Share

Bab 68

Penulis: Gekko
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-20 06:23:20

Di dekat tangga, seorang pria tinggi berwajah sangar menghampiri Ming Yue yang turun dari lantai dua.

“Kapan kau datang?” tanya An Beiye dengan senyuman cerah.

“Barusan. Tapi sepertinya kau sudah mulai membaik ya, sampai bisa berjalan-jalan seperti ini,” jawab Ming Yue.

“Tentu saja,” sahut An Beiye dengan senyum bangga. “Seorang ksatria sejati harus pulih dengan cepat. Aku tak mau terus terlihat lemah.”

Ming Yue tersenyum tipis, merasa senang melihat Gurunya kembali ceria.

“Iya. Tapi jangan memaksakan diri, beristirahatlah secukupnya,” ujar Ming Yue memberi nasihat.

“Aku tahu.” Tatapan An Beiye melembut. “Terima kasih banyak untuk semuanya, Yue. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.”

Ming Yue menggeleng ringan. “Sudah cukup terima kasihmu. Kau mungkin akan sedikit kesulitan karena harus hidup sembunyi-sembunyi karena permintaanku.”

Hatinya masih sedikit merasa bersalah.

Inilah alasan keluarga Ann mengadakan pemakaman meski An Beiye berhasil selamat. Semuanya atas permintaan Ming Yue. K
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 249

    Mereka yang mendengar fakta itu tampak terkejut. Hanya Qiang Rui yang diam, kepalanya tertunduk dalam. Wajah yang biasanya begitu ceria dan penuh kelakar itu kini tampak tak berenergi."Kenapa? Bagaimana bisa? Apa ada yang menyerang kalian?" tanya Ming Yue dengan nada khawatir.Qiang Rui menggeleng perlahan. "Bukan. Ibu—"Namun, sebelum bisa menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara lantang penuh energi dari belakang."Rui!"Semua orang menoleh. Di sana, berdiri seorang pria dengan wajah yang nyaris identik dengan Qiang Rui.Qiang Shen, adik kembarnya, berjalan mendekat dengan senyuman lebar yang khas. Tanpa banyak basa-basi, dia langsung merangkul erat saudaranya itu."Dasar bajingan. Kenapa kau tak menghubungiku jauh-jauh hari?" gerutunya, namun di balik kata-kata kasar itu, terasa jelas kerinduan yang terpendam lama.Qiang Rui tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang terasa asing di wajahnya yang murung. Dia membalas pelukan itu dengan erat."Kejutan," katanya singkat.Qiang Shen melepas

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 248

    "A-apa yang, kau bicarakan, Ayah?" Qiang Wangyi tergagap, namun masih berusaha menyangkal, matanya menghindari tatapan ayahnya.Hal itu membuat Qiang Jun semakin kesal sekaligus kecewa. Urat di pelipisnya berdenyut-denyut."Ayah kira kau akan benar-benar berubah setelah berbaikan dengan saudarimu. Tapi kenapa kau masih seperti ini?""Ugh! Ayah, lepaskan dulu. S-sakit," Qiang Wangyi meringis, napasnya mulai pendek.Qiang Jun menatap datar sembari mendengus kasar, tak bergeming."Sakit, kan? Suli mengalami hal yang lebih sakit dari ini. Dia jatuh ke jurang saat kecil. Kehilangan ingatannya dan hilang tanpa arah. Bagaimana bisa kau tega menyakitinya?!" bentak Qiang Jun tanpa sengaja meluapkan emosinya.Seketika Qiang Wangyi terdiam. Selain tak punya tenaga untuk berusaha melawan, dia benar-benar ketakutan saat melihat ayahnya yang marah seperti ini.Para bawahan Qiang Jun yang berdiri di sudut ruangan itu pun tak berani berbuat apa-apa. Tapi tetap saja khawatir tuan mereka akan melewati b

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 247

    Ming Yue langsung membaca isi surat di tangannya. Ternyata, itu adalah surat dari saudara iparnya, Qiang Rui, yang sedang berada di luar sana.Sudut bibir Ming terangkat ketika mengetahui pria itu akan kembali dalam waktu dekat. Namun wajahnya berubah muram seketika saat membaca kalimat terakhir di surat itu. 'Astaga. Apa ini benar?' batinnya kaget, sambil menutup mulutnya tak percaya.Di tengah rasa terkejutnya yang masih menggumpal, tiba-tiba pintu kamar Ming Yue terbuka. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, disertai helaan napas panjang yang terdengar lelah."Jun!" seru Ming Yue langsung meletakkan kertas surat itu dan bergegas menghampiri Suaminya.Pria itu tampak sedikit meneteskan darah dari dahinya."Kau berdarah, tunggu sebentar." Ming Yue langsung mengambil kotak obat dari laci meja kerjanya.Qiang Jun selalu menolak mendapat elixir dari istrinya ketika terluka. Dia lebih suka pengobatan biasa. Usai diobati dan sedikit diperban, Ming Yue duduk di sampingnya."Kenapa

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 246

    "L-lepaskan, Ayi. Kenapa kau, seperti ini, padaku?" ujar Qiang Suli dengan terbata-bata dalam cengkeraman saudaranya.Qiang Wangyi sama sekali tak berniat melepaskannya. Matanya masih melotot penuh amarah yang menggelegak."Jangan pura-pura! Kau pasti senang dapat perhatian semua orang, kan?! Karena itu yang selalu kau dapatkan dengan mudah sejak dulu!"Qiang Suli mencoba tetap tenang meski napasnya mulai tersengal. Pandangannya membalas tatapan Qiang Wangyi, tak gentar meski dalam posisi terjepit. "Memangnya kenapa? Kau sendiri ada di mana saat kekacauan tadi? Bukannya membantu, kau malah menghilang. Apa begini yang namanya calon kaisar?!" balasnya dengan nada menantang.Mendengar hal itu, Qiang Wangyi semakin kesal. Emosinya kini benar-benar meledak. Dia mencengkeram leher Qiang Suli lebih kuat."Hanya karena kau terlahir dengan berkat dewa, kau bisa bersikap sombong?! Beraninya—"Namun belum selesai Qiang Wangyi meluapkan emosinya, Qiang Suli tiba-tiba mengangkat satu kakinya. Lal

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 245

    Sepanjang malam Qiang Suli menangani orang-orang yang terjangkit gejala penyakit kelabang. Tidak ada yang boleh dibiarkan masuk olehnya, sampai dia benar-benar selesai mengobati setiap pasien.Selain itu karena Qiang Suli tak ingin siapa pun mengetahui bagaimana membuat obat untuk mereka.Dan benar saja, orang-orang yang awalnya batuk darah perlahan-lahan membaik. Rona kehidupan kembali terlihat di wajah mereka. Kini hanya ada tiga orang yang tersisa karena kondisi mereka masih sedikit lemah.Qiang Suli tersenyum sambil menghela nafas lega."Syukurlah, setelah ini kalian harus menjaga kesehatan dan jaga sikap. Jangan sampai ada korban lagi.""T-terima kasih banyak, Putri!" seru mereka penuh syukur.Di antara mereka bahkan ada yang bersujud seolah gadis itu adalah dewa penyelamatnya."Sudah cukup, hentikan. Setelah kalian istirahat malam ini, besok pagi kalian bisa pulang," ujar Qiang Suli dengan senyum ramah.Setelah mengatakan itu, Qiang Suli melangkah pergi menuju pintu keluar. Tapi

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 244

    Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status