LOGINMonic menggigit bibir. Berpikir keras bagaimana ia harus menjelaskan hal yang ia ketahui pada Crysta. Tuan putri ini baru saja mendapat kabar bahagia tentang Pascal setelah tiga hari murung dan terus berada di dalam kamar. Ia tidak ingin merusak suasana hati Crysta yang sedang berbunga-bunga.
Dan perubahan mood Crysta yang semula membukit hingga terjun bebas ke dasar jurang benar-benar terjadi seperti yang Monic duga. Selepas keluar dari aula istana, Crysta membanting pintu cukup keras, melemparkan diri ke ranjang dan menenggelamkan wajahnya di bantal.
Kenyataan bahwa ia akan dinikahkan dengan Prince Leonard membuat Crysta menangis histeris. Meninggalnya Logan yang ia pikir akan menjadi jembatan baginya untuk bisa bersama Pascal ternyata hanya sebuah khayalan indah semata.
‘’Crysta,’’ Queen Ophelia beringsut di atas tempat tidur Crysta. Mengusap kepala sang putri.
‘’Mother, please,’’ Crysta menoleh pada sang ibu. Air matanya berlinang. Ekspresinya menyedihkan. ‘’Jika aku harus dijodohkan kembali, kenapa aku harus di jodohkan dengan Leonard dan bukannya Pascal?’’
Hati ibu mana yang tak teriris melihat anak satu-satunya ditimpa rasa sedih seperti ini. Namun sekali lagi, ia yang telah menyinggung terkait Pascal sebelum Brent menjatuhkan pilihan pada Leonard juga tak bisa menebak jalan pikiran suaminya.
‘’Kerajaan-kerajaan kawasan barat menjuluki Pascal sebagai pangeran tiran hanya karena ia berhasil merebut Kerajaan Calvard. Tapi dia tidak pernah sekalipun menyerang kerajaan dari kawasan timur, Mother.’’ Crysta membela sambil terisak.
Reputasi Pascal yang membantai satu keluarga kerajaan dengan menggantung kepala raja dan pangeran Calvard di alun-alun kerajaan tersebut menjadi perbincangan mengerikan di kawasan timur. Seluruh antek politik kerajaan beserta prajurit yang setia pada Calvard dihabisi tanpa ampun. Karena itulah kerajaan-kerajaan di kawasan barat begitu murka pada Pascal dan berusaha menjatuhkan kedaulatan Calvard yang kini berbendera Valliant.
Ophelia menduga bahwa King Brent hanya tak ingin Crysta menikah dan memiliki keturunan dari seorang tiran. Valliant dikenal makmur dengan rakyat yang patuh. Pun kerajaan sedamai itu tidak menarik minat King Brent untuk menjadikan Pangeran Valliant sebagai salah satu dari kandidat suami putrinya.
‘’My beautiful daughter,’’ Ophelia menarik Crysta untuk menyetarakan posisinya. Duduk berhadapan sambil menyeka air yang masih tak berhenti mengalir dari netra Crysta.
‘’Sepertinya Ayahmu mempertimbangkan banyak hal, Sayang. Dia hanya ingin dirimu bahagia.’’
‘’Tapi aku bahagia bila yang ku nikahi adalah Pangeran Valliant.’’ Crysta mempertegas.
Jangan tanyakan bagaimana ekspresi Ophelia saat ini. Karena ia seperti baru saja melihat sosok putrinya yang berusia lima tahun kembali berada di hadapannya. Crysta begitu rewel bila menginginkan sesuatu. Tidak ada kata tidak apalagi penolakan atas hal yang ia inginkan. Pokoknya harus dikabulkan.
Ophelia terdiam beberapa detik. Menoleh pada Monic yang dengan jelas memberi dukungan penuh pada Crysta. Ia mungkin seorang ratu, tapi kekuasaan tertinggi tetaplah dipegang oleh raja. Dan saat ini ia begitu dilema menjadi kubu netral dari dua orang terpenting di hidupnya dengan prinsip yang bertolak belakang.
‘’Crysta, prajurit kita akan mengawalmu untuk bertemu dengan Prince Leonard. Kau harus pergi besok untuk menyatakan kesiapan menikah dengan pangeran.’’ Ophelia menggenggam tangan Crysta seolah tak berdaya. Ia mengatakan ini karena Crysta tiba-tiba undur diri sebelum pembicaraan dengan utusan Lucard usai.
Crysta kembali menangis. Meratapi kemalangan yang membuatnya jatuh di pelukan Ophelia.
Tangan Monic mengepal tanpa sadar. Tidak tega melihat kondisi sang tuan putri yang sama tak berdayanya seperti ia yang hanya seorang pelayan. Tapi tangan itu tiba-tiba terbuka berbarengan akan ingatan tentang wilayah-wilayah kerajaan yang dijelaskan Crysta padanya saat sedang belajar di perpustakaan. Yaitu tentang Kerajaan Lucard yang berada tak jauh dari Kerajaan Valliant. Dan sebuah ide menghidupkan naluri Monic untuk menghilangkan tangis Crysta.
‘’Kau harus sadar bahwa kau tidak memiliki siapapun yang dapat diandalkan selain ayah, Pascal. Dan ayah hanya memiliki satu pewaris, yaitu kau. Kau adalah ujung tombak kerajaan ini. Pedang dan shield milik Valliant. Kau harus melindungi mutiara di dalam sebuah kerang. Rakyatmu berada dalam perlindunganmu. Jadi pastikan agar cangkangmu tetap kokoh dan jangan sampai rapuh.’’‘’Aku berjanji, Ayah.’’ Angguknya sungguh-sungguh. Tatapannya begitu tajam nan menusuk. Sedikit meredakan amarah King Lumiere, karena Pascal pasti akan konsisten dengan perkataannya.Urat di dahi King Lumiere mengendur. Entah bagaimana Pascal akan menghadapi serangan dari delapan kerajaan di kawasan barat. Yang awalnya berjumlah sepuluh, namun dua di antaranya telah berhasil tunduk di bawah kuasa Valliant.
‘’Father?’’ sapa Pascal begitu King Lumiere masuk tanpa mengetuk.Hanya ia temukan Pascal seorang. Tanpa ada satupun pelayan di dalamnya. Berbaring di atas tempat tidur dengan kamar yang begitu terang.‘’Sebuah keajaiban kau sudah bangun sebelum tengah hari,’’ ucap raja, curiga. Matanya menyisir ke setiap sudut. Berbarengan dengan kepala pelayan pribadi Pascal yang baru saja bergabung.Sedangkan di bawah selimut, tangan Pascal sibuk membekap mulut Crysta. Berjaga-jaga bila gadis itu bersuara atau semacamnya. Walau Crysta meyakinkan berkali-kali bahwa ia tetap akan diam, tapi tetap saja Pascal tak mempercayainya.
‘’Itu adalah efek dari racun ermora jika tidak menyebar,’’ Penjelasan Pascal menjawab tanda tanya di wajah Crysta. Ia menyingkap helaian rambut yang menutupi wajah cantik itu. Entah itu bentuk perhatian atau hanya sekedar bantuan. Yang jelas Crysta merasa begitu disayang atas tindakan kecil tersebut.‘’Kalau dalam lima menit tidak ditangani, efeknya akan seperti menghadapi malaikat kematian. Suhu tubuhmu naik drastis. Kau akan merasa seperti dibakar dari dalam. Lalu kulitmu akan melepuh. Dan kau akan mati perlahan-lahan,’’ lanjutnya yang membuat Crysta bergidik ngeri.‘’Mengerikan sekali. Master of science Valliant tidak seharusnya menciptakan racun seperti itu.’’‘’Aku yang menciptakan
Dalam gerakan cepat, Pascal menarik Crysta hingga masuk ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu terperanjat sekaligus tak menyangka akan ada di posisi seperti ini. Tubuh mereka menempel. Pascal juga semakin mengeratkan pelukan di belakang pinggulnya. Hingga satu-satunya cara untuk melihat Pascal adalah dengan menengadah di mana bibir keduanya berjarak begitu dekat.‘’Sejak kapan kau memiliki perasaan padaku?’’‘’Apa kau juga memiliki perasaan yang sama?’’ Crysta berharap Pascal berkata iya.‘’Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan. Jawab saja.’’‘’Sejak kau memasuki aula istana dengan harimaumu,’’ Pangeran tampan nan be
Sementara di sisi lain kerajaan.Sebuah raven baru saja mendarat. Seorang prajurit memberikan surat pada Adipati Pedra yang kebetulan sedang bersama King Lumiere di aula istana.‘’Dari Argorn, Your Majesty,’’ Pedra berujar saat melihat segel surat yang ia genggam.Raja mengangkat tangannya ke udara, mempersilakan Pedra untuk membacanya. Namun perlu waktu begitu lama untuk Pedra menyampaikan isinya hingga raja berseru marah.‘’Katakan, Pedra!’’‘’Your Majesty, ini…’’Geram, akhirnya raja mengambil secara paksa. Memahami makna kata demi
‘’Aku adalah tamumu. Dan kau tidak ada di sini saat aku datang. Jadi hanya kau saja yang belum menyambutku,’’ tukasnya. Melihat ke arah jendela yang terbuka. Berharap Pascal melupakan topik itu. Karena sesungguhnya ia memang sangat rindu.Pascal mengulum senyum. Sejenak kemudian menggenggam tangan Crysta, mengecup punggung tangannya. ‘’Penyambutan yang seperti ini, Princess?’’Dengan senyum tertahan, Crysta memberanikan diri melihat mata indah milik Pascal. Jantungnya berdebar. Pipinya merona saat itu juga. ‘’Ya,’’ jawabnya malu. Entah kenapa Pascal begitu ramah tak seperti biasanya. Crysta berharap bahwa Pascal akan tetap seperti ini. Setidaknya ia tak akan merasa sungkan.‘’Aku sudah







