LOGIN06 - Syarat sang Perawan
Sentuhan jemari pria itu di permukaan bibir bawah Jasmine terasa bagai sengatan listrik yang memercik cepat ke seluruh penjuru tubuhnya. Hawa panas menguar dari helaan napas yang membelai pipi Jasmine yang sudah merona merah. Jasmine memejamkan mata sejenak, memutar otak yang serasa membeku di bawah kungkungan aura intimidatif pimpinan organisasi bayangan di hadapannya.
Ia harus memikirkan cara untuk lolos. Akal sehatnya menjerit histeris agar ia tidak tenggelam dalam pesona pria yang baru saja memenangkannya dari panggung lelang haram tersebut.
Suara Max terdengar serak dan berat ketika ia berbisik sangat dekat di telinga Jasmine, menuntut gadis itu untuk bersikap lebih tenang. Jarak di antara wajah mereka terkikis habis. Max memiringkan kepala, bersiap mengklaim bibir ranum yang sedari tadi terus menggoda imannya.
"Max, tunggu," bisik Jasmine, suaranya gemetar namun ada ketegasan tersembunyi yang membuat pergerakan Max tertahan.
"Ada apa lagi, sweetheart?" gumam Max, matanya menatap lekat bibir yang terpaut beberapa sentimeter di depan wajahnya. "Waktu untuk berbincang sudah habis."
Tepat sebelum bibir pria itu menyentuh miliknya, Jasmine mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa. Ia memancangkan kedua telapak tangannya di dada bidang Max lalu mendorongnya sekuat tenaga.
Langkah Max terhuyung ke belakang. Alis tebal pria itu bertaut heran menatap gadis delapan belas tahun yang kini memasang mata berkilat penuh keberanian, walau pergerakan dadanya yang kembang kempis menunjukkan betapa hebat rasa takut yang menyelimutinya.
"Jangan sentuh aku sebelum kamu mendengar penawaranku," tegas Jasmine. Jemarinya yang sedikit bergetar membetulkan tali kimono satinnya yang melonggar, lalu menyilangkan kedua tangannya rapat di depan dada. Ia menyandar tegak pada tepi sofa, berusaha berdiri sejajar dengan pria matang di hadapannya.
"Penawaran?" Max terkekeh pelan. Tawa renyah itu terdengar agak mengejek saat ia melangkah mendekati meja kecil, mengambil gelas berisi sisa air, lalu memutar-mutarnya perlahan. "Uang dua ratus juta sudah berpindah ke rekening tantemu yang serakah itu, Jasmine. Apa menurutmu jumlah itu masih kurang untuk malam ini?"
"Uang dua ratus juta itu bukan milikku, dan aku tidak pernah menjual diriku pada siapa pun!" balasan Jasmine melayang cepat dan tajam. "Itu transaksi kotor kamu dengan Anita. Tapi kalau kamu berniat menyentuhku dan mengambil keperawananku malam ini, kamu harus bersedia menikahiku secara sah."
Keheningan seketika melingkupi kamar Paviliun Lily. Hanya terdengar detak halus jarum jam dinding serta deru pendingin udara yang berhembus konstan.
Max membatu di tempatnya berdiri. Gelas air di tangannya terhenti di udara. Ia menatap Jasmine seolah gadis itu baru saja mengutarakan sesuatu yang sama sekali di luar nalar manusia sehat. Detik berikutnya, tawa Max kembali pecah, kali ini lebih keras dan lepas dibanding sebelumnya.
"Menikah?" Max memandangi Jasmine dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil menyunggingkan senyum heran. "Kamu pasti bercanda. Usiamu baru delapan belas tahun, Jasmine. Aku pria tiga puluh enam tahun. Dan yang paling penting, aku tidak pernah punya niat untuk mengikat diri dalam sebuah pernikahan dengan wanita mana pun."
"Kalau begitu, pintu keluar ada di sebelah sana," sahut Jasmine tenang, menunjuk ke arah pintu kayu tebal dengan dagunya. "Silakan keluar. Kamu bisa minta kembali uang ratusan jutamu pada Anita."
Sorot mata Max menyempit tajam. Seringai santai di wajahnya perlahan luruh, berganti dengan pandangan dingin khas seorang penguasa dunia hitam yang tidak terbiasa menerima penolakan. Ia melangkah perlahan mengikis jarak, memaksa Jasmine mundur hingga punggung gadis itu menabrak tepi meja rias.
Max merendahkan tubuhnya, menangkup dagu Jasmine dengan jemarinya yang kokoh lalu memaksa gadis itu mendongak. "Kamu mencoba bernegosiasi denganku, gadis kecil? Di duniaku, tidak ada satu orang pun yang berhak memberikan syarat kepadaku, terlebih seorang gadis polos yang bahkan tidak menyadari seberapa besar harta warisan orang tuanya sendiri."
Jasmine membalas tatapan itu tanpa keraguan sedikit pun, walau jantungnya berdebar kencang bagai marawis. "Tapi ini tubuhku. Dan di sini, pilihannya cuma dua. Kamu keluar dari kamar ini tanpa mendapatkan apa-apa, atau jadikan aku istrimu."
Max menatap dalam-dalam sepasang mata di hadapannya. Ada kebanggaan tersirat di sana, sebuah martabat putri dari Hermawan yang tidak sudi diinjak-injak begitu saja. Gairah liar yang sempat membakar dada Max perlahan mendingin, berganti dengan rasa kagum yang menggelitik sudut hatinya. Gadis ini terbukti jauh lebih cerdik dan berani dari perkiraannya.
Sebelum Max sempat membalas perkataan Jasmine, getaran hebat dari ponsel di saku celananya memecahkan ketegangan. Nada dering khusus bergema nyaring di dalam ruangan.
Max bergumam rendah, mengeluarkan ponselnya lalu melirik layar. Raut wajahnya seketika berubah sangat serius dan dingin saat membaca nama yang tertera di sana. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan perangkat itu ke telinganya.
"Bicara," perintah Max singkat.
Jasmine memperhatikan perubahan aura Max yang mendadak berbalik seratus delapan puluh derajat. Sisa-sisa godaan dan gairah hilang sepenuhnya, berganti dengan penampilan berbahaya yang memancarkan ketegangan.
"Apa? Bagaimana bisa insiden itu terjadi?" suara Max meninggi, rahangnya mengetat keras. "Amankan lokasi sekarang juga. Aku tiba di sana dalam lima belas menit."
Max mematikan sambungan telepon. Ia memejamkan mata sejenak untuk menguasai emosi, lalu kembali menatap Jasmine yang masih berdiri mematung di dekat meja rias. Ia merapikan kemejanya dan memungut jas serta dasinya yang terhampar di sofa dengan sigap.
"Sepertinya keberuntungan sedang memihakmu malam ini, sweetheart," ujar Max seraya menyampirkan jas di lengannya. Ia berjalan mendekati Jasmine, berhenti tepat di hadapan gadis itu.
"Pernikahan?" Max tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sulit diartikan. "Simpan tawaranku itu. Kita lihat seberapa lama kamu sanggup bertahan dari cengkeraman Karan sebelum akhirnya kamu sendiri yang datang memohon perlindungan padaku."
Tanpa menunggu jawaban, Max berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kamar. Pintu kayu tebal itu tertutup rapat dengan dentuman halus.
Jasmine menyandar penuh pada tepi meja rias, kedua kakinya mendadak lemas bagai tak bertulang. Helaan napasnya terengah-engah seolah baru saja lolos dari lubang jarum. Namun, belum sempat rasa lega itu menguasai benaknya, suara gesekan engsel selot pintu dari sudut ruangan terdengar berderit pelan.
Jasmine menoleh kaget. Bukan Mbok Kanti atau Anita yang muncul dari balik kegelapan lorong sambungan paviliun, melainkan Aris. Pemuda itu melangkah masuk dengan tatapan mata lapar dan senyum cengengesan yang membuat bulu kuduk Jasmine berdiri.
"Wah, wah... ternyata pria tua berengsek itu pergi begitu saja," kekeh Aris seraya mengunci pintu kamar dari dalam. Ia memandangi penampilan Jasmine yang mengenakan kimono tipis dengan pandangan intens yang sarat akan hasrat terpendam. "Padahal dia sudah bayar mahal, tapi malah ninggalin barang sebagus ini."
Jasmine menyilangkan tangan di dada, melangkah mundur perlahan. "Aris, keluar dari kamarku sekarang!"
Aris malah tertawa remeh, melangkah maju mengikis jarak di antara mereka. "Kenapa harus keluar? Mami sudah lelang kamu, kan? Dan karena pemenangnya pergi, kenapa bukan aku saja yang menikmati keperawanan kamu malam ini? Aku sudah naksir kamu sejak pertama kali kita ketemu, Jasmine."
"Jangan gila kamu, Aris! Max bisa kembali kapan saja dan menghancurkan kamu!" gertak Jasmine dengan suara meninggi.
"Dia sudah pergi jauh bersama pengawalnya, aku sudah lihat sendiri dari jendela," balas Aris cepat. Matanya makin berkilat lapar. "Nggak akan ada yang menolong kamu malam ini, Jasmine."
Langkah kaki Aris terus menerjang maju. Jasmine panik, tangannya meraba-raba ke belakang, mencari benda apa pun di atas meja rias yang bisa dijadikan senjata membela diri. Jemarinya mencengkeram sebuah botol parfum berbahan kaca tebal.
Ketika Aris menerkam maju hendak meraih bahunya, Jasmine mengayunkan botol kaca itu sekuat tenaga ke arah wajah Aris. Sudut botol mengenai pelipis pemuda itu cukup keras.
"Bangsat!" keluh Aris, mundur beberapa langkah sambil memegangi wajahnya yang meneteskan darah segar.
Rasa sakit itu bukannya menyurutkan niatnya, melainkan makin membakar amarah dan nafsu bejatnya. Pemuda itu mengumpat kasar, lalu menerkam Jasmine hingga keduanya jatuh bergulingan ke atas karpet tebal.
"Lepasin aku! Aris, lepas!" jerit Jasmine sekencang-kencangnya. Ia memukul, mencakar, dan menendang apa saja yang bisa dicapai tangannya. Namun, perbedaan tenaga di antara mereka terlalu jauh. Aris berhasil mengunci kedua pergelangan tangan Jasmine di atas kepala, menindih tubuh gadis itu dengan bobot badannya.
Aris menyeringai puas melihat Jasmine yang tidak berdaya di bawah kungkungannya. Ia merendahkan wajahnya, berniat mencium paksa leher Jasmine yang terekspos saat tali kimono gadis itu terlepas sepenuhnya. Jasmine memalingkan wajah sejauh mungkin sambil terus berteriak meminta pertolongan.
Brak!
Suara dobrakan keras berdentam mendadak dari arah pintu depan. Kayu pelapis pintu retak hebat sebelum akhirnya terhempas terbuka hingga menghantam dinding.
Sesosok tubuh tinggi besar berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan sorot mata kelam yang menyala penuh amarah. Max telah kembali.
Melihat pemandangan di dalam kamar, rahang Max mengeras kaku. Tanpa suara, ia melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan, mencengkeram kerah baju Aris dari belakang, lalu menarik pemuda itu keras-keras hingga terlempar menghantam lemari pakaian.
Aris meringis kesakitan, terbatuk-batuk di lantai seraya berusaha memproses apa yang baru saja terjadi. Belum sempat ia bangkit, ujung sepatu kulit Max sudah mendarat telak di rahang bawahnya.
"Aaghh!" jerit Aris histeris saat tubuhnya tersungkur keras.
Max tidak memberikan ampun sedikit pun. Pria itu mencengkeram rambut Aris, menarik kepalanya mendongak, lalu mendaratkan pukulan mentah berkali-kali ke wajah pemuda tersebut hingga darah segar menyembur membasahi karpet.
Jasmine meringkuk di sudut karpet, menyilangkan kimono untuk menutupi tubuhnya seraya menonton aksi brutal itu dengan tubuh gemetar hebat. Ia belum pernah melihat seseorang mengamuk sebegitu hebatnya seperti Max saat ini.
Suara kegaduhan itu memancing kedatangan orang-orang di luar. Anita dan Karan berlari masuk ke dalam kamar dengan wajah panik.
"Aris! Anakku!" jerit Anita histeris begitu melihat putra kesayangannya sedang babak belur dihajar tanpa ampun oleh Max. Anita menerjang maju berniat melerai, namun Anto yang berdiri di belakang Max dengan sigap menahan tubuh wanita itu. "Lepasin aku! Karan, lakukan sesuatu! Anak kita bisa mati!"
Karan melangkah maju dengan wajah mengeras, aura mantan tentara memancar tegang dari tubuhnya. "Max! Hentikan! Ini rumah saya, kamu tidak bisa seenaknya menghajar keponakan saya di sini!"
Max melepaskan cengkeramannya pada baju Aris yang sudah bersimbah darah. Pemuda itu terkulai tak berdaya di lantai, pingsan dengan luka parah di wajahnya. Max bangkit berdiri, menyapu ujung bibirnya yang terkena cipratan darah, lalu menatap Karan dengan pandangan dingin yang mematikan.
"Keponakanmu ini baru saja mencoba memerkosa wanita di dalam area yang sudah aku sewa secara sah," suara Max menggelegar, dingin dan sarat ancaman. "Di duniaku, tindakan berengsek seperti ini dibayar dengan nyawa."
"Ini urusan internal keluarga kami!" potong Karan tegar, meski matanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan. "Jangan bawa-bawa aturan organisasimu ke sini!"
Max menyeringai sinis. Pria itu mengeluarkannya sapu tangan dari saku jasnya, mengusap bercak darah di jemarinya dengan gerakan tenang namun penuh tekanan psikologis. "Urusan keluarga? Kalian menjual gadis ini di panggung lelang seperti barang dagangan, dan sekarang kamu bicara soal urusan keluarga?"
Anita yang menangisi keadaan Aris di lantai berteriak histeris. "Aku akan laporkan kamu ke polisi atas penganiayaan ini! Kamu pikir kamu siapa, hah?!"
Max melangkah mendekati Anita, menunduk sedikit untuk menatap wanita itu dengan pandangan merendahkan. "Silakan laporkan, Anita. Dan besok pagi, aku pastikan seluruh jaringan bisnis harammu, pencucian uang para koruptor, serta praktik lelang manusia yang kamu kelola dibongkar habis oleh media dan kepolisian."
Wajah Anita seketika pucat pasi. Suaranya tercekat di tenggorokan, menyadari bahwa ancaman Max bukanlah gertakan belaka.
Karan mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Max, sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang sebelum situasi makin tidak terkendali."
Max tertawa pelan, tawa dingin yang membuat suasana kamar terasa makin mencekam. "Pergi? Dari rumah yang bahkan bukan milikmu? Kamu cuma penipu yang mengaku-ngaku sebagai adik Hermawan hanya demi menguasai warisannya, Karan."
Karan terperangah. Wajahnya menegang hebat saat rahasia terbesarnya dibongkar di depan mata kepalanya sendiri.
Max berpaling menatap Jasmine yang masih terduduk lemas di sudut ruangan. Sorot mata pria itu melunak sejenak saat menangkap raut ketakutan di wajah gadis tersebut. Tanpa ragu, Max melangkah menghampiri Jasmine, melepas jas mewahnya, lalu menyampirkan kain tebal itu ke bahu Jasmine untuk menutupi tubuhnya.
Max merendahkan tubuhnya, membimbing Jasmine untuk berdiri dengan perlahan. Jasmine berpegangan erat pada lengan Max, merasa bahwa untuk saat ini, pria berbahaya inilah satu-satunya tempat berlindung yang nyata.
Max membalikkan badan menghadap Karan dan Anita, lalu mengumumkan keputusannya dengan suara lantang yang memutus seluruh perdebatan.
"Dengar baik-baik," ujar Max penuh penekanan. "Aku akan menikahi Jasmine Hermawan secara resmi. Mulai detik ini, tidak ada satu orang pun dari kalian yang boleh menyentuhnya lagi."
"Tidak bisa!" teriak Anita panik. "Jasmine masih sekolah! Umur kalian berdua bedanya terlalu jauh!"
"Aku tidak minta persetujuanmu, Anita," balas Max dingin. Ia merangkul pinggang Jasmine secara protektif, menuntun gadis itu melangkah keluar dari kamar tanpa memalingkan kepala lagi. Anto mengikutinya dari belakang, memastikan tidak ada anak buah Karan yang berani berkutik.
Mereka melangkah menelusuri lorong paviliun hingga keluar menuju halaman depan vila. Udara malam yang dingin menyapa kulit Jasmine, membantunya sedikit menguasai kesadaran dari guncangan emosi yang bertubi-tubi.
Sebuah mobil sedan hitam mewah sudah terparkir di depan tangga utama. Max membantu Jasmine masuk ke dalam kabin mobil yang hangat, lalu ikut duduk di sampingnya.
Mobil melaju mulus membelah kegelapan malam. Jasmine menyandar lemas pada jok kulit, menatap keluar jendela sebelum akhirnya berpaling menatap pria di sisinya.
"Kenapa kamu kembali?" tanya Jasmine pelan.
Max menoleh perlahan, menatap gadis di sampingnya. "Aku hanya tidak suka ada orang lain yang menyentuh milikku. Terutama gadis yang punya keberanian untuk menawar balik seorang pimpinan organisasi."
Jasmine mendengus pelan, walau di dalam hatinya ada rasa lega yang tak tertandingi. "Lalu... bagaimana soal pengumuman pernikahan tadi? Kamu serius?"
Max menyandarkan kakinya santai, menatap Jasmine penuh intensitas. "Pernikahan adalah cara paling cepat dan legal untuk mencabut hak perwalian Karan atas dirimu dan seluruh warisan Hermawan. Begitu kita menikah, kamu aman, dan Karan tidak punya kekuatan hukum lagi."
Jasmine mencerna perkataan itu dengan cermat. "Dan kamu mendapatkan akses ke data rahasia ayahku yang kamu cari, kan?"
Max menyeringai tipis, mengakui kecerdasan Jasmine. "Persis. Kita saling memanfaatkan, Jasmine. Kamu butuh perisai dari Karan, dan aku butuh data rahasia itu."
Jasmine menatap telapak tangan Max yang terulur di depannya. Ia menghirup napas panjang untuk menyakinkan hatinya, lalu menyambut genggaman tangan pria itu dengan mantap.
"Setuju," bisik Jasmine. "Kita lakukan pernikahan kontrak ini."
06 - Syarat sang PerawanSentuhan jemari pria itu di permukaan bibir bawah Jasmine terasa bagai sengatan listrik yang memercik cepat ke seluruh penjuru tubuhnya. Hawa panas menguar dari helaan napas yang membelai pipi Jasmine yang sudah merona merah. Jasmine memejamkan mata sejenak, memutar otak yang serasa membeku di bawah kungkungan aura intimidatif pimpinan organisasi bayangan di hadapannya.Ia harus memikirkan cara untuk lolos. Akal sehatnya menjerit histeris agar ia tidak tenggelam dalam pesona pria yang baru saja memenangkannya dari panggung lelang haram tersebut.Suara Max terdengar serak dan berat ketika ia berbisik sangat dekat di telinga Jasmine, menuntut gadis itu untuk bersikap lebih tenang. Jarak di antara wajah mereka terkikis habis. Max memiringkan kepala, bersiap mengklaim bibir ranum yang sedari tadi terus menggoda imannya."Max, tunggu," bisik Jasmine, suaranya gemetar namun ada ketegasan tersembunyi yang membuat pergerakan Max tertahan."Ada apa lagi, sweetheart?" g
Jasmine si kutu buku punya khayalan tingkat tinggi. Dia memiliki segunung novel romansa yang seringkali menceritakan kisah cinta epik dari tokoh utamanya. Kebanyakan penulis menjabarkan seperti apa rasanya bertemu dengan cinta pertama, menjalani hari-hari penuh antisipasi dan debaran jantung yang membuat pipi bersemu kemerahan hingga akhirnya sepasang insan itu berbagi ciuman. Semuanya begitu indah dan mendebarkan! Jasmine sampai-sampai membayangkan seperti apa ciuman pertamanya nanti. Lelaki seperti apa yang akan dia nikahi, bagaimana rupanya, seperti apa sikap romantisnya. Dan apa yang akan mereka lakukan di malam pertama pernikahan. Auw, membayangkannya saja membuat Jasmine menjerit-jerit menggigit selimut kesenangan sekaligus malu. Sebenarnya, Jasmine tidak sepolos itu, dia pernah curi-curi membaca novel dan manga erotis. Ibunya bahkan tanpa sadar membayarkan tagihan pembelian buku impor berbahasa Inggris yang berkisah tentang BDSM. Ah, andai saja Lily Hermawan tahu apa bacaa
"Pe-penipu...?" Napas Jasmine tercekat, dia tersedak emosinya. Tangannya terangkat menutup mulut seiring dengan air mata membayang di pelupuknya. Max mengangguk santai, dia menarik dasi lepas dari lehernya, membuangnya ke lantai dan memberi kode pada Jasmine agar mendekat. Sedikit ragu, Jasmine melangkah. Dia berdiri cukup dekat namun tetap menjaga jarak dari lelaki asing yang membawa berita tak menyenangkan. Mana mungkin Karan, pamannya itu bukan adik dari ayahnya? Lalu siapa dia? "Kamu mau tahu siapa dia?" Max seolah bisa membaca pikiran Jasmine. Gadis itu mengangguk. Max tersenyum, Jasmine ini begitu polos. Dia bagaikan sebuah buku yang terbuka; Max bisa membaca semuanya dari sirat wajahnya. Tanpa sengaja, pandangan mereka bersirobok. Max terdiam seketika manik mata biji almon itu menatapnya menuntut jawaban. "Duduk sini," Max menepuk pahanya, meminta Jasmine duduk di pangkuannya. Tak disangka, Jasmine menggeleng, "Tidak, terima kasih." "Oh, nggak perlu sungkan, sweetheart
Sejak kedatangan Anita ke hidupnya hampir setahun yang lalu, Jasmine tak pernah tidur tenang. Dia terusir dari kamarnya sendiri yang berada di paviliun samping, sekarang kamar itu digunakan Aris, anak Karan dan Anita, seorang mahasiswa tingkat tiga Fakultas Hukum di Universitas ternama. Anita selalu membanggakan anak semata wayangnya itu, memanjakannya hingga batas yang sangat mengkhawatirkan. Di pertemuan pertama mereka, Aris sudah naksir Jasmine, namun Anita tak suka melihat mereka mengobrol. Walau tinggal satu atap, Aris dan Jasmine tak pernah terlihat akrab. Memang sudah sepantasnya seperti itu, karena siapa sih yang malah bermanis-manis dengan penjajah yang menduduki wilayah? Bagi Jasmine, Karan dan anak istrinya tak ubahnya penjajah yang menginvansi rumahnya. Mereka datang dan memorak porandakan kehidupan Jasmine. Tak sampai di situ, ternyata Anita dengan beraninya melelang Jasmine pada lelaki hidung belang! "Jasmine," panggil Aris ketika Jasmine turun dari panggung. Gadis it
Di mata Max, gadis muda itu terlalu polos untuk mengenakan gaun mini halter neck yang memeluk setiap lekuk tubuhnya. Jelas gadis yang dipanggil ke hadapan para pelelang yang kebanyakan pria hidung belang itu memiliki bentuk tubuh seorang wanita muda, namun dari ekspresi wajahnya dia masih lugu. Sorot matanya begitu naif hingga Max hampir merasa tidak tega melihatnya. "Wah, bodinya OK juga... masih asli semua." Bisik seseorang yang duduk di belakangnya. Nada suaranya begitu mesum, bahkan Max sempat mendengar decakan kagum yang disusul dengan helaan napas birahi. "All natural, mantap nih." Timpal kawannya. "Virgin oil harganya mahal, bro." "Nggak masalah, ada harga ada rupa." Keduanya terkekeh menjijikkan. Max melirik ke balik bahunya dan mendapati dua pria setengah baya yang wajahnya sering wara-wiri di televisi sebagai pejabat publik kini dengan santainya mengomentari tubuh seorang gadis muda yang mungkin saja seumuran dengan anak bungsu atau cucu pertama mereka. Max menarik nap
"Kulit kamu cerah, kontras dengan warna hitam, jadi kelihatan lebih anggun!" Anita, istri pamannya yang baru dikenalnya selama beberapa bulan berdecak kagum pada pantulan Jasmine di cermin. Matanya berbinar-binar melihat kecantikan paripurna seorang gadis yang masih perawan. Ini pertama kalinya Jasmine mengenakan lingerie. Akhir-akhir ini dia memang sering memakai warna hitam, namun tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa hitam akan membuatnya terlihat lebih menarik di ranjang. "Coba kamu lepas kacamatanya, biar kelihatan makin seksi." Sambil menggigit bibir bawahnya, Jasmine melepaskan kacamata berminus yang selama ini tak pernah lepas bertengger di hidungnya. Jasmine melepaskan kacamata dan mengedip-ngedipkan matanya, sepertinya dia perlu kontrol ke Optometris lagi. Pandangannya semakin mengabur... "Lho, kok malah nangis?" Tanya Anita dengan nada suara keibuan yang terdengar palsu, dia merangkul bahu Jasmine sambil memandang cermin, air mata gadis itu meleleh di pipinya "a







