Masuk“Duke Valmont! Apa yang baru saja diucapkan putrimu?! Jelaskan!”
Suara menggelegar itu langsung membuat sunyi seluruh aula besar yang tadinya sibuk berbisik-bisik.
Orang yang barusan berteriak itu berdiri di samping kaisar. Kemungkinan besar memiliki kedudukan yang tidak bisa diremehkan.
Isolde ikut terkejut mendengar teguran keras tersebut. Ia lupa, kalau saat ini ia tidak sedang berada di Vroshea yang mengerti bahasa negara England.
Duke Adrian von Valmont terlihat membungkukkan tubuh dengan gemetar.
“Mohon belas kasihan, Yang Mulia Kaisar Thalric. Sepertinya putri saya terlalu bersemangat karena melihat Duke Devereux begitu mempesona.”
Isolde hampir saja memutar bola matanya.
Tentu saja itu alasan yang dibuat-buat. Namun, netra sang ayah yang memelototinya membuat tubuh Isolde bereaksi ketakutan.
‘Ugh! Kenapa aku ketakutan?! Hey, Isolde! Aku ini tidak akan takut dengan pelototan manusia remeh macam ayahmu! Jangan ketakutan!’ ujar Isolde dalam hati, seolah ia bicara pada dirinya yang lain.
Tentu saja, jiwa Isolde von Valmont sudah tidak lagi berada di tubuh yang seharusnya. Sekarang Isolde adalah Bianca dan Bianca adalah Isolde.
Sementara Adrian berusaha kerasa menenangkan amarah kaisar, Isolde sibuk dengan pikirannya sendiri.
‘Jadi, aku sekarang Isolde von Valmont? Bukan Bianca Isolde Romano lagi?’ batin Isolde penuh tanya.
Ia menimbang ini dan itu. Membandingkan kehidupan lamanya dengan kehidupan di dunia ini.
‘Aku tidak bisa menolak semua ini, kan? Aku juga tidak bisa kembali ke Vroshea.’
Sebuah keputusan sementara pun muncul.
‘Baiklah! Aku akan hidup sebagai Isolde! Mulai saat ini aku adalah Isolde! Isolde von Valmont!’ tekad Isolde tanpa suara.
Diamnya Isolde, terlihat menggelikan di mata semua orang.
Mereka semua tahu, Isolde adalah perempuan bangsawan yang tidak pernah mengikuti acara-acara sosialita. Kabar burung mengatakan, ia bahkan tidak pernah dianggap ada di kalangan para bangsawan.
Sepertinya usaha Adrian membuahkan hasil.
Sang kaisar langsung tergelak seperti orang gila. Sepertinya ia puas dengan alasan bodoh yang dibuat Duke Valmont barusan.
Detik berikutnya, seperti lembu yang dicocok hidungnya, semua orang mengikuti. Tertawa seolah itu adalah hal terlucu di dunia.
“Masa muda memang luar biasa!” seru Kaisar Thalric, mengusap janggut berubannya. “Duke Devereux, kuharap kau menyukai hadiah yang kusiapkan.”
Sementara Duke Devereux membungkuk, mengutarakan rasa terima kasihnya, Isolde terlihat panik. Ia tidak kenal siapa pria tersebut. Terlebih, seingat dia, bukan Isolde yang akan menikahi Duke Devereux.
Duke Devereux harusnya menikah dengan seorang santa yang akan membawa kesembuhan baginya.
‘Atau jangan-jangan aku mati dan jadi santa di dunia ini?’ batin Isolde sambil memperhatikan telapak tangannya.
Lagi, pikir Isolde. ‘Apa semua pembunuhan yang kulakukan tidak dihitung dosa oleh Tuhan, sampai-sampai aku dijadikan santa?’
Pikiran Isolde penuh dengan banyak spekulasi. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa sang kaisar sudah membuka sesi dansa bagi para tamu.
Suara rendah dan dalam milik Duke Devereux lah yang menyentak Isolde dari lamunan.
“Nona Isolde, mari berdansa!”
Dahi Isolde berkerut bingung. Untungnya, ia terbiasa dengan dansa. Di dunia nyata, neneknya adalah penghuni paling tua di bumi yang masih menganut acara dansa seperti ini.
‘Tidak sia-sia kubiarkan kau hidup, nenek tua. Ada gunanya juga pelajaran dansa itu,’ kekeh Isolde dalam hati.
Namun, Isolde salah sangka!
Isolde von Valmont tidak pernah ikut pesta dansa. Keluarganya pun tidak pernah membuatnya berlatih dansa.
Selain untuk membuang Isolde, tujuan terselubung juga menyelimuti pesta dansa tersebut.
Dibuat seolah itu adalah kesalahan Isolde. Yang tidak bisa berdansa, sehingga mempermalukan Isolde dan Duke Devereux.
Tentu saja, Duke Devereux tahu itu.
Dan ketika Isolde meletakkan tangannya di atas telapak tangan Duke Devereux, semua orang terkesiap. Bahkan netra sang duke membulat sesaat.
Melihat Duke Devereux mematung, Isolde pun bertanya polos, “Apa tidak jadi dansa?”
Di luar perkiraan semua orang, Duke Devereux yang terkenal bengis dan tidak pernah tersenyum sekalipun itu justru terkekeh singkat pada Isolde.
“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menunggu. Kau siap, Nona Isolde?”
Isolde mengangguk mantap. “Tentu! Kapan saja!”
Mereka mulai berayun tepat di saat musik mengalun lambat-lambat.
Sementara menikmati dansa, Isolde sedikit mendekati Duke Devereux dan bertanya, “Hey, apa kau tidak masalah menikahiku? Bukannya kau akan menikahi seorang santa?”
Duke Devereux mengerutkan dahi. “Santa? Apa kau sedang mabuk? Santa terakhir ada 800 tahun lalu, Nona.”
Isolde tertegun sesaat. ‘Jadi, apa sebentar lagi akan ada penyingkapan bahwa aku adalah santa?’
Isolde sarapan bareng.Bjorden muncul. Dia baru dateng karena kloter kedua perang. Isolde jadi perhatiin terus karena dia akhirnya ketemu sama salah satu tokoh dari novel. “Dan kau, kenapa malah mengambil dokumen, Bas?”Netra Isolde memicing ke arah suaminya. Alih-alih membawanya ke ruang makan, Bastiven mengambil salah satu kertas dari tumpukan dokumen di meja dan membacanya.“Aku tidak sarapan, Duchess.” Bastiven menjawab tanpa melepas pandangannya dari dokumen-dokumen itu. “Ini kepulanganku setelah 11 tahun di medan perang. Terlalu banyak hal yang harus kuurus ketimbang sarapan.”Sang Duchess merengut. Tidak. Ia tidak suka makan sendirian. Sebelum kehidupan keduanya ini, ia tidak pernah merasakan pengalaman makan bersama keluarga.Walau seorang penerus klan mafia, ia tergolong wanita yang mendambakan seorang suami dan anak yang bisa disebutnya keluarga. ‘Duh! Bagaimana mengajak orang ini untuk sarapan?’ batin Isolde. Kalau dulu, ia bisa memerintahkan anak buahnya untuk duduk m
“Kami hanya ingin agar Nyonya dan Tuan tidak canggung,” tambah Sylfia panik.Isolde melirik ke arah tiga gadis muda yang ketakutan itu, kemudian terkekeh pelan. “Well, kali ini kulepaskan kalian. Bastiven juga cukup kaku semalam,” ujarnya mengingat bagaimana Bastiven menagrahkan bilah pedang ke lehernya. Lagi kata Isolde, “Kalian mendapat terima kasihku!”Wajah Nirena dan kedua pelayan lainnya pun kembali berbinar. “Dengan senang hati, Nyonya! Ayo, biar kami bersihkan tubuh Nyonya!”“Tidak mau! Gara-gara kalian aku sekarang tidak bisa bangun!” keluh Isolde dengan jenaka. “Tubuh majikan kalian ini renta sekali, tahu?”Nirena terkekeh. Ia senang karena sang majikan baru tidak segan bermanja pada mereka. Bagi pelayan keluarga Devereux, sepertinya membuat majikan bergantung pada mereka adalah kepuasan yang tidak ternilai.Apalagi setelah mendengar kehidupan Isolde sebelum tiba di kediaman devereux. Tekad untuk memberikan kehidupan serba ada dan serba nyaman bagi sang majikan perempuan i
“Sol ….”Bastiven kalah telak! Menghadapi godaan seorang Isolde yang mabuk, ternyata bukan hal mudah. Pria yang dibuat menggendong wanita itu sampai ke atas ranjang. Bastiven juga pasti sadar, kalau ada yang salah dengan wine yang mereka minum. Karena seharusnya, sejenis wine ini tidak akan mempan pada sang duke.Di antara lengan kekar Bastiven, Isolde terbaring tanpa perlawanan. Jubah tidurnya pun sudah setengah terlepas, mengekspos bagian tubuhnya sedikit. “Aku tidak yakin kamu menginginkan ini, Isolde,” ungkap Bastiven dengan suara rendahnya. Namun, Isolde sudah larut dalam kemabukan dan rasa haus akan sentuhan seseorang. Ia mengelus perlahan dua lengan kekar suaminya itu dan berkata, “Kenapa tidak yakin? Kau lihat sendiri aku tidak menolakmu, Bas.”Pertahanan Bastiven runtuh. Walau logikanya berupaya menahan diri, tetapi hasrat lelaki tak bisa dikekangnya lagi. Ini semua karena pengaruh wine yang tidak biasa.Kalau bukan karena ingatan tentang kehidupan masa lalunya yang tiba-
“Sebaiknya kubakar saja!” gumam Isolde setelah menganalisa daun teh yang ada di tangannya. Karena beberapa racun justru berbahaya ketika dilemparkan ke dalam perapian. Untungnya, racun ini termasuk yang tidak menimbulkan jejak. Ia pun segera menuang daun teh yang bercampur racun itu ke dalam perapian. Setelah agak lama, barulah ia membakar kantong tehnya. “Orang-orang zaman ini sepertinya lebih maju kalau soal herbal dan racun.” Isolde kembali berkomentar. Isolde kini merasa lega. Dengan ini, ia sudah terbebas dari rute pembunuhan. “Fufufu! Berarti aku tinggal menikmati hidup tenang bersama Bastiven!”Sambil berjingkat riang, ia keluar dari ruang pemandian menuju ke kamar Bastiven. Hanya beberapa langkah, Isolde tiba di depan pintu. Tanpa ragu, Isolde membuka pintu kamar suaminya. Dengan riang ia berseru, “Selamat malam, Bas—”Ucapan Isolde terpotong karena bilah pedang yang tiba-tiba menyambut kedatangannya. Ia hampir ceroboh karena tidak menyadari aura membunuh dari balik pint
“Oh Tuhan, oh Tuhan! Jadi, aku masuk ke masa di mana cerita novelnya sama sekali belum dimulai?” Isolde mulai menata ulang rencananya. Ia terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya dengan raut wajah gusar, sambil menggigiti kuku.“Pantas saja aku tidak kenal nama Isolde!”Tengah pusing dengan pikirannya, seseorang mengetuk pintu kamar. “Duchess! Saya akan mengantar Anda ke tempat pemandian.”“Apa?! Mandi?!” pekik Isolde dengan suara tertahan. “Aku tidak butuh itu sekarang! Aku harus tahu bagaimana aku membunuh suamiku!”Namun, diingat bagaimanapun, Isolde tidak menemukan jawabannya. Novel itu hanya menyebutkan bahwa kakak dari Duke Devereux mati dibunuh oleh istrinya. Tengah panik, pikiran sehat Isolde mulai bekerja. ‘Tenang saja! Aku tinggal menghindari rute pembunuhan, lalu menjadi istri super baik dan setia! Hidup bahagia! Happy ending!’Isolde menganggukkan kepala. Setuju pada pikirannya sendiri. “Benar juga! Aku tinggal hidup tenang dengan duke Devereux yang sekarang. Bendera
“Hey, Duke! Apa kau tidak mau menemaniku di dalam sini?”Isolde tengah merasa bosan, duduk di dalam kereta kuda sendirian. Hampir satu minggu perjalanan mereka lewati.Setelah menandatangani lembaran kertas yang menurut seorang pendeta adalah akta pernikahan Isolde dengan Duke Devereux, mereka segera melakukan perjalanan kembali ke daratan utara.Duchy Devereux berada di bagian utara kerajaan Valtherion.“Duchess, sebaiknya Anda tidak menjulurkan kepala seperti itu!” usul salah seorang ksatria yang mendampingi Duke Devereux yang memilih mengendarai kuda.Duke Devereux berada sedikit jauh dari kereta kuda. Ia jengah mendapat pertanyaan dan ajakan serupa dari Isolde, sejak mereka memulai perjalanan tadi.‘Cih! Kenapa dia tiba-tiba dingin padaku?’ Isolde kesal. Baru kali ini juga ia kesulitan membaca raut wajah seseorang.Pasalnya, saat di pesta perayaan minggu lalu, Duke Devereux terlihat menikmati kedekatan mereka.‘Apa itu cuma akting belaka? Agar tidak membangkitkan amarah si kaisar







