Mag-log inUsai penjualan elixir yang membuat semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya, mereka yang tak berhasil membelinya tentu merasa kesal tapi tak ada yang bisa dilakukan.
Banyak yang membicarakan pemilik panti asuhan, Tuan Zixuan yang dirumorkan mendapat elixir itu, dan anak-anak di sana yang sakit parah kini sembuh total, hal itu membuat para warga semakin percaya dan sangat ingin mendapatkan elixir itu juga.
Reputasi Song She semakin meningkat, bahkan rumor tenang salah satu restoran yang ditutup karena kasus yang mana terdapat ulat di makanannya kini terlupakan begitu saja oleh orang-orang.
Namun, dikala keributan tentang elixir penyembuh itu, ada satu orang yang menyadari hal aneh. Seorang pria paruh baya berjalan menuju kediaman Pangeran kedua yang ada di sudut istana, lalu mengetuk ketika berdiri di depan gerbang kediaman.
Tok! Tok!
Tak lama kemudian pintu terbuk
"A-apa yang, kau bicarakan, Ayah?" Qiang Wangyi tergagap, namun masih berusaha menyangkal, matanya menghindari tatapan ayahnya.Hal itu membuat Qiang Jun semakin kesal sekaligus kecewa. Urat di pelipisnya berdenyut-denyut."Ayah kira kau akan benar-benar berubah setelah berbaikan dengan saudarimu. Tapi kenapa kau masih seperti ini?""Ugh! Ayah, lepaskan dulu. S-sakit," Qiang Wangyi meringis, napasnya mulai pendek.Qiang Jun menatap datar sembari mendengus kasar, tak bergeming."Sakit, kan? Suli mengalami hal yang lebih sakit dari ini. Dia jatuh ke jurang saat kecil. Kehilangan ingatannya dan hilang tanpa arah. Bagaimana bisa kau tega menyakitinya?!" bentak Qiang Jun tanpa sengaja meluapkan emosinya.Seketika Qiang Wangyi terdiam. Selain tak punya tenaga untuk berusaha melawan, dia benar-benar ketakutan saat melihat ayahnya yang marah seperti ini.Para bawahan Qiang Jun yang berdiri di sudut ruangan itu pun tak berani berbuat apa-apa. Tapi tetap saja khawatir tuan mereka akan melewati
Ming Yue langsung membaca isi surat di tangannya. Ternyata, itu adalah surat dari saudara iparnya, Qiang Rui, yang sedang berada di luar sana.Sudut bibir Ming terangkat ketika mengetahui pria itu akan kembali dalam waktu dekat. Namun wajahnya berubah muram seketika saat membaca kalimat terakhir di surat itu. 'Astaga. Apa ini benar?' batinnya kaget, sambil menutup mulutnya tak percaya.Di tengah rasa terkejutnya yang masih menggumpal, tiba-tiba pintu kamar Ming Yue terbuka. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, disertai helaan napas panjang yang terdengar lelah."Jun!" seru Ming Yue langsung meletakkan kertas surat itu dan bergegas menghampiri Suaminya.Pria itu tampak sedikit meneteskan darah dari dahinya."Kau berdarah, tunggu sebentar." Ming Yue langsung mengambil kotak obat dari laci meja kerjanya.Qiang Jun selalu menolak mendapat elixir dari istrinya ketika terluka. Dia lebih suka pengobatan biasa. Usai diobati dan sedikit diperban, Ming Yue duduk di sampingnya."Kenapa
"L-lepaskan, Ayi. Kenapa kau, seperti ini, padaku?" ujar Qiang Suli dengan terbata-bata dalam cengkeraman saudaranya.Qiang Wangyi sama sekali tak berniat melepaskannya. Matanya masih melotot penuh amarah yang menggelegak."Jangan pura-pura! Kau pasti senang dapat perhatian semua orang, kan?! Karena itu yang selalu kau dapatkan dengan mudah sejak dulu!"Qiang Suli mencoba tetap tenang meski napasnya mulai tersengal. Pandangannya membalas tatapan Qiang Wangyi, tak gentar meski dalam posisi terjepit. "Memangnya kenapa? Kau sendiri ada di mana saat kekacauan tadi? Bukannya membantu, kau malah menghilang. Apa begini yang namanya calon kaisar?!" balasnya dengan nada menantang.Mendengar hal itu, Qiang Wangyi semakin kesal. Emosinya kini benar-benar meledak. Dia mencengkeram leher Qiang Suli lebih kuat."Hanya karena kau terlahir dengan berkat dewa, kau bisa bersikap sombong?! Beraninya—"Namun belum selesai Qiang Wangyi meluapkan emosinya, Qiang Suli tiba-tiba mengangkat satu kakinya. Lal
Sepanjang malam Qiang Suli menangani orang-orang yang terjangkit gejala penyakit kelabang. Tidak ada yang boleh dibiarkan masuk olehnya, sampai dia benar-benar selesai mengobati setiap pasien.Selain itu karena Qiang Suli tak ingin siapa pun mengetahui bagaimana membuat obat untuk mereka.Dan benar saja, orang-orang yang awalnya batuk darah perlahan-lahan membaik. Rona kehidupan kembali terlihat di wajah mereka. Kini hanya ada tiga orang yang tersisa karena kondisi mereka masih sedikit lemah.Qiang Suli tersenyum sambil menghela nafas lega."Syukurlah, setelah ini kalian harus menjaga kesehatan dan jaga sikap. Jangan sampai ada korban lagi.""T-terima kasih banyak, Putri!" seru mereka penuh syukur.Di antara mereka bahkan ada yang bersujud seolah gadis itu adalah dewa penyelamatnya."Sudah cukup, hentikan. Setelah kalian istirahat malam ini, besok pagi kalian bisa pulang," ujar Qiang Suli dengan senyum ramah.Setelah mengatakan itu, Qiang Suli melangkah pergi menuju pintu keluar. Tapi
Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat
Mendengar pernyataan adiknya yang bagai petir di siang bolong, Qiang Wangyi seketika melotot tajam padanya.“Menyerahkan tahta?!” desisnya, dengan suara rendah penuh ancaman. Tanpa pikir panjang, Qiang Wangyi mencengkeram kerah pakaian Qiang Suli. “Jadi kau juga mengincarnya? Sudah kuduga kau pasti yang menghasut Ayahanda!” bentaknya.Qiang Suli masih terlihat tenang di tengah cengkeraman kasar itu. Bahkan, ia tertawa pelan, seolah mengejek. “Kau bilang aku bisa minta apapun. Itulah permintaanku.”Tak kuasa menahan kekesalan dan kemarahan, Qiang Wangyi melempar tubuh adiknya itu ke atas kasur di belakangnya.“Kau bisa meminta apa pun kecuali yang satu itu! Atau kau memang ingin menantangku, hah?!” geram Qiang Wangyi.Qiang Suli sedikit terbentur dengan tiang tempat tidur kayu yang keras dan meringis sebentar. Namun, bukannya kesal atau takut, ia kembali tertawa, suaranya terdengar seperti cemoohan halus.“Astaga. Hanya sedikit bercanda, kau sudah terpancing seperti itu,” katanya samb







