Share

Bab 3

Author: Liora
Racun jantung itu terlalu kuat. Demi membersihkan sisa racunnya, Kevin bersembunyi dan diam-diam pergi ke cabang keluarga di Napoles untuk menjalani pemulihan.

Sebelum berangkat, ia sudah menyelidiki semuanya dan memastikan bahwa semua ini adalah ulah keluarga musuh. Ia berjanji padaku, “Tunggu aku kembali. Aku pasti akan bertanggung jawab.”

Aku tidak bertanya bagaimana bentuk tanggung jawab itu. Jika dia mengetahui bahwa aku mengandung anaknya, ia pasti takkan mendorongku pergi.

Perawatan Kevin membutuhkan waktu satu minggu.

....

Perkataan yang kemarin kubicarakan bersama Marry di lorong ternyata terdengar oleh para pelayan di istana.

Mereka tidak mendengar konteksnya dengan jelas, namun rumor itu langsung berubah menjadi kabar bahwa aku “menggoda Tuan Muda Nico.”

Sore harinya, Nico pun mengumumkan, “Calon nyonya Keluarga Dunn di masa depan hanyalah Marry. Perintahnya adalah perintahku.”

Sejak saat itu, suasana seluruh istana langsung berubah.

“Katanya asisten perempuan dari daerah kecil itu berselingkuh dengan pengawal?”

“Katanya lulusan Ivy League ... menurutku itu cuma kedok untuk mencari uang.”

Tak seorang pun melihatku masuk ke kamar Kevin malam itu, namun rumor itu seperti ular berbisa, melilitku hanya dalam semalam.

Demi menyenangkan hati sang “calon nyonya istana”, para pelayan mulai terang-terangan mempermainkanku.

Makananku yang dikirim dari dapur ditaburi pasir. Selimut di kamarku selama tiga hari berturut-turut disiram air hingga basah kuyup, dan tak mungkin dipakai tidur.

“Bu Nadine, sprei Anda basah lagi, ya?”

Marry berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap sambil tersenyum palsu.

Aku tak menghiraukannya, hanya menunduk dan menggantung sprei basah itu ke jemuran di luar lorong batu.

Semakin banyak pelayan mulai menunjuk-nunjukku secara terang-terangan.

“Katanya waktu kuliah dia dapat beasiswa karena tidur dengan pria?”

“Semalam dia tidak ada di kamarnya. Jangan-jangan pergi ke kamar pengawal lagi?”

Mereka hanya menelan mentah-mentah gosipnya lalu asal berbicara. Marry ingin memaksaku pergi dengan rumor itu. Aku tidak berniat membuang tenaga untuk membantahnya.

Saat kembali ke kamar, aku bertemu Nico di sudut lorong.

Ia mengulurkan tangan dan menekanku ke dinding batu, tangan lainnya mencengkeram leherku.

“Apa kamu benar-benar tidak bisa hidup tanpa pria?” Sorot matanya dipenuhi sindiran yang familiar.

Aku tak bisa melepaskan diri dan hanya memalingkan wajah dan diam.

“Perempuan murahan,” umpatannya tertahan. “Tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan sepertimu.”

Ia tiba-tiba mencengkeram daguku, tenaganya begitu besar hingga pipiku mati rasa.

“Ada apa? Kamu mau naik ke ranjang orang lain lagi? Nadine, aku bisa menidurimu. Tetapi posisi calon nyonya Keluarga Dunn hanya milik Marry. Kalau kamu berani main-main di belakangku ....”

Aku menepis tangannya. “Jangan berbicara padaku dengan nada seperti itu.”

Ia mendadak melepaskanku lalu dengan santai mengusap pipiku.

“Jangan marah. Aku tahu kamu menyukaiku,” katanya dengan nada menggoda. “Aku tidak bisa menikahimu, tetapi sumber daya yang kamu inginkan ... semuanya bisa kuberikan.”

Aku mengernyit. “Aku tidak membutuhkannya.”

Amarahnya pun meledak. Ia mendorongku jatuh dan berteriak, “Kamu datang ke Keluarga Dunn memang untuk menggodaku, kan?! Sekarang karena aku tak menyentuhmu, kamu mulai bertindak sembarangan?! Pergi! Perempuan sepertimu tidak pantas tinggal di sini!”

Malam itu juga aku membereskan barang-barang bersiap meninggalkan istana Keluarga Dunn dan menunggu Kevin kembali di luar.

Saat aku menyeret koper keluar kamar, Marry tiba-tiba muncul di ujung tangga dan menghalangi jalanku.

“Nadine, kenapa kamu harus merebut pria milikku?”

Aku terlalu malas menanggapinya dan langsung berbalik.

Namun ia tiba-tiba berteriak keras, “Ah! Bu Nadine, jangan ....”

Saat aku menoleh, dia sudah membuka jendela lorong dan melompat turun dari lantai dua tanpa ragu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Baru Membawaku Menjadi Istri Ketua   Bab 9

    Waktu berlalu dengan cepat. Perutku semakin membesar dan aku pun memasuki masa akhir kehamilan.Selama periode ini, Kevin hampir selalu merawatku sendiri. Ia tidak membiarkan siapa pun menggantikan perannya, yaitu setiap hari menemaniku berjalan-jalan dan bahkan sering menyiapkan hadiah kecil untukku.“Nadine, ini untukmu.”Di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung mutiara yang berkilau indah.Aku hanya meliriknya dalam diam.“Ini adalah mutiara terbesar di Asia.” Ia menjepit kalung itu dengan sedikit gugup, lalu tersenyum santai dan memasukkan tangannya kembali ke saku jasnya.“Kalau kamu punya selera tertentu, di lelang berikutnya aku akan menyuruh orang langsung mengantarkannya.”Ia menyisir rambutku perlahan. Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut melukaiku.Saat aku hendak menjawab, ponselku tiba-tiba bergetar dan ada pesan baru di Whatsapp.Lagi-lagi dari Nico. [Nadine, apa kamu baik-baik saja?]Aku menutup pesan itu dan melempar ponsel ke samping tanpa ragu.Dia memang selal

  • Kehidupan Baru Membawaku Menjadi Istri Ketua   Bab 8

    Hanya karena Nico menarikku sedikit, perutku langsung mengalami kontraksi.Tanpa banyak bicara, Kevin sendiri yang menerbangkan pesawat dan membawaku ke pusat medis swasta di Pulau Sisilian. Sepanjang perjalanan, wajahnya dingin dan hanya terdiam.Dokter penanggung jawabnya adalah konsultan kebidanan khusus keluarga dan sangat berpengalaman.Setelah pemeriksaan selesai, dokter keluar dari ruang istirahat sambil membawa hasil USG 4D dan wajahnya tersenyum.“Selamat, Tuan. Sepasang bayi ... laki-laki dan perempuan.”Kevin tertegun selama beberapa detik sebelum akhirnya bereaksi. Ia menerima hasil pemeriksaan itu, membaca setiap kata dengan sangat saksama.“Anak laki-laki dan perempuan … sepasang kembar?”Ia tiba-tiba menunduk dan tersenyum. Detik berikutnya, ia memelukku erat dan suaranya sedikit bergetar.“Nadine, kamu adalah kebanggaan Keluarga Dunn.”Aku tersenyum dan bersandar di pelukannya lalu bercanda pelan, “Kalau begitu, apakah 'kebanggan' ini juga berhak mendapatkan hadiah?”Ke

  • Kehidupan Baru Membawaku Menjadi Istri Ketua   Bab 7

    Di kertasnya tertulis dengan jelas, kembar berusia enam minggu.Tangan Kevin yang sedang memegang gelas anggur sedikit terhenti. Pandangannya tertuju pada kertas itu sangat lama.“Ini sungguhan?”“Ini anak kita? Ya Tuhan! Sayang … aku benar-benar terkejut dan bahagia!”Sorot mata yang biasanya begitu serius tiba-tiba melembut. Terpancar jelas senyum di wajahnya.Detik berikutnya, ia mengambil ponselnya dan langsung menulis sebuah cuitan di Twitter:[Keluarga Dunn akan menyambut ... dua orang generasi penerus baru.]Tak lama kemudian, pintu ruang tamu terbuka dan Nico masuk.Pandangannya langsung tertuju padaku. Tatapannya menyapu perutku, wajahnya hampir tak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kemarahan.Aku tersenyum sambil berdiri dan mengangkat gelas sampanye di tanganku. “Nico, kamu datang tepat waktu. Ayo, bersulang untuk anggota baru keluarga kita?”Matanya terpaku pada perutku, rahangnya mengeras menahan amarah.“Nadine!”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Kevin sudah me

  • Kehidupan Baru Membawaku Menjadi Istri Ketua   Bab 6

    Hanya dalam waktu sehari, para pelayan di kediaman yang dulu terang-terangan mengejek dan menyindirku, semuanya diusir. Posisi mereka digantikan oleh sekelompok orang baru yang dikirim langsung oleh Kevin.Di ruang VIP sebuah butik perhiasan, aku menatap bayanganku di cermin yang berkilauan dari kepala sampai kaki.Satu set perhiasan itu bernilai lebih dari satu triliun, dengan sebuah berlian merah muda langka tersemat di tengahnya. Batu itu dilelang di balai lelang kelas atas Napoles, dan Kevin yang menawarnya sendiri.Di kehidupan sebelumnya, aku menikah dengan Nico. Jangankan perhiasan mahal, bahkan dia tidak rela membelikanku kalung perak murahan yang dijual pedagang kaki lima.Ketika aku akan tenggelam dalam kenangan, Nico tiba-tiba muncul dan menatapku tajam.“Kamu benar-benar hina. Demi masuk ke Keluarga Dunn, kamu bahkan sampai rela menelanjangi orang tua itu?”Aku mengusap bekas sayatan di wajahku yang belum sepenuhnya mengering, lalu tersenyum kecil padanya. “Dia memang lebih

  • Kehidupan Baru Membawaku Menjadi Istri Ketua   Bab 5

    Nico mendadak membeku, pisau di tangannya perlahan diturunkan.Ia segera berbalik dan menjelaskan dengan lantang, “Ayah, Nadine mendorong Marry jatuh dari tangga. Aku sedang memberinya pelajaran!”Aku akhirnya menghela napas lega setelah melihat sosok Kevin.Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di wajahku, aku menarik sudut bibir dan berteriak, “Aku tidak melakukannya!”“Siapa lagi kalau bukan kamu? Jangan mencoba berdalih!” Nico membentak marah. “Ayah, perempuan dengan moral seburuk ini sama sekali tidak pantas tinggal di Keluarga Dunn.”Aku menatapnya dingin. “Nico, aku melakukannya atau tidak, periksa saja rekaman CCTV-nya sendiri.”“Dengan hak apa kamu merusak wajahku?”Marry menggigit bibirnya dan sudut matanya memerah saat menatap Kevin. “Ketua … aku yang terpeleset dan jatuh sendiri. Semuanya salahku.”Kevin tidak berkata apa-apa. Namun pada detik berikutnya ia mendekat dan kakinya terangkat, satu tendangan keras menghantam Nico hingga terlempar sejauh dua meter dan menghan

  • Kehidupan Baru Membawaku Menjadi Istri Ketua   Bab 4

    Pelayan wanita di lantai bawah menjerit berlari keluar dari serambi, disusul suara langkah kaki Nico.“Marry!” Ia menghampiri dan mengangkat Marry dari lantai, lalu berteriak meminta memanggil dokter keluarga.Marry setengah bersandar dalam pelukannya, suaranya bergetar menahan tangis. “Ini salahku sendiri … bukan Bu Nadine yang mendorongku.”“Aku hanya takut kamu akan direbut olehnya …”“Nadine!” Nico mendongak dan nada suaranya sedingin es. “Tangkap dia!”Dua pengawal berseragam hitam segera mencengkeram lenganku, menyeretku dengan kasar ke lantai bawah dan memaksaku berlutut.Pelipisku membentur tepi anak tangga batu, rasanya sangat perih.Nico memandangku dari atas, tatapannya sedingin es. “Berani-beraninya kamu menyentuh dia?”Aku menggertakkan gigi dan berkata, “Bukan aku. Di seluruh vila ini terpasang CCTV. Kamu cek saja, semuanya terlihat jelas.”Marry menarik lengan baju Nico dan berbicara lembut, “Jangan salahkan dirinya … dia tidak sengaja.”“Kamu masih membelanya?” Amarah d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status