Share

Bab 4 | Hadiah Pernikahan dari Kaisar

Author: Romero Un
last update Last Updated: 2026-01-31 16:24:58

“Oh Tuhan, oh Tuhan! Jadi, aku masuk ke masa di mana cerita novelnya sama sekali belum dimulai?” 

Isolde mulai menata ulang rencananya. Ia terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya dengan raut wajah gusar, sambil menggigiti kuku.

“Pantas saja aku tidak kenal nama Isolde!”

Tengah pusing dengan pikirannya, seseorang mengetuk pintu kamar. “Duchess! Saya akan mengantar Anda ke tempat pemandian.”

“Apa?! Mandi?!” pekik Isolde dengan suara tertahan. “Aku tidak butuh itu sekarang! Aku harus tahu bagaimana aku membunuh suamiku!”

Namun, diingat bagaimanapun, Isolde tidak menemukan jawabannya. 

Novel itu hanya menyebutkan bahwa kakak dari Duke Devereux mati dibunuh oleh istrinya. 

Tengah panik, pikiran sehat Isolde mulai bekerja. 

‘Tenang saja! Aku tinggal menghindari rute pembunuhan, lalu menjadi istri super baik dan setia! Hidup bahagia! Happy ending!’

Isolde menganggukkan kepala. Setuju pada pikirannya sendiri. 

“Benar juga! Aku tinggal hidup tenang dengan duke Devereux yang sekarang. Bendera kematianku pun pasti terhindarkan!”

“Duchess?! Apa ada masalah?” seru pelayan yang menjemput di balik pintu. 

Isolde yang sudah tenang pun akhirnya memutuskan untuk sementara menjalani apa yang ada di depan mata. “Lebih baik aku mandi dan menyegarkan pikiranku!”

Dengan riang Isolde membuka pintu dan mengikuti pelayan menuju tempat pemandian. 

Karena sebelumnya ia panik dengan kenyataan mengerikan itu, Isolde jadi tidak sempat mengamati suasana di dalam mansion itu. 

Isolde baru saja keluar dari ruang tidur. Namun, hanya beberapa langkah saja ia tiba di depan pintu yang disebut pelayan tadi sebagai ruang pemandian. 

Yang lebih membuat Isolde panik adalah karena ternyata ruang pemandian itu bersebelahan dengan ruang tidur sang duke. 

“Tuanku berpesan agar Nyonya bisa menggunakan ruangan pemandian ini dengan leluasa.” Si pelayan membungkuk hormat. 

Isolde yang masih mencerna setiap kejadian, membiarkan pelayan itu melepas gaun dan menuntunnya ke bak pemandian. 

Saat kepalanya diguyur pelan, barulah Isolde kembali pada kenyataan. Ia pun memekik kaget. “Astaga! Kalian sampai membantuku mandi?!”

Karena takut membuat Duchess baru mereka marah, para pelayan langsung membungkuk sampai wajah mereka menyentuh lantai. “Ampun, Nyonya! Jika tidak berkenan, kami harus bagaimana?”

Isolde mengerjapkan netranya bingung. “Tidak, tidak! Angkat kepala kalian! Aku tidak marah. Aku hanya kaget, karena biasanya aku mandi sendiri.”

Wajah para pelayan spontan terlihat prihatin menatap majikan baru mereka. 

Tentu saja! Putri pertama seorang duke mandi sendiri, jelas menjadi bukti adanya perlakuan buruk. 

Salah satu dari pelayan itu langsung berjanji, “Tenang saja Nyonya! Di sini, kami akan melayani Nyonya sepenuh hati!”

Isolde pun semakin bingung. Ia bermaksud meniadakan prosesi mandi yang berkepanjangan itu. Namun, melihat mereka bersemangat seperti anak-anak yang hendak pergi bermain, Isolde tidak punya hati mengecewakan mereka.

“Baiklah, baiklah! Lakukan saja semua yang kalian perlu lakukan!” Isolde menyerah. 

Mendapat izin menyentuh majikan, para pelayan pun segera melanjutkan prosesi mandi tersebut. Mulai dari membersihkan tubuh, membalurkan minyak dan rempah-rempah mahal. 

Yang pasti, Isolde akan seharum taman penuh bunga bermekaran. 

Selesai dengan semua perintilan mandi, para pelayan mengeringkan tubuh Isolde dan mengenakan padanya gaun tidur yang tipis. 

“Ini jubah tidur Nyonya!” ujar salah seorang yang tadi memperkenalkan diri dengan nama Nirena.

2 orang lainnya bernama Ara dan Sylfia.

Sylfia tak ingin kalah. Ia segera meletakkan sandal berbulu di depan Isolde. “Ini alas kaki Nyonya.” 

“Biar kami antar ke kamar Tuan.”

Namun, baru saja mereka keluar dari ruang pemandian, seseorang sudah menunggu di depan pintu. Seorang wanita tua yang mengenakan baju pelayan, tetapi terlihat lebih mewah dibanding pelayan di duchy Devereux. 

“Selamat malam, Nona Isolde!” sapa wanita tua itu. 

Isolde yang tidak terlalu paham etika kerajaan pun berniat membalas sapaan yang menurutnya sopan. Namun, ternyata sapaan itu menuai protes dari Nirena.

“Apa maksudmu menyebut Duchess kami dengan sebutan tidak pantas seperti itu?!”

Ara pun ikut bersuara. “Benar! Seharusnya kau memanggil Duchess dengan sebutan Nyonya atau Duchess Devereux!”

Isolde terdiam mengamati keadaan. Sekalian, ia juga belajar tata krama dunia bangsawan. 

Melihat Isolde tidak membela, pelayan tua tadi pun berkata, “Ah, maafkan wanita tua yang bodoh ini, Duchess. Hanya saja, saya diminta menyampaikan pesan pribadi dari Kaisar.”

Spontan ketiga pelayan Isolde tadi tertunduk ketakutan. Sepertinya mereka langsung menyadari perbedaan level antara pelayan duchy dengan kerajaan. 

Jatuh kasihan dengan mereka, Isolde pun memberi perintah, “Nirena, kalian bisa tinggalkan kami!” 

Wajah Nirena pucat. “Tapi, Nyonya—”

“Tidak apa-apa,” potong Isolde sambil menepuk pundak Nirena. “Kamu rapikan saja kamar suamiku!”

Tak bisa melawan perintah majikan, Nirena dan 2 rekan pelayannya pun segera pamit. 

Setelah tidak ada seorang pun, wanita tua tadi membuka suara. “Izinkan saya, Mayren de Luce, menyampaikan hadiah pernikahan dari Yang mulia Kaisar Thalric von Valtherion.”

Sebuah kantong kecil bulat, diserahkan ke atas telapak tangan Isolde. Dari aroma yang keluar, Isolde mengenali bahwa itu adalah daun teh. 

Benar saja! Karena setelah itu, Mayren berkata, “Semoga jamuan teh malam ini, membuat Nyonya dan Tuan semakin dekat.”

Isolde tersenyum dalam kebingungan, tetapi ia tetap menerimanya. Walau tidak paham dunia bangsawan, sudah menjadi aturan umum bahwa orang sekelas Isolde tidak diperkenankan membantah titah kaisar. 

Karena tidak tahu apa maksud pemberian daun teh itu, Isolde pun berkata, “Kalau begitu, sampaikan pada Kaisar ucapan terima kasih dari kami.”

Mayren berlalu dengan senyum licik diwajahnya. “Kupastikan Yang mulia Kaisar menerima pesan Nyonya Isolde von Devereux.”

Sepeninggalan Mayren, Isolde pun segera membuka kantong itu. Namun, betapa mengejutkannya bahwa aroma daun teh tadi kini dipenuhi aroma lain yang ia kenali sebagai racun pembunuh. 

“Ha! Jadi, dengan ini aku harus membunuh Bastiven?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 7 | Lembaran Baru

    “Kami hanya ingin agar Nyonya dan Tuan tidak canggung,” tambah Sylfia panik.Isolde melirik ke arah tiga gadis muda yang ketakutan itu, kemudian terkekeh pelan. “Well, kali ini kulepaskan kalian. Bastiven juga cukup kaku semalam,” ujarnya mengingat bagaimana Bastiven menagrahkan bilah pedang ke lehernya. Lagi kata Isolde, “Kalian mendapat terima kasihku!”Wajah Nirena dan kedua pelayan lainnya pun kembali berbinar. “Dengan senang hati, Nyonya! Ayo, biar kami bersihkan tubuh Nyonya!”“Tidak mau! Gara-gara kalian aku sekarang tidak bisa bangun!” keluh Isolde dengan jenaka. “Tubuh majikan kalian ini renta sekali, tahu?”Nirena terkekeh. Ia senang karena sang majikan baru tidak segan bermanja pada mereka. Bagi pelayan keluarga Devereux, sepertinya membuat majikan bergantung pada mereka adalah kepuasan yang tidak ternilai.Apalagi setelah mendengar kehidupan Isolde sebelum tiba di kediaman devereux. Tekad untuk memberikan kehidupan serba ada dan serba nyaman bagi sang majikan perempuan i

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 6 | Malam Pertama (2)

    “Sol ….”Bastiven kalah telak! Menghadapi godaan seorang Isolde yang mabuk, ternyata bukan hal mudah. Pria yang dibuat menggendong wanita itu sampai ke atas ranjang. Bastiven juga pasti sadar, kalau ada yang salah dengan wine yang mereka minum. Karena seharusnya, sejenis wine ini tidak akan mempan pada sang duke.Di antara lengan kekar Bastiven, Isolde terbaring tanpa perlawanan. Jubah tidurnya pun sudah setengah terlepas, mengekspos bagian tubuhnya sedikit. “Aku tidak yakin kamu menginginkan ini, Isolde,” ungkap Bastiven dengan suara rendahnya. Namun, Isolde sudah larut dalam kemabukan dan rasa haus akan sentuhan seseorang. Ia mengelus perlahan dua lengan kekar suaminya itu dan berkata, “Kenapa tidak yakin? Kau lihat sendiri aku tidak menolakmu, Bas.”Pertahanan Bastiven runtuh. Walau logikanya berupaya menahan diri, tetapi hasrat lelaki tak bisa dikekangnya lagi. Ini semua karena pengaruh wine yang tidak biasa.Kalau bukan karena ingatan tentang kehidupan masa lalunya yang tiba-

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 5 | Malam Pertama (1)

    “Sebaiknya kubakar saja!” gumam Isolde setelah menganalisa daun teh yang ada di tangannya. Karena beberapa racun justru berbahaya ketika dilemparkan ke dalam perapian. Untungnya, racun ini termasuk yang tidak menimbulkan jejak. Ia pun segera menuang daun teh yang bercampur racun itu ke dalam perapian. Setelah agak lama, barulah ia membakar kantong tehnya. “Orang-orang zaman ini sepertinya lebih maju kalau soal herbal dan racun.” Isolde kembali berkomentar. Isolde kini merasa lega. Dengan ini, ia sudah terbebas dari rute pembunuhan. “Fufufu! Berarti aku tinggal menikmati hidup tenang bersama Bastiven!”Sambil berjingkat riang, ia keluar dari ruang pemandian menuju ke kamar Bastiven. Hanya beberapa langkah, Isolde tiba di depan pintu. Tanpa ragu, Isolde membuka pintu kamar suaminya. Dengan riang ia berseru, “Selamat malam, Bas—”Ucapan Isolde terpotong karena bilah pedang yang tiba-tiba menyambut kedatangannya. Ia hampir ceroboh karena tidak menyadari aura membunuh dari balik pint

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 4 | Hadiah Pernikahan dari Kaisar

    “Oh Tuhan, oh Tuhan! Jadi, aku masuk ke masa di mana cerita novelnya sama sekali belum dimulai?” Isolde mulai menata ulang rencananya. Ia terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya dengan raut wajah gusar, sambil menggigiti kuku.“Pantas saja aku tidak kenal nama Isolde!”Tengah pusing dengan pikirannya, seseorang mengetuk pintu kamar. “Duchess! Saya akan mengantar Anda ke tempat pemandian.”“Apa?! Mandi?!” pekik Isolde dengan suara tertahan. “Aku tidak butuh itu sekarang! Aku harus tahu bagaimana aku membunuh suamiku!”Namun, diingat bagaimanapun, Isolde tidak menemukan jawabannya. Novel itu hanya menyebutkan bahwa kakak dari Duke Devereux mati dibunuh oleh istrinya. Tengah panik, pikiran sehat Isolde mulai bekerja. ‘Tenang saja! Aku tinggal menghindari rute pembunuhan, lalu menjadi istri super baik dan setia! Hidup bahagia! Happy ending!’Isolde menganggukkan kepala. Setuju pada pikirannya sendiri. “Benar juga! Aku tinggal hidup tenang dengan duke Devereux yang sekarang. Bendera

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 3 | Ternyata, Aku Adalah ....

    “Hey, Duke! Apa kau tidak mau menemaniku di dalam sini?”Isolde tengah merasa bosan, duduk di dalam kereta kuda sendirian. Hampir satu minggu perjalanan mereka lewati.Setelah menandatangani lembaran kertas yang menurut seorang pendeta adalah akta pernikahan Isolde dengan Duke Devereux, mereka segera melakukan perjalanan kembali ke daratan utara.Duchy Devereux berada di bagian utara kerajaan Valtherion.“Duchess, sebaiknya Anda tidak menjulurkan kepala seperti itu!” usul salah seorang ksatria yang mendampingi Duke Devereux yang memilih mengendarai kuda.Duke Devereux berada sedikit jauh dari kereta kuda. Ia jengah mendapat pertanyaan dan ajakan serupa dari Isolde, sejak mereka memulai perjalanan tadi.‘Cih! Kenapa dia tiba-tiba dingin padaku?’ Isolde kesal. Baru kali ini juga ia kesulitan membaca raut wajah seseorang.Pasalnya, saat di pesta perayaan minggu lalu, Duke Devereux terlihat menikmati kedekatan mereka.‘Apa itu cuma akting belaka? Agar tidak membangkitkan amarah si kaisar

  • Kehidupan Kedua: Putri Mafia Terjebak Dalam Kisah Novel   Bab 2 | Apa Aku Seorang Santa?

    “Duke Valmont! Apa yang baru saja diucapkan putrimu?! Jelaskan!”Suara menggelegar itu langsung membuat sunyi seluruh aula besar yang tadinya sibuk berbisik-bisik. Orang yang barusan berteriak itu berdiri di samping kaisar. Kemungkinan besar memiliki kedudukan yang tidak bisa diremehkan.Isolde ikut terkejut mendengar teguran keras tersebut. Ia lupa, kalau saat ini ia tidak sedang berada di Vroshea yang mengerti bahasa negara England. Duke Adrian von Valmont terlihat membungkukkan tubuh dengan gemetar. “Mohon belas kasihan, Yang Mulia Kaisar Thalric. Sepertinya putri saya terlalu bersemangat karena melihat Duke Devereux begitu mempesona.”Isolde hampir saja memutar bola matanya. Tentu saja itu alasan yang dibuat-buat. Namun, netra sang ayah yang memelototinya membuat tubuh Isolde bereaksi ketakutan.‘Ugh! Kenapa aku ketakutan?! Hey, Isolde! Aku ini tidak akan takut dengan pelototan manusia remeh macam ayahmu! Jangan ketakutan!’ ujar Isolde dalam hati, seolah ia bicara pada dirinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status