Share

Bab 12

Penulis: Gekko
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-03 09:08:48

Iring-iringan pengantin wanita akhirnya tiba di depan Istana Kekaisaran. Para pelayan berbaris rapi di sisi kiri dan kanan, sementara para pejabat serta kerabat istana menundukkan kepala penuh khidmat.

Dari dalam tandu, Ming Yue, sang pengantin wanita, akhirnya melangkah turun. Dan di ujung pelataran, pengantin pria sudah menanti. Qiang Jun, duduk tegak di kursi roda, mengenakan pakaian pengantin berwarna merah pekat dengan corak awan keberuntungan.

Meski tubuhnya tampak ringkih, wajahnya memancarkan pesona luar biasa, garis wajah yang tegas, serta tatapan mata yang dalam. Sekilas, pria itu benar-benar tampak seperti sosok Pangeran dalam lukisan.

Ming Yue terdiam sejenak begitu langkahnya menginjak keluar.

‘Terakhir yang kuingat dia seperti orang sakit dan sangat kurus, tapi jika sehat dia memang lebih tampan dari Qiang Yuze,’ pikirnya, dengan jantung berdegup lebih kencang tanpa ia sadari.

Qiang Jun mengulurkan tangan. “Selamat datang, istriku,” ucapnya dengan suara berat namun terdengar lembut.

Ming Yue menarik nafas pelan. ‘Maaf aku harus memanfaatkanmu, Pangeran Jun,’ batinnya, sambil menerima uluran tangannya. Meski begitu, Ming Yue berniat menjadi istri yang baik walau tak ada cinta di antara mereka.

Akhirnya prosesi pernikahan pun dimulai. Suara pembawa acara sakral menggema, menuntun setiap langkah mereka melalui rangkaian ritual panjang. Meski Ming Yue sudah pernah melalui pernikahan sebelumnya, rasa lelah tetap saja menumpuk.

Dan di sepanjang upacara pernikahan itu, Ming Yue tidak melihat sedikit pun bayangan Qiang Yuze. Mungkin karena benar adanya kabar bahwa ia terluka cukup parah sebelumnya sehingga tak bisa menghadiri pernikahan ini. Tapi justru itu bagus, Ming Yue merasa senang dengan ketidakhadirannya.

Waktu berlalu. Senja meredup dan malam pun tiba. Kini, Ming Yue sudah berada di dalam kamar pengantin. Ruangan itu dihias sedemikian indah, meja kecil penuh dengan buah-buahan, camilan manis, serta kendi arak. Tempat tidur besar dengan seprai merah tampak menanti.

Ming Yue duduk di tepi ranjang, sembari menunggu sang suaminya, ia berbaring lebih dulu untuk mengistirahatkan tubuhnya.

‘Astaga hari yang melelahkan,’ batinnya. Meski lelah, ini masih terasa ringan dibandingkan dengan penyiksaan yang ia alami di masa lalu.

Rasa haus membuatnya bangkit, Ming Yue mengambil sebuah cawan arak di meja samping ranjang. Satu tegukan terasa hangat, lalu satu tegukan lagi, hingga ia hampir menghabiskan kendi kecil itu.

“Apa kau tidak tahu itu adalah arak?”

Suara bariton seorang pria membuatnya tersentak, Ming Yue buru-buru menoleh, tanpa ia sadari, ternyata Qiang Jun sudah berada di ruangan itu.

“Y-Yang Mulia,” ujarnya gugup, segera meletakkan cawan, lalu menunduk sambil merapikan veil di kepalanya sambil menjawab. “Iya saya tahu itu arak.”

Qiang Jun mendorong kursi rodanya mendekat. “Lalu? Ternyata kau begitu bersemangat menghadapi malam pertama sampai meminum arak sendirian?”

Ming Yue menggeleng cepat. “Bukan begitu, saya hanya haus.”

“Itu arak, bukan air biasa. Jika terlalu banyak minum kau akan sangat mabuk,” ujar Qiang Jun memperingati.

“Saya tidak bisa mabuk,” jawab Ming Yue refleks.

Alis Qiang Jun terangkat. Senyum miring terlukis di bibirnya. “Oh ya? Ternyata istriku sangat kuat minum.”

Ming Yue terdiam sejenak. ‘Astaga kenapa aku mengatakan itu,’ pikirnya  merutuki kebodohannya sendiri.

Akhirnya berdehem pelan, memalingkan wajah. Tidak mungkin Ming Yue menjelaskan alasannya, tentang keunikan darah di tubuhnya yang dapat menyembuhkan segala penyakit, termasuk ketika minum alkohol, sebanyak apa pun itu, ia akan baik-baik saja karena tubuhnya mendeteksi hal itu bagai racun dan langsung menetralkannya.

Tapi lebih baik Ming Yue diam saja dari pada berbicara sembarangan, hingga tiba-tiba ia melihat di balik veil transparan, Qiang Jun berpindah dari kursi roda ke tepi ranjang hanya dengan kekuatan kedua lengannya. Ternyata begitu cara pria itu berpindah tempat.

“Bisa kubuka penutup wajahmu?” tanya Qiang Jun.

Ming Yue pun mengangguk memberi izin.

Duduk berdampingan, Qiang Jun perlahan mengulurkan tangan dan membuka veil yang menutupi wajah istrinya, dia terdiam sejenak menatap kecantikan itu masih dengan wajah datar seperti biasanya. Kemudian pria itu mengambil dua cawan arak dari meja kecil, dan memberikan satu pada istrinya.

Ming Yue menerima cawan itu dengan sedikit ragu.

'Apa aku benar-benar akan menghabiskan malam pertama dengannya? Ugh, aku belum siap,’ batinnya sambil meremas pelan gelas arak di tangan.

“Ming Yue,” panggil Qiang Jun tiba-tiba. “Tidak perlu gugup,” ucapnya seolah menyadari gerak-gerik Ming Yue.

“Saya tidak gugup,” sangkal Ming Yue.

“Lalu?”

“Hanya saja…” ucapannya tergantung, gadis itu menarik nafas. “Kita menikah karena perjodohan. Anda yakin mau menghabiskan malam dengan saya? Orang yang bahkan tidak Anda cintai?”

Qiang Jun memiringkan kepala, meletakan gelasnya lalu menyilangkan kedua lengan sambil menatap gadis itu dengan lekat. “Lalu bagaimana denganmu? Kau mau melakukannya?” Dia balik bertanya.

“Rasanya canggung melakukan ‘itu’ dengan seseorang yang tidak kita cintai, apalagi kita belum benar-benar saling mengenal,” jawab Ming Yue.

Selama prosesi pernikahan sebelumnya, mereka pun tak banyak bicara, baru sekarang Ming Yue bisa mengungkapkan apa yang ia pikirkan sejak tadi.

Qiang Jun mengangguk kecil. “Ya kau benar, tapi ini hanya salah satu prosedur yang harus kita lewati.” Kemudian ia mengambil kembali gelas arak dan meminumnya. “Kau juga cepat minum.”

Ming Yue sedikit ragu dan mulai tak tenang, namun akhirnya tetap meminumnya.

Qiang Jun menoleh sekilas ke arah jendela, dan segera mengambil cawan di tangan istrinya, meletakkannya di meja. Dengan gerakan cepat, tiba-tiba ia menarik tubuh Ming Yue hingga jatuh menindih dirinya.

Qiang Jun berbaring di kasur, sementara Ming Yue terkejur karena kini ia berada di atas tubuh suaminya. ‘Apa dia mau melakukannya sekarang?’ batinnya.

“Yang Mulia-“

“Sstt…” sela Qiang Jun berbisik, satu lengannya memeluk erat pinggang Ming Yue. “Sekarang mendesahlah.”

Mendengar hal itu Ming Yue membelalakkan mata. “A-apa?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 247

    Ming Yue langsung membaca isi surat di tangannya. Ternyata, itu adalah surat dari saudara iparnya, Qiang Rui, yang sedang berada di luar sana.Sudut bibir Ming terangkat ketika mengetahui pria itu akan kembali dalam waktu dekat. Namun wajahnya berubah muram seketika saat membaca kalimat terakhir di surat itu. 'Astaga. Apa ini benar?' batinnya kaget, sambil menutup mulutnya tak percaya.Di tengah rasa terkejutnya yang masih menggumpal, tiba-tiba pintu kamar Ming Yue terbuka. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, disertai helaan napas panjang yang terdengar lelah."Jun!" seru Ming Yue langsung meletakkan kertas surat itu dan bergegas menghampiri Suaminya.Pria itu tampak sedikit meneteskan darah dari dahinya."Kau berdarah, tunggu sebentar." Ming Yue langsung mengambil kotak obat dari laci meja kerjanya.Qiang Jun selalu menolak mendapat elixir dari istrinya ketika terluka. Dia lebih suka pengobatan biasa. Usai diobati dan sedikit diperban, Ming Yue duduk di sampingnya."Kenapa

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 246

    "L-lepaskan, Ayi. Kenapa kau, seperti ini, padaku?" ujar Qiang Suli dengan terbata-bata dalam cengkeraman saudaranya.Qiang Wangyi sama sekali tak berniat melepaskannya. Matanya masih melotot penuh amarah yang menggelegak."Jangan pura-pura! Kau pasti senang dapat perhatian semua orang, kan?! Karena itu yang selalu kau dapatkan dengan mudah sejak dulu!"Qiang Suli mencoba tetap tenang meski napasnya mulai tersengal. Pandangannya membalas tatapan Qiang Wangyi, tak gentar meski dalam posisi terjepit. "Memangnya kenapa? Kau sendiri ada di mana saat kekacauan tadi? Bukannya membantu, kau malah menghilang. Apa begini yang namanya calon kaisar?!" balasnya dengan nada menantang.Mendengar hal itu, Qiang Wangyi semakin kesal. Emosinya kini benar-benar meledak. Dia mencengkeram leher Qiang Suli lebih kuat."Hanya karena kau terlahir dengan berkat dewa, kau bisa bersikap sombong?! Beraninya—"Namun belum selesai Qiang Wangyi meluapkan emosinya, Qiang Suli tiba-tiba mengangkat satu kakinya. Lal

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 245

    Sepanjang malam Qiang Suli menangani orang-orang yang terjangkit gejala penyakit kelabang. Tidak ada yang boleh dibiarkan masuk olehnya, sampai dia benar-benar selesai mengobati setiap pasien.Selain itu karena Qiang Suli tak ingin siapa pun mengetahui bagaimana membuat obat untuk mereka.Dan benar saja, orang-orang yang awalnya batuk darah perlahan-lahan membaik. Rona kehidupan kembali terlihat di wajah mereka. Kini hanya ada tiga orang yang tersisa karena kondisi mereka masih sedikit lemah.Qiang Suli tersenyum sambil menghela nafas lega."Syukurlah, setelah ini kalian harus menjaga kesehatan dan jaga sikap. Jangan sampai ada korban lagi.""T-terima kasih banyak, Putri!" seru mereka penuh syukur.Di antara mereka bahkan ada yang bersujud seolah gadis itu adalah dewa penyelamatnya."Sudah cukup, hentikan. Setelah kalian istirahat malam ini, besok pagi kalian bisa pulang," ujar Qiang Suli dengan senyum ramah.Setelah mengatakan itu, Qiang Suli melangkah pergi menuju pintu keluar. Tapi

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 244

    Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 243

    Mendengar pernyataan adiknya yang bagai petir di siang bolong, Qiang Wangyi seketika melotot tajam padanya.“Menyerahkan tahta?!” desisnya, dengan suara rendah penuh ancaman. Tanpa pikir panjang, Qiang Wangyi mencengkeram kerah pakaian Qiang Suli. “Jadi kau juga mengincarnya? Sudah kuduga kau pasti yang menghasut Ayahanda!” bentaknya.Qiang Suli masih terlihat tenang di tengah cengkeraman kasar itu. Bahkan, ia tertawa pelan, seolah mengejek. “Kau bilang aku bisa minta apapun. Itulah permintaanku.”Tak kuasa menahan kekesalan dan kemarahan, Qiang Wangyi melempar tubuh adiknya itu ke atas kasur di belakangnya.“Kau bisa meminta apa pun kecuali yang satu itu! Atau kau memang ingin menantangku, hah?!” geram Qiang Wangyi.Qiang Suli sedikit terbentur dengan tiang tempat tidur kayu yang keras dan meringis sebentar. Namun, bukannya kesal atau takut, ia kembali tertawa, suaranya terdengar seperti cemoohan halus.“Astaga. Hanya sedikit bercanda, kau sudah terpancing seperti itu,” katanya samb

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 242

    "Sepertinya menyenangkan. Tapi aku harus dapat izin dari ayahanda," jawab Qiang Suli.Mendengar hal itu, Ming Hyun baru tersadar."Benar juga. Kaisar yang sangat posesif itu pasti tidak akan mudah mengizinkannya," gerutunya dengan helaan napas panjang.Qiang Suli hanya tersenyum tipis. "Tidak apa. Nanti akan kuusahakan. Ayahanda selalu mendengarkan permintaanku.""Aku mungkin bisa ikut, Ming Hyun. Asalkan paman Beiye juga ikut menjagaku," celetuk Qiang Ruxia di sampingnya.Ming Hyun mendelik tajam ke arahnya. "Siapa bilang aku mau mengajakmu juga? Aku hanya menawarkannya pada Kak Suli."Seketika, wajah Qiang Ruxia yang ceria berubah datar. Rahangnya menegang, menahan gelembung emosi yang mendidih. Tidak, dia tak bisa menahan lagi. Dengan gerakan cepat, kakinya menyepak punggung Ming Hyun dengan keras.Bugh!"Sialan! Kau bukan temanku lagi!" umpat Qiang Ruxia. Lalu merangkul lengan Qiang Suli. "Ayo, Kak. Kita tinggalkan pria brengsek seperti itu."Ming Hyun perlahan bangkit dari tanah,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status