..." Melon mengangkat alis. "Jadi apa?" "Resmi sekarang." "Memangnya tadi belum?" "Tadi masih proses." Melon tertawa kecil. "Dasar." Kiwi mendekat sedikit. "Mulai sekarang aku boleh memanggilmu istriku?" Melon menahan senyum. "Kalau kamu mau." "Aku mau." "Jangan terlalu senang." "Terlambat." Melon akhirnya tertawa. Di bawah panggung, Jeruk yang melihat keduanya segera mengangkat tangan. "Om Kiwi!" K

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 32 Suami Istri

    Pintu ruang rias perlahan terbuka. Koordinator acara tersenyum hangat. "Bu Melon, waktunya." Melon mengangguk pelan. Jemarinya tanpa sadar saling menggenggam, mencoba meredakan debar di dada yang semakin tak beraturan. Bu Nayla meraih kedua tangannya. "Jangan gugup." Melon tersenyum tipis. "Saya takut menangis nanti." "Kalau menangis karena bahagia, itu tidak apa-apa." Ucapan itu membuat Melon mengangguk pelan. Jeruk menghampiri sambil membawa buket bunga kecil di tangannya. "Ibu..." "Iya, Sayang?" "Nanti kalau Ibu nangis, aku pinjamin sapu tanganku." Melon terkekeh. "Memangnya kamu bawa?" Jeruk mengeluarkan sapu tangan kecil bergambar jeruk dari saku jasnya. "Aku sudah siap dari tadi." Semua orang kembali tertawa. Melon mencubit gemas pipi putranya. "Kamu memang penyelamat suasana." --- Di ballroom... Alunan piano yang lembut mulai memenuhi ruangan. Seluruh tamu perlahan berdiri ketika pintu utama terbuka. Semua mata serentak menoleh. Melon melangkah masuk de

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 31 Hari Pernikahan Kiwi dan Melon

    Matahari mulai condong ke barat.Sinar keemasannya menyelimuti rumah baru yang sebentar lagi akan menjadi tempat tinggal Melon, Kiwi, dan Jeruk.Jeruk masih betah bermain di rumah pohon. Sesekali terdengar suaranya memanggil burung-burung yang hinggap di dahan."Halo, burung! Nanti datang lagi, ya!"Kiwi dan Melon saling berpandangan lalu tertawa kecil."Dia memang mudah berteman," ujar Melon."Mirip ibunya."Melon menggeleng sambil tersenyum."Enggak juga.""Mirip. Bedanya, kamu butuh waktu lebih lama untuk membuka hati."Melon menyenggol pelan lengan Kiwi."Kamu masih sempat menggoda.""Kalau tidak menggoda, nanti calon istriku keburu galak lagi."Melon memutar bola matanya."Aku memang pernah galak.""Pernah?""Masih sedikit."Kiwi tertawa lepas."Nah, itu baru jujur."Suasana yang sempat tegang beberapa hari terakhir akhirnya kembali dipenuhi tawa.---Menjelang sore, mereka memutuskan pulang.Sebelum keluar dari rumah, Kiwi mematikan semua lampu yang tidak diperlukan lalu memasti

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 30 Persiapan menuju pernikahan

    Melon memandangi foto itu cukup lama. Jantungnya memang sempat berdegup lebih cepat. Namun perlahan ia menarik napas dalam. Lalu mengembuskannya pelan. Kiwi yang berdiri di sampingnya masih mengepalkan tangan. "Aku akan laporkan ini ke polisi." "Tunggu." Melon menyentuh lengan pria itu. "Kita pikirkan dengan tenang." "Melon, ini bukan masalah kecil." "Aku tahu." "Mereka memotret Jeruk." "Aku juga tahu." Suara Melon tetap lembut. Tidak tinggi. Tidak panik. Justru ketenangannya membuat Kiwi perlahan ikut menenangkan diri. --- Melon kembali melihat foto itu. Ia memperbesar gambar. Memperhatikan setiap sudut. Lalu menggeleng pelan. "Aku tidak mau orang ini berhasil." Kiwi mengernyit. "Maksudmu?" "Dia mengirim pesan seperti ini karena ingin kita takut." "Kalau kita panik..." "Berarti dia menang." Kiwi terdiam. Ucapan Melon masuk akal. Sangat masuk akal. --- Melon menghapus air mata yang tadi sempat jatuh. Kemudian menatap Kiwi dengan senyum kecil. "Ingat w

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 29 Ancaman Nyata

    Melon menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Foto itu masih terpampang jelas.Kiwi.Lemonta.Dan kalimat yang membuat jantungnya berdebar tidak nyaman.> Kita perlu bicara sebelum kamu menikah."Melon?"Suara Bu Nayla kembali terdengar.Wanita itu langsung berpindah kursi dan duduk di samping Melon."Ada apa?"Melon menyerahkan ponselnya.Bu Nayla membaca pesan itu.Wajahnya langsung berubah serius."Nomor siapa ini?""Tidak tahu.""Dia menghubungimu lagi?"Melon menggeleng."Baru kali ini."Bu Nayla langsung mengambil ponselnya sendiri."Aku telepon Kiwi."---Saat itu juga Kiwi masih berdiri di depan rumah baru.Suasana antara dirinya dan Lemonta semakin tegang."Kamu tidak punya hak mengganggu hidup Melon lagi."Lemonta tertawa pendek."Aku ayah Jeruk.""Kamu baru ingat sekarang?"Senyum Lemonta memudar."Aku mengakui kesalahanku.""Dan aku ingin memperbaikinya."Kiwi menggeleng."Tidak.""Kamu ingin kembali karena melihat mereka bahagia.""Itu berbeda."Mata Lemonta mulai mengera

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 28 Badai sebelum pernikahan

    Hari-hari setelah kunjungan Bu Nayla berlalu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Tidak ada lagi pertengkaran besar.Tidak ada lagi drama yang menguras air mata.Namun justru ketenangan itulah yang membuat semuanya terasa menegangkan.Karena semakin dekat ke hari pernikahan, semakin banyak perasaan yang bermunculan.Bahagia.Takut.Gugup.Harap.Dan sesekali, cemas.---Sebulan setelah pertemuan itu, hubungan Melon dan Kiwi perlahan membaik.Bukan dengan cara yang terburu-buru.Mereka memilih berjalan pelan.Sangat pelan.Kiwi tak lagi memaksa.Ia datang hanya ketika diizinkan.Ia menelepon hanya ketika diperlukan.Ia belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksa tumbuh melalui kata-kata.Melainkan melalui konsistensi.Dan Melon melihat semuanya.Melihat bagaimana Kiwi benar-benar berubah.Melihat bagaimana pria itu tidak lagi sekadar berjanji.Melainkan bertindak.---Pagi hari.Kiwi mengantar Jeruk ke sekolah.Siang hari.Ia mengecek pembangunan rumah.Malam hari.Ia membantu Melon memil

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 8 Pertengkaran Melon dan Kiwi

    Sore itu, langit berwarna jingga pucat saat Melon dan Kiwi duduk di bangku taman, masing-masing memegang es krim rasa favorit. Jeruk bermain di ayunan tak jauh dari mereka, tertawa-tawa bersama anak-anak lain. Awalnya, suasana begitu nyaman. Kiwi bercerita tentang pekerjaannya, Melon menimpali deng

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 7 Bertemu Lemonta

    Siang itu, Mall Citrus Square cukup ramai. Musik pop kekinian mengalun dari speaker, terdengar samar di antara hiruk pikuk orang berlalu-lalang. Melon melangkah santai di koridor, matanya menyapu etalase butik yang memajang diskon besar-besaran. Ia mengenakan blouse putih sederhana, celana jeans hi

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 5 Bijaknya Kiwi

    Angin sore mulai berembus pelan, mengibaskan rambut Melon yang kini duduk bersandar di pohon, napasnya sedikit terengah setelah "perang buah" kecil yang mereka lakukan. Jeruk tertidur pulas di atas tikar, dengan Milo yang meringkuk di sampingnya seperti penjaga setia. Pipinya belepotan bekas semang

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 4 Ibu Nangka

    Matahari siang menyinari taman kota dengan hangat, tidak terlalu terik, hanya cukup membuat daun-daun pohon berkilau. Anak-anak berlarian di antara ayunan dan perosotan, sesekali terdengar suara tertawa dan teriakan gembira. Kiwi berjalan santai di samping Melon, membawa dua gelas es kelapa muda

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status