เข้าสู่ระบบMatahari siang menyinari taman kota dengan hangat, tidak terlalu terik, hanya cukup membuat daun-daun pohon berkilau. Anak-anak berlarian di antara ayunan dan perosotan, sesekali terdengar suara tertawa dan teriakan gembira. Kiwi berjalan santai di samping Melon, membawa dua gelas es kelapa muda yang baru dibeli dari gerobak pinggir jalan.
Jeruk berjalan di depan mereka sambil menarik Milo dengan tali kekang. Anjing itu tampak lebih jinak hari ini—mungkin karena diberi sosis sebelum berangkat. “Kalau Milo nyeret tali lagi, aku langsung naik ke pundak Om Kiwi!” teriak Jeruk sambil setengah berlari. Kiwi menjawab dengan suara nyaring, “Om siap, tapi pundak Om bukan angkot!” Melon menggeleng pelan. “Kamu ini ya, selalu bikin suasana kayak film kartun.” Kiwi menyodorkan satu gelas es kelapa ke Melon. “Minum dulu. Biar nggak sewot terus, Bu Janda Ceria.” Melon menyipitkan mata, tapi tetap mengambil gelas itu. “Hati-hati. Gelar janda bisa saya cabut kalau kamu terus-menerus nyebelin.” Kiwi pura-pura kaget. “Waduh. Kalau dicabut, saya harus panggil apa? Mbak? Nona? Ratu Taman?” Jeruk berbalik sambil tertawa. “Panggil aja Ibu Madu!” Kiwi langsung pura-pura tersedak. “Astaga! Jangan terlalu cepat, Nak! Om belum siap jadi Om Sambung!” Melon langsung mencubit lengan Kiwi pelan. “Nih anak ketularan gombalnya kamu.” Kiwi menggosok lengannya sambil tertawa. “Itu bukan gombal, itu namanya visi masa depan.” Mereka berhenti di bangku taman di bawah pohon rindang. Jeruk duduk di rumput sambil mengelus Milo yang tampak menikmati pemandangan. Melon menyeruput es kelapanya. “Sudah lama saya nggak ke taman kayak gini. Dulu waktu suami masih hidup, kita sering ke sini. Jeruk masih bayi.” Kiwi menoleh, nadanya melunak. “Kalau gitu, terima kasih sudah ajak saya hari ini. Saya tahu kenangan kayak gitu... kadang bikin langkah jadi berat.” Melon menatap taman, matanya menerawang sebentar. “Tapi hidup terus jalan. Jeruk juga butuh lihat ibunya bisa ketawa lagi.” Kiwi tersenyum. “Kalau butuh pelawak, saya bersedia dikontrak tanpa gaji.” Melon menoleh. “Nggak ada gaji, tapi wajib cuci piring dan jagain Milo kalau saya malas bangun.” “Deal,” kata Kiwi cepat. “Tapi saya minta bonus: satu kali senyum tulus tiap hari.” Melon diam sebentar, lalu menatap Kiwi dan tersenyum kecil. “Itu tadi udah dihitung belum?” Kiwi memegang dadanya, pura-pura terharu. “Wah, saya harus catat di kalender.” Jeruk tiba-tiba berdiri dan berlari kecil ke arah ayunan. “Om Kiwi! Ibu! Aku mau ayunan! Dorongin ya!” Kiwi langsung berdiri. “Siap, Komandan Jeruk! Mari kita terbang sampai langit kelihatan malu!” Melon tertawa pelan, lalu berdiri sambil menghabiskan es kelapanya. Sore itu, di taman sederhana dengan canda yang sederhana, mereka menemukan sesuatu yang lebih penting dari cinta—yaitu rasa nyaman, dan keberanian untuk memulai lagi. Kiwi sedang mendorong ayunan Jeruk dengan gaya dramatis. “Dan satu, dua, tiga... terbang sampai ke langit ketujuh!” teriaknya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah Jeruk benar-benar akan meluncur ke angkasa. Jeruk tertawa ngakak. “Om Kiwi lucu banget! Lagi! Lagi!” Melon duduk di bangku taman, mengawasi mereka sambil memotret diam-diam dengan ponselnya. Ia berusaha menahan senyum tiap kali Kiwi mengeluarkan suara efek seperti, “Wuuush!” dan “Zzoom!” seolah sedang menyutradarai film superhero. Tiba-tiba, ponsel di saku belakang Kiwi bergetar. Ia merogoh dengan satu tangan sambil tetap memegang tali ayunan dengan tangan lain. Layarnya menyala, menampilkan tulisan: "Ibu Rumah - Telp Masuk". Kiwi mengangkat alis, lalu memberi isyarat ke Jeruk. “Istirahat dulu, Komandan. Pangkalan pusat memanggil.” Jeruk melompat turun dari ayunan dan langsung mengejar Milo yang sedang mencium pohon. Kiwi menjauh sedikit, menempelkan ponsel ke telinga. “Halo, Bu!” sapanya ceria. Suara dari seberang terdengar agak nyaring. “Kiwi, kamu di mana? Kenapa nggak pernah angkat video call kemarin-kemarin?” Kiwi nyengir. “Lagi sibuk, Bu. Banyak kerjaan. Ini juga baru sempat santai.” “Santai di mana? Dengar suara anak kecil tuh. Jangan-jangan kamu udah punya anak diam-diam?” Kiwi tergelak. “Astaga, Bu! Itu anak tetangga. Saya di taman, nemenin mereka main.” “Perempuan?” Kiwi menoleh sekilas ke arah Melon yang sedang menyuapi Jeruk potongan buah semangka. “Iya.” “Udah janda?” Kiwi hampir tersedak udara sendiri. “Bu! Kok tahu?!” “Feeling ibu mana pernah salah. Pasti janda anak satu yang galak tapi manis.” Kiwi mencibir kecil. “Itu deskripsi yang sangat spesifik. Ibu paranormal sekarang?” “Dari nada suaramu aja udah kelihatan naksir. Hati-hati ya, Nak. Janda itu dua kali lebih hati-hati daripada perawan. Tapi kalau kamu serius, jangan PHP.” Kiwi mengusap wajahnya. “Bu, saya baru kenal. Belum sampai tahap lamaran. Ini aja masih di fase dorong ayunan.” “Dorong ayunan aja kamu senang banget suaranya. Awas, nanti ibu nyusul ke sana lho. Biar bisa nilai calon menantu langsung.” Kiwi tertawa kencang. “Ibu sabar dikit. Saya juga masih ngetes apakah Milo setuju.” “Milo itu anjing? Anjing aja dites, ibu malah belakangan?” “Tenang, Bu. Urutan prioritas tetap. Milo, baru Ibu.” “Kurang ajar kamu, ya!” Kiwi ngakak sambil mengakhiri panggilan. Ia menyimpan ponsel ke saku, lalu berjalan kembali ke arah Melon dan Jeruk yang kini duduk di atas tikar taman sambil makan buah. “Telepon penting?” tanya Melon, menawarinya sepotong semangka. “Dari Ibu saya. Hebatnya, beliau bisa nebak semua: kamu janda, punya anak, galak, tapi manis.” Melon mengangkat alis. “Ibunya cenayang?” “Lebih ke... intel cinta,” jawab Kiwi sambil menggigit semangka. Jeruk berseru, “Kalau Om Kiwi nikah sama Ibu, aku bisa punya anjing, kan?” Melon langsung tersedak semangka. Kiwi menepuk punggungnya sambil nyengir. “Tenang, Bu. Baru juga masuk level ayunan, belum sampai akad.” Melon menatapnya tajam. “Kalau masih garing, saya suruh Milo gigit sandal kamu.” Kiwi tertawa. “Kalau saya digigit gara-gara suka sama janda manis, saya rela.” Melon menggeleng pelan, tapi tak bisa menyembunyikan senyumnya. Siang itu, taman tak hanya menyimpan tawa anak-anak, tapi juga percikan kecil dari kemungkinan yang lebih besar. Langit mulai beranjak mendung, tapi taman masih ramai oleh suara tawa anak-anak dan derit ayunan. Jeruk duduk di atas tikar, menyusun batu-batu kecil menjadi menara yang tampak sangat serius bagi anak seusianya. Milo tergeletak di sampingnya, menjulurkan lidah ke luar seperti baru saja menang lomba lari. Kiwi duduk bersandar pada pohon sambil memakan potongan nanas dari kotak bekal Melon. Ia tampak santai, sesekali mencuri pandang ke arah Melon yang duduk bersila di depannya, memutar-mutar sendok plastik di dalam gelas es buah. “Eh, Kiwi...” Melon menatapnya sambil mengerutkan kening. “Tadi waktu kamu teleponan, ibumu terdengar... seru, ya.” Kiwi nyengir. “Seru itu kata halus buat ‘bawel’, ya?” Melon terkekeh. “Enggak juga. Cuma penasaran. Siapa nama ibumu?” Kiwi langsung duduk tegak, wajahnya mendadak serius seperti mau disidang. “Kenapa? Kamu mau kirim surat lamaran resmi ke beliau?” godanya. Melon memutar bola mata. “Enggak, saya cuma ngebayangin aja, nama ibunya Kiwi tuh kira-kira kayak apa. Manis kayak anaknya, atau... pedas kayak sambal terasi?” Kiwi menatap jauh ke depan, dramatis. “Namanya... Bu Nangka.” Melon berkedip. “Hah?” “Serius,” kata Kiwi sambil menahan tawa. “Nangka Lestari. Tapi kalau marah, jangan harap ada manis-manisnya. Lebih mirip duren jatuh.” Jeruk, yang diam-diam mendengar, langsung menyahut, “Om! Masa ibunya buah juga?!” Kiwi mengangkat bahu. “Takdir, Nak. Keluarga kami semua buah-buahan. Paman saya: Pak Manggis. Tante saya: Bu Sawo. Kakek: Alm. Durian.” Melon memukul pelan lengan Kiwi pakai sendok. “Bisa nggak sekali aja kamu jawab jujur tanpa embel-embel kebun?” Kiwi tertawa sambil menahan lengan. “Oke, oke. Nama asli ibuku Sri Lestari. Tapi karena dulu kerja di toko buah, semua orang manggilnya Bu Nangka. Nempel sampai sekarang.” Melon mengangguk pelan. “Lucu juga. Saya pikir kamu bercanda lagi.” “Biasanya iya,” kata Kiwi sambil mengunyah nanas. “Tapi yang ini beneran. Kamu boleh tanya langsung kalau ibu saya ke sini nanti.” Melon menaikkan alis. “Ibumu mau ke sini?” “Dia ngancem datang kalau saya terus teleponan sambil senyum-senyum sendiri.” Melon mendengus. “Lain kali kasih tahu saya dulu. Biar bisa nyiapin mental dan... lemari bersih.” Kiwi menyipitkan mata, pura-pura serius. “Itu pernyataan siap kenalan sama calon mertua, bukan?” Melon langsung melempar biji kelengkeng ke arahnya. Kiwi menghindar dengan gaya k****u. Jeruk menjerit, “Perang buah! Ayo serang Om Kiwi!” Dan dalam waktu tiga detik, taman berubah jadi arena lempar-lemparan sisa buah. Tawa mereka menyatu dengan suara alam, seperti lagu gembira yang diciptakan tanpa naskah.Malam itu hujan turun tiba-tiba. Melon berdiri di teras, menatap jalan basah ketika sebuah mobil berhenti. Kiwi turun, jaketnya setengah basah, wajahnya tegang. “Ada apa?” tanya Melon cepat. Kiwi langsung bicara, tanpa basa-basi. “Lele tahu rencana kita.” Melon menghela napas pendek. “Cepat juga.” “Dia nelpon. Nadanya manis, tapi isinya racun,” lanjut Kiwi. “Dia bilang aku cuma lari ke kamu karena nggak punya pilihan lain.” Melon menatap Kiwi tajam. “Dan kamu jawab apa?” “Aku bilang,” Kiwi mendekat satu langkah, “aku memilih kamu. Bukan karena terpaksa. Tapi karena aku sadar, selama ini yang aku cari ada di depan mata.” Hujan makin deras. Dari dalam rumah, Jeruk mengintip. “Dia nggak akan berhenti,” kata Melon datar. “Aku tahu. Makanya aku datang,” Kiwi menatap Melon serius. “Aku mau kita hadapi bareng. Nggak ada lagi diam-diam.” Belum sempat Melon menjawab, ponsel Kiwi berdering lagi. Nama Lele muncul. Kiwi mengangkatnya, menyalakan pengeras suara. “Kiwi,” su
Malam datang dengan hujan rintik yang turun pelan, membuat rumah terasa lebih sunyi dan hangat. Jeruk sudah terlelap di kamar, lampu tidur menyala redup. Melon dan Kiwi duduk di ruang tamu, hanya ditemani suara hujan dan jam dinding.Kiwi menyandarkan punggung, menatap langit-langit. “Aku kepikiran satu hal,” katanya pelan.Melon memeluk lututnya. “Apa?”“Nama belakang.”Melon menoleh. “Hah?”“Setelah nikah. Kamu nggak harus pakai namaku,” lanjut Kiwi cepat, seolah takut disalahpahami. “Aku cuma mau tahu… kamu maunya gimana.”Melon terdiam. Hujan terdengar makin jelas. “Aku ingin tetap jadi Melon,” jawabnya akhirnya. “Bukan karena menolak kamu. Tapi karena aku sudah lama belajar berdiri dengan nama ini.”Kiwi mengangguk tanpa ragu. “Aku suka jawabannya.”Melon menatapnya, heran. “Serius?”“Iya. Aku jatuh cinta sama perempuan yang tahu siapa dirinya,” ucap Kiwi tenang. “Bukan yang menghilang demi pernikahan.”Kalimat itu membuat dada Melon terasa hangat sekaligus perih. Ia menunduk, la
Beberapa hari berlalu dengan tenang. Kiwi menepati janjinya—datang menemui Jeruk tanpa janji berlebihan, tanpa sikap seolah semuanya sudah kembali seperti dulu. Ia datang, mendengarkan cerita Jeruk, tertawa secukupnya, lalu pulang tanpa drama. Dan justru di situlah Melon mulai melihat sesuatu yang berbeda.Bukan kata-kata.Sikap.Sore itu, setelah Jeruk tertidur karena kelelahan bermain, Melon duduk di ruang tengah. Kiwi masih ada di sana, duduk berseberangan, secangkir teh di tangannya. Suasana canggung, tapi tidak berat.“Mel,” Kiwi membuka suara lebih dulu. Tidak menggoda, tidak bercanda. “Aku mau ngomong. Dan kali ini… serius.”Melon mengangguk. “Aku dengar.”Kiwi menarik napas. “Aku nggak mau kamu setuju apa pun karena Jeruk. Kalau kamu menutup pintu, aku terima. Tapi kalau ada celah sedikit aja… aku mau memperbaiki semuanya dari awal. Bukan sebagai orang lama. Tapi sebagai laki-laki yang belajar.”Melon menatapnya lama. Wajah Kiwi terlihat lebih matang, lebih tenang. Tidak defen
Jeruk menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara kecil tapi jelas, seolah sudah memikirkan ini lama.“Om Kiwi…”“Iya?” jawab Kiwi, suaranya langsung melunak.“Kalau Om masih sayang sama aku…” Jeruk menelan ludah, “…boleh nggak Om nikah sama Mama Melon?”Hening.Melon langsung membeku. Wajahnya pucat seketika.“Jeruk!” serunya pelan tapi tegas. “Kamu nggak boleh bilang begitu.”Jeruk menoleh cepat. “Kenapa, Bu? Aku cuma pengin kita bareng lagi. Aku capek pura-pura nggak kangen.”Di seberang, Kiwi tak langsung menjawab. Napasnya terdengar berat, bukan karena bercanda kali ini—tapi karena pertanyaan itu datang dari tempat paling jujur.“Jeruk…” Kiwi akhirnya bicara, pelan dan hati-hati. “Kamu tahu nggak, menikah itu bukan cuma soal kangen.”Jeruk mengangguk kecil. “Aku tahu. Tapi kalau Om nikah sama mama, aku nggak perlu kangen lagi.”Kalimat itu membuat dada Melon sesak. Ia berjongkok di depan Jeruk, memegang bahu kecil itu.“Sayang, dengar Ibu ya. Kamu boleh kangen. Tapi kepu
Pagi hari.Matahari baru merayap naik ketika suara ketukan lembut terdengar di pintu rumah Melon. Ia sedang menyiapkan sarapan Jeruk di dapur — roti panggang kesukaan anak itu — saat suara itu membuat tubuhnya menegang.Jeruk yang duduk di kursi kecilnya langsung menegakkan tubuh. “Mama, ada orang?” tanyanya polos.Melon mengusap kepala Jeruk cepat. “Iya, sayang. Mama cek dulu.”Langkah Melon pelan, nyaris ragu, sampai akhirnya ia membuka pintu.Dan di sanalah Kiwi berdiri.Dengan hoodie abu-abu, rambut sedikit berantakan, dan mata yang terlihat kurang tidur. Kiwi menelan ludah ketika tatapannya bertemu tatapan Melon—canggung, kaget, dan sedikit gugup. Udara pagi yang dingin tidak mampu mengalahkan rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi dadanya.“Kiwi…” Melon hampir berbisik.“Aku… cuma mau lihat Jeruk,” jawab Kiwi pelan, suaranya serak seolah ia sendiri belum yakin berdiri di situ.Sebelum Melon sempat berkata apa pun, suara kecil meluncur dari ruang tengah.“Kiwi!!!”Jeruk berlari sece
Sore itu, cahaya matahari menembus kaca besar toko buku, memantulkan warna keemasan di lantai kayu. Suasana tenang—hanya ada suara lembut halaman yang dibalik dan tawa kecil Jeruk di pojok ruangan. Melon sedang menyusun buku-buku baru di rak tengah ketika Pak Bram datang menghampiri sambil membawa selembar kertas.“Bu Melon, ini daftar buku yang baru masuk minggu depan. Kalau mau, kamu bantu pilih mana yang cocok ditaruh di rak depan,” ujarnya.Melon menerima kertas itu. “Boleh, Pak. Saya senang bisa bantu.”Pak Bram tersenyum, lalu beranjak ke ruang belakang. Melon menatap daftar buku itu lama, memperhatikan judul-judulnya: kisah keluarga, perjalanan hidup, tentang orang-orang yang bangkit dari kehilangan. Tanpa sadar, senyum kecil terbit di wajahnya. “Lucu ya,” gumamnya pelan. “Buku pun kadang tahu apa yang kita butuh baca.”“Kalimat yang bagus,” suara tiba-tiba terdengar di belakangnya.Melon menoleh. Seorang pria berdiri di dekat rak. Wajahnya tenang, berusia sekitar akhir tiga pu







