FAZER LOGINCrysta membuka mata. Iris biru secerah langit di angkasa menjadi pertanda bahwa ia adalah keturunan dari penguasa Kerajaan Orva. Ia menyelipkan surai yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang bahu. Membenahi posisi yang semula berbaring jadi duduk bersandar di kepala ranjang. Menetralkan kantuk.
Indra penciumannya langsung mencium aroma lezat yang ternyata berasal dari tengah-tengah ruangan. Monic sengaja menaruhnya di sana untuk memudahkan Crysta memakannya. Sudah tiga hari Crysta enggan keluar kamar sejak melihat potongan tangan Prince Logan. Nafsu makannya menghilang. Crysta juga sulit tidur dan terjaga hingga pagi.
Dia mungkin tidak mencintai Logan, tapi ia turut berempati atas wafatnya pangeran Mytris yang berpulang dengan cara dibunuh cukup sadis. Crysta tidak dapat membayangkan bila hal seperti itu terjadi pada Pascal. Mungkin dia akan menangis histeris, lalu jatuh pingsan dan mati secara perlahan.
Menghela napas panjang, Crysta berdiri lalu mendekati sofa yang di mejanya terdapat banyak makanan tadi. Mengambil satu potong daging dan memasukkannya ke mulut. Pun hal itu tetap tak membuat nafsu makannya kembali. Ia menyingkir dari sana dan memilih mendekati meja rias. Menatap kotak-kotak beludru dengan banyak mutiara yang mengingatkannya akan seseorang.
‘’Pascal…’’
‘’Your Highness.’’
Crysta yang baru saja ingin duduk— berbalik untuk menatap sang empu suara di belakangnya.
‘’Monic?’’
Wanita itu datang bersama para pelayan yang bertugas untuk mengurus kebutuhan sang putri. Wanita-wanita itu menyebar mengambil alih tugas mereka masing-masing. Ada yang mempersiapkan air hangat, merapikan tempat tidur, menyiapkan gaun dan masih banyak lagi. Sementara Monic, ia mendekati Crysta yang masih saja enggan untuk tersenyum.
‘’Aku membawa berita untuk anda. Ini tentang Prince Pascal.’’
Mata Crysta membola seketika. Mengedarkan pandang pada pelayan yang tengah sibuk lalu menarik Monic ke balkon untuk mendengar berita yang berhasil membuat kantuknya hilang. Pembicaraan ini rahasia. Tidak boleh ada yang tahu.
‘’Sebuah raven baru saja tiba dari Valliant. King Lumiere mengatakan bahwa Prince Pascal tiba dengan selamat.’’
‘’Oh, syukurlah.’’ Crysta mendapatkan senyumnya kembali. Wajahnya diliputi bahagia.
Sama seperti Pascal yang terlambat datang ke pesta, balasan surat dari Valliant juga datang paling akhir. Membuat Crsyta dilanda khawatir karena pangeran dari kerajaan lain telah membalas surat dari Orva sehari setelah raven dikirim. Dan apa yang baru Monic katakan membuat benak Crysta lega dan juga diserang rasa tenang.
Namun, masih ada ekspresi menggantung di wajah Monic saat ini. Hal tersebut membuat dahi Crysta mengkerut cukup dalam. Ada sesuatu yang hendak Monic sampaikan namun ragu untuk wanita itu katakan.
‘’Ada apa, Monic? Bukankah itu berita bagus?’’
Monic menarik napas panjang. Menatap Crysta pilu dan sontak gadis itu kembali mengajukan pertanyaan karena penasaran.
‘’Apa ada berita yang belum ku ketahui?’’
‘’Saya harus mempersiapkan anda, Princess. Anda diminta King Brent datang ke aula kerajaan.’’ Monic menjawab lembut.
‘’Mempersiapkan bagaimana?’’ tanya Crysta.
Sebentar lagi seorang pelayan akan melepaskan gaunnya. Membersihkan tubuhnya. Memakaikan gaun dan juga memoles wajahnya hingga ia keluar dari kamar dalam keadaan cantik. Crysta hafal benar tentang jadwal mati yang selalu dilakukan pelayan-pelayan itu.
Dan kegiatan itu sudah seperti jadwal biasa dan Monic tak pernah sekalipun mengatakan mempersiapkan terkecuali bila ia diharuskan untuk menemui tamu kerajaan.
‘’Kerajaan Lucard, Princess.’’ Jawaban Monic langsung membungkam pertanyaan yang ada di kepala Crysta.
‘’Ada perlu apa utusan Lucard kemari? Bukankah Prince Leonard dan Prince Klein kembali dengan selamat?’’
‘’Kau harus sadar bahwa kau tidak memiliki siapapun yang dapat diandalkan selain ayah, Pascal. Dan ayah hanya memiliki satu pewaris, yaitu kau. Kau adalah ujung tombak kerajaan ini. Pedang dan shield milik Valliant. Kau harus melindungi mutiara di dalam sebuah kerang. Rakyatmu berada dalam perlindunganmu. Jadi pastikan agar cangkangmu tetap kokoh dan jangan sampai rapuh.’’‘’Aku berjanji, Ayah.’’ Angguknya sungguh-sungguh. Tatapannya begitu tajam nan menusuk. Sedikit meredakan amarah King Lumiere, karena Pascal pasti akan konsisten dengan perkataannya.Urat di dahi King Lumiere mengendur. Entah bagaimana Pascal akan menghadapi serangan dari delapan kerajaan di kawasan barat. Yang awalnya berjumlah sepuluh, namun dua di antaranya telah berhasil tunduk di bawah kuasa Valliant.
‘’Father?’’ sapa Pascal begitu King Lumiere masuk tanpa mengetuk.Hanya ia temukan Pascal seorang. Tanpa ada satupun pelayan di dalamnya. Berbaring di atas tempat tidur dengan kamar yang begitu terang.‘’Sebuah keajaiban kau sudah bangun sebelum tengah hari,’’ ucap raja, curiga. Matanya menyisir ke setiap sudut. Berbarengan dengan kepala pelayan pribadi Pascal yang baru saja bergabung.Sedangkan di bawah selimut, tangan Pascal sibuk membekap mulut Crysta. Berjaga-jaga bila gadis itu bersuara atau semacamnya. Walau Crysta meyakinkan berkali-kali bahwa ia tetap akan diam, tapi tetap saja Pascal tak mempercayainya.
‘’Itu adalah efek dari racun ermora jika tidak menyebar,’’ Penjelasan Pascal menjawab tanda tanya di wajah Crysta. Ia menyingkap helaian rambut yang menutupi wajah cantik itu. Entah itu bentuk perhatian atau hanya sekedar bantuan. Yang jelas Crysta merasa begitu disayang atas tindakan kecil tersebut.‘’Kalau dalam lima menit tidak ditangani, efeknya akan seperti menghadapi malaikat kematian. Suhu tubuhmu naik drastis. Kau akan merasa seperti dibakar dari dalam. Lalu kulitmu akan melepuh. Dan kau akan mati perlahan-lahan,’’ lanjutnya yang membuat Crysta bergidik ngeri.‘’Mengerikan sekali. Master of science Valliant tidak seharusnya menciptakan racun seperti itu.’’‘’Aku yang menciptakan
Dalam gerakan cepat, Pascal menarik Crysta hingga masuk ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu terperanjat sekaligus tak menyangka akan ada di posisi seperti ini. Tubuh mereka menempel. Pascal juga semakin mengeratkan pelukan di belakang pinggulnya. Hingga satu-satunya cara untuk melihat Pascal adalah dengan menengadah di mana bibir keduanya berjarak begitu dekat.‘’Sejak kapan kau memiliki perasaan padaku?’’‘’Apa kau juga memiliki perasaan yang sama?’’ Crysta berharap Pascal berkata iya.‘’Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan. Jawab saja.’’‘’Sejak kau memasuki aula istana dengan harimaumu,’’ Pangeran tampan nan be
Sementara di sisi lain kerajaan.Sebuah raven baru saja mendarat. Seorang prajurit memberikan surat pada Adipati Pedra yang kebetulan sedang bersama King Lumiere di aula istana.‘’Dari Argorn, Your Majesty,’’ Pedra berujar saat melihat segel surat yang ia genggam.Raja mengangkat tangannya ke udara, mempersilakan Pedra untuk membacanya. Namun perlu waktu begitu lama untuk Pedra menyampaikan isinya hingga raja berseru marah.‘’Katakan, Pedra!’’‘’Your Majesty, ini…’’Geram, akhirnya raja mengambil secara paksa. Memahami makna kata demi
‘’Aku adalah tamumu. Dan kau tidak ada di sini saat aku datang. Jadi hanya kau saja yang belum menyambutku,’’ tukasnya. Melihat ke arah jendela yang terbuka. Berharap Pascal melupakan topik itu. Karena sesungguhnya ia memang sangat rindu.Pascal mengulum senyum. Sejenak kemudian menggenggam tangan Crysta, mengecup punggung tangannya. ‘’Penyambutan yang seperti ini, Princess?’’Dengan senyum tertahan, Crysta memberanikan diri melihat mata indah milik Pascal. Jantungnya berdebar. Pipinya merona saat itu juga. ‘’Ya,’’ jawabnya malu. Entah kenapa Pascal begitu ramah tak seperti biasanya. Crysta berharap bahwa Pascal akan tetap seperti ini. Setidaknya ia tak akan merasa sungkan.‘’Aku sudah







